
πΈπΈπΈ
Sampai di rumah sakit terdekat, Presdir Chao langsung menuju ruang UGD. Hatinya langsung tenang, ketika matanya menatap seorang gadis yang tengah mondar-mandir didepan pintu UGD.
"Sayang," ucap Presdir Chao langsung memeluk erat istrinya. Presdir Chao memejamkan matanya, sambil terus memeluk istri tercintanya. Kekuatiran yang tadi melanda hatinya mulai sirna, saat melihat Nia tidaklah terluka.
"Kak, aku nggak bisa napas. Lepasin, kak." Ucap Nia bersusah payah, karena memang ia susah bernapas.
"Kamu baik-baik saja kan, sayang. Apa ada yang terluka," kata Presdir Chao memeriksa semua bagian tubuh istrinya.
"Sudah kak sudah, aku tidak apa-apa. Memangnya ada apa denganku," jawab Nia berusaha menghentikan kegiatan suaminya, yang masih saja memeriksa tubuhnya.
"Syukurlah, kamu tidak apa-apa sayang," ucap presdir Chao kembali memeluk erat Nia.
"Sudah kak, aku tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa kak?" Tanya Nia bingung.
"Ada yang melaporkan padaku, bahwa ada gadis yang mengalami luka dan dibawa kerumah sakit. Aku sangat takut, Nia. Aku kira gadis yang terluka itu adalah dirimu. Tapi syukurlah, ternyata bukan kamu yang terluka," jawab presdir Chao mengembangkan senyuman leganya.
"Bukan aku, kak. Yang terluka, tapi seorang gadis malang. Sepertinya dia mengalami kekerasan yang dilakukan teman satu devisinya. Lagi pula bagaiman mungkin aku yang dibuli. Kalau sampai hal itu terjadi padaku. Bukan aku yang dibawa kerumah sakit, tapi orang yang membulliku yang akan dibawa kerumah sakit, karena terluka akibat ahli bela diriku. Kakak jangan kuatir padaku, gini-gini juga aku bisa mematahkan tulang lawan dengan sangat mudah. Jadi, kakak tidak perlu kuatir padaku." Jawab Nia kembali membanggakan diri.
"Baikalah-baiklah, aku senang kalau kamu sehat-sehat saja, sayang. Kalau begitu ayo kita pulang, sayang," ajak Presdir Chao.
"Kok pulang sih kak! Aku belum mau pulang, kasian gadis itu, kak. Lagi pula diakan karyawan kakak, setidaknya kakak harus menjenguknya terlebih dahulu. Kasian gadis itu, kak. Aka mau, kakak harus menemukan pelaku yang menjajagi gadis malang itu, aku ingin pelakunya segera membusuk dipenjara. Kasian sekali gadis itu, kak. Setidaknya penjarakan pelakunya agar tidak ada yang mengganggunya lagi." Pinta Nia penuh harap.
"Kamu tenang saja, sayang. Sekretaris Aron yang akan mengurus semuanya," jawab presdir Chao, membenarkan rambut ikal istrinya.
"Keluarga pasien?" Tanya dokter tiba-tiba keluar dari UGD.
" Saya dok, ada apa dok?" Tanya Nia panik.
"Pasien kekurangan darah. Tapi kami dari pihak rumah sakit kehabisan stok darah itu," jawab dokter itu pasrah.
"0+.....," Jawab Sang dokter.
"Golongan darah saya juga 0+. Ambil darah saya saja, dok." Pinta Nia bersemangat.
"Sayang, apa yang kau lakukan," ucap Presdir Chao melarang.
"Baiklah, kalau begitu mari ikut saya nona," ajak dokter itu
"Saya akan menemani istri saya dok," pinta Presdir Chao lagi.
"Silahkan, tuan," jawab dokter itu sopan.
Ketiganya pun langsung memasuki sebuah ruangan, seorang suster datang. Dan meminta Nia berbaring di ranjang, lalu suster itu langsung menancapkan jarum kelengan Nia. Nia memejamkan matanya merasa ngilu saat jarum menembus kulitnya.
Presdir Chao setia menemani istrinya, ia tampak menggenggam erat jemari istrinya, guna menyalurkan kakuatan. Wajahnya terlihat jelas menunjukkan kekuatiran.
Sesekali ia mengecup jemari itu, lalu tak lupa juga mengecup kening istrinya.
Bersambung....
Like, komen, hadiah, dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lope readersss π
ππΈ