My Boss Is My Husband

My Boss Is My Husband
Bonchap ~ Shilin & Aeri



"Aku ingin makan mangga yang dipanjat langsung olehmu," takut-takut Aeri mengatakan keinginanya.


Tentu saja sayang. Jangankan memanjat pohon mangga, memanjat Menara Aifel sekalipun akan aku lakukan untukmu," ucapnya berlebihan.


"Baguslah," jawab Aeri tersenyum.


"Tetap disisni sayang, aku akan langsung memanjatnya untukmu," kata presdir Shilin siap menuju taman belakang.


"Sayang, kamu ingin memanjat pohon mangga yang dimana?" Tanya Aeri membuat langkah sang suami terhenti.


"Tentu saja pohon mangga dibelakang sayang. Kebetulan mereka sudah berbuah. Apa kamu mengkhawatirkan aku sayang. Tenang saja, walaupun pohonnya tinggi aku akan memanjatnya untukmu." Ujar presdir Shilin bersemangat.


"Ta-tapi aku tidak menginginkan mangga dibelakang. Aku sudah memakannya mangga itu tadi pagi. Dan rasanya tidak enak, aku tidak suka mangga disana," berkata dengan wajah menggemaskan.


"Lalu, apa kamu mengingkan mangga di Mall, Sayang?" Ekspresinya sedikit lesu, tapi tetap semangat untuk menuruti ngidam istrinya. Selama ini Aeri tak pernah ngidam apapun. Dan baru akhir-akhir ini Aeri mengngidam, sebagai suami siaga presdir Shilin tak ingin melewatkan momen yang menurutnya penting ini. Ya, penting. Ia sibuk sendiri kala semester pertama Aeri tak pernah ngidam apapun. Dan di usia kandungan ke lima barulah Aeri ngidam.


"Aku hanya ingin mengga yang kita tanam dulu, sewaktu kita kecil. Daddy bilang mangganya sudah berbuah lebat. Dan aku hanya ingin makan mangga itu. Aku juga menagih janji kamu, yang dulunya mengatakan akan memanjat pohon itu untukku," jawab Aeri.


Presdir Shilin kaget dengan keinginnan Aeri. Kaget, bukan karena ngidamnya Aeri yang luar biasa sulit. Tapi, ia kaget karena Aeri masih mengingat janjinya dimasa lampau.


"Kamu masih mengingatnya, Sayang?"


"Tentu saja aku mengingatnya, bahkan aku ingat semua kenangan kita di masa lalu," jawab Aeri.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang." Ciuman hangat mendarat di bibir Aeri.


"Berhenti, sayang. Cepatlah petikkan mangga untukku," pinta Aeri saat dia dilepaskan.


"Bagaimana kalau besok, ini sudah larut malam sayang." Tak menjawab tapi melengos lalu membalikkan tubuhnya menatap dinding putih di kamarnya.


Hufff ….


Terdengar suara tarikan napas berat dari suaminya membuat Aeri mencebik bibirnya lalu keluarlah air matanya.


"Baiklah sayang, aku akan berangkat ke Amerika sekarang juga," berusaha sabar saat menghadapi istrinya.


"Tidak usah, aku tidak mengingnkan mangga lagi!" Menarik selimutnya kasar. Aeri berusaha memajamkan matanya. Bohong, dia selalu berbohong. Jelas barusan dia mengatakan akan memanjat menara Aifel demi diriku. Batin Aeri merutuk.


"Sayang, maafkan aku. Aku hanya salah bicara, maksudku aku akan beragkat kesana untuk memetikkan mangga untukmu." Bujuknya sia-sia.


"Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku berangkat sekarang ya, " ujarnya melangkahkan kakinya akan pergi.


"Jangan keluar dari kamar!" Larang Aeri dengan suaranya yang jelas telah menangis.


"Baiklah, sayang. Aku tidak akan kemana-mana," mode paling sabar.


