My Boss Is My Husband

My Boss Is My Husband
Terpaksa Menikahi Gadis Dibawah Umur (50)



🌸🌸🌸


Keesokkan paginya, presdir Chao beserta yang lainnya. Sudah berada di mansion utama.


Presdir Chao telah pulih, meski terkadang meringis, kala merasakan ngilu di bagian lukanya yang belum kering seutuhnya.


Kini, Presdir Chao tengah mengenakkan pakaiannya. Bukan dia, tapi Zanna. Zanna sang istrilah yang memasangkannya pakaian.


"Selesai, kak." Seru Zanna.


"Terima kasih, istriku tercinta." Ucap Presdir Chao tulus.


"kenapa aku malah geli ya, kak. Kakak kembali dingin lagi saja. Tidak cocok kalau kakak jadi begini. Sayang sekali dengan wajah kakak, sudah macho dan tampan begini. Tapi sifatnya berubah 180Β°," oceh Zanna.


"Aku berubah hanya saat denganmu, sayang. Aku tetaplah Chao yang dulu saat bersama yang lain. Tunggu dulu, apa kau takut perempuan diluaran sana, semakin jatuh cinta padaku. Kalau aku banyak tersenyum begini." Goda Presdir Chao.


"Iya! Memangnya kenapa?" Jawab Zanna melotot galak.


Presdir Chao malah menelan salivanya bersusah payah, kala istrinya kembali ke mode galak. Ia telah terjebak dalam gombalannya sendiri.


"Pokoknya aku nggak mau tau! Kakak tidak boleh tersenyum pada perempuan lain selain aku. Apa kakak mengerti?" Ujar Zanna mode serius.


"Beres sayang. Semua Yang ada pada diriku ini, semuanya punya kamu, termasuk...." Ucap Presdir Chao memberi kode dengan kedipan matanya.


"Termasuk Harta kakak kan. Kalau begitu, berikan aku blackcard. kakak," pinta Zanna mengulurkan tangannya.


Presdir Chao tersedak salivanya sendiri, kala mendengar jawaban istrinya. Sama seperti dulu, istrinya masihlah matre.


"Apapun untukmu, sayang." Jawah Presdir Chao, memberikan blackcard miliknya pada sang istri.


"Nah! Begini baru yang namanya suami hebat," jawab Zanna memberi kecupan pada bibir seksi suaminya.


"Aku duluan kak, dah," tau kalau suaminya akan menyerangnya juga. Zanna pun kabur lebih dulu, tanpa sempat ditahan oleh Presdir Chao.


"Kenapa kamu sangat imut, sayang," ujar presdir Chao menatap punggung istrinya yang perlahan menghilang.


Belum ia mengalihkan pandangnya dari pintu kamar. Ia kembali melihat istrinya yang berlari sambil membekap mulutnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Presdir Chao kuatir.


Presdir Chao tak dapat berbuat banyak, selain memijit-mijit pelan tengkuk sang istri berharap dapat mengurangi rasa mual yang kini melanda istrinya.


Setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Zanna lemas seketika, tubuhnya merosot tak berdaya. Presdir Chao dengan sigap menopang tubuh istrinya. Kecemasan melandanya ketika melihat wajah sang istri yang begitu pucat.


Dengan sigap, ia langsung mengangkat tubuh istrinya. Membawanya keluar dari kamar mandi, lalu membaringkannya di tempat tidur.


Belum juga menyentuh kasur, Zanna kembali membekap mulutnya. Dengan suaranya yang tertahan. Kembali Presdir Chao membawa istrinya kedalam kamar mandi. Lagi, lagi, dan lagi Zanna kembali memuntahkan isi perutnya. Kini, hanya air yang ia muntahkan. Karena memang perutnya telah kosong.


Jika Zanna tak berbicara karena tak sangup berkata. Maka, Presdir Chao tak berbicara karena dilanda kecemasan akan kesehatan sang istri.


Melihat istrinya yang kembali tenang. Presdir Chao kembali membawa istrinya menuju kasur. Kali ini, Zanna tak lagi mual. Tapi lemasnya membuatnya langsung terlelap kala itu juga.


Presdir Chao langsung menelpon dokter Kelvin, untuk datang ke mansionnya guna memeriksa keadaan sang istri tercinta.


Tak lama, dokter Kelvin tiba dengan membawa serta tuan Aldrich juga Meilyn dengan raut wajah kuatir mereka masing-masing.


"Ada apa Chao. Mom kira lukamu bermasalah. Apa Zanna sudah mulai mual-mual," tebakkan Meilyn begitu tepat.


"Dari mana Mom tau? Perasaan Chao belum memberitahukan apapun pada Mom." Jawab presdir Chao heran.


"Mom juga perempuan tentus saja Mom mengerti. Kasian sekali kamu, sayang. Pasti sangat tidak nyaman untuk yang pertama kalinya," tutur Meilyn sendu. Apalagi kala mengingat ia di masa lalu. Bagaimana susahnya ia dulu. Ngidam hanya seorang diri. Tidak ada siapapun yang membantunnya.


"Maafkan aku, sayang," ujar taun Aldrich dengan segala rasa penyesalannya.


Bersambung...


Like, komen hadiah, dan vote πŸ™


Maafkan typonya πŸ™


Selamat membaca dan semoga suka πŸ’–


Lope readersss 😘😘😘


Follow Ig Author @Oniya_99


πŸ’–πŸŒΈ