
πΈπΈπΈ
"Dan satu lagi, tuan. Saya juga menyarankan agar tuan tidak melakukan hubungan se*s dulu pada istri anda. Setidaknya tiga hari setelah masa haidnya selesai,"
Duaaaar......
Mendengar ucapan sang dokter, presdir Chao seakan tersambar petir disiang bolong. Sudah dapat menyaingi adegan disinetron-sinetronπ(lempeng dan garing thor)ππ
Sedangkan Nia, berusaha menahan tawanya. Kala melihat ekspresi suaminya yang sudah seperti orang linglung.
Setelah mengucapkan kalimat yang membuat Presdir Chao membatu, dokter juga suster segera keluar dari ruangan Rawat Nia.
"Sabar ya kak, hanya 9 hari kok, kak. Bertahun-tahun kakak jomlo, kuat-kuat aja tu kakak nahannya. Masak iya cuma 9 hari kakak nggak kuat. Ingat loh! Kakak udah janji sama aku, buat bantuin aku balas dendam." Ucap Nia merasa senang, karena ia masih bisa mengulur waktu. Hingga ia akan siap nantinya.
"Ayo lanjutkan makanmu," Ujar presdir Chao, mengubah topik pembicaraan.
"Nggak mau kak, aku sudah kenyang. Kakak saja yang makan," tolak Nia.
"Yasudah, istirahatlah dulu," jawab Presdir Chao menyelimuti tubuh Nia, agar tetap hangat.
"Kenapa? Apa masih pusing?" Tanya Presdir Chao. Saat melihat Nia yang memijit-mijit keningnya.
"Iya kak, mana bisa aku tidur. rasanya cenut-cenut," jawab Nia manja.
"Sini aku pijit. Bagaimana rasanya? Apa mendingan?" Tanya Presdir Chao, sambil memijit-mijit ringan kening Nia.
"Iya kak, adem bangat rasanya. Apalagi wajah kakak seksi banget, kalau diliat dari bawah si.....," Nia langsung membekap mulutnya kala menyadari ucapannya barusan.
"Jangan memancingku, Nia." Ucap Presdir Chao kesal. Entah sejak kapan ia tak sangup menahan hasratnya, jika melihat istrinya bertingkah imut seperti itu.
"Masak iya, aku cuma bilang kakak tampan. Si onon langsung on, parah banget tu si onon. Cepet banget on-nya," ucap Nia menjahili suaminya.
"Nia," panggil Presdir Chao menekan nama samaran istrinya itu.
"Tidak kak, aku hanya bercanda. Tapi kak, kalau si onon-nya kakak, langsung on saat melihatku. Itukan namanya nafsu, kak. Berarti kakak belum benar-benar mencintaiku," ucap Nia sedih.
"IQ mu berapa, Nia! Apa kepintaran yang kamu banggakan ikut pergi bersama darahmu," jawab Presdir Chao kesal.
"Hehehehe...Aku bercanda lagi, kak," jawab Nia, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa semua perempuan seperti itu? Hanya menginginkan seorang pria menjadi Budaknya," Presdir Chao, berucap sambil terus memijit pelan kening istrinya.
"Dengar ya, Nia. Aku hanya akan mencintaimu apa adanya. Menjagamu lebih dari menjaga diriku sendiri. Melindungi mu lebih dari melindungi diriku. Tapi aku akan mencintaimu, seperti aku mencintai diriku sendiri. Jangan berharap banyak, kalau aku akan Bucin padamu, seperti dicerita-cerita novel lainnya. Karena hal itu tidak akan terjadi," jelas Presdir Chao pada Nia. Tapi Nia tidak mengerti sedikit pun apa yang dikatakan suaminya. Yang ia tangkap, Jika suaminya tidak akan Bucin padanya. Hal itu membuat Nia ingin sekali mengetesnya.
"Disini juga pegel kak, disini juga kak," ucap Nia menunjuk setia sudut tubuhnya. Dan Presdir Chao tanpa curiga, melakukan apapun yang yang diperintahkan oleh istrinya.
Entah disadari atau tidak. Semua hal yang ia lakukan pada Nia, adalah bentuk kebucinan yang mungkin saja sudah tingkat akut.
πΈπΈπΈ
Keesokkan paginya:
Di ruangan rawat Wina:
Tania duduk diatas kursi roda, menghadap pada Wina yang kini tengah terbaring lemah diatas kasurnya.
"Apa dia akan baik-baik saja, kak?" Tanya Nia kuatir.
"Kata dokter, dia akan segera siuman. Kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan nya," jawab Presdir Chao.
"Tapi kak, dia tidak punya satupun keluarga. Dia persis sama seperti aku, kak. Sama-sama tidak punya siapa-siapa," ucap Nia sedih, setetes buliran bening lolos dari salah satu sudut matanya. Kala mengingat alhm ibu juga ayahnya.
"Apa kau tidak menganggap aku ada," jawab Presdir Chao.
Bersambung.....
Like, komen, hadiah, dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lope readersss π
ππΈ