"Jangan mendekat. Jangan tidur di ranjang!" larang Ari lagi. Presdir Shilin langsung menurunkan kakinya yang barusan dia angkat,


Apakah itu artinya aku akan tidur di luar. Tapi, bukannya aku tidak boleh keluar. Batin presdir Shilin kebingungan.


"Kalau tidak di ranjang, lalu aku akan tidur dimana sayang?" Keluhnya memohon, berharap diizinkan tidur di ranjang.


"Tidur saja dilantai," ketus Aeri.Batin pesdir Shilin kala mengingat dimana dulu ia membuat Aeri tidur di lantai dingin.


"Sayang, aku mohon maafkan aku," mohonnya percuma karena tak dipedulikan Aeri.


"Baiklah, sayang. Aku akan tidur di lantai," dengan gontai tangannya menyambar sebuah selimut juga bantal. Lalu segera tidur di lantai dingin itu.


Baru sebentar dia berbaring, dia sudah tak sangup akan dinginnya lantai itu. Apa kabar Aeri dulu yang tidur dilantai dalam keadaan basah kuyup. Mengngat hal itu, hatinya berdenyut nyeri. ingin sekali ia menghukum orang yang telah menyiksa istri tercintanya.


Tapi sayangnya, lelaki brengsek itu adalah dirinya sendiri. Dengan segala penyesalannya ia pun memaksakan dirinya untuk tidur di lantai dingin itu. Satu pelajaran yang ia petik dari kejadian malam ini yaitu, Jangan katakan TIDAK pada Ibu Hamil.


Keesokkan paginya.


"Mommy, jaga istriku untukku. Dah," satu kecupan mendarat di pipi Nyonya Mou.


"Tumben dia berangkat ke kantor sepagi ini,"


"Mungkin ada urusan penting, Mommy." Terka Aurel.


"Iya mungkin sayang. Wah cucu-cucuku makanya lahap sekali," ucapnya gemas melihat tingkah Twin G.


Di kamarnya, Aeri tampak uring-uringan. Melempar bantalnya melampiaskan kekesalannya.


"Berangkat ke kantor sepagi ini, apa dia selingkuh dengan sekretarisnya yang centil itu." Hormon kehamilan mendorongnya untuk selalu berpikir negatif.


"Aku akan ikut dengannya ke kantor besok. Lihat saja besok," kesal Aeri lalu melempar lagi bantalnya kearah pintu dan hampir mengenai Nyonya Mou jika saja tidak dia elak.


"Aeri sayang. Kamu kenapa?" Meletakkan nampan diatas nakas.


"Mo-Mommy. Maaf," ucap Aeri terbata.


"Tidak kena sayang, kamu kenapa sayang. Apa Shilin membuatmu kesal," mengangguk sebagai jawaban.


"Dasar pria satu itu! Tidak usah pikirkan dia, Sayang. Nanti biar Mommy yang kasih pelajaran, sekrang kamu sarapan dulu ya. Apa mau Mommy suapin. " Tawar nyonya besar Mou.


"Tidak usah, Mommy. Aeri makan sendiri."


"Yasudah, ini sarapannya. Dihabisin ya sayang. Mommy mau kebawah lagi untuk bantuin Aurel, kasian dia kerepotan, " ucapnya sambil mengelus lembut kepala Aeri.


"Terimakasih, Mommy," ucap Aeri tulus


"Sama-sama sayang. Jangan lupa abis sarapan langsung istirahat." Kembali mengangguk sebagai jawaban iya.


Seperti biasa, dengan lembut presdir Shilin memijit-mijit pundak sang istri. Begitu selesai ia langsung mengangkat tubuh lemah Aeri lalu membaringkannya di kasur.


"Apa sudah mendingan?" Raut wajahnya tampak begitu kuatir.


"Hemm," Jawab Aeri singkat, teneganya terkuras habis hingga bicara saja dia tak sangup.


