
๐ธ๐ธ๐ธ
Lona segera menghampiri suaminya yang masih berada di ruang tamu. Dengan membawa serta semangkuk es batu ditangannya.
Presdir Chao mulai berakting, demi melancarkan aksinya. Ia rela melakukan semua yang disarankan oleh sahabat yaitu tuan Devan Dizon. Presdir Chao sudah mengenal lama tuan Devan, karena dulunya mereka satu fakultas saat kuliah. Taun Devan juga dekat dengan Presdir Shilin, Choi, Chen, juga dokter Shimming. Sekretaris tuan Devan yaitu sekretaris Aron juga sahabat dekat Presdir Chao, tapi ia kurang dekat dengan sekretaris Aron karena karakter sekretatis Aron sangat mirip dengannya dulu, saat menjadi sekretaris Presdir Shilin. Diantara mereka semua, hanya tuan Devan yang berbeda, jika yang lain suka bercerita tentang kesulitan mereka, hal itu tak berlaku bagi tuan Devan yang memang tak suka urusan pribadinya dicampuri.
Demi mendapatkan sang istri sentuhnya, Presdir Chao rela melakukan apapun yang disarankan oleh tuan Devan sahabatnya.
Tapi tragis nasibnya, karena memiliki seorang istri yang jenius. Sudah dipastikan rencananya akan gagal total.
"Kakak, Ayo kita pindah ke kamar saja," tutur Zanna membuat presdir Chao membulatkan matanya sempurna. Ia kaget mendengar ucapan istrinya, pikirannya sudah berkelana kemana-mana, kala istrinya mengajak ia untuk pindah ke kamar. Dengan semangat ia langsung berdiri hingga melupakan akting-nya saking bahagianya.
"Benarkah, sayang. Apa kau sudah siap. Ayo sayang aku berjanji akan melakukannya dengan sangat perlahan," jawab Presdir Chao lupa akan aktingnnya.
"Apa kakak sudah sembuh!" Zanna mengerutkan keningnnya.
"Ahh..Panas sekali Za, kakak bisa mati kalau sepanas ini," ujar presdir Chao melepaskan kancing atas kemejannya satu persatu, demi melancarkan Aktingnya yang sempat terlupakan olehnya.
"Yasudah, ayo kita ke kamar saja," ujar Zanna membopong tubuh suaminya.
Presdir Chao berusaha akting semaksimal mungkin, bahkan tangan nakalnya berkelana kemana-mana mencari-cari sesuatu yang kenyal ditubuh istrinya.
Diperlakukan seperti itu oleh sang suami, Zanna langsung melepaskan tubuh suaminya yang tadinya ia bopong.
"Sial! Kenapa malah aku yang terkena," batin Zanna saat hampir saja ia tergoda oleh sentuhan-sentuhan lembut suaminya yang membuat dirinya hampir melayang.
"Sebaiknya aku juga berakting sekarang saja," batin Zanna lagi.
"Kak, kepala Zanna pusing sekali kak," ucap Zanna terhuyung-huyung.
Presdir Chao yang awalnya berakting teler, sekejab mata langsung sadar diri. Ia segera menangkap tubuh istrinya yang hampir terjatuh kelantai.
Aktingnya berakhir sudah, pikiran joroknya menyingkir digantikan dengan segala rasa kuatirnya terhadap keadaan istrinya yang pingsan tiba-tiba. Bahkan juniornya lemas seketika saat melihat tubuh istrinya yang terkulai lemas.
"Sayang, kamu kenapa sayang? Sayang! Bangunlah sayang," dengan nada kuatirnya ia menepuk-nepuk pelan pipi istrinya.
Presdir Chao segera mengambil minyak angin dan ia oleskan dihidung sang istri, tak lama Zanna pun bangun. Perasaan Yang awalnya kacau lega saat melihat mata istrinya telah terbuka.
"Sayang, kamu kenapa sayang. Apa kamu sakit?" Tanya Presdir Chao mengelus rambut istrinya.
"Kepalaku sangat pusing kak," lirih Zanna menjalankan akting mulusnya.
"Sebentar kakak ambil obatmu dulu," ujar presdir Chao akan mengambil obat sang istri.
"Tidak usah kak, Zanna hanya ingin dipijit kepala saja," Zanna menahan tangan suaminya agar tak pergi.
