
Tania dan Naura pun langsung masuk ke dalam, mereka meninggalkan Desi dan Sandy.
'' Ayah, bagaimana tadi di rumah paman?'' tanya Desi.
'' Ya begitulah, dan kabar itu ternyata benar.'' ucap sang ayah.
Desi pun meneteskan air mata, ia tidak menyangka adik kecilnya itu ternyata tersakiti. Adik yang ia sayangi itu, bahkan tidak pernah bercerita kepadanya. Ia membayangkan kalau misalnya ia yang mendapatkan perlakuan itu, pastinya ia sudah tidak sanggup.
'' Kasihan sekali Ara ayah.'' ucapnya.
'' Ya begitulah, jadi ayah titip Ara ya. Sebenarnya ayah mau membawa dia ke Milan, tapi dia nggak mau.'' jelas ayah.
'' Loh ayah kenapa bisa setuju dengannya, tidak seperti ayah biasanya.'' ucap Desi yang heran.
'' Ada mas Ayang.'' ucap sang ayah.
Desi tertawa dengan keras, ia tidak menyangka ayahnya kalah dengan ''mas ayang'' dari adiknya itu. Tetapi pada awal ia ingin pindah pun juga begitu, ayahnya juga mengalah demi kebahagiaannya.
'' Makasih ayah.'' ucapnya dengan memeluk ayahnya.
'' Loh, kenapa nangis nak. Apa si Tirta bertingkah?'' tanya sang ayah yang merasa anaknya aneh.
'' Nggak ayah, aku cuma nggak nyangka aja. Ayah mengalah demi Ara dan pacarnya, dan tiba-tiba aku teringat waktu pertama kali aku mau pindah ke Indonesia.'' ucap Desi.
'' Ye dasar, kamu tu cengeng banget. Ayah akan melakukan apapun yang terbaik agar kau bahagia.'' ucapnya dengan memeluk Desi.
Tiba-tiba saja Tirta pulang, melihat kedatangan sang mertua. Tirta sebagai menantu yang baik, ia langsung menyalam pak Sandy. Ia sangat bahagia mertuanya datang, baginya ini adalah momen langkah. Karena mertuanya sudah lama menetap di Milan, dan mereka hanya akan pulang ke Indonesia bilang ada sesuatu yang penting.
'' Ayah datang, kenapa nggak bilang. Kan bisa Tirta jemput.'' ucapnya dengan Rama.
'' Iya ini memang mendadak, kamu nggak perlu repot nak. Kebetulan ayah tadi juga di jemput teman ayah, dan sebenarnya ada yang mau ayah bilang sama kamu.'' jelas pak Sandy.
'' Oh kalau gitu, kita masuk dulu ayah. Kita bicarakan didalam.'' ucapnya dengan sopan.
Mereka semua pun menuju kedalam, dan kini Naura dan Tania juga sedang duduk di sofa. Tirta yang melihat Naura dan Tania, ia berniat meminta mereka pergi. Tetapi di hentikan oleh sang ayah.
'' Biarkan saja nak, mereka juga harus dengar.'' ucap pak Sandy dan membuat Tirta heran.
'' Maksud ayah?'' tanyanya.
'' Yang mau ayah sampaikan itu ada hubungan dengan mereka.'' ucap sang ayah, kemudian duduk di sofa.
'' Oke, silakan ayah. Ayah mau bicara apa?'' tanya Tirta yang penasaran.
'' Nak Tirta, seperti yang kamu tau. Naura adalah keponakan ayah dan sepupu Desi, sebenarnya ayah ingin menitipkan dia pada kalian.'' ucap sang ayah.
'' Oh kalau tentang itu, aku nggak keberatan ayah. Kebetulan Naura juga sahabat Tata, jadi Tirta juga senang karena Tata ada temannya.'' jawabnya dengan senyuman.
'' Beneran nak, sebenarnya ayah segan meminta ini. Awalnya si ayah mau bawak dia ke Milan, tapi ada yang gandolin dia. Ayah jadi tidak tega.'' ucapnya dengan jujur.
Mendengar ucapan Tirta, Naura tersipu malu. Kini kakak dan kakak iparnya telah mengetahuinya, dan sahabatnya pasti memiliki banyak pertanyaan.
'' Sepertinya iya ni, ya kan Naura.'' ucapnya dengan memandang Naura.