"Oh iya sayang, aku membawakan buah mangga untukmu. Tadi pagi, aku berangkat ke Amerika bersama Sekretaris hazel hanya untuk memetik buah mangga ini untukmu. Lihatlah ini, aku memetiknya sangat banyak, sayang." Lapor presdir Shilin bersemangat. Tapi tidak dengan Aeri yang menampakkan semburat cemburu saat mendengar bahwa suaminya pergi keluar negeri bersama perempuan lain.


"Bersama Sekretaris Hazel!" Ujar Aeri tak suka.


"Iya, Sayang. Tapi kau tenang saja. Aku sendiri yang memanjat dan memetik buah mangga ini. Bukan Sekretaris Hazel."


Ya, aku tau itu Tuan Muda, mana mungkin kau membiarkan perempuan memanjat pohon. Apalagi perempuan itu adalah selingkuhanmu sendiri. Terka Aeri yang pastinya hanya salah paham.


"Baiklah. Kalau begitu, apa boleh aku makan mangganya sekarang." Salivanya hampir menetes saat membayangkan betapa nikmatnya asam manis yang menyegarkan melumuri indera perasanya.


"Ti … Tidak. Maksudku boleh, sayang. Tapi sebelum makan mangga, perutmu harus diisi dengan karbohidrat lebih dulu, agar kau tidak sakit perut nantinya." Jelasnya hampir saja melupakan hal yang bisa membuatnya akan kembali tidur di lantai.


"Aku tidak mau makan karbohidrat lagi. Tadi, tak lama sebelum kau pulang aku sudah makan sangat banyak bersama Mommy," jawab Aeri sambil mengerucutkan bibirnya imut.


"Tapi sayang ….


"Aku mau buah mangga sekarang," wajah imut, bibir manyun, mata berbinar, pipi merah dengan bahunya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan membuat pertahanan seorang presdir Shilin goyah. Ingin sekali dirinya menerkam istrinya itu sekarang juga. Namun, hal itu tak mungkin tega ia lakukan. Ingat, ia harus sering menahan nafsunya untuk sekarang.


"Baiklah sayang, akan aku kupaskan untukmu." Jawab Presdir Shilin akhirnya mengalah.


4 bulan berlalu, terasa begitu cepat. Kini, presdir Shilin merasa begitu lega, karena sebentar lagi tidak akan ada drama-drama ngidam yang selalu menyiksa dirinya.


Makanan aneh yang tidak ada harus ada, diusir dari kamar hanya alasan sesak napas atau kepanasan padahal ada tiga cctv yang menyala, jangan lupakan dirinya yang setiap tiga hari sekali harus bolak balik Amerika hanya untuk memanjat pohon mangga yang ada dibelakang Mansion sang Daddy Mertua, Terkadang Aeri juga sering menangis hanya karena terharu melihat keponakkannya yaitu Garren dan Girren, saat dia menangis seperti itu dengan mudahnya dia akan melimpahan kekesalannya pada sang suami.


Terlepas dari itu semua, sebenarnya presdir Shilin menjalaninya dengan begitu bahagia. Disaat seperti itulah dia merasa bahwa dirinya adalah Suami yang sangat hebat dan begitu berguna.


Kandungan Aeri sudah memasuki minggu terakhir. Dan itu artinya, tinggal beberapa hari lagi, Aeri akan segera melahirkan. Semua persiapan telah sempurna dilakukan. Malam itu, Aeri terbangun kala merasakan sakit diperutnya.


"Sayang, bangun sayang." Ujar Aeri berusaha membangunkan suaminya.


"Sayang, bangun sayang. Tolong aku, perut aku sakit sekali," menepuk pantat sang Suami dengan keras, tapi masih belum ada pergerakan. Dengan inisiatifnya, Aeri mencengkram kuat senjata pusaka sang suami hingga sang pemilik mendesah juga langsung terbangun.


"Apa kau lagi ingin sayang?" Tanya Presdir Shilin dengan suara khas bangun tidur.


"Ingin apa! Perutku sakit sekali!" Teriak Aeri kala sakit di perutnya semakin menjadi.


"Apa kau ingin melahirkan, Sayang!?" Teriak Presdir Shilin langsung bangkit. Dan akan menggendong Aeri untuk dia bawa ke rumah sakit.


