
🌸🌸🌸
"Aku bisa sendiri,"tolak Aeri.
"Jangan menolakku Aeri, kamu pucat begini. Kalau kamu begini kita tidak akan jadi ke Amerika,"ucap presdir Shilin sedikit membentak Aeri. Jika kalimatnya sudah aku dan kamu, itu pertanda bahwa emosi telah berhasil menguasainya. Aeri menundukkan wajahnya dalam, ia takut melihat suaminya yang kini terlihat menakutkan baginya.
"Kenapa kau selalu membohongiku. Jika sakit bilang saja sakit, apa susahnya. Kenapa terus berbohong, kalau terjadi apa-apa padamu bagaimana. Apa kau masih belum memaafkanku, Apa kau masih marah dan membenciku,"ucap presdir Shilin murka. Lalu meletakkan tubuh istrinya itu kedalam buthub.Tanpa ia sadari emosinya telah memuncak.
Bagaimana ia tidak murka, ini bukan pertama kalinya Aeri membohonginya. Sudah sering terjadi, hingga membuatnya merasa sangat kuatir. Dan tanpa sadar, ia telah memarahi istrinya dengan berlebihan.
Aeri yang merasa takut dan ditambah rasa bersalah, tampak diam. Tanpa bisa ia tahan, air matanya sudah menerobos keluar dari kedua sudut matanya.
Melihat istrinya yang menangis, barulah presdir Shilin tersadar, bahwa ia telah memarahi istrinya terlalu berlebihan.
"Aeri sayang, maafin aku ya sayang,"ujar presdir Shilin merasa bersalah.
Aeri menggelengkan kepalanya, dengan buliran bening yang terus mengalir dari kedua sudut matanya.
Aeri menangis bukan karena tak memafkan suaminya yang telah membentaknya. Melainkan karena rasa sakit yang kini menjalar dan tak dapat ia tahan lagi. Sudah terlalu banyak sakit yang ia dapatkan selama ini. Dan ia merasa khawatir, apakah ia akan terus merasa sakit terus menerus seperti ini.
"Sakit kak, sangat sakiiit. Aeri tidak sangup lagi kak. Kenapa sakitnya tidak bisa hilang. Kenapa selalu sakiiit,"ujar Aeri menangis tersendu-sendu, tapi ia juga merasa lega. Karena setidaknya ia bisa mengatakan kalimat yang dari dulu ingin ia katakan kepada seseorang. Tapi dulu ia tak punya siapapun untuk berbagi rasa sakit.
Aeri selalu memendam rasa sakitnya sendiri. Ia selalu berusaha untuk menyembunyikan rasa sakitnya dari orang-orang yang dicintainya. Bahkan kedua orang tua angkatnya termasuk Aurel adiknya, tidak pernah tau jika Aeri mengalami dismenore yang cukup parah.
Tapi ketahuilah air matanya menetes bukan hanya rasa sakit yang kini ia rasakan. Tapi juga rasa sakit dihatinya yang membuatnya merasa semakin tak karuan.
"Kapan semuanya akan berakhir kak,"teriak Aeri tanpa sadar.
"Aeri sayang, itu bukan kesalahan kamu. Anak kita tiada itu semua terjadi karena aku, aku yang bersalah bukannya kamu, sayang. Aku mohon maafkan aku. Sebagai seorang suami aku sangat tidak berguna dan terlambat menyelamatkanmu. Aku mohon maafkan aku, dan berhentilah menyalahkan dirimu sendiri,"ucap presdir Shilin berusaha membujuk Aeri.
"Dan kenapa kamu menangis sayang. Beritau aku apapun itu yang membuatmu sakit. Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku? Apa lagi yang terjadi? Aku mohon katakan semuanya padaku,"ujar presdir Shilin langsung memeluk Aeri erat.
"Kita kerumah sakit dulu ya pagi ini. Kita tunda dulu ke amerikanya,"ucap presdir Shilin lagi, lalu ia segera memandikan istrinya. Mengesampingkan nafsunya, presdir Shilin begitu telaten membersihkan tubuh Aeri yang terkadang meringis merasakan sakitnya.
**Bersambung.....
Like, komen, hadiah dan vota🙏💗
Maafkan typonya🙏
Selamat membaca dan semoga suka💗
Ini karya pertama Author, mohon dimaafkan kalau penempatan kalimat dan semacamnya masih Amburadul🙏🙏🙏
Ini, Othor punya rekomendasi novel yang bagus untuk reader semua. Mampir ya, dijamin tidak akan mengecewakan😍😍😍**