
๐ธ๐ธ๐ธ
Setelah drama perpisahan yang beradegankan sedih-sedihan antara Aurel, Aeri, dan juga nyonya besar Mou. Kini, Presdir Shilin dan Aeri, sudah berada didalam pesawat pribadi presdir Shilin. Untuk segera bertolak ke negeri paman Syam.
Seperi biasa, Aeri akan mabuk dan teler, tapi kali ini berbeda. Presdir Shilin benar-benar menjaga ekstra istrinya. Mulai dari menyuapi makan, hingga saat Aeri memuntahkan seluruh makanannya.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, kini akhirnya dua sejoli itu sudah bisa menghirup udara di negeri paman Syam itu.
Aeri yang telah teler, tak dapat berkata-kata, hal itu membuat sang suami kuatir. Karena perjalanan dari bandara menuju kediaman Aldrich membutuhkan waktu sekirannya 2 jam. Perjalanan selama itu, membuat presdir Shilin tak tega dengan kondisi istrinya yang kini sedang kelelahan.
Dan pada akhirnya, ia lebih memilih menunda perjalanan. Dan untuk sementara waktu, ia membawa istrinya kesebuah hotel terdekat untuk menginap.
Presdir Shilin memilih hotel paling ternama disana. Dan ketika sampai dihotel ia langsung disambut ramah pegawai hotel.
Memesan suite room disana, presdir Shilin langsung menggendong istrinya setelah melihat istrinya yang sudah tidak punya tenaga lagi untuk berjalan.
Karena sudah larut malam, mereka berdua pun memilih untuk segera beristirahat.
Dengan saling berpelukkan, dua sejoli itu pun mulai mengarungi dunia mimpi, dimana ada mereka berdua didalamnya bersama kenangan mereka berdua dimasa lalu.
Puku 2 malam, Aeri terbangun dari tidurnya. Melepaskan diri dari pekukkan suaminya, ia menuju ke kamar mandi. Setelah itu, ia kembali pada suaminya.
"Sayang, sayang,"panggil Aeri menggoyangkan tubuh suaminya yang masih terlelap.
"Heem,"jawab presdir Shilin dengan suara serak khas bangun tidur.
"Bangun dulu, sayang. Aku lapar,"ujar Aeri membuat presdir Shilin langsung terbangun.
"Mau makan apa, sayang,"ujarnya sambil mengucek matanya pelan.
"Apa saja, yang penting bisa menghilangkan laparku. Aku sangat-sangat lapar," kata Aeri memegangi perutnya. Jelas saja ia sangat lapar, ia hanya makan saat di pesawat. Dan itupun ia keluarkan lagi.
Mendengar ucapan istrinya yang tampak sangat kelaparan. Presdir Shilin segera bangun, dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Begitu selesai ia kembali lagi pada istrinya yang masih duduk disisi ranjang dengan memegangi perutnya.
"Kau lelah dan kelaparan, sayang. Dan aku sebagai suami yang baik, harus bertanggung jawab karena sudah membiarkan istrinya kelaparan,"jelas presdir Shilin, mendudukkan istrinya diatas meja makan.
Aeri hanya tersenyum samar, ia sangat bahagia dimanjakan seperti ini. Setidaknya ia masih punya suami yang menyayangi dan sangat mencintainya saat ini. Tapi ia juga bersedih karena belum bisa memberikan keturunan Pada suaminya itu.
"Sayang, apa aku perlu membantu?"tawar Aeri
"Tidak perlu, sayang. Kamu hanya boleh menonton suami tampanmu ini sedang memasak dengan seksi,"jawab presdir Shilin yang memang sudah cukup pandai memasak karena selama istrinya hamil dulu, ialah yang memasakkannya.
"Bagaimana caranya memasak dengan seksi?"tanya Aeri sambil tertawa.
"Begini sayang,"jawab presdir Shilin dengan menyingsing lengan bajunya. Kemudian memyisir rambutnya dengan jari-jari. Kemudian memeletkan lidahnya tak tinggal kedipan matanya yang mempesona. Dan adegan terkahir membuat Aeri tertawa terpingkal-pingkal.
"Ada apa, sayang?"tanya presdir Shilin heran, dengan disalah satu tanganya memegang terong ungu berukuran jumbo yang akan segera ia potong.
"Te-terong itu, ukuran terong itu sama dengan punyamu. Ahahahhaha,"jawab Aeri tertawa semakin jadi. Presdir Shilin terkejut mendengar ucapan istrinya yang sudah tak polos lagi. Kemudian ia memandang pada terong unggu jumbo yang kini ia pegang. Lalu ia tersenyum dengan sangat jail sambil menatap Istrinya.
Sedangkan Aeri langsung menutup mulutnya, karena baru menyadari apa yang telah ia ucapkan barusan.
Bersambung.....
Like, komen, hadiah, dan vote๐๐
Maafkan typonya๐
Selamat membaca dan semoga suka๐
Saranghae readers๐๐
๐๐ธ**