
πΈπΈπΈ
1 bulan kemudian. Nosa yang sudah mengetahui bahwa Aurel adalah putri kandungnya, tak pernah mengganggu keluarga Mou ataupun keluarga Aldrich lagi. Berubah! Tentu saja tidak, dia adalah Nosa! Dan tetaplah seorang NOSA.
Kekejaman dan kekuasaan gangsternya tidak akan pernah padam. Satu hal yang harus kalian tau, ia malu pada dirinya sendiri. Ia sangat malu untuk mengakui bahwa ia adalah ayah dari putrinya. Ia tidak ingin putrinya tau seburuk apa dirinya.
Jadi Nosa memutuskan untuk tidak mengakui bahwa dirinya, adalah ayah dari Aurel putrinya. Hal itu juga ia lakukan untuk melindungi Putrinya Aurel.
Entah apa yang akan dilakukan musuhnya, jika mengetahui dirinya punya seorang anak. Anak, Cinta, 2 hal itu benar-benar akan menjadi petaka baginya. Itu adalah sebuah kelemahan menurutnya.
Dan ia tidak akan mengumbar bahwa ia punya seorang putri, karena hal itu, sama saja dengan ia mengumbar kelemahannya sendiri pada musuh-musuhnya. Yang memang selalu mencari dimana letak kelemahannya.
Ia kenal siapa Yong, Yong adalah seseorang yang kuat. Walaupun sedikit bejat, tapi setidaknya, ia yakin Yong akan menjaga putri dan juga cucunya.
Biarlah ia sendiri.
biarlah ia tenggelam dalam dunianya yang gelap.
Biarlah ia tetap menjadi seorang Nosa yang hanya memiliki 3 emosi. Bahagia, kemarahan, dan jijik, hanya 3 itulah emosi yang tumbuh dihatinya.
Cinta, Takut, Sedih, itu adalah 3 emosi yang tidak akan pernah ia miliki. Dialah Nosa, seorang ketua gangster yang hidup bergelimang harta dan kekuasaan. Dialah Nosa, hanya dia sendiri yang bisa mengatur hidupnya. Dialah Nosa seorang pria yang hidup dalam bayangan janjinya Pada sang Daddy yang telah lama tiada.
Dialah Nosa, manusia tanpa Cinta, tanpa Takut, Tanpa sedih.
πΈπΈπΈ
Disebuah Villa di kota xxx
Aeri merentangkan kedua tangannya, tertawa penuh kebahagian, sambil berlarian menyusuri bibir pantai. Presdir Shilin hanya berjalan santai.
Melihat istrinya yang semakin jauh, ia pun ikut berlari guna menangkap istrinya. Aeri berlari semakin kencang, saat suami mengejarnya seperti ingin melahapnya.
Kecepatan lari Aeri, tidak akan bisa menandingi kecapatan laju presdir Shilin. Hanya beberapa detik, Aeri pun berhasil ditangkap oleh suaminya, presdir Shilin.
"Ayo sayang, sudah mulai malam. Kita pulang ya?" Bujuk presdir Shilin pada Aeri yang sedari tadi tidak ingin pulang.
Aeri tak menjawab, namun matanya sudah berkaca-kaca. Presdir Shilin kebingungan melihat kelakuan istrinya yang semakin hari semakin cengeng dan juga sangat manja.
"Aku masih ingin lari dipantai," jawab Aeri dengan matanya yang berbinar, membuat sang suami tak tahan melihatnya.
"Sayang, ini sudah malam. Sebentar lagi akan ada gelombang pasang. Kita kembali ke Villa dulu ya, nanti kamu masuk angin lagi," jelas presdir Shilin penuh kelembutan.
"Tapi gendong," jawab Aeri manja. Tak mengatakan apapun presdir Shilin langsung jongkok, dan Aeri segera naik ke atas punggung suaminya.
"Kenapa kamu semakin berat, sayang," tanya presdir Shilin membuat Aeri tak diam tak menjawab.
"Kelapa mudamu kenyal sekali, sayang. Jadi nggak sabar mau pulang biar bisa it*-it*," ujar presdir Shilin m*sum. Tapi Aeri masih saja diam, membuat presdir Shilin kembali terdiam.
"Ada apa, sayang. Kenapa diam," tanya presdir Shilin bingung.
"Apa aku sangat berat? Apa aku sangat gemuk?" Tanya Aeri sesegukkan karena ternyata telah menangis.
Presdir Shilin tersadar akan kata-katanya yang memang sensitif pada setiap perempuan. Dengan perlahan ia menurunkan istrinya.
