
πΈπΈπΈ
Tok...tok...tok...
Prsdir segera membuka pintu kamarnya.
"Ini, tuan. Ada kiriman dari Dokter Kelvin," ujar seorang pelayan sopan. Mengulurkan paket pada tuannya.
Tanpa menjawab apalagi berterima kasih, presdir Chao langsung menutup pintu kamarnya, membawa serta paket itu mendekat pada istrinya yang masih menangis.
"Sayang, buka kakimu dulu. Aku akan mengoleskan salep ini," titahnya pada sang istri yang masih terbalut jubah mandi.
"Nggak mau kak, aku takut. Pedih juga salepnya," tolok Zanna.
"Enggak sayang, ini nggak perih kok. Malah dingin rasanya," bujuknya.
"Benarkah," tanya Zanna memelas.
"Iya sayang, bukalah kakimu dulu, agar aku mudah mengolesnya. Kalau tidak diobati nanti bisa infeksi, sayang," tutur Presdir Chao.
"Baiklah," jawab Zanna pada akhirnya. Ia mulai membuka kakinya perlahan. Tak lagi ada rasa malu, rasa takut mampu melunturkan rasa malunya.
Presdir Chao meneguk salivanya bersusah payah. Ah.. iya benar-benar gila melihat benda itu. Sesuatu dibawah sana kembali memberontak. Tapi sekuat tenaga ia tahan. Tidak mungkin ia tega melakukannya lagi, sedangkan istrinya sudah menderita separah itu.
Ia bergidik ngilu, melihat inti sang istri yang bengkak juga memerah. Ulahnya, bukan ulahnya, tapi ulah senjatanya yang benar-benar kelewatan.
Bergidik ngilu, ia mengoleskan salep itu perlahan. Zanna meringis menahan perih, tak lama ia merasa hawa dingin dibawah sana. Suaminya tak berbohong kali ini, salep itu benar-benar membuatnya lega. Juga nyaman karena sensasi rasa dinginnya.
"Sudah, sayang," perlahan Zanna kembali mengatupkan kedua kakinya. Melihat itu membuat presdir Chao merasa amat bersalah. Ia menyalahkan dirinya kali ini. Tapi entah kenapa setiap mengingat tubuh istrinya membuatnya selalu menegang.
Ia berencana untuk menemui dokter Kelvin. Ini tidak bisa dibiarkan. Ia takut, kalau ia mengalami Hypers*ks. Ia tidak ingin melukai sang istri untuk yang kedua kalinya.
"Kamu istirahat dulu ya, sayang," ujarnya.
"Aku lapar, kak," jawab Zanna memelas.
"Baiklah, kakak akan kebawah membawakan makanan. Kamu istirahat ya," ucapnya. Dijawab anggukkan kepala dari Zanna.
Tak butuh waktu lama, Zanna pun terlelap. Rasa lelah yang amat sangat membuatnya begitu nyaman tidur siang menjelang sore.
Presdir Chao kembali ke lantai bawah menuju ruang makan untuk makan siang.
"Bagaimana keadaan istrimu?" Tanya Meilyn mengambil makan siang untuk sang putra kesayangan.
"Dia sedang istirahat Mom, dia kelelahan," jawab Presdir Chao duduk dihadapan Daddy, juga sang Mommy.
"Jangan berlebihan, pikirkan juga kesehatan istrimu." Saut tuan Aldrich membuat presdir Chao ciut. Presdir Chao sempat bingung kenapa Daddynya tidak marah padanya. Bukannya sang Dadsy masih mengira kalau istrinya itu adalah gadis dibawah umur. Tapi mengingat betapa berkuasanya sang Daddy, ia pun mengurungkan niatnya. Memangnya apa yang tidak diketahui oleh sang Daddy yang bahkan lebih jenius darinya.
"Oh iya, Apa Anna sudah malam?" Tanyanya mengingat kakak iparnya juga berada dirumahnya.
"Sepertinya masih tidur siang, biar Mom periksa dulu. Kalian lanjut saja makannya," ujar Meilyn menuju kamar tamu, dimana Anna berada.
Samapi di daun pintu, Meilyn langsung masuk karena memang pintu kamarnya telah terbuka.
"Anna, Anna. Kamu dimana, nak?" Teriaknya pelan.
Kamar mandi, walk in closed, balkon. Semua sisi tak luput dari pencariannya, tapi tak kunjung menemui keberadaan Anna.
Panik, Meilyn langsung membuka lemari Anna. Tidak ada apapun di dalam lemari, hanya ada selembar surat yang bertulis tangan disana. Surat itu berisi.......
Bersambung...
Like, komen, hadiah, dan Vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lopeeeee readerssss πππ
ππΈ