"Lepaskan aku!" Teriak Aeri seraya meringis. "Pakai dulu celanamu," sambung Aeri dengan pelan karena menikmati sakitnya.


"Aataga, dimana celana dan bajuku, Sayang?" Tanya Presdir Shilin panik.


"Mana aku tau, kan kamu sendiri yang melemparnya!" Teriak Aeri sambil megatur napasnya.


"Ini dia, tunggu sebantar sayang," sautnya bergegas memasang pakaiannya dengan terburu-buru. Begitu selesai, dia langsung menggendong Aeri untuk dibawa ke rumah sakit. Tak lupa dia berteriak untuk membangunkan seluruh penghuni rumah yang kini sedang tertidur lelap.


Begitu tiba di rumah sakit, Aeri segera ditangani oleh Dokter. Kini, Aeri terbaring diranjang dengan kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan Presdir Shilin untuk melampiaskan rasa sakitnya. Rasa sakit yang sama saat dia kehilangan bayi pertamanya.


Kali ini, Aeri tampak begitu tangguh. Bahkan tidak ada setetes air pun mengalir dari kedua sudut matanya. Hanya keringat yang terus mengucur yang selalu di lap oleh presdir Shilin. Aeri memang tidak menangis saat tulang belulangnya diremukkan. Tapi, berbeda dengan Presdir Shilin yang kini menangis tersendu-sendu kala terharu melihat perjuangan sang istri saat melahirkan putrannya.


Oek … Oek … Oekk ….


Saat mendengar tangisan sang Baby, barulah Aeri menitikkan air mata haru. Aeri meyambut putrannya dan langsung memeluknya erat. Presdir Shilin langsung menghujami wajah sang istri dengan ciuman bertubi-tubi, tak lupa ucapan terimakasih yan tak henti-hentinya ia ucapkan. Tangisan bahagiannya terus mengalir sedari tadi.


Kini, semua keluarga bergantian masuk kedalam kamar rawat Aeri. Untuk melihat keadaan Aeri dan juga baby Lee pastinya. Ya, Presdir Shilin memberikan nama Lee yin mou kepada putra kesayangnnya.


"Saya ucapkan selamat kepada Nona Aeri dan Juga Tuan Shilin. Selamat atas kehadiran sang Pewaris keluarga Mou." Ucap Sekretaris Hazel ramah.


"Kamu siapa?" Tanya Aeri yang belum mengenal Sekretaris Hazel.


"Dia adalah Sekretaris baruku, Sayang. Namanya Hazel, Sekretaris Hazel." Saut Presdir Shilin.


Ya Tuhan, aku kira Hazel itu nama perempuan. Jadi, selama ini aku hanya salah paham. Batin Aeri yang selama ini mengira bahwa Sekretaris Hazel adalah seorang perempuan. Nyatanya, Sekretaris Hazel adalah seorang laki-laki.


"Terimakasih Sekretaris Hazel," Ucap Aeri tulus.


"Sama-sama, Nona Aeri. Kalau begitu saya pamit," Ujar Sekretaris Hzel segera keluar dari ruangan rawat Aeri.


Kini, hanya akan ada kebahagiaan yang akan Aeri nikmati. Perjalanan hidup yang penuh lika-liku telah selesai dia jalani. Ini saatnya dia hidup bahagia. Bersama Suami, Putra, dan juga keluarga besarnya.


***


END


Epilog


Belum saatnya kalian berbahagia. Karena masih ada aku yang akan membalas kalian semua atas kematian kakakku, Kak Mike. Batin Sekretaris Hazel yang kini berjalan di koridor rumah sakit sambil tersenyum licik.


***


Hallo semuanya, masih adakah yang aktif🙈


Cuma mau bilang, jangan lupa baca novel author yang lainnya juga ya😍. Tinggal ketik aja ONIYA di kolom pencarian. Jangan lupa juga follow IG Author @Oniya_99. Terima kasih semuanya, calangeo 😘