
πΈπΈπΈ
Kini, kandungan Aeri telah memasuki usia 5 bulan. Meskipun sudah 5 bulan, Aeri tetap saja mengalami mual serta muntah muntah yang begitu hebat. Sama dengan kehamilan pertama, yang membuatnya harus bedrest ditempat tidur. Kali ini pun juga sama.
Karena kondisi tubuhnya yang memang lemah. Mengharuskannya untuk melakukan semua aktivitas hanya diatas tempat tidur.
Dan selama itu pulalah Presdir Shilin selalu menahan nafsunya, acap kali menginginkan istrinya. Tapi dengan keadaan istrinya yang tak baik, membuatnya harus menahan diri.
Hanya sekali atau dua kali seminggu ia buka puasa. Dan itu pun hanya terjadi jika sang istri juga menginginkan nya. Jika tidak, bisa dalam 2 Minggu hanya sekali.
Tapi hal itu, tidak mengurangi rasa cintanya pada sang istri. Sering Presdir Shilin tak berangkat kerja hanya untuk memastikan jika istrinya baik-baik saja.
Jika terjadi masalah pada istrinya, maka ia akan meninggalkan pekerja sepenting apapun. Bahkan ia melewatkan makan malam bersama dengan anggota kerajaan Inggris, hanya karena istrinya yang tak berhenti muntah-muntah.
"Sayang, ada apa?" Tanya Presdir Shilin pada istrinya yang sedari tadi gelisah.
"Tidak apa-apa, hanya susah tidur saja," jawab Aeri.
"Apa ada yang bisa aku lakukan," Tawar Presdir Shilin.
"Tidak ada!" Jawab Aeri singkat dan tak padat.
"Ada apa, sayang. Apa kamu menginginkan mangga Amerika lagi. Aku akan langsung kesana untuk memanjat pohonnya," ujar Presdir Shilin, kala mengingat istrinya yang kala itu ngidam mangga yang ada dibelakang mansion tuan Aldrich. Dan Aeri hanya menginginkan mangga yang dipetik langsung oleh suaminya. Dan Presdir Shilin siap siaga, langsung berangkat ke Amerika hanya untuk memetik buah mangga.π
"Aku tidak menginginkan itu," jawab Aeri lagi ketus.
"Lalu apa, sayang. Kenapa dari tadi pagi, kamu mendiamkanku." Ucap Presdir Shilin mulai kehabisan sabar.
"Aku tidak mendiamkan mu," jawab Aeri ketus.
"Kalau tidak, lihat aku sekarang. Jangan membelakangiku, sayang. Itu tidak baik," kata Presdir Shilin langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Apa jangan-jangan, bayi kita. Merindukan dan ingin dijenguk oleh Daddynya," tanya Presdir Shilin mencoba menebak.
Tidak ada sautan dari istrinya, dan itu artinya, tebaknnya benar.
"Ternyata benar, bayi kita merindukan Daddynya," jawab Presdir Shilin mengelus perut Aeri yang sudah membuncit.
Dan dengan senang hati Presdir Shilin melakukan tugas wajibnya. Karena ia pun juga sangat menginginkan nya.
Masih dari belakang, Presdir Shilin mulai memberikan kecupan-kecupan lembut di ceruk leher istrinya. Tak lupa tangan nakalnya meremas gundukan kelapa muda istrinya dengan penuh nafsu.
Des*Han demi Des*han Aeri, membuat Presdir Shilin tak tahan. Merasa pemanasan sudah cukup, ia pun akan mulai untuk melakukan adegan inti.
"Sayang, apakah nyaman diposisi begini," tak lupa Presdir Shilin memastikan istrinya nyaman dengan posisi mereka kali ini.
"Iyaa," jawab Aeri dengan nafasnya yang sudah tak beraturan.
"Baiklah, akan aku mulai ya," ucap Presdir Shilin, langsung memasukkan senjatanya dengan sangat perlahan.
Dengan posisinya berada dibelakang Aeri, membuatnya juga bisa bermain dengan gundukkan istrinya yang begitu candu baginya.