"Baiklah, aku akan memijitmu," dengan senyuman di bibirnya. Presdir Chao memijit pelan kening istrinya.
"Kakak bagaimana? Apa efek obatnya sudah hilang?" Tanya Zanna pura-pura tidak tau.
"Iya sepertinya efek obatnya sudah berkurang," kilah Presdir Chao.
"Apa kamu masih kurang darah sayang? Tanya Presdir Chao.
"Iya kak, sepertinya begitu. Aku masih sering sakit kepala kak," kilah Zanna.
"Yasudah istirahatlah, aku tidak akan menggangumu sayang," seru Presdir Chao. Membawa istrinya masuk kedalam pelukannya.
Hayo siapa yang kenal Devan Dizon, ada di novel terbaru Author ya, yang berjudul BUDAKKU CANDUKU ๐ค
๐ธ๐ธ๐ธ
Keesokkan paginya, presdir Chao bangun lebih dulu. Membuka matanya perlahan, senyumnya terukir saat melihat wajah cantik sang istri yang kini begitu dekat dengan wajahnya.
kulit wajahnya terasa merinding terkena terpaan nafas istrinya yang beraroma menyegarkan. Hal itu mampu membuat sesuatu dibawah sana menegang. Menatap gundukkan istrinya yang saling terhimpit, karena posisi yang miring membuatnya serba salah.
Mengerjabkan matanya, berusaha menjauhkan pandangan matanya dari benda kenyal itu. Pandangan-nya kembali ia alihkan pada wajah sang istri. Bukannya yang dibawah sana tenang, tapi malah semakin menegang. Tanpa ia sadari jemarinya sudah mengusap wajah istrinya dengan penuh kelembutan.
Kening, hidung, pipi, bibir, tak lepas dari usapannya. Mengusap benda kenyal yang selalu berwarna merah itu, membuat insting kelelakian-nya bangkit. Tanpa aba-aba ia langsung meletakkan bibirnya di bibir ranum Zanna. Tak ada pergerakan dari sang istri membuatnya semakin menjadi. Ia membuka mulut sang istri dengan mudah dan mulai beramain didalam sana.
"Emmm....," Presdir Chao menghentikan tingkah tangan nakalnya. Gairah-nya semakin membuncah kala mendengar suara erotis sang istri. Melihat istrinya yang masih terpejam kembali ia bermain di gundukkan kenyal itu.
Tangan nakalnya mulai lupa diri, karena sudah berani membuka satu persatu kancing baju istrinya. Piyama sang istri telah terbuka, meninggalkan bra berwarna merah yang menyembunyikan aset istrinya.
Tak sabaran ia mulai bermain disana, ia benar-benar lupa segalanya. Saat salah satu tangannya mulai menyelinap masuk kedalam celana istrinya. Barulah sang pemilik tubuh terbangun dari mimpi, yang ia kira hanya mimpi basah biasa.
Zanna mulai tersadar akan apa yang telah terjadi. Hatinya kecilnya ingin berontak, tapi tubuhnya tak sependapat dengan hatinya. Tubuhnya begitu menikmati atas apa yang dilakukan oleh suaminya kini. Bukannya menolak apalagi berontak, tapi kakinya malah ia buka lebar agar suaminya dapat bermain lebih mudah.
Prsdir Chao tersenyum licik, kala melihat istrinya yang tak lagi menolak.
Suara erotisnya tak tertahan, saat Presdir Chao mulai menaikkan ritme permainan jarinya. Ia senagaja melakukan itu agar istrinya tau, kalau itu sangatlah nikmat, bukannya sakit seperti yang ia pikirkan selama ini.
"Bagaimana rasanya sayang?" Tanya Presdir Chao tersenyum penuh arti.
"Sa-sakiit, kak, hen-hentikhaaaa...,"
"Aaaaaakh.....," Teriak Zanna, ia mengangkat tubuhnya keatas merasai nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Presdir Chao tersenyum bangga akan hasil permainannya. Yang membuat istrinya mendapatkan pelepasan pertamanya.
Presdir Chao melepaskan tangannya dari inti sang istri, ia kembali meng*kung tubuh istrinya. Lalu mencium kening sang istri penuh kasih sayang.
