
"Aeri, Shilin. Kalian sudah pulang, nak? Astaga! Aeri, Mommy samgat merindukanmu sayang," ujar Nyonya besar Mou menyambut kedatangan menantunya yang datang tiba-tiba.
"Kalian pulang kenapa tidak bilang-bilang, sayang. Kalau taukan, Mommy bisa jemput kalian di bandara," tambahnya lagi.
"Maaf, Mommy. Kita pulangnya juga buru-buru, jadi tidak sempat beri Mommy kabar," jawab Aeri.
"Tidak apa-apa sayang. Tapi bagaimana hasilnya, Apa sudah ada tanda-tanda?" Tanya nyonya besar Mou, memainkan matanya.
"Mommy meragukan kejantannanku. Apa Mommy lupa, saat Aeri hamil pertama. Hanya sekali Shilin melakukannya, Aeri langsung hamil. Apalagi yang tiga kali sehari selama sebulan. Jangankan kembar 2 seperti Yong. Shilin bisa kasih Mommy Cucu, kembar 12," jawab Shilin menggebu-gebu kala mengingat Aeri yang selalu dikucilkan dulunya.
"Dasar bodoh, apa kau ingin membunuh menantuku. Enak saja bicara begitu, kau kira melahirkan sama dengan yang kau lakukan di toilet," tegas nyonya besar Mou memarahi putanya. Aeri hanya tersenyum mendengar pertengkaran ibu dan anak itu.
"Mommy. Aurel, baby garren dan juga baby Girren dimana?" Tanya Aeri. Menghentikan pertengkaran dua darah itu.
"Aurel, Yong, dan Twin G. Pergi kerumah sakit untuk menjenguk keadaan Zhang." jawab nyonya besar Mou bersedih. Kala mengingat kejadian sebulan yang lalu. Dan Zhang masih kritis hingga saat ini.
Sedangkan Ryan meninggal ditempat. Dan ternyata, Ryan masuk kedalam gangster CreulBlood demi mendapatkan uang, guna menyelamatkan nyawa adik perempuannya yang kini memderita gagal hati. Dan Ryan juga sudah membuat surat yang berisi bahwa ia akan mendonorkan hatinya untuk sang adik. Dan tuan Yong berjanji akan menjaga adik Ryan yang bernama Zanna berusia 15 tahun yang masih berada di Amerika.
"Zhang masih belum sadar, Mommy?" Tanya presdir Shilin sedih.
"Iya. Luka tembak diperutnya sangat parah dan menyebabkan ia kritis. Tapi dokter masih menanganinya saat ini, dan Mommy yakin ia akan segera sadar."
"Tapi kamu belum jawab pertanyaan Mommy loh, gimana hasilnya, sayang? Kamu sudah hamil atau belum?" Tanya nyonya besar Mou.
"Iya, Mommy. Aeri Hamil," jawab Aeri tersenyum.
"Akhirnya, Mommy akan punya cucu yang pintar nantinya. Selamat ya, sayang," ucap nyonya besar Mou bahagia.
"Tidak, Garren sangat nakal sama seperti Yong sewaktu kecil. Mommy lebih suka Girren, dia cantik dan juga lembut, persis seperti Aurel dan juga kamu sayang. Mommy senang akhirnya kamu hamil juga," ujar nyonya besar Mou kembali memeluk Aeri.
"Ayo, sayang. Kamu pasti lapar kan. Ayo kita makan siang," ajak nyonya besar Mou tak melepaskan Aeri dariinya.
***
Beberapa bulan berlalu, kandungan Aeri telah memasuki usia 5 bulan. Meskipun sudah 5 bulan, Aeri tetap saja mengalami mual serta muntah-muntah yang begitu hebat. Sama seperti kehamilan pertama, yang membuatnya harus badrest.
Kali ini pun juga seperti itu. Karena kondisi tubuhnya yang lemah, mengharuskannya untuk melakukan semua aktivitas hanya diatas tempat tidur. Dan selama itulalah Presdir Shilin selalu menahan nafsunya, acap kali menginginkan istrinya.
Hanya sekali atau dua kali seminggud ia boleh melakukannya. Dan itu pun hanya terjadi jika sang istri juga menginginkannya. Jika tidak, bisa dalam 2 Minggu hanya sekali. Tapi hal itu, tidak mengurangi rasa cintanya pada sang istri. Sering Presdir Shilin tak berangkat kerja hanya untuk memastikan jika istrinya baik-baik saja. Jika terjadi masalah pada istrinya, maka dia rela meninggalkan pekerjaan sepenting apapun.
"Sayang, ada apa?" Tanya Presdir Shilin pada istrinya yang sedari tadi gelisah. Tak ada jawaban, presdir Shilin tau bila seperti ini pasti ada hal yang diinginkan oleh Aeri.
"Aeri sayang. Apa kamu menginginkan sesuatu? Apapun itu katakana saja padaku. Aku pasti akan melakukan apapun yang kamu inginkan," ujar presdir Shilin.
"A-aku hanya ingin makan buah mangga." Jawab Aeri langsung membalikkan badannya menatap sang suami dengan matanya berbinar menggemaskan.
"Apa hanya mangga saja sayang. Jangankan buah mangga, bila kamu menginginkan pohonnya sekalipun, pasti akan aku penuhi," berkata dengan segala kearoganannya.
"Aku tidak ingin pohonnya, aku hanya ingin buahnya." Ralat Aeri.
"Baiklah Tuan putriku, Pangeran akan segera mengambil buah mangga dibelakang Mansion. Kamu hanya perlu menunggu sebentar maka buah mangga akan segera datang," jawab presdir Shilin langsung berdiri akan menuju taman belakang untuk memetik buah mangga yang kebetulan sedang berbuah.
"Aku ingin makan mangga yang dipanjat langsung olehmu," takut-takut Aeri mengatakan keinginanya.