My Boss Is My Husband

My Boss Is My Husband
Episode 133



๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Keesokan paginya, presdir Shilin dan istrinya Aeri telah berada didalam mobil. Presdir Shilin sengaja menyewa sopir agar ia bisa bermesraan dengan istrinya selama diperjalanan. Tapi sayangnya, Aeri malah tertidur. Dan akhirnya presdir Shilin juga ikut tertidur, walau harus menahan pegel karena memangku istrinya yang terlelap.


Dua jam perjalanan. Mereka pun sampai dikawasan diperumahan Elit. Perumahan yang hanya ditempati orang-orang ternama. Bahkan mantan presiden Amerika pun jiga tinggal didaerah perumahan elit itu.


Kini mobil telah berhenti disebuah istana yang begitu mewahnya. Aeri masih ingat dengan istananya itu. Tempatnya dipahirkan dan juga dibesarkan.


Tidak ada yang berubah dari rumah mewah itu, hanya warnanya saja yang berubah. Warnanya menjadi lebih modern.


Aeri sampai berkaca-kaca saat memasuki halaman rumahnya. Tempatnya bermain dengan Mommynya dulu, dan juga tempatnya bermain dengan presdir Shilin dulu.


Saat Aeri dan suaminya berjalan memasuki istana itu, semua boddyguard yang berjaga didepan, menunduk kepala mereka memberi hormat.


Tak lama pinti istana itu tebuka lebar, dan muncullah seorang pria paruh baya yang masih sangat gagah. Sedikit berlari pria itu memghampiri putri yang ia rindukan


"Aeri.....," panggil tuan besar Aldrich heboh saat melihat putri kesayanganya telah sampai dikediamannya.


"Daddy....," panggil Aeri tak kalah heboh, melepaskan genggaman suaminya, Aeri juga berlari menuju Daddynya berada.


Ayah dan anak itu saling berpelukan melepas kerinduan selama ini. Sedangkan presdir Shilin hanya tersenyum, ia juga bahagia melihat istrinya bahagia.


Setelah puas melepaskan kerinduan. Ayah dan anak itu pun juga melepaskan pelukan masing-masing.


"Ayo masuk sayang, kamu pasti kelelahan," ajak tuan besar Aldrich menggandeng tangan putrinya. Tanap melihat kebelakang Aeri mengikuti Daddynya. Seakan lupa pada suaminya yang ada dibelakangnya.


"Dapat laki-laki baru, laki-laki lama dicampakkan. Dasar istri,"ujarnya lalu menyusul istrinya, yang sudah dibawa pergi oleh mertuannya.


"Ini kamar kamu, sayang. Dulu kamu tinggal disini,"kata tuan besar Aldrich. Aeri memasuki kamarnya yang sangat luas. Kamar bergambar karakter babrbie kesukaannya masih sama seprrti dulu. Bahkan letaknya pun tak berubah. Air mata bercucuran tak dapat Aeri tahan, ketika mengingat masa lalunya yang dulunya sangat bahagia.


"Kamu ingat, sayang,"tanya tuan besar Aldrich, segera memeluk erat putrinya yang tengah bersedih.


"A-aeri ing-at se-semuannya, Dad," jawab Aeri terbata-bata karena menangis.


Tuan besar Aldrich begitu bahagia, karena putri yang ia cari-cari selama ini, telah kembali kepelukkannya.


"Kamu pasti lelah diperjalana, sebaiknya kamu istirahatlah dulu ya, sayang,"ujar tuan besar Aldrich melepaskan pelukkannya.


"Iya, dad,"jawan Aeri yang memang sangat kelelahan.


"Shilin, putriku ingin istirahat jangan kau ganggu,"peringatan dari tuan Aldrich untuk menantunya itu.


"Tidak akan, dad,"jawab presdir Shilin.


" kalaupun iya, memangnya kenapa,"jawab presdir Shilin dalam hatinya.


"Ingat, jangan macam-macam. Daddy tinggal dulu. Nanti malam kita akan makan malam bersama,"ujar Tuan besar Aldrich.


"Iya, dad. Selamat sore,"jawab presdir Shilin ramah.


"Istirahat atau olahraga! kamu pilih yang mana sayang?" tanya presdir Shilin menggoda Istrinya.


"Istirahat, Sumiku. Aku sangat lelah,"jawab Aeri menjatuhkan tubuhnya kekasur empuk miliknya.


"Wanginya saja masih sama seperti dulu,"ujar Aeri memejamkan matanya menghirup udara yang sudah lama tak ia hirup.


"Aku lebih suka wangimu, sayang,"sambung presdir Shilin ikut menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang. Dan mengunci tubuh istrinya didalam pelukkannya. Dan keduannya pun langsung terlelap menuju dunia mimpi mereka berdua.


**Bersambung...


Like, komen, hadiah, dan vote๐Ÿ™๐Ÿ’—


Maafkan typonya๐Ÿ™


Selamat membaca dan semoga suka๐Ÿ’—๐Ÿ’—


Lope lope reader๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


๐Ÿ’—๐ŸŒธ**