
πΈπΈπΈ
"Apa kalian berdua sudah berbaikkan?"tanya tuan besar Mou, yang kini sudah berada didepan ruangan rawat Annin dan juga Aurel.
"Kenapa kau menyembunyikan Meilyn dariku?"tanya balik tuan besar Aldrich.
"Aku tidak memyembunyikan, Meilyn. Aku tidak mungkin merusak kebahagianmu bersama Areum dan juga putrimu. Aku juga tidak bisa memaksa Meilyn untuk memaafkanmu,"jawab tuan besar Mou tak ingin disalahkan.
"Lihatlah putraku tampan dan hebat sepertiku,"pujinya pada dirinya dan juga sekretaris Chao.
"Terima kasih banyak bro. Karena sudah merawat Meilyn dan juga putraku,"ucap tuan besar Aldrich tulus.
"Nama panjangmu siapa, nak."tanya tuan besar Aldrich pada sekretaris Chao.
"Chao Tak, tuan,"jawab sekretaris Chao tersenyum samar.
"Mulai sekarang namamu Chao Tak Aldrich. Kau kan sudah tau aku adalah Daddymu, jadi mulai sekarang panggil aku Daddy,"tuan besar Aldrich berkata sambil memeluk akrab sekretaris Chao.
"Dan bujuk juga ibumu, untuk kembali pada Daddy. Oke,"bisik tuan besar Aldrcih, dibalas senyuman kaku oleh putranya.
Melihat putranya yang tersenyum kaku, tuan besar Aldrich merasa dirinya semakin mirip dengan putranya itu.
"Kau memang putra, nak,"ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ingin melihat keadaan menantuku dulu,"kata tuan besar Mou, berjalan menuju ruangan Annin.
"Kalau begitu, ayo kita melihat keadaan adikmu," Ajak tuan besar Aldrich pada sekretaris Chao.
Diruangan Annin:
"Aeri, sayang,"ucap tuan besar Aldrich mendekati putrinya.
"Daddy,"jawab Annin berkaca-kaca.
"Kamu kenapa sayang,"tanya lagi tuan besar Aldrich.
"Annin mau melihat Aurel, Bagaimana keadaan adik Annin. Dia sudah melahirkan bukan? Bagaimana keadaannya? Annin ingin menemuinya,"ujar Annin mengkuatirkan keadaan adik kesayanganya itu.
"Aurel dan bayinya baik-baik saja, sayang,"jawab tuan besar Aldrich.
"Iya,"jawab Annin singkat.
Presdir Shilin pun segera mengambil kursi roda yang tersedia disana. Kemudian mengangkat tubuh istrinya, dan meletakkanya diatas kursi roda itu. Lalu presdir Shilin mendorong kursi roda itu, sampai keruangan Aurel yang berada disamping ruanganya.
Kini mereka semua sudah berkumpul di ruangan Aurel. Annin tampak mengagumi keponakannya yang kini temgah terlelap dibelukan adiknya Aurel.
"Siapa namanya,"tanya Annin sambil mengelus pipi merah keponakannya itu.
"Girren Yong Mou, kak. Kalau yang laki-laki namanya Garren Yong Mou. Bagus ya kak namanya, suami Aurel yang kasih nama,"jawab Aurel dengan tersenyum pada kakaknya. Sekilas menatap suaminya dengan tersenyum mesra.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk mengambil Garren dari tangan Mike?"tanya Annin menatap semua orang yang berada dibelakangnya.
"Oh iya, Aurel ingat sesuatu,"ujar Aurel bersemangat.
" Sayang. Kau ingat, alat yang kau tempelkan dipundakku waktu itu. Saat aku disekap, alat itu menyala. Dan aku melepaskan alat itu, lalu aku tempelkan pada kulit Mike tanpa sepengetahuannya. Apa alat itu bisa berguna,"ucap Aurel semakin bersemangat. Entah kenapa ia merasa alat itu sangat berguna. Hingga ia melepaskan alat yang menyatu dengan kulitnya itu. Lalu menempelkannya pada kulit Mike secara diam-diam.
"Apa! Tentu saja itu sangat berguna, baby. Dengan alat itu kita bisa melacak keberadaanya,"jawab tuan Yong dengan meninggikan nada suaranya hingga membuat putrinya kaget dan menangis histeris.
"Pelan sedikit, lihat apa yang kau lakukan,"ucap predir Shilin memukul pundak adiknya itu.
"Maaf, Daddy terlalu bersemangat sayang,"ucap tuan Yong membantu menenangkan putrinya itu.
"Chao, cepat lacak keberadaan Mike." Titah presdir Shilin pada sekretarisnya itu.
Bersambung.........
Like, komen, hadiah, dan Vote ya. hari senin lohπ ππ
Yang belum kasih biantang 5nya, jangan lupa tekan bintang 5nya yaπππ
Selamat membaca dan semoga sukaπ
Maafkan typonyaππ
IG@Oniya99, pasti othor polbackπ ππ
ππΈ