
" Yang kau kayak memang benar, tapi aku akan meyakinkan ia. Aku justru akan khawatir jika kau pergi sendiri." ucapnya.
" Aku tidak sendiri Zia, aku pergi bersama dengan teman-temanku." jawabnya.
" Tapi tetap saja, bagaimana kalau nanti kak Rangga menanyakan keadaan mu. Aku nggak berani bohong sama kak Rangga." ucapnya yang membayangkan wajah kemarahan Rangga.
" Ya sudah, kalau begitu cepat telepon Riko. Nanti teman-temanku bisa marah kalau kita terlalu lama." ucap Naura dan Zia pun mengangguk.
Zia pun segera menelpon Riko, tidak membutuhkan waktu lama Riko langsung mengangkat sambungan telepon.
" Assalamualaikum beb." ucap Riko untuk mengawali sambungan telepon.
" Waalaikumsallam." jawab Zia.
" Ada perlu apa ni, atau mau jalan-jalan. Biar aku langsung otw ke tempat kak Rangga." ucap Riko.
" Aku nggak mau jalan-jalan, tapi aku mau pergi sama Naura boleh?" tanyanya dan Riko menjawab sangat bahagia, karena Zia meminta izin untuk pergi kepadanya.
" Memangnya mau kemana?" tanyanya yang penasaran.
" Sebenarnya aku juga nggak tau mau kemana, tapi kami ingin menyelidiki seseorang." jawabnya dan Riko pun kaget.
" Memangnya kalian mau menyelidiki siapa?" tanya Riko yang juga ikut penasaran.
" Namanya Rasya." jawabnya.
" Apa…itu akan sangat berbahaya." jawab Riko yang kaget.
" Tetapi aku tidak bisa membiarkan Naura sendirian." ucapnya.
" Yauda, kalau begitu aku akan ikut dengan kalian." jawabnya.
" Eh jangan, aku nggak enak sama temen-temen Naura." ucapnya yang kaget.
" Apa?" tanya Naura yang merasakan tingkah aneh Zia.
" Riko mau ikut sama kita." jawabnya.
" Yauda gpp, tapi suruh dia cepat kesini." ucap Naura dan Zia pun mengangguk.
" Tenang aja, aku langsung otw." jawab Riko kemudian langsung mematikan sambungan telepon.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara mesin motor. Keduanya pun langsung keluar, dan ternyata di luar sudah ada Riko dan juga Natan.
" Tan, maaf ni. Si Zia minta ikut, dan pacarnya jadi ikut juga." ucap Naura yang menghampiri Natan.
" Yauda gpp, mangkin banyak mangkin bagus." jawabnya.
" Maaf ya bro." ucap Riko.
" nggak masalah, yauda ayo kita berangkat." ucap Natan.
Mereka pun segera pergi, kini mereka berkumpul di titik yang sudah di tentukan saat di sekolah tadi. Alangkah kagetnya Riko ketika melihat Putra, Riko langsung menemui Putra dan melakukan tos.
" Woy, kapan sampai di Indonesia?" tanya Riko dan membuat beberapa dari mereka menjadi heran.
" Uda lama, kau aja yang nggak pernah main ke rumah." jawab Putra.
" Oh iya, katanya kalian mau menyelidiki tentang Rasya. Lalu apa hubungannya dengan mu?" tanya Riko yang penasaran.
" Ceritanya panjang, tapi ada kemungkinan kalau Rasya itu pacarku Alana yang menghilang." jawabnya dan Riko pun menjadi kaget.
" Astaga, bisa begitu ya. Tapi kenapa kau bisa berargumen begitu?" tanyanya yang masih penasaran.
" Ya karena ternyata Rasya dan Alana adalah anak kembar." jawabnya.
" Apa…sungguh tidak ku sangka, ternyata dunia ini sangat sempit." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.
" Ya begitulah, dan aku pun juga baru mengetahuinya." jelasnya.
" Kau tau dari mana?" tanyanya yang masih penasaran.
" Dari aku." ucap Arya yang tiba-tiba muncul.
" Namanya Arya, dia sahabat pacarku. Dan aku juga mengetahui semuanya dari ia." jawabnya.
" Nggak ku sangka segitu mudanya kau percaya sama orang, kau sangat berbeda dengan kau yang ku kenal dulu." ucap Riko dengan menggelengkan kepalanya.
