
πΈπΈπΈ
5 bulan berlalu, tak banyak yang berubah. Hanya Annin yang terkadang sering menangis secara tiba-tiba. Ternyata Annin masih belum bisa menerima kepergian anaknya.
Sama halnya dengan hari ini, setiap pagi saat bangun tidur. Yang pertama Annin lakukan pasti meraba perut datarnya. Mengingat calon bayinya yang telah tiada. Tanpa bisa ia bendung, air mata sudah mengalir begitu derasnya.
Setelah puas menangis, barulah Annin menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya. Tanpa Annin sadari, ada sepasang mata yang melihat dan juga mendengarkan tangisan pilunya.
Siapa lagi pemilik sepasang mata itu, kalau bukan presdir Shilin. Saat akan menuju ruang makan, presdir Shilin yang melewati kamar Annin. Tak sengaja mendengar suara tangisan dari dalam kamar Annin. Dari pintu kamar yang sedikit terbuka, presdir Shilin bisa melihat kesedihan Annin yang mendalam sambil terus mengelus perutnya.
Tentu saja prsdir Shilin tau hal apa yang membuat Annin bersedih. Dirinya juga belum bisa menerima hal itu. Tak ada sepatah katapun yang lolos dari bibirnya ataupun batinnya. Presdir Shilin tak juga menangis menyusul Annin, seperti yang ia lakukan dirumah sakit dulu. Tapi hanya kepalan tangan, dan raut wajah sendunya, yang dapat menjelaskan betapa hancur hatinya saat ini.
Melihat wanita yang ia cintai bersedih, membuatnya juga merasa lebih bersedih. Apalagi ia yang dulu sangat kejam dan sering menyiksa istrinya sendiri. Untuk itulah ia menerima dengan lapang dada, jika Annin belum bisa menerima dan juga memaafkannya. Asalkan istrinya, tak lagi mengucapkan kalimat meminta cerai darinya, hal itu saja sudah membuatnya kerasa senang.
Melihat istrinya setiap hari, tanpa bisa ia sapa apalgi ia peluk, memanglah terlihat sangat menyedihkan. Tapi apapun akan presdir Shilin lakukan, agar Annin tak pergi darinya. Termasuk saling tak tegur sapa dengan istrinya. Presdir Shilin sering memulai percakapan, tapi tak pernah digubris oleh Annin.
Bahkan mereka sangat jarang bertemu, walaupun masih tinggal diatap yang sama.
Annin hanya akan keluar kamar setelah presdir Shilin berangkat bekerja. Dan akan tidur sebelum presdir Shilin pulang bekerja. Bahkan dihari minggu Annin tak akan keluar dari kamarnaya. Agar ia tak berjumpa dengan suaminya.
Bukannya menyalahkan suaminya. Bukan pula, karena ia belum memaafkan suaminya. Hanya saja, Annin tidak ingin merasa bersedih. Entah kenapa setiap melihat wajah suaminya, Annin langsung menginngat calon bayinya. Untuk itulah Annin selaku menghindari presdir Shilin.
Jika Annin dan presdir Shilin sedang tak saling sapa. Beda lagi dengan adik-adik mereka. Siapa lagi kalau bukan tuan Yong dan juga Aurel.
Semakin hari mereka semakin mesra. Aurel yang manja, dan tuan Yong yang sedang bucin, semua yang mereka berdua lakukan tampak sangat serasi.
Namun, tidak dengan hari ini. Karena hari ini, ada masalah pada perusahaan yang cukup serius. Tidak akan pernah selesai jika hanya dilakukan oleh Zhang seorang diri.
Dengan segenab keterpaksaannya, tuan Yong pun harus meninggalkan istrinya khusus hari ini. Tapi entah kenapa tuan Yong merasa sangat berat untuk meninggalkan istrinya semdiri. Ada perasaan tidak enak dihatinya, yang selalu membuatnya kuatir. Tapi pada akhirnya ia pun harus meninggalkan Aurel.
Sedangkan Aurel merasa sangat merdeka, karena akhirnya ia bisa sedikit menghirup udara kebebasan tanpa ada yang selalu melarang melakukan ini dan itu.
Dan hari ini, untuk yang pertama kalinya. Aurel berniat akan keluar secara diam-diam. Aurel seakan lupa bahwa diluaran sana, banyak yang mengintainya.
Bersambung........
Oh iya, othor seharusnya akan segera merilis Novel kedua yang berjudul TERPAKSA MENJADI BUD*K TUAN MUDA KEJAM. tapi keburu dipinang penerbit. Gimana ada yang tertarikkah untuk beli Novelnya ππ
Sekedar pemritahuan saja π π π π
Like, komen, hadiah, dan juga Votee πππ
Rate bintang 5 juga πππ
Selanat membaca daj semoga suka πππ
Maafkan juga typonya πππ
ππΈ