My Boss Is My Husband

My Boss Is My Husband
Episode 129



๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Kakak sudah bangun,"kata Aeri saat melihat suaminya telah membuka mata. Mendekati suaminya, Aeri duduk disisi ranjang, dengan mangkuk berisi bubur sehat di tanganya.


"Sarapan dulu ya, kak. Setelah itu minum obat," ujar Aeri mengulurkan tanganya yang berisi sesendok bubur, akan menyuapi suaminya.


Presdir Shilin tak menerima, membuat Aeri menarik kembali uluran tanganya. Presdir Shilin duduk dari barbaringnya, menatap istrinya yang tengah cemberut.


"Rubah dulu panggilannya. Kakak! Kita kan sudah jadi suami istri. Ganti dengan panggilan yang lebih romantis,"sarannya.


"Ganti jadi panggillan apa, kak,"tanya Aeri bingung.


"Suamiku..,"jawab presdir Shilin.


"Malu, kak,"tolak Aeri.


"Kenapa harus malu?"tanya presdir Shilin.


"Sayang saja ya, kak,"Aeri berkata dengan pipi merahnya.


"Baiklah, kalau didepan orang lain, panggil sayang. Tapi kalau kita berdua saja, panggil Suamiku,"tawar presdir Shilin.


"Baiklah, kak,"jawab Aeri kembali mengulurkan tanganya pada suaminya.


Melihat suaminya hanya diam, dan tak menerima suapannya, barulah Aeri tersadar.


"Ayo diamkan, suamiku,"ulang Aeri. Presdir Shilin tersenyum lalu menerima suapan istrinya.


Setelah menghabiskan sarapan, dan juga minum obat. Presdir Shilin meminta istrinya untuk mendekat padanya.


"Ada apa, kak. Ehh, Suamiku," kata Aeri masih belum terbiasa.


"Yang tadi malam belum selesai," kode presdir Shilin membuat Aeri menyatukan alisnya bingung.


"Yang tadi malam apa kak?"tanya Aeri.


"Olahraga tadi malam, sepertinya kakak kelelahan hingga tertidur. Maaf ya!"ucap presdir Shilin tampak menahan tawanya. Beda dengan Aeri yang kini langsung memerah karena malu.


"Terus apa hubunganya sama sekarang, kan kakak lagi sakit. Besok-besok kan masih bisa, kalau kakak sudah sembuh,"jawab Aeri polos.


"Kakak lagi!"ucap presdir Shilin mencubit hidung mungil istrinya.


"Aeri belum terbiasa,"jawab Aeri.


"Kita kan harus usaha keras sayang, kamu mau punya baby, bukan,"ujar presdir Shilin mencoba mengelabuhi istrinya.


"Lebih cepat lebih baik, sayang," rayuan maut sang presdir Shilin.


"Tapi kan kakak masih sakit,"jawab Aeri.


"Kan ada kamu,"jawab situkang pencari kesempatan dalam kesempitan.


"Aku," kata Aeri menunjuk dirinya.


"Iya,kamu,"jawab presdir Shilin.


"Kamu diatas, bagaimana. Kamu setuju kan,"tanya predir Shilin terus berusaha mendapatkan keuntungan.


"Aeri tidak bisa,"jawab Aeri menundukkan wajahnya dalam, menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat.


"Kakak akan ajarkan,"jawab presdir Shilin semakin menjadi, untuk mengerjai istrinya.


"Baiklah,"jawab Aeri polos. Membuat senyuman kemenangan plus jail diwajah presdir Shilin terukir. Juga nyempil rasa sedih dihatinya.


Apa yang mebuatmu sangat menginginkan keturunan dari ku, Aeri. Apa selama ini kamu merasa tersingkirkan! Batin presdir Shilin.


"Ayo kita mulai,"ujar presdir Shilin, yang kini betah berpura-pura sakit.


"Bagaimana dulu,"tanya Aeri bingung. Hal itu membuat presdir Shilin geram. Dan pada akhirnya ia menarik tangan istrinya, hingga naik keatasnya. menarik tengkuk Aeri dan mulai bermain dimulut manis istrinya. Aeri yang tak lagi polos, ikut membalas pang*tan suaminya dengan tak kalah ganas.


Presdir Shilin yang berada dibawah, melucuti setiap kain yang melekat pada tubuh istrinya. Suasana semakin panas, kala Aeri mulai akan melakukan penyatuan.


Des*han demi des*han mengiringi setiap kali Aeri menaik turunkan tubuhya. Fixs, mulai saat ini ia bukan lagi Si Annin yang dulunya terkenal polos. Kini ia adalah Si Aeri yang walaupun polos tapi sudah jago, karena didikan dari suami mesumya.


"Aaaakh....,"terika Aeri mengadu kesakitan, dan segera melepaskan penyatuan mereka sebelum mencapai puncak.


Bersambung......


Like, komen, hadiah, dan vote๐Ÿ™๐Ÿ’—


Maafkan typonya๐Ÿ™


Selamat membaca dan semoga suka๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—


Saranghae readers๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


๐Ÿ’—๐ŸŒธ