
๐ธ๐ธ๐ธ
"Saya tidak percaya tuan, jika memang benar apa yang tuan katakan. Kenapa tuan tidak pernah mencari saya,"ucap Meilyn.
"Aku selalu mencari tau keberadaanmu, Meilyn. Tapi tidak pernah berhasil aku temukan, tapi sekarang aku tau, kenapa aku tidak pernah bisa menemukanmu. Itu terjadi karena Mou yang menyembunyikanmu dariku. Aku mohon maafkan kesalahanku dimasa lalu. Andai kau mengatakannya padaku saat itu, aku yakin kita tidak akan pernah berpisah. Aku mohon maafkan aku, Meilyn. Dan aku mohon kembalilah padaku, aku masih sangat mencintaimu,"tuan besar Aldrich terus memohon.
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku sudah memaafkanmu, tapi untuk kembali padamu. Maaf aku tidak bisa, 30 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Aku tidak mungkin bisa menerimamu secapat ini. Luka dihatiku masih berbekas. Setidaknya beri aku waktu untuk memikirkannya kembali,"jawab Meilyn ragu.
Hatinya luluh ketika mendengarkan alasan yang sebenarnya. Setidaknya ia tau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Rasa cinta dan keinginannya untuk memberikan seorang ayah untuk Chao. Mampu melunturkan seluruh egonya. Rasa cintanya pada Aldrich memang tak pernah sirna, hatinya berbunga seketika, saat mendengarkan tuturan mantan kekasihnya. Ia tak bisa hanya menyalahkan mantan kekasihnya itu, karena dia juga turut bersalah, karena tidak jujur kala itu. Tidak adanya keterbukaan mambuat jarak yang mereka ciptakan sendiri.
"Terima kasih, Meilyn. Aku tau dan sangat yakin, kau masihlah wanitaku yang pemaaf." Ucap tuan besar Aldrich ramah.
Mulai hari ini, tuan besar Aldrich berjanji untuk selalu menjaga wanita yang paling dicintainya ini.
"Tapi apakah kau memberitahu Chao bahwa aku adalah Daddynya?"tanya tuan Aldrich serius.
"Tentu saja dia tau, dari usia 15 tahun dia sudah berhasil menemukan bukti bahwa kau adalah daddynya. Otaknya yang sejenius itu, tidak mungkin tidak tau,"jawab Meilyn masih dengan nadanya yang ketus.
"Itu artinya dia benar putraku. Putraku memang harus jenius sepertiku,"ucap tuan besar Aldrich, membanggakan diri. Tapi sayang, leluconnya tidak ditangapi oleh Meilyn.
Setelah menyelesaikan semua kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka berdua. Kini dua sejoli parah baya itu, kembali kerumah sakit untuk menemui putra dan putri mereka.
๐ธ๐ธ๐ธ
"Kamu tenangkan dirimu dulu, baby. aku berjanji, aku akan secepatnya memabawa putra kita kembali. Tapi tenanglah dulu, agar kamu cepat sembuh,"tuan Yong yang kini berusaha menenangkan Aurel yang masih histeris kehilangan putranya.
Belum reda tangisan Aurel, kini disambung dengan tangisan seorang bayi mungil, yang tangisannya lebih histeris dari Ibunya.
Dengan cepat nyonya besar Mou mengambil Cucunya dari ranjang khusus disana. Lalu memberikan Cucu kesayangannya itu pada Ibunya.
"Sus*i dulu putrimu, percyalah pada Yong. Dia pasti akan segera mendapatkan putramu kembali. Tenangkan dirimu, sayang. Ada seorang bayi mungil yang membutuhkanmu juga, jangan abaikan dia,"ucap nyonya besar Mou membantu menenangkan Aurel menantunya.
Aurel merima bayi mungilnya itu, menciumnya dan juga memeluknya erat.
"Bagaimana cara menyus*i, bu,"tanya Aurel polos.
"Sama seperti aku menyus* padamu, baby,"jawab tuan Yong tanpa rasa malu.
"Dasar Cassanova mesum,"ucap nyonya besar Mou memukul kepala putranya itu.
"Kalau begitu, daddy akan menunggu diluar,"ucap tuan besar Mou lalu berlalu keluar dari ruangan Aurel.
"Begini, sayang. Nah, nah iya begitu,"nyonya besar Mou yang kini mengajari Aurel cara menyus*i.
Jakun tuan Yong turun naik, berusaha menelan salivanya yang tercekat. Ketika melihat kelapa muda Aurel yang kini dilahap oleh putrinya sendiri.
"Baby, kenapa kau tidak mend*sah. Saat aku menghis*pnya kau mend*sah,"ujar tuan Yong heran, tanpa mencerna ucapannya terlebih dahulu, ia bertanya seakan polos.
"Dasar mesum, diam kau,"ancam nyonya besar Mou, kembali memukul kepala putranya itu.
Bersambung.....
Like, komen, hadiah, dan Voteeee๐๐
Rate bintang 5 jangan lupa๐๐
Selamat membaca dan semoga suka๐
Maafkan typonya๐
Follow juga Ig othor, pasti akan othor Follback, IG@Oniya99
๐๐ธ