
πΈπΈπΈ
Sementara itu, disebuah negara yang terus berkembang. Disebuah villa yang begitu luas. Aurel yang kini tengah duduk santai diruang tamu, ditemani dengan berbagai cemilan, dan juga secangkir susu ibu hamil rasa coklat.
Sang suami yaitu tuan Yong, tengah asik mendiskusikan entah apa bersama dengan Zhang.
Begitu diskusi mereka selesai, Aurel mendekati sang suami yang masih ia panggil dengan sebutan tuan.
"Tuan, apa boleh saya meminta sesuatu?"tanya Aurel memasang wajah imutnya.
"Apa lagi yang kau inginkan, apa cemilannya masih kurang?"tanya tuan Yong.
"Bukan cemilan tuan, saya tidak mau cemlan lagi. Saya mau makan itu tuan, "tunjuk Aurel pada iklan di televisi. Dimana didalam televisi itu, ada seorang chef yang memperagakan keahliannya membuat makanan khas jepang yaitu Sushi.
"Kau ingin Sushi?"tanya Yong mengerutkan dahinya.
"Iya tuan, "jawab Aurel berbinar.
"Aku bisa buat Sushi, kau mau, "tawar tuan Yong.
"Saya hanya ingin makan direstoran itu, tuan,"kembali telunjuk Aurel mengarah ke televisi disana.
"Apa kau gila, ini sudah tengah malam. Perjalanan kesana butuh waktu lumayan lama, "bentak tuan Yong membuat Aurel hampir menangis.
"Tuan, berbeda dengan tuan saga, "ucap Aurel dengan bergetar. Sama dengan kakaknya, hormon kehamilan memang membuat setiap calon ibu sedikit-sedikit ingin menangis.
"Dasar cengeng. Cepat, sebelum aku berubah pikiran, "bentak Yong lagi. Tapi disambut senyuman oleh Aurel. Aurel senang karena keinginannya dapat terpenuhi.
Hubungan mereka berdua semakin hari semakin membaik. Aurel yang penurut mampu meluluhkan hati seorang casanova seperti Yong. Tingkahnya yang agak sedikit manja dan polos, menjadi daya tarik tersendiri bagi tuan Yong.
Kurang lebih 30 menit perjalanan, kini Aurel dan tuan Yong telah berada didepan sebuah lestoran Jepang ternama di China. Walaupun China juga biasa makan Sushi, tapi cita rasanya berbeda dengan Sushi khas Jepang.
Walaupun sudah tengah malam. Tapi ternyata lestoran mewah itu masih tetap terbuka.
Aurel mengekor dibelakang tuan Yong, masuk kedalam lestoran. Memilih meja yang ada didekat jendela. Agar bisa melihat pemandangan malam yang indah.
Tak lama seorang pelayan menghampiri mereka, Aurel memesan berbagai macam Sushi. Ketika hidangan telah tersedia, Aurel melahapnya dengan sangat cepat. Membuat tuan Yong merasa malu. Karena pengunjung lain menatap Aurel aneh.
"Hey baby, pelan sedikit makannya. Lihat semua orang melihatmu. Membuatku malu saja. "bisik tuan Yong pada Aurel.
"Hehehe... Maaf tuan, "Aurel berkata lalu mulai makan dengan sedikit santai.
"Tuan kenapa malu, apa lestoran ini bukan punya tuan. Tuan kan kaya, "ucap Aurel dengan mulut penuhnya.
"Tentu saja bukan, ini lestoran jepang. Lestoran keluargaku ada disebelah sana. Lestoran China, "jawab tuan Yong mengarahkan telunjuknya pada sebuah Lestoran, yang ukurannya 3 kali lipat lebih besar daripada lestoran saat ini mereka pijaki.
"Wahhhh.... Tuan benar-benar The Real Sultan, "ucap Aurel kagum.
"Selesai tuan, ayo kita pulang,"ucap Aurel setelah berhasil menghabiskan semua Sushi yang tadi dipesannya.
Sebelum menjawab tuan Yong menelan salivanya bersusah payah. Ia terkagum-kagum melihat nafsu makan Aurel yang memang tdak biasa.
"perut karet, "batin tuan Yong.
"Ayo...., "ajak Yong yang berdiri lebih dulu.
"Tuan saya tidak kuat berdiri, "ucap Aurel yang kini memang kesusahan untuk berdiri. Perutnya yang sudah membuncit dan makannya yang banyak membuat beban tubuhnya bertambah.
"Kau itu seperti kerbau saja, pakai dulu topi dan maskermu, "ucap tuan Yong membantu Aurel untuk berdiri.
"Terima kasih tuan, "ucap Aurel tulus. Lalu mengambil topi dan maskernya. Dan memasangkannya cepat.
Tanpa mereka berdua sadari, ada banyak pasang mata yang kini mengintai mereka berdua.
Setelah membayar tagihan, mereka berdua pun berjalan menuju parkiran.
Masuk kedalam mobil, Aurel duduk disamping suaminya.
"Shiiit...,"umpat tuan Yong membuat Aurel heran.
"Ada apa tuan, "tanya Aurel panik, karena tuan Yong mulai menaikkan kecepatan mobilnya.
