
πΈπΈπΈ
"Keadaan kakak gimana, kak?" Tanya Zanna pada Anna yang berada ditempat tidur disampingnya.
"Kakak baik-baik aja kok, cuma kulit kepala kakak agak pedih saja," tutur Anna yang memang sakit dibagian kepalanya. Bekas luka operasinya yang belum sembuh sepenuhnya, mengalami sedikit infeksi saat rambutnya ditarik oleh bibik Della.
"Kak, Zanna kan udah nikah sama kak Chao. emmm, Begini, kak. kayaknya Zanna akan ikut tinggal bersama kak Chao di Amerika," tutur Zanna sambil mengelus rambut Presdir Chao yang ketiduran dikursi dengan masih menggenggam tangan Zanna erat.
"Kayaknya kakak ikut kamu aja ke Amerika. Ada seorang lelaki yang kakak sukai disana. Bukan cuma itu saja, kakak juga punya hutang Budi padanya. Kakak sudah berjanji pada diri kakak untuk menembusnya," jawab Anna malu-malu, saat curhat dengan adiknya.
"Kakak suka sama siapa, kak?" Tanya Zanna kaget.
"Siiiuutt....jangan kencang-kencang. Kakak belum tau siapa dia, tapi dia pernah datang keperusahaan suamimu. Sepertinya dia sahabat suamimu. Kakak harus menemuinya untuk membalas Budi padanya. Masalah kerajaan, Menurut kakak, Jain sangat cocok menjadi pengganti Ayah kita sebagai raja. Dia sangat bijaksana dan begitu adil. Dia juga laki-laki. Kita berdua perempuan, kakak nggak bisa kalau harus memimpin negara kita, kamu tau sendiri kakak sangat lemah. Kamu juga nggak mungkin, karena kamu sudah punya suami. Bagaimana kalau kita angkat Jain saja sebagai penerus Ayah. Kakak yakin dengan begitu paman dan juga bibik pasti tidak akan merasa iri lagi pada alhm ayah. Menurut kamu bagaimana, Za?" Ujar Anna pada sang adik.
"Zanna juga setuju kak, menurut Zanna, paman seperti itu juga bukan sepenuhnya kesalahan dia. Dia memang pantas iri pada ayah, karena kakek memang tak pernah menyayainya. Tapi Za nggak bisa terima atas apa yang dilakukan paman kepada Ayah dan Ibu. Kenapa harus dengan membunuh dia membalas dendam," kesal Zanna mengingat kecelakaan yang menewaskan Ayah juga Ibunya.
"Kalau begitu, nanti kita bicarakan pada Jain," jawab Anna.
"Iya, kak," saut Zanna.
πΈπΈπΈ
"Apa kalian berdua harus pergi?" Tanya Pangeran Jain sedih.
"Iya Jain, kakak harap kamu bisa memimpin kerajaan dengan baik dan adil," tutur Anna.
"Jain akan berusaha, kak" jawab Jain.
"Kapan pun kakak kembali, Jain akan siap mundur. Dan akan memberikan tahta ini kepada kakak," ujar Jain serius.
"Kakak percaya padamu, Jain," jawab Anna.
"Yasudah kakak dan Zanna pamit dulu. Jaga negara kita untuk kakak," kembali Anna menuturkan Amanahnya.
Setelah drama perpisahan, Presdir Chao menuntun Zanna istrinya masuk kedalam pesawat yang telah standby. Anna tampak mengekor dibelakang mereka.
πΈπΈπΈ
Amerika, Mansion Aldrich:
Begitu sampai, Zanna langsung masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan sang suami harus langsung menuju perusahaan karena ada sedikit masalah yang terdesak. Yang harus segera ditangani.
Malam harinya:
Presdir Chao pulang ke mansion dalam keadaan yang kacau. Berjalan gontai ia membuka pintu mansion. Kedatangannya langsung disambut hangat oleh sang istri yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Kak Chao, kakak kenapa? Astaga! kak," teriak Zanna kaget, saat sang suami menjatuhkan tubuh kekarnya itu kepelukkannya.
"Panas dan dingin, Za." Lirih Presdir Chao tak berdaya.
Bersambung....
Di pikiran reader, pasti yang tidak-tidak iniππππ
Like, komen, hadiah, dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lope readersss πππ
ππΈ