
πΈπΈπΈ
"Kak, kakak masih mau bantuin aku kan kak," tanya Nia dengan matanya berbinar penuh harap, menghadap suaminya yang kini sedang fokus mengemudi.
Presdir Chao tak kuat menatap mata berbinar itu, setelah menatapnya sekilas fokusnya kembali pada kemudi.
"Aku mohon bantu aku kak. Kakak kan pintar, pasti kakak bisa melawan mereka. Kalau kakak tidak mau membantuku, aku akan berangkat kenegaraku seorang diri. Biarkan aku sendiri yang menghadap mereka. Lagi pula aku punya saham 45%, aku yakin aku bisa merebut kembali hakku," kata Nia bersungguh-sungguh. Nia menghembuskan nafasnya kasar, kala melihat wajah suaminya kembali dingin, tanpa ekspresi.
Tidak putus asa, Nia kembali membujuk suaminya.
"Kak, ayolah kak. Aku janji setelah masa haid ku selesai. Kapanpun kakak mau pasti akan siap, tapi bantu aku kak," ucap Nia dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Tak ada sautan dari presdir Chao, entah kenapa dia malah memilih diam, dan tidak meladeni mulut cerewet istrinya itu.
Tak lama keduannya sudah sampai di perusahaan. Presdir Chao dan Nia langsung menuju ruangan mereka. Nia tampak bergelayut manja di tangan kekar suaminya. Ia seakan memamerkan bahwa ia adalah istri dari Presdir mereka. Dan hal itu sukses membuat para karyawan perempuan melihatnya tak suka.
Tatapan iri para karyawan perempuan, dibalas cebikkan lidah oleh Nia. Tapi sayangnya para karyawan perempuan malah berpikiran bahwa Nia hanyalah wanita bayaran, yang selalu dibawa oleh Presdir Chao kemana-mana.
"Kak, kakak masih marah padaku ya. Tadi kakak sangat hangat padaku, kenapa seorang kakak kembali dingin," kesal Nia cemberut. Kini, keduanya sudah berada di dalam lift.
Presdir Chao yang sedari tadi berusaha menahan diri, kini telah habis kesabarannya. Dengan tak sabaran ia mendorong tubuh Nia ketembok, dan tanpa ampun ia langsung menyerang bibir ranum Nia, yang sedari tadi terus menggodanya, dengan celotehan nya yang tiada henti.
Itulah yang terjadi sebenarnya pada presdir Chao. Ia diam bukan karena kesel atau hal lainnya. Ia diam hanya karena, berusaha menahan diri untuk tak menyerang istrinya yang menurutnya selalu menarik. Bahkan ia merasa Nia sangat cantik dan seksi saat sedang berceloteh.
Keadaan semakin panas saat tangan nakal Presdir Chao, mulai mer*mas-rem*s bamper belakang juga bamper depan milik istrinya.
"Hemp...hemp...," Nia berusaha melepaskan diri, kala ia hampir kehabisan nafas.
Nia yang geram, langsung meng*git bibir suaminya itu.
"Aaakh, apa yang kau lakukan, sayang. Apa kamu mau membunuhku," ringis Presdir Chao merasai sakit di bibir bagian bawahnya.
"Kakak yang ingin membunuhku. Aku hampir kehabisa nafas Kak, kalau tidak aku gigit, apa kakak akan melepaskan ku," bentak Nia marah.
"Kakak jahat, apa kakak tidak mencintaiku? Apa Kakak mau mendekatiku hanya untuk memuaskan nafsu kakak saja. Kakak jahat, aku benci kakak." Setelah mengucapkan kekesalannya. Nia pun lansung berlari menuju ruangan suaminya.
"Ternyata, PMS juga membuat perempuan berpikiran negatif. Wanita yang sedang PMS benar-benat mengerikan." Kata Presdir Chao keluar dari lift menuju ruangannya. Untuk membujuk istrinya yang kini tengah merajuk.
Bersambung.....
Like, komen hadiah dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lopeeeee readerssss π
Sambungannya masih diketikπ
ππΈ