
πΈπΈπΈ
"Kamu tidak akan bisa ninggalin aku,sayang," ucap Presdir Chao yang ternyata telah sadar sedari tadi. Ia sengaja tidak membuka matannya. Karena ia suka mendengarkan ocehan istri tercintanya.
"Kakak, kakak sudah bangun. Dokter!, Dokter!" Teriak Zanna, membuat tuan Aldrich juga Meilyn yang berada diluar segera masuk kedalam ruangan putra mereka. Karena kuatir kala mendengar teriakan Zanna.
"Apa yang terjadi?" Tanya tuan Aldrich juga Meilyn bersamaan.
"Kak Chao sudah sadar, Dad, Mom," seru Zanna bahagia.
"Benarkah. Chao kau sudah sadar, nak," tutur Meilyn memeluk erat putra tersayanganya.
Tak lama dokter masuk kedalam ruangan. Mereka memeriksa seluruh keadaan Presdir Chao. Mereka langsung melepaskan semua alat juga selang yang terpasang di tubuh Presdir Chao.
"Bagaimana keadaan suami saya, dok. Apa suami saya sudah sembuh, dok?" Tanya Zanna penasaran.
Presdir Chao tersenyum lirih mendengar istrinya yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.
"Aku baik-baik saja, sayang. Kau lupa sekuat apa diriku," ujar presdir Chao lirih.
"Aku tidak bertanya pada kakak. Kalaul kakak kuat kenapa tidak mendorongku saat peluru akan mengenaiku, atau juga bisa kakak menangkapku lalu kita akan jatuh kelantai dengan posisi yang romantis. Bukannya malah menghadang pelurunnya, seperti di film-film saja," kesal Zanna.
"Hey, pikiranmu itu yang malah seperti adegan romantis di film-film. Masak iya lagi genting malah main kukungan dengan romantis. Keburu ditembak lagi oleh musuh," jawab Presdir Chao tak ingin disalahkan. Meski masih lemah, ia tak akan lemah jika berdebat dengan istri cerdasnya.
"Sudah-sudah kenapa malah jadi bertengkar. Chao kau seharusnya mengalah sayang. Istrimu itu lagi hamil. Jangan memancing emosinya," Ujar Meilyn menengahi.
"Dengar apa kata Mom, kak. Kakak harus mengalah padaku. Aku juga masih kesal pada kakak. Sudah sadar, bukannya menyaut apa yang aku bicarakan malah berpura-pura masih koma. Dasar suami durhaka." Kesal Zanna lagi.
"Baiklah, sayang. Aku akan menuruti apapun yang kamu katakan, aku juga suami terbaik di dunia ini, jangan mengatai suamimu lagi durhaka. Oke," ujar presdir Chao mengalah.
"Taun Chao, sudah mulai pulih. Hanya tinggal penyembuhan untuk lukanya. Besok tuan Chao sudah diperbolehkan pulang. Kalau begitu saya permisi." Jelas sang dokter singkat. Sepertinya dokter itu punya banyak sekali pasien yang menunggunya.
"Terima kasih banyak, dokter," jawab tuan Aldrich, Meilyn, juga Zanna bersamaan.
"Sudah sangat membaik, dad. Aku bahkan bisa mengalahkan istriku dalam hal berdebat," jawab presdir Chao berusaha melucu.
"Huhh!" Kesal Zanna kala mendengar ucapan suaminya.
"Syukurlah nak, Mom senang kau baik-baik saja, sayang," tutur Meilyn mengelus rambut putrannya penuh kasih sayang.
"Apa punggung kakak masih sakit?" Tanya Zanna berubah ekspresi seketika. Jika tadi kesal maka sekarang malah menjadi sendu tiba-tiba.
"Sayang, aku baik-baik saja. Aku ini sangatlah kuat. Hanya dua peluru saja, tidak akan mampu melumpuhkanku," jawab Presdir Chao percaya diri.
"Tapi saat itu, ada banyak darah, kak," jawab Zanna yang tiba-tiba saja menangis.
"Sayang, kenapa malah kamu menangis. Aku baik-baik saja, sayang. Justru Aku sangat mengkhawatirkanmu juga baby kita. Bagaimana keadaan baby kita, sayang? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Presdir Chao membujuk istrinya yang sedang dalam mode mellow.
"Aku lapar kak, aku ingin disuapi kakak," ucap Zanna kembali ke mode sebelumnya. Dengan permintaan yang tak nyambung dengan apa yang mereka bahas. Ia hanya mengatakan tentang apa yang ia rasakan.
Presdir Chao tak percaya akan permintaan istrinya itu. Bukankah seharusnya dialah yang butuh disuapi. Tapi apapun akan ia lakukan untuk istri tercintanya.
Tuan Aldrich juga Meilyn hanya tersenyum bahagia melihat adegan romantis antara putra dan menantu kesayangannya itu.
Bersambung....
Like, komen, hadiah, dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lope readersss πππ
ππΈ