
πΈπΈπΈ
Zanna yang sudah tak tahan, berjalan cepat menuju toilet. Masuk kedalam toilet, Zanna segera menuntaskan kewajibannya. Begitu selesai, Zanna langsung keluar dari toliet dan,
Dor!
Satu tembakkan dari jarak yang cukup jauh, melesat akan menembus jantung Zanna. Tertembak! Tentu saja tidak. Zanna berkelit ke kiri. Peluru memecahkan kaca didalam toilet.
Zanna terkejut akan serangan yang tiba-tiba. Walau panik, tidak memecah konsentrasinya untuk mencari perlindungan.
Dor!
Pria bertopeng itu semakin mendekat, dan melepas tembakan jarak dekat pada Zanna. Zanna begitu lincah mengelak, peluru mengenai udara kosong.
Orang-orang yang berada didalam toilet, berhamburan keluar. Tanpa Zanna sadari, pria bertopeng itu kembali melepaskan peluru tepat di tengah Kepala Zanna. Zanna berhasil menepis tangan pria itu. Peluru kembali mengenai udara kosong.
Pria bertopeng itu. Kembali akan melepas peluru jarak dekat pada perut Zanna. Lagi, lagi, dan lagi. Zanna menepis kasar tangan pria bertopeng itu.
Klontang!
Peluru memantul mengenai tiang besi.
Bruuuk....
Pria bertopeng itu terjungkal kebelang, setelah mendapatkan tendangan diperut dari Zanna. Pistolnya terlepas dari tangannya. Pria itu beringsut sambil meringis memegangi perutnya. Ia berusaha meraih pistolnya yang berada cukup dekat dengannya.
Jarak Zanna yang cukup dekat dengan pria bertopeng itu, membuat Zanna berhasil menendang pistol itu tepat dikaki seorang wanita paruh baya disana.
Zanna salah sasaran kali ini, ia tidak melihat dulu kemana ia menendang. Wanita paruh baya itu, mengambil pistol itu dengan cepat, dan langsung mengarahkan tembakkan pada Zanna.
Zanna tidak tau kalau pistol yang tadinya ia tendang, berada ditangan musuhnya. Saat wanita itu menarik pelatuk, Zanna masih sibuk melepaskan topeng pria yang tadinya ia tendang dengan kuat.
"Paman!" Seru Zanna terkejut.
Saat Zanna menucapkan kalimat 'paman' satu peluru sudah dekat pada keningnnya.
Dor!
Zanna memjamkan matannya. Kali ini ia tak dapat mengelak, peluru itu datang tanpa ia sadari.
Beberapa detik kemudian
Dor!
"Kau baik-baik saja bukan?" Tanya seorang pria yang akhir-akhir ini selalu sabar menghadapi tingkah anehnya. Pria tampan itu Bertanya, dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Kak Chao!" Teriak Zanna terkejut. Zanna ikut merosot ke lantai, saat tubuh sang suami merosot ke lantai.
2 peluru bersarang di punggung Presdir Chao. Ia langsung kehilangan kesadaran saat itu juga. Ia tak peduli lagi pada musuh yang kini mendekat akan menembak dirinya.
Ia hanya sibuk menjerit, memanggil-manggil nama sang suami dengan histeris. Apa lagi saat melihat betapa banyaknya darah yang mengucur dari belakang tubuh suaminya.
Hati Zanna terasa tercabik-cabik, nafasnya terasa berhenti saat melihat kondisi suaminya yang sangatlah parah.
Sendi-sendinya seakan melemas, rasa mual memdatanginya kala melihat darah segar suaminya yang meleleh memenuhi lantai.
"Kak Chao....!" Teriak Zanna.
"Aaaaaakh....." Teriak Zanna lagi merasakan sakit diperutnya.
Pria bertopeng yang ternyata adalah pamannya. Juga wanita yang menembak suaminya yang tak lain adalah bibiknya semakin mendekat pada Zanna, yang meringis merasakan sakit diperutnya.
Kedua manusia iblis itu, kembali akan mengarahkan tembakkan pada Zanna. Jika tembakkannya tepat, maka kali ini Zanna benar tidak dapat lagi memgelak.
Dor.....
Bersambung.....
ππππππ
Like, komen, hadiah, dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lope readersss πππ
ππΈ