
" Yang bener uti?" tanyanya untuk memastikan.
" Iya sayang, rencananya sih seperti itu." jawab Naura.
" Hore." teriaknya dengan lompat-lompat kegirangan.
" Kau yakin Ara?" tanya Reza.
" Iya kak, tapi aku masih harus izin dengan paman. Karena takutnya paman nggak ngizinin." jelasnya.
" Yauda nanti kakak bantuin berbicara dengan paman Sandy." ucap Reza.
" Jadi barang Ara mau di pindahkan ke kamar Zia tidak?" tanya Awan.
" Iya kak pindahin aja, kebetulan kamar Maura jauh dari pintu. Maaf ya sayang." ucapnya yang merasa tidak enak.
" Tidak masalah uti, yang terpenting uti nggak ribet. Kan besok uti mau pulang ke Indonesia, nanti uti kecapean pula kalau dari kamar ku." ucap Maura.
" Gimana kalau kita tidur bertiga." ucap Naura dengan melihat ke arah Zia.
" Aku sih nggak masalah, kebetulan aku selalu tidur sendiri. Jadi aku senang aja kalau mau tidur bareng." jelas Zia dan Maura pun langsung Zia.
" Makasih tante Zia." ucapnya dengan tersenyum.
" Sama-sama sayang." jelasnya.
Kini mereka pun langsung memindahkan barang Naura ke kamar Zia, kini mereka bertiga di dalam kamar tersebut. Ketiganya sedang bercanda dan tertawa, ia sangat tidak menyangka kalau bersama dengan Naura sangat menyenangkan. Ia mengira Naura adalah kepribadian yang buruk dan juga sombong, tetapi semakin ke sini ia semakin menyukai Naura.
" Ternyata pandangan ku salah tentangnya." batin Zia dengan memandang Naura.
" Zia ayo main sama kita." ajak Naura.
" Eh iya." ucapnya kemudian langsung menghampiri Naura dan Maura.
" Tante Zia jangan ngelamun aja dong, ini malam kan malam terakhir tante di sini. Tante apa nggak mau main sama Mau, padahal Mau uda mulai suka sama tante." jelas Maura.
" Maafin tante ya, tante juga sayang kok sama Mau. Tante cuma lagi ada pikiran, janji deh tante nggak akan ngelamun lagi." ucapnya dengan tersenyum.
" Kalau gitu sekarang kita main, Maura nggak mau lihat tante melamun lagi. Maura mau ditemani sama uti Naura dan juga tante Zia, karena hari ini adalah hari terakhir uti dan juga tante di sini." jelasnya.
Kini ketiganya pun bermain, tanpa terasa kini sudah pukul 12.00 malam. Dan kini Maura pun telah terlelap, keduanya kini pun mengobrol. Mereka ingin mencocokkan satu sama lain, karena mereka ingin menjalin hubungan yang bernama sahabat.
" Kamu kenapa melamun?" tanya Naura.
" Aku hanya menyadari satu hal, ternyata kau lebih dari segalanya dibanding aku." jawabnya dengan suara teduh.
" Apa maksudmu?" tanya Naura ya memang tidak mengerti.
" Kau memiliki segalanya yang tidak aku miliki, bukan hanya dari fisik tetapi juga dari sifat dan tingkah laku. Awalnya aku membenci dirimu, karena kau selalu memiliki apa yang aku inginkan. Tetapi kini aku sadar, aku tidak pantas untuk iri denganmu. Karena kau jauh di atasku, dan untuk setengahnya saja aku tidak bisa menggapai mu." jelas Zia.
" Kau terlalu melebihkan diriku, kita berdua sama-sama manusia biasa. Kita berdua sama-sama memakan nasi, dan kita berdua sama-sama adiknya kak Rangga dan juga kak Reza. Terkadang aku justru iri kepadamu, karena kau masih memiliki ayah yang peduli denganmu dan juga kak Rangga dan kak Reza. Sedangkan diriku, aku tidak memiliki siapa-siapa di sini yang aku miliki hanyalah seorang paman yang sangat menyayangi diriku." jelas Naura dengan meneteskan air mata.
