Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 103



" Apa…kalau begitu kau lebih para dari Karin." ucap Danang dengan menggelengkan kepalanya.


" Ya karena itu aku bisa cocok dengannya, tapi walaupun ia nggak suka ke salon. Ia sudah sangat cantik, jadi nggak ke salon pun gak masalah." jelas Karin dengan memeluk Naura.


" Yauda deh, kalian berdua sama aja. Kalau begitu kakak tunggu kedatangan kalian." ucap Danang kemudian mematikan sambungan telepon.


" Kak Danang kenapa kak?" tanya Naura.


" Ya tentunya ia sedang pening, ia selalu berusaha merubahku agar dapat menjadi cewek pada umunya yang suka ke salon dan belanja. Tetapi kini aku justru mendapatkan adik ipar yang sama dengan ku, pastinya ia sangat kesal sekarang." jelas Karin dan keduanya pun langsung tertawa.


Mereka tertawa dengan sangat kuat, hingga Rangga yang baru saja pulang kerja pun bisa mendengarnya. Dan ia pun menghampiri calon istri dan adiknya itu.


" Tampaknya kalian sedang bahagia ya?" ucap Rangga yang mengagetkan mereka.


" Kakak, ngagetin aja." ucap Naura.


" Ini mas, kami baru VC sama mas Danang. Dan mas Danang tertipu dengan Ara." jelas Karin.


" Tertipu bagaimana?" tanyanya yang memang tidak mengerti.


" Kak Danang mengira kalau Ara itu anak yang mentel dan suka ke salon sama seperti wanita pada umunya. Padahal kan kenyataannya, Ara sangat jauh dari sikap seperti itu kak." jelas Ara dan Rangga pun ikut tertawa.


" Hahaha, aku yakin saat ini mas Danang pasti sedang kepikiran. Karena pastinya ia mengatakan sesuatu untuk menyindirmu sayang, tetapi ternyata perkataan itu juga menyindir Ara." jelas Rangga.


" Iya benar mas, dan aku sangat ingin melihat wajah frustasi kak Danang. Pasti akan lucu, dan tidak bisa dilupakan." jelas Karin yang sedang mencoba membayangkan ekspresi kakak pertamanya itu.


" Kau ini sayang, nanti beberapa hari lagi kita akan kerumahmu. Kita tunggu ayahku kembali dulu ya, setelah itu kita langsung berangkat." jelas Rangga dengan memeluk Karin.


" Tolonglah ini itu kamarku, kenapa aku jadi obat nyamuk di kamarku sendiri. Mending mesra-mesraan di luar aku sana, aku panas liganya tau." ucap Naura dengan mendorong keduanya untuk keluar dari kamarnya.


" Enak aja mau mesra-mesraan di sini, ini itu kamar aku. Tempat aku berkuasa, eh mereka malah menguasai juga." ucapnya yang kesal.


" Ara buka pintunya!" perintah Rangga tetapi tidak dihiraukannya.


" Nggak mau, nanti aku disuruh jadi obat nyamuk lagi." jelasnya dengan sedikit berteriak.


" udahlah mas, mending kita pindah tempat aja. kasihan Ara, nanti yang ia ingat tentang kamarnya malah kemesraan kita." jelas Karin kemudian mereka pun segera pergi meninggalkan kamar Naura.


...----------------...


" Kira-kira bagaimana keadaan arah ya?" ucap Reza dengan memegangi foto Ara.


" Selamat sore pak, ini ada dokumen yang harus bapak tanda tangani." ucap Santi yang merupakan sekretaris Reza.


" Kau ke sinilah, letakkan saja di situ. Akan ku baca terlebih dahulu, nanti setelah ditandatangani akan segera ku telepon dirimu." ucap Reza.


" Baik pak." jawab Santi kemudian dia langsung meletakkan berkas itu di meja Reza, dan setelah itu ia pun keluar dari sana.


Reza pun membaca kontrak kerjasamanya dengan perusahaan lain, ia pun tampak antusias membacanya. Setelah membacanya dengan cukup lama, akhirnya Reza pun memutuskan untuk menandatangani kontrak tersebut. Kemudian ia pun segera menelpon sekretarisnya itu, agar kontrak tersebut segera dikirimkan kepada rekan bisnisnya.


