
"Siaaaalllll.... Siapa perempuan itu???? Kenapa aku tidak bisa melihatnya??? Dia sepertinya sengaja menutup wajahnya agar tidak ada yang mengenali nya... Aaarrrghghhh siaaallll.... Ethan benar-benar tidak mau memberiku kesempatan dan sekarang justru dia bersama perempuan lain... Brengseeekkkk!!!!" Teriak Gemma dengan penuh kemarahan. Usaha nya benar-benar sia-sia sekali. Dan bagaimana bisa Ethan begitu cepat mendapatkan pengganti nya. Dan perempuan itu pastilah pemilik mobil mewah tadi. Ethan benar-benar tidak tanggung-tanggung membalasnya seperti ini. Lelaki itu bisa begitu cepat membalas dengan cara seperti itu.
"Apa benar Ethan berhubungan dengan perempuan itu atau hanya sekedar ingin membalaskan dendamnya padaku saja ya????? Siaaaalllll... Bagaimana aku bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaanku ini??? Sudah jelas bahwa Ethan tidak mau lagi kembali denganku.... Aaaarggghhh...."
Gemma di buat kesal dan penantiannya sejak pagi menjadi sia-sia saja.
***
"Gemma tadi tidak mengenaliku kan???" Tanya Leona.
"Aku rasa tidak...!!! Kau berpakaian sangat tertutup sekali.," Jawab Ethan. "Aku sebenarnya sempat berpikir bahwa kau terlalu berlebihan sekali karena memakai segala macam penutup diri, tetapi ternyata berguna juga hahahaha" Ethan tertawa.
"Aku harus selalu melakukan ini untuk kebaikan kita berdua." Leona menggenggam jemari Ethan dan mengecupnya.
"Lakukan apapun yang kau suka dan yang membuatmu nyaman." Gumam Ethan.
Leona menoleh dan memandang Ethan yang sibuk mengemudi kan mobil. Tidak ada perasaan yang lebih membahagiakan bagi Leona saat ini karena Ethan sudah menjadi miliknya dan lelaki ini akan dia buat bahagia setiap waktu. Leona sejak awal sudah terobsesi dengan Ethan, sejak pertemuan pertama kali mereka ketika itu, Ethan menjadi sesuatu yang begitu Leona inginkan, sehingga dia ingin sekali bisa dekat dengan Ethan. Sekarang tidak ada lagi penghalang di antara mereka. Gemma sudah di hempaskan oleh Ethan, dan Ethan membuka diri untuknya. Leona bahagia sekali. Jika tidak ada Ethan mungkin dia akan melompat lompat dan berteriak kegirangan untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar sebelum ke hotel, kita masih punya banyak waktu sebelum bertemu dengan Papa..."
Ethan melempar senyum. "Ingin jalan-jalan kemana????" Tanya Ethan.
"Jalan-jalan saja berkeliling...!" Gumam Leona.
"Aneh, ingin jalan-jalan tapi tidak punya tujuan.." Gerutu Ethan.
"Punya lah, aku punya tujuan.. " Sahut Leona.
"Punya darimana??? Tadi aku bertanya mau kemana, kau bilang jalan-jalan saja tidak menunjukkan tempat kemana kita pergi...??? Hahahaha.. Sekarang bilang punya tujuan??? Memangnya mau kemana???" Tanya Ethan lagi.
"Sebentar..!!" Gumam Leona sambil memainkan ponselnya. Butuh beberapa saat, hingga kemudian Leona meletakkan ponselnya di dasbor mobil. Ponsel itu menunjukkan sebuah maps yang sudah di sambungkan ke mobilnya. Ethan mengernyit melihat apa yang di lakukan Leona. Sekaligus merasa bingung juga karena maps itu menunjukkan arah keluar dari kota.
"Mau kemana???" tanya Ethan lagi tetapi Leona tidak menjawab dan kalli ini perempuan itu justru memindahkan mode mobil yang di kendarai Ethan, menjadi mode autopilot. Sehingga Ethan tidak perlu berkonsentrasi mengemudi karena mobil akan berjalan sendiri sesuai dengan maps yang sudah di atur oleh Leona. Mobil itu sudah di lengkapi dengan sensor otomatis yang bisa berhenti sendiri ketika di traffic light atau pun saat ada mobil yang berhenti mendadak di depannya, akan otomatis terhenti di jarak tertentu. Sehingga tidak perlu khawatir akan mengalami kecelakaan.
"Entah kenapa setiap di dekatmu aku selalu menginginkannya lagi.." Kemarin Leona mengusap milik Ethan.
Ethan tersenyum. "Kita sedang ada di jalan.."
