
Leona tertunduk malu. "Kenapa Papa bisa berpikir seperti itu????" Tanya Leona.
"Papa bisa melihatnya sejak awal, dan kau adalah anak Papa, Papa bisa langsung memahami cara berpikir mu, ada sesuatu yang berbeda yang Papa lihat ketika bertemu Ethan pertama kali nya! Dia mendapatkan sesuatu yang istimewa yang tidak di miliki bodyguard mu yang lain, entah dia menyadarinya atau tidak, tapi Papa langsung menyadari... " Gumam Tuan Haidee sambil melempar senyum ke arah Leona.
"Aku tidak pernah bisa membohongi Papa,.. "
Tuan Haidee kembali tersenyum. "Jadi kau benar-benar menyukai nya???" Tanya nya pada Leona.
"Menurut Papa???" Tanya Leona balik.
"Papa akan mendukung setiap apa yang kau lakukan jika itu terlihat baik, lagipula Ethan sepertinya juga laki-laki yang sangat baik, kau bahagia, Papa juga akan bahagia... Putri Papa sudah terlalu lama menahan begitu banyak beban jadi kau butuh untuk berbahagia dengan pilihanmu.. "
Leona tertunduk. "Tetapi Ethan hanya laki-laki biasa, dia seseorang yng sederhana dan dia tidak memiliki keluarga, dia yatim piatu.. "
"Memang apa masalahnya dengan kita jika dia laki-laki biasa dan seorang yatim piatu??? Dia pun tidak bisa memilih jalan hidupnya akan seperti apa, semua sudah jadi takdir Tuhan... Selagi kau bahagia, dengan siapapun kau melabuhkan hati, Papa akan sangat bahagia juga! Itu pilihanmu dan kah bahagia dengan itu, kenapa tidak????" Ujar Tuan Haidee lagi.
"Dia sejak kecil tinggal di panti asuhan dan kemarin aku pergi bersama nya ke panti asuhan yang dulu dia tinggalin.. " Ucap Leona.
"Jadi kau pergi kesana dengan Ethan???" atasnya Tuan Haidee.
Leona menganggukkan kepala nya. "Aku pergi dengannya selama beberapa hari kemarin, kami menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol dan aku mencari kesempatan untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang kehidupannya, sejak saat itu aku semakin mengagumi nya, aku selalu ingin di dekatnya, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, kalaupun pernah itu sudah begitu lama sekali Pa.. Aku menyukai Ethan.. " Ujar Leona. Bersama dengan Papa nya dia berani mengungkapkan perasaannya. Karena Papa nya adalah orang yang tidak pernah mau menghardik seseorang, bagaiamana pun orang itu.
"Kalian sudah pacaran????" Tanya Tuan Haidee.
Leona menggelengkan kepala nya. "Bahkan aku tidak yakin jika dia tahu bahwa aku menyukai nya. Dia akan berpikir bahwa kami memiliki penghalang yang begitu tinggi, dia juga tidak akan memikirkan jika aku menyukai nya.. "
"Kenapa tidak kau katakan saja padanya????" Tanya Tuan Haidee lagi.
Leona tersenyum menatap Papa nya. "Dia memiliki kekasih, bagaimana bisa aku mengungkapkannya.."
"Artinya cintamu bertepuk sebelah tangan.?"
"Mungkin itu yang akan di katakan orang, tetapi kalaupun dia tidak memiliki kekasih, aku yakin cinta kami juga tidak akan berjalan dengan lancar, Papa pasti tahu bagaimana Mama.. " Gumam Leona sedih. Penghalang yang tinggi antara dia dan Ethan adalah Mama nya. Nyonya Haidee tidak akan pernah mau menyetujui hubungan itu, karena tentu Ethan bukanlah yang di inginkan olehnya. Terlebih Ethan orang biasa yang tidak memiliki apapun untuk bisa di lihat oleh Mama nya.
"Ada Papa yang selalu mendukungmu, kenapa harus peduli pada Mama mu???? Kau punya hak memilih jalan hidupmu dan ingin bersama siapa, Papa bisa melihat Ethan orang yang baik, kalau kau merasa senang dengannya ya jalani saja jangan pedulikan siapapun. Kau sudah cukup terpenjara selama ini, Papa ingin kau selalu bahagia, kejar apa yang menjadi keinginanmu, jangan pedulikan orang lain yang menghalangi jalanmu. Kalaupun Ethan bukan di ciptakan untukmu, kau bisa memilih laki-laki manapun yang kau sukai, Papa akan selalu mendukungmu, dan Mama mu jangan terlalu di pikirkan, dia memang seperti itu sejak dulu.. " Tuan Haidee memeluk Leona. Sebagai seorang ayah dia hanya ingin Leona bisa selalu bahagia dengan kehidupannya. Istrinya memang keterlaluan selama ini, dan tidak pernah mau mengerti perasaan orang lain. Sangat sulit membuat istrinya itu menyadari setiap perilaku nya. Entah harus bagaimana agar kelak istrinya bisa menyadari semua kesalahannya itu.
Leona memeluk Papa nya, merasa bersyukur karena Papa nya adalah salah satu orang yang paling mengerti nya, dan jadi garda terdepan untuk selalu mendukungnya dan juga selalu melihat sesuatu dari sisi yang berbeda.