" Santi kesini." panggilnya dari telepon.


" Baik pak, saya segera ke sana." jawabnya kemudian mematikan sambungan telepon.


" Silakan masuk!" ucap Reza mempersilahkan, dan Susan pun segera masuk.


" Ini berkasnya, tolong segera kirimkan ya!" ucap Reza.


" Baik pak." jawabnya kemudian langsung pergi meninggalkan ruangan Reza.


" Hari ini pak Reza tampak aneh." batin Santi.


" Ara, kakak kangen sama mu. Tapi kakak belum bisa balik ke sana, situasi di sini sungguh sangat mencemaskan. Dan akan sangat berbahaya jika kakak meninggalkannya, maafkan kakak dek." ucapnya dengan memandang foto Naura.


Tiba-tiba saja handphone Reza berdering, dan Ia pun segera mengangkat teleponnya. Ternyata yang menelponnya adalah Rangga, Iya sangat bahagia mendengar suara kakaknya itu. Dan ia sudah sangat ingin menanyakan tentang keadaan Naura, adik kesayangan mereka.


" Assalamualaikum Kak Rangga." ucapnya yang antusias.


" Waalaikumsalam, bagaimana keadaanmu di sana Reza?" tanya Rangga ya memang sangat khawatir dengan kondisi adiknya.


" Kondisiku baik kak, walaupun di sini sedang masih banyak pertentangan. Bahkan untuk mau menandatangani kerjasama saja sangat sulit, karena di sini masih banyak penipu yang berkeliaran." jelas Reza.


" Kalau begitu kau harus berhati-hati, kakak tidak ingin kau terlibat masalah dek. Oh iya kakak ingin memberitahukan sesuatu, dalam waktu dekat Kakak dan juga Karin akan menikah. Kakak harap kamu bisa datang ya dek di hari pernikahan kakak, sebisanya saja tidak usah dipaksakan." jelas Rangga.


" Oh tidak bisa, masa di hari pernikahan Kakak aku nggak ada. Adik macam apa aku ini, Kakak kabarin saja tanggal pastinya. Dan aku pasti akan pulang, lagian aku juga sangat rindu pada Kakak dan Ara." jelasnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.


" Kami juga sangat merindukanmu, sudah lama kita tidak bertemu. Melalui telepon saja rasanya masih kurang, kakak ingin memeluk tubuhnya dek. Kini terlihat kau sedang kurus, kau banyak makan ya, Kakak sedih melihatmu." jelas Rangga yang tanpa sadar meneteskan air mata.


" Ih kakak, kenapa kakak nangis?" tanya Reza.


" Kau sendiri juga menangis." jelas Rangga dan kemudian keduanya tertawa.


" Kak apakah Ara ada di sana?" tanya Reza.


" Kau sangat merindukannya ya, Ara ada tapi dia sedang bersama dengan Karin." jelas Rangga.


" Yauda deh, nggak usa di ganggu. Yang penting kabari aku ya kak tanggal pastinya, agar aku bisa mengatur waktu." ucap Reza.


" Oke adikku sayang." jawab Rangga kemudian sambungan telepon pun mati.


" Sepertinya Ara sangat bahagia, dengan begini aku bisa tenang. Sepertinya Karin sangat cocok dengan Ara, dengan seperti ini Ara bisa aman bersama dengan Karin." batin Reza.


" Kak Rangga sudah akan menikah, sebentar lagi Ayah pasti akan menuntutku. Sepertinya aku juga harus segera mencari calon, hubunganku dengan Laras sepertinya tidak bisa dilanjutkan. Orang tuanya sudah terang-terangan menentangku bertemu dengan Laras, dan kabarnya sebentar lagi Laras juga akan menikah." ucapnya.


...----------------...


" Ayah, Laras mohon. Izinkan Laras kembali bersama dengan Reza, tolong Ayah." ucapnya dengan berdarah air mata.


" Tidak bisa sayang, dulu ayah mengizinkanmu berhubungan dengan Reza. Itu semua karena ayah belum tahu, kalau keluarga Reza ternyata adalah saingan bisnis keluarga kita. Dan kini ayah sangat menentangnya, ayah tidak ingin keluarga besar kita berhubungan dengan keluarga besar Reza." jelas ayah Laras kemudian pergi meninggalkan Laras.