"Memangnya kenapa??? Kita bisa melakukannya, mobilnya sudah bisa berjalan sendiri tanpa harus di kemudikan.." Usapan Leona menjadi sebuah genggaman yang begitu lembut.
"Tapi???"
"Diamlah... Sesuatu yang menyenangkan harus kita coba, aku yakin kau pasti ketagihan nanti..." Leona melepaskan seatbelt nya danengubah posisi nya menatap Ethan yang ada di sebelahnya.
Leona membungkuk dan melepaskan resIeting Ethan. Kemudian menarik nya keluar. Leona mengusapnya naik turun hingga membuat pen'is milik Ethan mulai tegak berdiri. Leona mengusapnya dengan lembut, samb menatap Ethan yang mendongak menghadap ke atas, sembari memejamkan mata. Usapan Leona begitu lembut, hingga Ethan hanya bisa mengeerang pelan, menikmati nya.
"Fiiuuuuhhh... ohh shiiittt.....!!!" Gumam Ethan.
Leona tersenyum. "Kau ingin hanya tanganku saja yang bermain atau kau ingin muIutku juga???" Tanyaeona dengan genit.
"Lakukan apapun yang kau mau.. " Ucap Ethan.
Tanpa aba-aba, Leona yang masih membungkuk, membuka mulutnya dan menguIum milik Ethan, membuat lelaki itu hanya bisa mendesaah keenakan. Leona begitu ahli dan kinj dia tidak perlu menjebak Ethan ataupun memaksa lelaki itu untuk bisa berciinta dengan nya. Karena Ethan sudah menjadi milik nya sehingga tidak perlu lagi ada keraguan untuk mereka bisa menikmati satu sama lain.
Leona menggerakkan kepala nya naik turun. Ethan memegang kunciran rambutnya dan ikut menarik rambut Leona seolah ingin menguasai perempuan itu. Ethan membimbing Leona untuk mengikuti ritme yang di inginkannya dengan menarik rambut Leona naik dan juga turun.
Sampai kemudian Ethan berhenti dan mengangkat kepala Leona agar mendongak menatapnya.
"Leona sayang... Naiki aku..!!" Ethan bergumam dan Leona mengangguk kemudian mengangkat gaunnya serta meIepaskan ceIana daIam nya.
"Gerakkan tubuhmu!! Puaskan aku." Ethan bergumam dengan nada menggoda, dan membiarkan Leona menggerakkan pinggulnya. Lelaki itu menggerrayam ketika merasakan gerakan Leona, matanya berkilat penuh keniikmatan.
"Oh, kau nikmat sekali Leona.." Ethan mengimbangi gerakan Leona dengan menggerakkan pingguInya ke atas, membuat mereka makin menyatu dan merasakan sensasi keniikmatan
Percintaan dengan gaya ini membuat titik-titik di bagian paling sensiitif Leona tersentuh sepenuhnya, tanpa sadar dia menggerakkan tubuhnya semakin berani, mengekplorasi keniikmatannya dengan sebebas-bebasnya. Ethan mengikuti gerakannya, dengan sama liar dan bergairahnya. Sesekali Ethan melihat ke depan ke arah jalanan. Leona sepertinya tahu jalanan yang tepat dengan tidak banyak belokan dan termasuk jalanan yang cukup sepi melewati hutan di kanan dan kiri.
Dan kemudian Leona mendongakkan kepalanya dan melengkungkan pungguungnya ke belakang ketika mencapai puncak keniikmattan, bersama Ethan yang mengikutinya di belakangnya.
Tubuh Leona rubuh, terkulai di atas tubuuh Ethan dengan napas terengah-engah. Sementara tangan lelaki itu memeIuk punggungnya dan mengusapnya sambil lalu.
Lama kemudian Leona mengangkat kepalanya dan mereka bertatapan. Mata Ethan tampak penuh senyum dan menggooda, "Senang menaikiku?" Tanya Ethan.
Pipi Leona merah padam atas godaan itu, membuat Ethan terkekeh, dengan lembut dia melepaskan dirinya dari tubuh Leona, lalu berpindah lagi duduk di kursi penumpang di samping Ethan. Dan perjalanan kali di lanjutkan.
****
Setelah sekitar setengah jam, sampailah mereka di hotel mewah yang di pesan oleh Kaia tadi. Tidak lupa sebelum turun Leona kembali mengenakan hoodie, masker, topi dan kaca mata. Lalu baru turun bersama Ethan. Mereka ke lobi dan Ethan mengurus serta mengambil kunci kamar mereka dan naik ke lantai paling atas hotel itu.
Kemudian ketika sampai di atas, mereka menyusuri koridor dan mencari kamar mereka. Masuklah mereka disana dan Ethan langsung menutup pintu. Masih ada sekitar dua jam untuk makan siang, mereka akan beristirahat dan menunggu kabar dari Papa Leona.
Leona melepaskan semua keseruan penutup wajahnya dan meletakkannya di meja. Ethan menghampiri perempuan itu sambil tersenyum.
"Apakah kau ingin dipeluk?" bisik Ethan sensuaI.
Leona menatap Ethan, mengagumi ketampanan lelaki itu. Dia sangat mencintai Ethan.
"Ya Ethan..." Jawab Leona.
Ethan memeluknya dan menghela nya ke tempat tidur, lelaki itu kemudian mencium, menelusurkan bibirnya dengan ringan di telinga Leona, membuat Leona menggeIiat geli. Ethan kemudian mengecup telinganya dan memaguutnya dengan penuh gaaiirah. Ciumannya lalu berpindah ke rahang Leona, meninggalkan kecupan-kecupan panas di sana. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk mendongakkan dagu Leona.
"Kau sangat menggaiirahkan. NakaI dan agreesiif.. "
Mata Ethan berkilat penuh gaaiirah, suaranya serak dan sensuaI. Lalu lelaki itu meIumat bibir Leona penuh napsu, tangannya langsung bergerak ke bawah ke milik Leona. Ethan bermain disana membuat Leona menggeIiat da. bergetar. "Uhhh... !" Napaseona tersenggaI. Ethan membarinhkan Leona dan kembali menguatkan miliknya.
"Kau sudah basah lagi, aku ingin melakukannya lagi.." Ucap Ethan.
Leona merasakan gerakan-gerakan Ethan ketika menyentuh miliknya dan kemudian tanpa pembukaan, lelaki itu langsung menyeLpkan kejanttaanannya, meneIusup masuk ke dalam kewaniitaan Leona yang sudah basah lagi, lalu menggerakkan tubuhnya penuh gaaiirah, ke dalam riitme sensuaI yang tak tertahankan. Leona mengikuti gerakan Ethan, berusaha mencapai gaiirrah itu tanpa pertahanan apa pun, dan dengan cepat, mereka mencapai puncak kenikmatan lagi bersama-sama.
Beberapa saat kemudian, Ethan kembali mengeras. Sementara di bawah sana, senjata nya mulai lagi memasuki Leona, membuat Leona merasakan panas, keras dan berdenyut mulai menyatu ke dalam dirinya. Leona mengerraang dan melingkarkan kedua tungkainya ke pinggang Ethan. Dorongan itu membuat Ethan menenggelamkan dirinya dalam-dalam di pusat diri Leona yang hangaat dan baasah.
Ethan memejamkan mata, menikmati panas dan baasah yang mencengkeramnya erat, membuatnya harus berjuang agar tidak meIedak seketika itu juga. Leona terasa begitu nikmat, begitu pas dan begitu menggairraahkan. Perempuan yang sekarang berbaring di bawahnya dengan mata berkabut, bibir sedikit membuka, napas tersenggaIl, tubuh yang pasrah menerimanya, dan perempuan itu sangat mencintai nya,
Dengan hati-hari Ethan bergerak pelan, melakukan ritme berciintanya dengan perlahan. "Apakah nikmat?" Ethan berbisik pelan, menggertakkan giginya.
"Iya, ini, rasanya nikmat sekali..." Leona menggerakkan pinggulnya, merespon dorongan Ethan, membuat lelaki itu mengerrang.
"Kau begitu nikmat Leona seluruhmu begitu nikmat."
Ethan menggerakkan badannya makin intens, menggesseek seluruh titik keniikmatan di dalam tubuh Leona, dan memuaskan dirinya sendiri. Lelaki itu menahan diri, menunggu Leona mencapai kepuasannya. Dan ketika Leona meIengkungkan punggungnya dan mengerraang pelan, Ethan mengikutinya. Bagi Leona kenikmatan ini tiada duanya. Bercinta dengan orang yang dicintai memang selalu memberikan getaran yang berbeda. Leona tidak akan pernah bisa senikmat ini selain bersama yang lain. Mereka meledak bersama dalam orgaasme yang luar biasa, napas terengah.
Mereka berbaring dengan napas terengah-engah. Leona memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuih Ethan yang terIentang. Sebelah lengan lelaki itu merangkulnya dan mengusap punggung teIanjangnya dengan lembut,
"Apakah aku memuaskanmu???" Ethan bertanya.
Leona tersenyum dan mengecup daada Ethan , "Kau selalu membuatku puaasss.... Nikmat...!!!" Leona memeluk Ethan dan lelaki itu membalas pelukannya lagi.
Ethan menggulingkan bkan tubuhnya di sebelah Leona, memeluk perempuan itu, merasa lelah tetapi sangat nikmat hingga membuat kedua nya tertidur.