
πΈπΈπΈ
Setelah mengundurkan jadwal bulan madu selama 1 bulan. Seminggu telah berlalu. Aeri, presdir Shilin dan yang lainnya kembali beraktivitas seperti biasa. Sedangkan tuan besar Aldrich telah lebih dulu kembali ke Amerika dengan membawa putranya yaitu sekretaris Chao.
Dia dan putranya, diam-diam menyiapkan acaranya untuk melamar sang pujaan hati, siapa lagi kalau bukan Meilyn cinta pertamanya. Dia juga sibuk menyiapkan pesta pernikahan yang mega untuknya dan Meilyn yang akan ia adakan bersamaan dengan hari pengangkatan Chao putra pertamanya sebagai penerusnya. Dan juga memberitakan kepada dunia siapa Meilyn dan Chao sebenarnya. Bukan cuma itu saja, dihari itu ia juga akan memberitakan bahwa putrinya yang dinyatakan meninggal dunia, juga masih hidup. Walaupun usia pasangan itu sudah tak muda lagi, tapi tuan Aldrich ingin memberikan yang terbaik untuk Meilyn. Menggingat ia tak pernah membuat Meilyn bahagia. Setidaknya mulai sekarang ia akan menebus semua kesalahanya dimasa lalu.
3 minggu menjelang bulan madu, tak banyak yang Aeri lakukan. Selain membantu adiknya mengurus keponakannya. Tapi tak jarang, Aeri merasa iri dan juga diasingkan ketika semua keluarga sudah berkumpul.
Sedangkan komunikasinya dengan sang suami juga tak berjalan baik. Banyaknya masalah yang terjadi dikantor membuat presdir Shilin kualahan. Tak ada lagi sosok orang jenius disampingnya membuatnya kelabakkan.
Akhirnya ia merasakan apa yang dirasakan oleh sekretaris Chao selama ini. Sikapnya yang masih belum berubah membuatnya susah untuk mencari pengganti sekretaris Chao. Siapa yang tahan bekerja denganya, seorang bos yang bukan hanya tukang atur semaunya, tapi juga pemarah dan arogan.
Sifatnya memang Arogant pada semua karyawannya. Tapi tidak pada istri dan keluarganya. Walaupun tidak banyak, tapi ia sudah cukup berubah. Lebih penyayang, sabar, dan mesum pastinya.
Tak jarang ia pulang larut malam demi menyelesaikan semua pekerjaannya dikantor. Adiknya, tuan Yong, tak dapat membantu. Karena tuan Yong masih fokus pada rencananya untuk mengambil putranya dari tangan Nosa. Rencana gagal, membuatnya harus kembali menyusun strategi yang lebih apik. Jika masih saja tak berhasil, mungkin ia sendiri yang akan menghadapi Nosa. Dan itu artinya ia harus bertaruh nyawa.
Malam itu semua penghuni sudah tertidur pulas, mengingat waktu sudah sangat larut malam. Tapi tidak dengan Aeri, ia masih terjaga dan masih setia menunggu kepulangan sang suami tercinta.
Presdir Shilin yang tak pernah memberinya kabar tentang kepulangannya yang terlambat. Atau bahkan sering tak pulang, membuat perasaan Aeri semakin tak tenang. Bagaimana Aeri bisa tenang, jika setiap presdir Shilin pulang ia sudah terlelap. dan presdir Shilin juga pergi kerja subuh-subuh sekali. Dan tak pernah membangunkannya untuk sekedar pamit berangkat kerja.
"Apakah ia sudah tidak mencintaiku lagi? Apakah ia sudah bosan padaku? Apakah ia membenciku karena aku tidak bisa memberinya keturunan? Apakah selama ini, juga merasakan perasaan yang sama sepertiku, Apakah ia juga merasa iri melihat adiknya sudah punya keturunan sedangkan ia belum. Apakah ia kembali seperti semula? Apakah ia selingkuh?"ucap Aeri yang begitu lemah saat ini. Entah sejak kapan ia menjadi lemah seperti ini. Ini bukanlah dirinya, ada apa denganya. Kenapa pikiran-pikiran negatif selalu mendatanginya.
Seharusnya ia sudah kebal pada perasaan-perasaan yang seperti ini. Bukankah dulu juga begini, dimana ibu dan ayah angkatnya lebih menyayangi adiknya Aurel. Sejak kapan ia bersikap sangat cengeng dan juga mengaharapkan perhatian dari otang lain.
Memeluk gulingnya erat, Aeri berusaha memendam suara tangisnya. Tak lama ia pun terlelap dengan sisa-sisa air mata dipipinya.
Kreeek, (suara pintu dibuka pelan seseorang)
Bersambung.......
Nanti othor sambung lagi, janji deh. Ini lagi ada sedikit urusan Pentingππππ
ππΈ