" Bukankah kau masih memiliki seorang ayah?" tanya dia yang penasaran.
" Aku memang memiliki seorang ayah, tetapi aku juga baru mengetahuinya beberapa waktu lalu. Selama ini aku hanya tinggal bersama bunda dan juga kakekku, sedangkan pamanku selalu saja sibuk dengan bisnisnya di luar negeri. Awalnya bundaku pergi meninggalkanku, jujur saja aku sangat berduka dengan kepergian bundaku. Tetapi untungnya aku masih memiliki kakek yang selalu peduli denganku, hingga akhirnya dia juga ikut pergi menyusul bunda dan aku tidak tahu harus tinggal di mana." jelasnya yang berderai air mata.
" Aku tidak mengetahui ternyata hidupmu sepilu itu, aku kira kau selalu hidup bahagia." ucapnya.
" Tidak semua yang terlihat dengan mata adalah kebenarannya, dan tidak semua yang tersembunyi tidak ada keberadaannya." jelasnya dan Zia pun langsung memeluk Naura.
" Yang kau katakan memang benar, dan maafkan diriku Naura. Selama ini aku selalu berusaha jahat kepadamu, padahal dirimu tidak pernah berbuat jahat kepadaku." ucapnya yang menyesal.
" Aku tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, bagiku semua orang pasti memiliki kesalahan. Sang pencipta saja mau memaafkan hambanya, masa kita yang hanya manusia biasa tidak mau memaafkannya." jelasnya dan membuat Zia berderai air mata.
" Sku yakin tante Tiara pasti bangga kepadamu, kau adalah kepribadian yang baik. Dan kau tidak pernah mementingkan dirimu sendiri, kau selalu saja mementingkan kepentingan orang lain sebelum kepentingan dirimu. Dan sekarang aku menjadi sadar, mengapa Arga bisa jatuh hati kepadamu." jelas Zia yang baru menyadari alasan Arga jatuh hati kepada Naura.
" Mungkin yang kau katakan memanglah kebenarannya, tetapi untuk saat ini aku tidak ingin membahas tentang Arga. Hubunganku dan Arga sudah di ujung tanduk, delapan sangat sulit untuk mempertahankannya kembali." jawabnya yang juga berdarah air mata.
" Maafkan aku Naura, bukan maksudku untuk menyakiti hatimu. Aku hanya mengingat masa lalu, dan aku baru menyadarinya saat ini." jawab Zia yang merasa tidak enak.
" Kamu tidak bersalah Zia, hanya saja saat ini aku terlalu sensitif. Hubunganku dengan Arga saat ini sedang tidak jelas, dan aku tidak tahu apakah hubungan kami akan berlanjut atau tidak. Karena itu, aku sedang tidak ingin membahas tentang dirinya." jelasnya.
" Aku mengerti perasaanmu, aku dengar dia juga sedang dekat dengan seorang wanita. Aku pernah merasakan di posisi dirimu, dan aku tahu kenapa kamu sangat sensitif." ucapnya dengan memeluk Naura.
Kini tangis Naura pun pecah, ia pun menangis dengan terisak. Ia sangat kaget ketika dia menceritakan tentang kedekatan Arga dengan wanita lain, ia sungguh tidak menyangka kalau dengan mudahnya Arga bisa melupakannya. Padahal mereka sangat sulit untuk bersatu, karena mereka harus melawan banyak orang dan juga mendapatkan restu dari kedua orang tua Arga.
Hubungan yang penuh dengan perjuangan itu, kini harus kandas tanpa sebab. Dan bahkan kini sudah terdengar kabar tentang kedekatan pemuda yang ia cintai tersebut dengan seorang wanita yang masih belum ia ketahui sosoknya, jujur saja hal itu sangat menyakiti hatinya. Ia awalnya sudah berharap banyak kepada Arga, tetapi kini harapannya harus putus di tengah jalan. Dan mereka harus melanjutkan perjalanan hidup mereka masing-masing, tanpa melibatkan satu sama lain.