'' Ya begitu la, dan kamu juga Uda dengar gosip yang beredar kan Tirta, tentang perlakuan ibu tirinya. Karena itu, ayah tidak bisa membiarkan ia tinggal di rumah itu.'' jelasnya.
'' Ayah tenang aja, Tirta akan jaga Naura sama seperti Tirta jaga Tata.'' ucapnya dengan senyuman.
'' Terimakasih ya nak.''
'' Ayah tidak pernah berterimakasih, ayah mempercayai Tirta untuk tanggungjawab atas Naura saja. Tirta sangat berterimakasih ayah, dan Tirta akan melaksanakan amanah dari ayah dengan sebaik-baiknya.
Pak Sandy yang mendengar perkataan menantunya itu, ia pun terharu dan menangis. kemudian keduanya saling berpelukan, ketiga wanita yang melihat tingkah mereka tidak bisa berkata apa-apa. Melihat hubungan yang sangat baik itu, bahkan Desi merasa sang suami sudah seperti anak ayahnya. Dan dia terlupakan, Naura dan Tania yang menyadari sikap dari Desi. Mereka pun tertawa.
Pak Sandy dan Tirta yang menyadari tawa dari Naura dan Tania, mereka berdua pun melepas pelukannya. Kemudian keduanya melihat kearah ketiga wanita, yang memang dari tadi sudah memperhatikan mereka. Pertama mereka melihat ke arah Naura dan Tania, mereka merasa heran dan penasaran dengan penyebab dari tawa mereka.
'' Kalian kenapa?'' tanya Tirta yang sedang bingung.
'' it-itu.'' ucap Tania dengan menunjukkan ke arah Desi.
Dalam sekejap keduanya merasa kaget, karena Desi sedang menangis. Dan mereka sangat penasaran dengan apa penyebab dari tangis Desi.
'' Sayang, kenapa nangis?'' tanya Tirta yang kemudian langsung memeluk Desi.
'' Ng-nggak, aku gpp.'' ucapnya lembut.
'' Jangan bohong, Naura, Tania, ini sayangnya kakak kenapa?'' ucap Tirta yang kemudian tiba-tiba menatap ke arah kedua adiknya dengan ekspresi marah.
'' Oh kakak mau tau penyebabnya, penyebabnya itu...kakak sendiri.'' ucapnya yang sengaja menggantung.
'' Lah kenapa bisa aku?'' tanyanya yang merasa heran.
'' Orang kakak rebut paman dari kakak.'' ucapnya kemudian melarikan diri bersama dengan Naura.
'' Hei jangan lari, nanti bisa jatuh. Oh iya, Bawak Naura ke kamar yang ada di sebelah kamar kamu ya Tata!'' ucap Tirta yang kemudian menghentikan langkah Naura dan Tania.
'' Kenapa harus di sebelah kamar Tata kak, kan bisa satu kamar sama Tata.'' ucapnya mencari jawaban dari sang kakak.
'' Ya sebenarnya kakak pun gak masalah, cuma Naura pasti butuh privasi. Nanti Tata ganggu terus, nggak bisa konsen deh. Apalagi Naura kan mau mengikuti olimpiade, jadi Naura pastinya akan sibuk untuk belajar. Dan nggak boleh ada yang ganggu, ya kan Naura.'' ucapnya.
Semua yang mendengar perkataan dari Tirta, mereka hanya bisa mengangguk. Karena semua yang dikatakan oleh Tirta adalah benar, dan mereka tau. Apa yang dikatakan oleh Tirta adalah demi kebaikan Naura, karena itu tidak ada yang menentang omongan Tirta.
Naura merasa sangat bahagia, karena ia mulai merasa kalau Tirta sangat menyayanginya. Dan jujur ia sangat ingin di perhatikan, sebenarnya selama di rumah ayahnya. Ia juga sudah mendapatkan kasih sayang dari Leo.
Tetapi enta kenapa, perhatian yang diberikan oleh Tirta terasa berbeda. Ia pun tersenyum bahagia, Tania dan juga bibi pun membawa Tania ke kamar yang ada di sebelah kamar Tania. Tanpa waktu lama, mereka pun sudah sampai.
Naura masuk ke dalam kamarnya, ia pun merasa bahagia. dan jujur saja kamarnya kini sangat bagus, sangat jauh berbeda dengan hayalannya. Dan hal itu sangat mengejutkannya, karena kamar itu sangat luar biasa.