
πΈπΈπΈ
"Aku tidak bisa konsentrasi, sayang. "Ucap Aurel menundukkan wajahnya malu.
"Kenapa tidak bisa, baby. Aku kan sudah tidak melihatmu, "jawab tuan Yong masih dengan posisi membelakangi Aurel.
"Tetap saja tidak bisa, nanti kamu mencium aroma parfum ku bagaimana. "Kata aurel.
"Apa salahnya, mau bagaimana pun wangi parfum mu. Aku akan tetap menunggu mu disini, "jawab tuan Yong tidak terbentahkan.
"Suaranya bagaimana, aku maluuu."ucap Aurel mendayu kalimat terakhirnya.
"Kalau begitu, bernyanyi saja. "saran tuan Yong.
"Baiklah, "jawab Aurel mengalah.
Dan pada akhirnya, Aurel terpaksa buang air besar sambil bersenandung. Beruntung suaranya merdu. Lihatlah tuan muda Yong sesekali menggerakkan kakinya menikmati irama merdu yang dibawakan istrinya.
Sesekali, Aurel juga menyemprotkan parfum yang ada dikamar mandi itu. Guna meringankan sedikit wangi parfum alamnya.
"Sudah selesai, tuan. "Ucap Aurel berdiri.
Aurel berniat ingin berjalan sendiri, tapi lagi-lagi tubuhnya melayang diudara. Tuan Yong kembali mengangkat tubuh Aurel. Akan ia bawa kembali ke ranjangnya.
"Tuan, eh..Sayang. Aku mau mandi dulu, "kata Aurel.
"Mandi, baiklah tunggu disini."Kembali tuan Yong mendudukkan Aurel di atas closet. Lalu ia berjalan menuju buthub, mengisi bak besar itu dengan air hangat. Setelah selesai barulah ia kembali pada Aurel dan menggemdong Aurel lalu memasukkanya kedalam buthub bersamaan dengan dirinya.
"Tuan juga ikut mandi? Kalau milik tuan berdiri, bagaimana? "ucap Aurel melas.
"Ya tinggal masukkan saja, "ucap tuan Yong membantu membuka pakaian Aurel.
"Tapi aku kan masih sakit, "jawab Aurel membiarkan suaminya melepaskan pakaiannya.
"Tidak baby, aku hanya bercanda. Tenang saja, kalau dia berdiri, tinggal panggil wanita bayaran saja, "jawab tuan Yong santai. Namun wajah Aurel sudah memerah karena marah.
"Walaupun aku hanya istri kontraknya, apakah dia perlu berbicara begitu padaku, "ucap Aurel dalam hati, matanya sudah berkaca-kaca saat ini.
"Aku hanya bercanda, baby. Kau tau, kau sangat menggairahkan saat sedang merengut begitu. "Ucap Yong langsung mel*mat bibir merona Aurel.
Walaupun suasana didalam buthub itu memanas, tapi tuan Yong masih bisa untuk menahan diri agar tidak melakukan hal itu lebih dalam lagi.
Aurel yang ternyata sangat agresif, sangat cocok bersanding dengan tuan Yong yang memang menyukai gadis seperti itu. Apalagi Aurel juga pandai menembak, hal itu semakin menambah poin untuk tuan Yong tidak akan melepaskan Aurel. Dirinya yang sedari kecil sudah masuk dunia mafia. Tentu saja sangat beruntung mendapatkan Aurel untuk dicintai. Setidaknya Aurel bisa melindungi diri, jika suatu saat hal yang seperti itu terulang lagi.
πΈπΈπΈ
Kondisi presdir Shilin sangatlah kusut. Lihatlah pakaiannya yang basah kuyup, wajahnya yang kusut masai. Penampilannya sangat berbeda dengan biasanya.
Duduk didepan ruang UGD, dengan pikirannya entah kemana. Yang pasti, ia sangat kacau saat ini. Ia takut terjadi apa-apa pada istri dan juga ankanya. Memikirkan itu membuatnay tak karuan. Sesekali ia melihat kearah pintu, berharap pintu itu segera terbuka. Tapi sudah lewat 1 jam, pintu itu tak kunjung terbuka.
Hingga akhirnya penantian presdir Shilin, selesai sudah. Karena kini pintu yang sedari tadi dinantinya, telah terbuka.
Presdir Shilin langsung berdiri dan segera menghampiri Dokter Shimming dan juga Dokter Luna.
"Bagaimana? Kalian berhasil menyelamatkan istri dan anakku bukan? "tanya presdir Shilin dengan wajah kuatirnya.
"Maafkan aku Shilin, untuk kali ini kami tidak bisa menyelamatkan Anak mu."Jawab dokter Shimming dengan wajah sendunya.
"Iya tuan Shilin, saya juga meminta maaf. Kali ini nyawa bayi tuan, tidak dapt terselamatkan lagi. Nona Annin sudah terlalu banyak meminum Air laut, Dan itu sangat memperparah kondisi bayinya."Kata dokter Luna menjelaskan.
Presdir Shilin tidak dapat berkata-kata, ia langsung menjatuhkan tubuhnya kasar kelantai. Air matanya sudah tidak dapat ia bendung lagi. Ia telah gagal menjaga anaknya, Entah sudah berapa kali istri dan anaknya mencoba untuk bertahan hidup.
Tapi untuk kali ini, Anaknya sudah tidak mampu bertahan lagi. Presdir Shilin melimpahkan segala penyesalannya dengan memukul lantai sekuat tenaga. Dah keluarlah darah segar dari punggung tanganya yang kekar.
Sangat hancur ia saat ini, ia begitu menginginkan seorang anak. Bukan hanya ia, tapi juga Mom dan Daddy nya. Entah bagaimana dia menjelaskannya pada mereka nanti. Bagaimana pula ia memberitahu Annin nanti, Apa yang harus ia lakukan.
Hanya penyesalan dan penyesalan yang kini memenuhi pikirannya. Kembali ia memukul pantai dengan sekuat tenaga.
Bersambung....
Maaf cuma bisa up segitu, Lagi ada urusan π
Like, komen hadiah, dan voteee π
Rate bintang 5 juga πππ
Selamat membaca dan semoga suka πππ
Maafkan typonya π
ππΈ