
πΈπΈπΈ
"Sa-sayang, ini ada darah. Bukankah aku belum melakukan apapun padamu. Jangan bilang kalau kamu....," Ucap presdri Chao terhenti, dengan ekspresi kecewanya dan kekesalan ia menatap istrinya.
Nia segera duduk dari berbaringnya. Menyadari apa yang terjadi pada tubuhnya ia langsung berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan sang suami yang kini terdiam, tak dapat berkata apa-apa.
Dengan wajah yang sudah merah padam, Nia merutuki kebodohannya didalam sana.
"Kenapa aku melupakan tanggalnya, kenapa aku menjadi begitu bodoh. Astaga kemana otak cerdasku. Kenapa aku begini. Aaaaa....Aku sangat malu," batin Nia menjerit merutuki kebodohannya.
Sedangkan presdir Chao langsung turun dari ranjangnya. Dengan langkah gontai ia menuju nakas dan mengambil tissu untuk mengelap tangnya.
"Apa salahku, kenapa aku begitu sial," sesal presdir Chao pada ketidakberuntunganya hari ini. Nafsunya tak dapat tersalurkan, nasibnya benar-benar malang.
Setelah itu, presdir Chao menjatuhkan tubuhnya kasar keatas ranjang, mengatur napasnya, guna meredakan Na*su nya yang tadi memuncak.
"Kak Chao," panggi Nia dari dalam sana.
"Ada apa lagi," jawab Presdir Chao sekenanya.
"Itu kak, ini apa, anu kak," jawab Nia tak jelas.
"Ada apa lagi dengan itu, ini, dan anu?" Tanya Presdir Chao tak bersemangat.
"Anu kak, pakaian dan itu, kak," jawab Nia dari dalam sana.
"Pembalut?" Tanya Presdir Chao tanpa tanpa ragu.
"Iya kak," jawab Nia pelan, dan masih di dalam sana.
"Aku akan menyuruh pelayan hotel membawakannya," ujar presdir Chao langsung mengambil ponselnya untuk menelpon pihak hotel.
"Nia, berapa ukuranmu?" Tanya Presdir Chao pada Nia.
"34D Dan L," jawab Nia pelan, karena malu.
"Merek pembalutmu apa?" Tanya presdir Chao lagi.
"Xxxxxx, kak," jawab Nia menyebutkan mereka pembalut yang biasanya ia gunakan.
Setelah memberikan beberapa lembar uang pada pelayan itu.
"Ini yang kau butuhkan, sayang. Cepatlah selesaikan," ujar Presdir Chao seraya mengetuk pintu kamar mandi.
"Terima kasih, kak," ucap Nia.
"Cepatlah selesaikan urusanmu," titah Presdir Chao.
"Iya kak," jawab Nia mengiyakan.
Tak lama Nia keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama cantik berwarna pink, agak seksi dibagian dada. Dan menampakkan separuh dari dadanya yang memang selalu menantang.
"Sudah selesai? Kemarilah!" Ajak Presdir Chao.
Nia melangkahkan kakinya mendekati suaminya, yang kini duduk di sofa, dengan berbagai macam hidangan enak di atas meja dihadapan nya.
"Makanlah," ucap Presdir Chao lembut dengan mengelus rambut ikal Nia yang sedikit berantakan. Nia merasa begitu nyaman diperlakukan seperti itu oleh suaminya, hatinya menghangat saat itu juga.
"Maafin aku ya kak, aku benar-benar lupa," jawab Nia menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, lain kali jangan melupakan tanggalmu. Seorang perempuan penting mengingat tanggalnya agar tak teledor. Aku masih punya banyak waktu. Tapi sekarang makanlah dulu," ucap presdir Chao berusaha tenang, padahal di dalam hatinya, ingin sekali memarahi istrinya itu. Tapi melihat wajah sendunya mampu meluluhkan hatinya yang sebelumny, sediangin es.
Selesai makan malam, keduannya langsung menuju kasur dan segera berpelukkan diatas sana.
"Ada apa, sayang?" Tanya Presdir Chao yang heran melihat Nia yang sedari tadi gelisah.
"Perutku sakiiit sekali kak," Presdir Chao terkejut melihat istrinya yang kini menangis meringis menahan nyeri di bagian bawah perutnya.
Bersambung....
Like, komen, hadiah dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lope readersss π