" Hal itu tidak penting, saat ini yang terpenting mencari tau kebebasannya." ucap Putra yang tiba-tiba saja merasa risih dengan omongan Riko.
" Yang kau katakan benar juga, yauda ayo." jawabnya.
" Itu orang siapa si?" tanya Arya yang kesal kepada Natan.
" Dia pacarnya Zia." ucap Natan.
" Tak ku sangka, ternyata pacarnya Zia sangat menyebalkan." ucapnya.
" Sudahlah, yang sabar Arya. Sekarang jangan pikirkan tentang dia, lebih baik kita segera pergi keburu sore." ucap Natan dan Arya pun mengangguk.
" Ayo semuanya, kita berangkat." ucap Natan.
Kini mereka semua pun berangkat, Natan dan Arya berada di barisan depan dengan membonceng Naura dan Tania. Kini akhirnya mereka tiba di tempat pertama, mereka pun langsung mencari bukti siapa sebentar Rasya. Dan kini hal yang disembunyikan oleh Rasya telah di ketahui, dan Rasya ternyata adalah pimpinan golongan gelap.
Naura dan Tania yang memang tidak pernah mengerti hal tersebut menjadi kaget, ini adalah pengalaman pertama bagi mereka untuk melihat dunia gelap. Mereka semua bersembunyi agar Rasya tidak mengerti keberadaan mereka, tiba-tiba Yina yang merupakan asisten Rasya mendapatkan telepon.
" Nona saya angkat telepon dulu." izinnya.
Yina pun segera pergi menjauh dari Rasya, ia pun mengangkat teleponnya. Dan ternyata yang menelpon adalah ayah Rasya.
" Selamat sore tuan besar." ucapnya untuk mengawali panggilan telepon.
" Sore juga Yina, bagaimana keadaan Rasya?" tanyanya.
" Keadaan nona Rasya sangat baik dan kini kami sedang berada di markas." ucapnya.
" Kalau begitu kau harus hati-hati, jangan sampai dia mengingat sesuatu." ucap Beni.
" Tuan tenang saja, nona Rasya sudah minum obat. Jadi kejadian seperti sebelumnya nggak akan terjadi." jawabnya.
Mereka yang mendengar hal tersebut sangat terkejut, kini mereka mendapatkan harapan kalau Rasya bukanlah Rasya melainkan Alana. Karena bisnis keluarga ini adalah senjata ilegal dan juga obat penghilangan ingatan.
" Baguslah kalau begitu, terus awasi dia." perintah Beni.
" Baik tuan." ucapnya kemudian sambungan telepon pun langsung terputus.
Yina pun langsung kembali ke tempat Rasya, dan melanjutkan kegiatannya bersama dengan Rasya yang kini sedang mengecek barang dagangan mereka yang baru saja sampai.
" Kalian sudah mendengar perkataan wanita itu kan?" tanya Arya.
" Iya Arya, dan sepertinya Rasya memang adalah Alana." ucap Putra yang tanpa sadar berderai air mata.
" Kau jangan menangis, kita akan mencari cara agar Alana bisa mengingatmu lagi." ucap Arya dengan tersenyum.
" Terimakasih semuanya, sekarang kita harus mencari bukti. Karena aku yakin ia tidak akan percaya kalau hanya dengan omongan saja." ucap Putra dan semuanya pun mengangguk.
" Yang dikatakan oleh Putra benar, aku juga akan ikut membantu." ucap Riko dengan antusias.
" Ini anak memang menyebalkan, tetapi ternyata ia sangat perduli dengan temannya." batin Natan dengan tersenyum melihat ke arah Riko.
" Ayo kita cepat bergerak." ajak Arya dan mereka pun menyusuri ruangan-ruangan yang ada.
Mereka semua terus menyusuri untuk mencari bukti, satu demi satu bukti telah mereka kumpulkan. Dan kini waktu sudah petang, dan mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Naura dan Zia sangat panik, karena mereka menerima pesan kalau Rangga akan pulang.
Keduanya langsung pulang kerumah, walaupun kini kondisi cacing di perutnya sudah memberontak. Keduanya sangat takut bila Rangga akan tiba lebih dulu dari mereka, dan pastinya mereka akan di wawancarai oleh Rangga. Dan hal tersebut sangat menyenangkan, dan membuat mereka malas.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Rela Walau Sesak
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna