
πΈπΈπΈ
"Kuat apanya! Pegang sendok aja jatuh Mulu, kapan Za makannya?" Seru Zanna, protes pada suaminya yang masih lemas setelah sadar dari koma.
"Sini biar Zanna sendiri. Makannya kakak cepatan dong sembuhnya. Baby nggak nafsu makan kalau nggak disuapin Daddynya," lirih Zanna beralih ke mode mellow.
Semua itu benar-benar membuat Presdir Chao tak tahan. Seharian ia mendengarkan ocehan sang istri yang tak berkesudahan. Meski begitu, ia tetap menyukai ocehan tak jelas itu.
"Buka mulut kakak," seru Zanna memberi perintah.
Peka, presdir Chao langsung membuka mulutnya. Zanna menyuapi makanan ke mulut suaminya. Lalu bergantian ke mulutnya. Bibir mereka seakan menyatu di sendok itu.
Setelah selesai makan, dokter memberi saran pada presdir Chao, untuk beristirahat, guna memulihkan kembali tenagannya.
"Aku juga mau tidur, tapi dipeluk kakak," pinta Zanna dengan mata berbinarnya.
"Kemarilah, sayang," ujar presdir Chao membentangkan kedua tangannya. Zanna langsung masuk kedalam pelukan suami yang dirindukannya itu.
"Aaakh," ringis Presdir Chao kala lukanya tak sengaja ditekan oleh sang istri.
"Maafin Zanna, kak. Zanna nggak sengaja," ujar Zanna menjauhi tubuh suaminya. Takut tak sengaja menyenggol luka sang suami lagi.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku baik-baik saja. Kamarilah lagi," Zanna pun kembali kepelukkan sang suami. Kini tangannya ia lingkarkan di leher sang suami. Disitu aman menurutnya.
"Waw...ternyata kakak setampan ini. Kenapa kakak bisa menyukaiku?" Tanya Zanna penasaran.
"Tentu saja suami siapa dulu," jawab Presdir Chao mencubit hidung mancung sang istri.
Lama Zanna terdiam, lalu semakin cemberut, sepertinya dia menunggu sesuatu. Lagi-lagi, Presdir Chao yang peka. Mengerti apa yang ditunggu istrinya itu.
"Kamu juga sangat, sangat, sangat cantik, satangkuh," ucap Presdir Chao tulus.
"Benarkah, tapi aku sudah tau kalau aku memanglah sangat Cantik," jawab Zanna kembali tersenyum.
Presdir Chao tampak kebingungan untuk menjawab. Ia yang peka, langsung mengerti ketika melihat Zanna menyisir rambut pendeknya dengan seksi.
"Kau semakin menarik dengan rambut seksi itu, sayang. Aku tidak perlu susah menyingkirakan rambut mu yang panjang saat kita olahraga nanti. Kau terlihat semakin seksi, sayang," puji presdir Chao serius.
Zanna tersenyum bahagia, kala mendengar pujian dari suaminya tercinta. Ia langsung mengecup sekilas bibir suami itu.
Mendapat serangan yang tiba-tiba membuat presdir Chao akan ******* bibir ranum istrinya itu. Namun, gerakkannya terhenti ketika ditahan oleh Zanna.
"Kenapa, sayang? Tanya presdir Chao heran.
"Kakak sudah tiga hari tidak mandi. Jangan dulu mencium ku." Ketus Zanna membuat presdir Chao membuka mulutnya tak percaya.
"Lalu apa tadi sayang. Kamu yang duluan menciumku, sayang," protes presdir Chao.
"Tadi itukan hanya kecupan. Kalau kakak bablas. Ingat luka kakak, jangan sampai kakak melupakan luka kakak. Aku ingin tidur bersama kakak, peluk dan elus perutku saja. Jangan berbuat yang lainnya," jelas Zanna dalam mode galak.
"Baiklah, sayang." Presdir Chao langsung menyelinapkan salah satu tannya kedalam baju sang istri. Lalu mengelus lembut perut istrinya yang masih rata. Tak butuh waktu lama, Zanna sudah memejamkan matannya. Presdir Chao mengecup kening istrinya sekilas, lalu kembali menatap sang istri yang tertidur sangat imut menurutnya. Ia merasa lucu dengan bibir istrinya yang tertutup rapat, iseng ia sengaja membuka mulut itu, lalu kembali menutupnya. Begitulah seterusnya hingga ia merasa mengantuk dan terlelap menyusul sang istri yang telah lebih dulu terlelap.
Bersambung....
Like, komen, hadiah, Dan vote π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lopeeeee readerssss πππ
ππΈ