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa semakin lama semakin cengeng saja. Aku tadi memujimu sayang, aku suka ini jika tambah besar," jelas presdir Shilin, dengan tangan mes*mnya memegang gund*kan Aeri.
"kenapa kamu begini, sayang. Seperti ibu hamil saja," tambah presdir Shilin heran.
Presdir Shilin langsung mengejar istrinya, Dengan cepat Aeri masuk kedalam kamar, dan segera menguncinya sebelum suaminya dapat masuk.
Duduk disisi ranjang, Aeri menyeka air matanya.
"Kenapa aku begini? Apa yang terjadi padaku? Tu-tunggu dulu, A-apakah a-aku benar-benar hamil," ujar Aeri menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena kaget.
"Bulan ini, bulan ini aku memang belum dapat," ucap Aeri lagi.
"Aku harus melakukan testpeck besok pagi," ujar Aeri lagi, memikirkan bahwa ia hamil. membuatnya seolah tuli akan pintu yang terus digedor-gedor oleh suaminya.
Dengan semangat ia membuka pintu kamarnya, dan dengan manja langsung memeluk tubuh kekar suaminya.
Presdir Shilin kaget sekaligus terheran-heran akan perubahan sikap istrinya yang selalu berubah-ubah tak menentu.
Takut salah bicara lagi, ia pun memilih diam, dengan penuh kasih sayang ia hanya membalas pelukkan istrinya.
Keesokkan paginya:
"Sayang, kamu kenapa. Biasanya bangun tidur kita langsung olahraga. Kamu ngapain dikamar mandinya lama. Ada apa sayang?" Seru presdir Shilin kuatir.
Tak lama pintu terbuka, menampakkan wajah istrinya yang berseri-seri. Senyumannya terukir indah, wajah imut plus cantik alaminya terlukis nyata, tubuh seksinya membuat presdir Shilin terbakar na*su.
Belum sempat presdir Shilin mengutarakan apa yang ada dipikirannya. Ia langsung dikejutkan dengan sebuah alat yang dipamerkan istrinya. Alat berbentuk persegi panjang berukuran kecil. Dengan dua garis merah disana.
"kamu HAMIL, sayang?" ucap presdir Shilin dengan ekspresi kagetnya. Mendapat anggukan dari sang istri, presdir Shilin langsung beranjak menuju balkon dengan ekspresinya yang kosong. Aeri terheran melihat ekspresi suaminya.
"Apakah hanya begitu ekspresinya? Apakah ia tidak senang kalau aku hamil?" batin Aeri berucap dengan sedih, kemudian Aeri mengikuti suaminya yang kini sudah ada dibalkon.
Kecewa! Tentu saja Aeri kecewa, tega sekali suaminya mengabaikan dirinya disaat ia menyampaikan kabar bahagia itu.
"Apa kamu tida....." ucapan Aeri terhenti ketika presdir Shilin langsung memeluknya dengan air mata yang berlinang diwajah dinginnya.
Aeri kaget, tapi juga ingin tertawa melihat suaminya yang kini memeluknya erat, dengan menangis tersendu-sendu.
Tak ada yang satu katapun yang keluar dari bibir suaminya, tapi ia bisa merasakan kebahagian lewat tangisan suaminya yang semakin pecah.
TAMAT......
kamu, siapapun kamu. Takdir, seperti apapun Takdirmu. Ujian, seberat apapun Ujian hidupmu, Sedih, sesedih apapun kisah hidupmu. Yakinlah, tuhanmu selalu bersamamu. Bahkan ia dekat disisimu. Dia mengawasimu, dia memantaumu. Melihat sekuat dan setegar apa dirimu. Jadi, jangan mempermalukan dirimu, atas kelemahanmu. Buatlah tuhanmu bangga akan kekuatan dan ketegaran hatimu. Jika ia melihat dirimu kuat, maka ia akan memberikanmu Hadiah, berupa kebahagian yang tidak pernah kamu duga sebelumnya.
β°β°β° Annindiyah Aqila/ Ha Aeri
Sudah end gaysππππ
Terima kasih yang tak terhingga, Author ucapkan pada readers semua yang selalu setia menunggu up cerita amburadul ini setiap harinya. Author nggak tau lagi mau ngomong apa. Tapi yang pasti Terima kasih, Author sayang kalian semua, tanpa kalian author bukanlah siapa-siapaπππ
Jangan sedih ya reader semua, jangan dibuang juga dari paporit. Karena akan ada ekstra part. yang hanya akan membahas seputar kehamilan Aeri hingga melahirkan. Jadi, tetap tunggu kelanjutannya ya.ππππ
Bye-bye readers
Sampai ketemu lagi, di ekstra partnyaπππππππππ
ππΈ