"Eratkan sabuk pengaman mu, dan cepat menunduk, "teriak Yong membuat Aurel menunduk seketika.
"Doorr... "(suara tembakan hampir mengenai kepala aurel, jika tidak ditekan paksa oleh tuan Yong untuk menunduk.
"Aaaaa.... "pekik Aurel ketakutan.
"Tetap menunduk, "titah tuan Yong mulai membelokkan mobilnya dengan lincah. Lalu mengeluarkan senjatanya. Untuk bersiap-siap.
Melihat ke kaca spion, mata tajamnya menatap 5 mobil berwarna hitam yang mencoba mengejarnya. Dengan tembakan-tembakan mereka yang datang berturut-turut, sedikit banyak mampu dielak oleh kelincahan tuan Yong.
Melihat jumlah lawannya yang sangat banyak, Yong segera menekan sebuah tombol merah yang ada disamping kemudinya. Tombol itu berguna untuk mengirimkan sinyal darurat kepada Zhang. Dan jika tuan Yong menekannya, Zhang akan langsung menerima sinyal darurat itu secara otomatis.
Sedangkan Aurel masih dengan posisi menunduk, tubuhnya juga gemetar ketakutan. Ia sampai tak bisa bersuara saking ketakutan. Hanya air mata yang terus memgalir sambil terus memeluk perutnya guna melindungi janinnya.
"Dooorr...., "kembali satu tembakkan mendarat dipintu mobil, tepat disamping Aurel berada. Aurel menjerit kencang, apalagi ia melihat sendiri sebuah peluru menancap dipintu, disampingnya.
Aurel semakin menjerit kencang. Ketika ia mendengar suara tembakkan yang lewati diatas kepalanya. Tembakan itu bukanlah berasal dari musuh, tapi tembakan yang berasal dari tuan Yong, yang membidik dengan tepat, hingga mengenai kepala musuh disana. Hingga mobil itu jatuh kejurang karena kehilangan kendali. Satu mobil yang menyelip berhasil Yong lumpuhkan. Tinggal 4 mobil lagi yang kini terus berusaha mengejar.
Kini keadaan semakin rumit, 2 mobil musuh berhasil menyusup dikiri dan kanan mobil tuan Yong.
Tapi tak bertahan lama, keahlian seorang Yong dalam membidik, memang tak dapat diragukan. Kedua mobil itu jatuh kejurang menyusul satu mobil sebelumnya. Hanya kepulan Asap yang menjadi pertanda bahwa orang didalamnya tak akan bisa selamat.
Ketika melewati jalanan yang lurus, tuan Yong membuka sedikit atap mobil, meninggalkan stir kemudinya. Setelah itu berdiri dan 1 tembakan mendarat sempurna, melewati kaca mobil musuh dan menebus kepala sang pengemudi. Kembali satu mobil musuh kini berputar-putar sebelum akhirnya terjatuh kedasar laut.
Tinggal satu mobil lagi. Dan sialnya bagi tuan Yong, mobil dibelakangnya berhasil menembak salah satu ban mobilnya. Beruntung mereka sudah tak melewati jurang ataupun dikelilingi pantai lagi. Kini mereka sudah berada dijalan yang bayak sekali pohon tingginya. Dan mobil tuan yong menabrak sebuah pohon besar disana.
Beruntung mobil mewah itu punya kemapuan untuk melindumgi pemiliknya, ketika rerjadi kecelakaan seperti saat ini. Aurel dan tuan Yong tampak baik-baik saja, tidak ada yang terluka. Hanya mobil bagian depan yang bonyok parah karena menabrak pohon besar itu.
Tuan Yong segera keluar dari mobilnya. Musuh memang beruntung karena berhasil melumpuhkan mobil tuan Yong. Tapi sepertinya mereka masih kurang beruntung karena ternyata mereka kehabisan peluru. Tapi imbas karena tuan Yong juga kehabisan peluru.
Tanpa alat tembak, kini mereka saling tempur menggunakan kekuatan.
Aurel yang berada didalam mobil dengan cepat keluar dari mobil, karena mobil itu sudah berasap dan akan segera meledak. Beruntung Aurel keluar dengan cepat, dan seketika mobil itupun benar meledak. Kini Aurel terduduk dijalan, ia sudah tak kuat lagi untuk berlari ataupun berdiri.
Mendengar suara dentuman, Yong mengedarkan pandanganya pada Aurel, hatinya cukup tenang ketika melihat Aurel istrinya selamat.
Dalam sekejab Yong berhasil melumpuhkan kelima musuhnya hingga terkapar.
Tiba-tiba saja seorang musuh perempuan keluar dari dalam mobil, mengarahkan tembakan ke pada Aurel yang kini tengah bersimpuh ditanah.
Jarak yang jauh antara ia dan istrinya, membuat Yong dipastikan tidak dapat menyelamatkan Aurel.
"Doooorrrrr....."
Bersambung......
**Spoiler episode selanjutnya:
"Nona Annin menghilang, tuan, "ujar sekretaris Chao panik**.
Like, komen, hadiah, vote ππ
Rate bintang 5 dong pleaseeee ππππ
Selamat membaca dan semoga suka π
Maafkan typonya πππ
ππΈ