
πΈπΈπΈ
Kedua manusia iblis itu, kembali akan mengarahkan tembakkan pada Zanna. Jika tembakkannya tepat, maka kali ini, Zanna benar tidak dapat lagi memgelak.
Dor!
1 peluru terbenam di paha bibi Della.
Dor!
1 peluru lagi juga terbenam ditempat yang sama, tapi orang berbeda. Peluru terakhir menembus kulit paha paman Jeff.
Siapakah yang membidik?
Tuan Aldrich, tidak. Boddyguar-nya, tidak. Lalu siapakah yang memberikan peluru itu pada paman Jeff juga istrinya Della.
Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Pengeran Jain. Anak kandung dari paman Jeff juga bibi Della. Dialah yang menembak kedua orang tuannya. Kenapa? Tentu saja karena jabatannya adalah seorang pemimpin. Ia akan menghukum siapa pun yang berbuat salah, termasuk keluaragannya sendiri.
Paman Jeff juga bibi Della, mengaduh menahan sakit di paha mereka masing-masing. Keduannya menatap putra kesayangan mereka tak percaya. Bagaimana mungkin ada seorang putra berani melukai kedua orang tuannya sendiri. Namun, apa lagi yang bisa dilakukan oleh Pengeran Jain. Sebagai pemimpin ia tak mungkin mengabaikan hukum yang berlaku di negaranya.
Siapa yang membunuh, maka hukamannya dibunuh pula. Begitulah hukum yang tertera di negara kerajaan.
Tepat saat itu, tuan Aldrich bersama rombongan datang. Tuan Aldrich begitu panik, kala melihat putra juga menantunya tak sadarkan diri, dengan darah segar dimana-mana.
Kemarahan tuan Aldrich membuncah, saat melihat keadaan putarannya yang sangatlah parah. Boddyguar-nya begitu peka, mereka semua berhamburan mengerjakan tugas masing-masing, ada yang meretas sistem rambu lalu lintas agar lancar dilewati nantinya. membopong tubuh tuan muda juga nona muda mereka, mobil mereka melesat begitu mulus memecah jalan raya, menuju kerumah sakit.
Tuan Aldrich masih berdiri di tampatnya semula. Tangannya ia kepalkan membentuk tinjuan.
"Jika terjadi apa-apa dengan putra juga menantu ku, aku tidak akan memaafkan kalian semua. Termasuk kau, pangeran Jain. Aku tidak akan segan-segan membunuh kedua orang tuamu," kata tuan Aldrich, setelah senyap beberapa jenak.
"Semuanya saya serahkan kepada tuan Aldrich. Saya serahkan kedua orang tua saya kepada hukum di negara, tuan." Jawab Pangeran Jain, pasrah. Saat memberi tau tuan Aldrich ia memang telah diperjalanan menuju Amerika.
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia pun berlalu. Walaupun ia mencoba menguatkan hatinya. Tetap saja, setetes air mata lolos dari salah satu sudut matannya. Apalagi mendengar teriakkan-teriakan kata Maaf dari kedua orang tuannya.
Taun Aldrich banngga akan keputusan pangeran Jain, yang menurutnya adalah keputusan yang sangat berat. Bagaimana pun jahatnya kedua orang tua, mereka tetaplah berjasa karena telah membesarkan-nya. Setidaknya keputusan berat dari Pangeran Jain membuat hati seorang tuan Aldrich melemah. Mungkin saja ia tidak akan menghukum orang tau pangeran Jain dengan cara membunuh. Bukankah tidak semua masalah diselesaikan dengan cara melenyapkan nyawa seseorang.
"Bawa kedua iblis itu ke markas besar," seru taun Aldrich memberi perintah.
"Baik tuan," Boddyguar yang tersisa menjawab serempak.
Tuan Aldrich segera berlalu menyusul menuju rumah sakit, untuk melihat keadaan putarannya juga menantunya.
20 menit perjalanan, ia telah berada di rumah sakit. Disana sudah ada calon istrinya yang menangis histeris mengingat keadaan putra tersayanganya.
Satu jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan dimana pura juga menantunya ditangani
"Bagaimana keadaan putra dan menantu saya, dok?" Tanya Meilyn panik.
Bersambung...
Like, komen, hadiah, dan vote π
Nggak ada waktu revisi, Maafkan typonya ya ππππππ
Selamat membaca dan semoga suka π
Lopeeeee readerssss πππ
ππΈ