Selanjutanya hanya suara-suara erotis yang terdengar dimalam sunyi itu. Kedua sejoli yang kini saling mencintai, begitu menikmati keindahan cinta yang kini memabukkan keduannya
πΈπΈπΈ
"Ahahahaha......terima kasih Kevin atas infomu. Akhirnya aku bisa membuat putraku menikah, tapi kau benar-benar yakin bukan, kalau gadis itu adalah gadis baik-baik?" Tanya tuan Aldrich kuatir.
"Saya sangat yakin, tuan. Nona Tania adalah adik dari alhm Ryan, saya kenal Nona Nia, Dia adalah perempuan baik, cantik, pintar, namun juga sangat polos, saya rasa Nona Nia sangat cocok bersanding dengan tuan Chao," jawab Kevin yang tak lain adalah sahabat Ryan. Kevin membantu menjaga Nia setelah masa pemulihan pasca operasinya.
"Mereka memang sangat berjodoh. Saya juga sangat ingin berterima kasih pada tuan Chao. Kalau tidak ada dia yang menyelamatkan Tania. Saya tidak tau apa yang akan terjadi pada Tania." Ujar Kevin merasa bersalah.
"Sudahlah, yang penting sekarang Nia aman," ucap tuan Aldrich menenangkan Kevin.
"Terima kasih tuan, kalau begitu saya permisi pamit," kata Kevin akan segera pergi.
"Berhati-hatilah, Kevin," ucap tuan Aldrich.
"Baik, tuan," jawab Kevin berlalu.
"Oh iya, aku akan memberitahu kabar ini pada Meilyn," ucap tuan Aldrich bahagia.
Duduk di sofa ruang tamunya, ia mulai bercerita panjang kali lebar dengan pujaan hatinya. Hubungan mereka sekarang jauh lebih baik. Ada banyak kemajuan antara keduannya.
πΈπΈπΈ
"Cepatlah bersiap, kita akan segera pergi dari sini," dengan santainya Presdir Chao memasang pakainnya dihadapan Nia, membuat Nia mengalihkan pandangnya kearah lain.
"Pakaian saya Dimana, Kak?" Tanya Nia tanpa melihat kearah Presdir Chao.
"Kenapa kau itu sangat menyusahkan ku, benar-benar sial," umpat Presdir Chao segera menelpon pelayan hotel.
Tak lama masuklah seorang pelayan hotel wanita.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya pelayan itu sopan.
"Pakai kartu ini, tolong belikan gadis itu pakaian!" Titah Presdir Chao memberikan kartu pintarnya pada pelayan hotel itu.
"Apa ukuran dalaman Anda, nona?" Tanya pelayan itu pada Nia.
"33D," jawab Nia singkat dan cepat karena malu.
"CD nya, ukurannya berapa nona?" Tanya pelayan itu lagi.
"M..," lagi-lagi Nia menjawab denngan singkat dan cepat.
Sambil menunggu, preadir Chao memainkan jari-jari lentiknya pada gawai canggihnya.
"Kak, keluarlah dulu. Aku ingin kekamar mandi," ucap Nia terlihat seperti menahan sesuatu.
"Siapa dirimu, seenaknya mengusirku. Kalau mau kekamar mandi, tinggal kesana saja. Kenapa menyuruhku keluar," kembali presdir Chao mengerutu.
"Kalau begitu menghadaplah kebelakang, jangan mengintip!" Ancam Nia.
"Untuk apa juga aku kau malu. Bukankah aku sudah melihatnya, bahkan merasakannya, lagi pula kan ada selimut. Dasar perempuan bodoh, menyusahkan saja," jawab Presdir Chao, iseng menggoda Nia. Karena merasa geram dengan gadis cerewet itu.
"Baiklah jangan salahkan saya, kalau kakak yang akan tersiksa nantinya," jawab Nia, lalu dengan santai ia menarik selimutnya. Untuk ikut bersamanya kedalam kamar mandi.
Hal itu, ternyata benar membuat Presdir Chao tersiksa. Ia heran kepada dirinya, yang bahkan bergairah hanya dengan membayangkan lekukkan tubuh indah Nia, dibalik selimut putih itu.
Bersambung.....
komen ya reader, pleaseee. Bab atas juga yaπ πππ
Benar-benar tukang paksa ni Othor, maafin yaπππ