
πΈπΈπΈ
Keesokkan paginya, presdir Chao mengajak istrinya ke kontrakan sang kakak. Lama pasangan itu menunggu disana, batilah terlihat sosok sang kakak yang baru pulang dari bekerja.
"Zanna," panggil Anna berlari menuju Zanna. Zanna juga inginberlari untuk memeluk kakak yang ia rindukan. Tapi, segera dicegah oleh sang suami, karena hal itu dapat membahayakan janinnya.
Hari itu, adalah hari pelepasan rindu untuk Zanna juga Anna. Sebulan lebih sang kakak meninggalkannya, banyak yang keduannya ceritakan. Zanna bercerita hanya seputar kehamilannya. Sedangkan Anna bercerita tentang pengalamannya yang berharga selama bekerja sebagai pelayan disebuah Caffe.
Zanna memohon pada sang kakak, untuk kembali bersamanya. Tapi, Anna tetap keukeuh dengan pilihannya. Ia tidak memenuhi keinginan sang adik kesayangan. Cinta benar-benar membuat seorang putri Anna rela melakukan apapun untuk sang pujaan hatinya. Yang bahkan tak pernah memandangnya walau sebelah mata. Usaha keras, sangat ia butuhkan untuk saat ini.
πΈπΈπΈ
"Iya hallo, siapa ya?" Tanya tuan Aldrich ketika mengangkat telpon putarannya yang tertinggal dirumah. Bukan hanya Presdir Chao yang melupakan ponselnya tapi juga Zanna. Suami sitri itu kompak meninggalkan ponsel mereka di mansion.
"Ini saya Pangeran Jain dari negara D. Apa tuan Chao dan Anna-nya ada, saya ingin memberikan info yang sedkit menakutkan pada-nya," tutur pengeran Jain diseberang sana.
"Oh Pangeran Jain, ada perlu apa dengan Chao," jawab tuan Aldrich yang memang sudah mengetahui semua tentang Zanna.
"Begini tuan, ini kondisi darurat, tuan. Kedua orang tua saya kabur dari penjara. Dan mungkin mereka sudah tiba di Amerika, saya takut kedua orang tua balas dendam kepada tuan Chao juga Zanna. Tolong katakan pada mereka berdua untuk tidak keluar rumah dulu untuk sementara waktu," jelas Pangeran Jain, membuat pikiran tuan Aldrich tak menentu, karena saat ini, pura juga menantunya sedamg tidak ada di rumah.
"Putra dan menantuku dalam bahaya!" ucap tuan Aldrich langsung memutuskan panggilan sepihak.
Mengingat menantunya yang sedang hamil, membuat tuan Aldrich merasa semakin kuatir. Melacak keberadaan putra dan menantunya, setelah menemukan Dimana mereka berada. Barulah tuan Aldrich mengumpulkan seluruh boaddyguardnya, dan mengirim mereka untuk melindungi keadaan putra juga menantunya yang kini tengah mengandung.
πΈπΈπΈ
Disebuah lestotan, Zanna juga presdir Chao sedang menikmati makan siang mereka. Begitu pulang dari kontraklah kakaknya, Zanna menginginkan makan siang di lestoran yang mewah. Ia memesan banyak makanan, tapi anehnya dia tidak menyentuh makanan itu sedikit pun. Karena keinginannya bukanlah ingin memakan hidangan yang ia pesan, bukan juga menyiksa sang suami untuk menghabiskan semu hidangan yang ia pesan. Melainkan hanya memandang semua makanan mewah itu. Presdir Chao pun hanya mampu menelan salivannya, hanya memandang makanan disaat tengah lapar, tentu saja menyiksa baginnya yang normal. Namun apalah daya, ia harus patuh akan keinginan istrinya yang terbilang aneh.
Tanpa keduannya sadari, ada dua pasangan paruh baya yang mengintai mereka dari jauh.
"Sayang, aku mau ke toilet dulu ya," izin Zanna.
"Aku temani ya, sayang," tawar Presdir Chao langsung berdiri.
"Tidak usah kak, biar aku sendiri saja," tolak Zanna halus.
"Baiklah, hati- hati, sayang," jawab Presdir Chao kembali fokus pada makannanya.
Zanna yang sudah tak tahan, berjalan cepat menuju toilet. Masuk kedalam salah satu toilet yang tidak ada orang, Zanna langsung menuntaskan kewajibannya. Begitu selesai, Zanna langsung keluar dari toliet dan...
Dor....
Bersambung.....
Like, komen, hadiah, dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lope readersss πππ
ππΈ