Sedangkan Zanna masih sibuk mengatur nafasnya yang tersengal, akibat ulah suaminya. Sadar atas apa yang terjadi, Zanna menutup wajahnya malu.
Presdir Chao tersenyum melihat wajah malu istrinya. Masih diatas tubuh istrinya, dengan tangan biadabnya ia kembali memainkan gundukkan istrinya yang telah polos.
"Kak hentiakan, geli tau," ujar Zanna.
"Kamu menyukainya, sayang," jawab presdir Chao.
"Aku masih takut, kak," lirih Zanna dengan mata berkaca-kaca.
"Takut apa? Bukannya tadi kamu sudah merasakan bagaimana nikmatnya," saut Presdir Chao heran akan pemikiran orang jenius dibawahnya.
"Itukan hanya satu jari kakak, satu jari saja sakit. Apalagi yang itu," Presdir Chao mengikuti arah tunjukkan istrinya. Yang menujuk pada senjatanya yang sudah menegang dibalik kain tipisnya. Dibalik kain tipis itu Zanna dapat membayangkan bagaimana besarnya benda itu.
"Aku berjanji akan melakukannya pelan-pelan, sayang. Aku jamin tidak akan sakit," tutur presdir Chao berusaha membujuk istrinya.
"Aku tidak percaya! Tadi saat aku kesakitan, kakak malah mempercepatnya," jawab Zanna dengan mata berkaca-kaca, membuat Presdir Chao gemes.
"Tidak akan sakit, sayang. Percayalah, aku akan melakukannya dengan sangat pelan," kembali Presdir Chao membujuk istri polosnya.
"Aku tidak percaya!" Jawab Zanna keukeuh.
"Yasudah, kakak akan membuktikan padamu kalau melakukan itu tidaklah sakit," ucap presdir Chao turun dari ranjang mencari sesuatu. Zanna langsung membalutkan tubuh bagian atasnya dengan selimut.
"Nah ini dia," ucap Presdir Chao mengambil sebuah kaset lalu memutar nya.
"Kita nonton itu dulu sayang, agar kamu tau betapa nikmatnya melakukan itu," presdir Chao mengambil posisi disamping istrinya.
Zanna yang tidak mengerti Vidio apa yang diputar oleh suaminya, terus saja menonton. Hingga layar TV yang tadinya berwarna hitam mulai berwarna-warni.
Prsdir Chao mempercepat durasi Vidio, dan menghentikannya tepat pada waktu seorang wanita seksi berada diatas tubuh seorang pria kekar. Wanita didalam sana menguasai permainan, berada diatas ia terus mem*mp* tubuhnya. Sesekali wanita seksi itu tersenyum dengan memejamkan matanya merasakan nikmat.
Zanna merasa sangat malu melihat Vidio itu, ia segera menutup wajahnya masuk kedalam selimut.
Merasa cukup, presdir Chao langsung mematikan Vidio itu. Dengan semangat ia menyingkap selimut istrinya dengan kasar, hingga tergeletak tak berdaya di lantai. Dan tampaklah wujud istrinya yang meringkuk dengan tubuh polos bagian atas, dan masih memakai celana utuhnya.
"Ayo sayang kita lakukan, sudahku bilang bukan melakukan itu malah enak bukannya sakit. Jangan percaya apa kata orang," jelas presdir Chao membujuk istrinya lagi dan lagi.
"Ak-aku maluuu kak," jawab Zanna menghadap pada suaminya dengan dua tangannya tersilang di dada. Tak lupa wajahnya yang sudah semerah tomat.
"Tidak usah malu, sayang. Kita ini suami istri, tidak boleh ada rasa malu diantara kita berdua,"
"Ta-tapi kak!"
"Sudah, ayo kita lanjutkan. Aku tidak sangup lagi kalau harus menunda dan mengulur waktu,
" ucap presdir Chao langsung melepaskan celananya juga kain terakhir yang membungkus senjatanya.
Zanna kaget melihat hal itu, Zanna segera menutup mulutnya juga matanya agar tak melihat. Kesalahan besar yang ia lakukan, ia menutup mulut dan matanya. Tapi melupakan dua gundukkannya yang polos.
Tak ingin menunda lagi, Presdir Chao langsung menerkam istrinya.
Bersambung...