Leona dan tuan Haidee melanjutkan obrolan mereka mengenai beberapa hal termasuk pekerjaan. Mereka bisa ame ngobrol santai, nya akan tanpa harus ada gangguan dari nyonya Haidee yang tidak bersama Mereka saat ini.
****
Ethan mengetuk pintu flat Gemma. Setelah bekerja seharian untuk Leona, dan dia mendapat ijin pulang, Ethan memilih untuk datang ke flat Gemma. Pintu di buka oleh Gemma dengan senyum cantiknya dan dia sudah menunggu Ethan sejak tadi setelah lelaki itu memberitahu bahwa akan datang meskipun sedikit terlambat karena Ethan ada pekerjaan tambahan dari bos nya. Gemma memeluk Ethan. "Aku sangat merindukanmu...." Ucap Gemma lalu melepas pelukannya dan mengecup bibir Ethan.
"Aku juga merindukanmu, apa kau sudah tidur???" Tanya Ethan. Mereka kemudian masuk.
"Belum, aku menunggumu bagaimana aku akan tidur.. Kau ingin minum sesuatu yang hangat??? Di luar pasti dingin sekali.. "
"Kau punya teh jahe??? Aku ingin itu saja, supaya lebih hangat.. " Jawab Ethan.
"Ada, duduklah aku akan membuatkan mu teh jahe.. " Gemma ke meja dapur dan membuatkan Ethan teh. Lelaki itu duduk dan menatap kekasihnya dari belakang. Di luar begitu dingin sekali dan sepertinya teh jahe tidak cukup untuk menghangatkan badan. Ada hal yang lebih menyenangkan dari itu, dan lebih enak.
TIba-tiba Ethan berdiri, berjalan mendekat dan memeluk Gemma dari belakang dengan mesra. Membuat perempuan itu terkejut tetapi dengan cepat dia menyadari bahwa pelukan itu adalah pelukan yang mesra dan mengisyaratkan sesuatu.
"Apa yang kau lakukan???" Tanya Gemma tetapi dia tidak berusaha melepaskan pelukan Ethan di perutnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu saja... Tidak boleh ya??? Aku ingin merasakan kehangatan yang lebih dari teh jahe.." Bisik Ethan di telinga Gemma.
Ethan terus melingkarkan lengannya makin erat, jamarinya bergerak menggoda, mengusap dada Gemma sambil lalu. Jemari Ethan perlahan turun dan mengusap sesuatu yang tersembunyi di balik daada Gemma. Apa yang dilakukan Ethan itu membuat Gemma mengerrang pelan sambil memejamkan mata.
"Apa yang kau lakukan????" Tanya Gemma.
Ethan terus mengusap naik turun dan tidak mengindahkan ucapan Gemma. Ada sesuatu yang mendesak Ethan melakukan ini dan dia menginginkan Gemma. Dengan perlahan, Ethan mencoba menurunkan gaun tidur Gemma. kemudian mencoba melepaskan gaun itu.
Sementara itu Gemma tidak jadi mengambil teh untuk di sedih, tahu bahwa sepertinya Ethan menginginkannya. Ethan sendiri yang menginginkannya jadi bagi Gemma ini adalah kesempatan yang sangat bagus sekali. Gemma berbalik badan dan mencium Ethan.
BIbir itu mulanya terasa dingin, menyentuh bibir Gemma yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibir Ethan mulai membuka bibir Gemma, dan memaguut bibir bawah perempuan itu. Ethan menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Ethan membimbing lengan Gemma supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Gemma erat-erat dan meIumat bibirnya.
Ciuman Ethan sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu meIumat Gemma dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika muIyt Gemma membuka, lidahnya meneIusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Gemma dan berjaIinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.
Ketika Ethan melepaskan kepalanya, matanya yang dalam bertatapan dengan mata Gemma, penuh keinginan.
Gemma kemudian perlahan menciumi Ethan dari bibir turun ke leher dan melepas mantel yang di pakai Ethan dan membuka Tshirt yang di pakai lelaki itu. Kembali menciumi dada hingga perut Ethan. Lalu menurunkan celana Ethan dan menangkap milik lelaki itu yang sudah berdiri tegak tepat di depannya. Gemma mengusap pelan membuat Ethan mengeluarkan suara errangaan. "Besar, aku sangat menyukai ini.." Ucap Gemma sambil mendongak ke atas menatap Ethan.
Lelaki itu tersenyum mengangguk. "Kau merindukan dan menyukai ini kan???" Tanya Ethan.
"Ya... Aku sangat menyukai nya... " Jawab Gemma.
Tak lama setelah itu, Gemma membuka mulutnya dan menggunakan mulutnya untuk melahap dan menguIum milik Ethan yang begitu menggoda. Gemma lepas kendali dan dia bermain dengan milik Ethan. Sementara Ethan menggunakan kedua tangannya berpegangan pada meja dapur untuk menahan tubuhnya. Dia memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang luar biasa atas apa yang saat ini di lakukan oleh Gemma pada nya.
"Ohhhh shiiiiittt....!!!!" Gumam Ethan. "Don't stop Gem.... Oh gosh.....!!"
"Kau menyukai nya???" Tanya Gemma.
"Ya.... Aku sangat menyukai nya, kau luar biasa... " Jawab Ethan kemudian menekan kepala Gemma, menahannya untuk mengullum miliknya selama beberapa detik kemudian melepaskannya dan Gemma langsung terbatuk-batuk tetapi tersenyum bahagia. Setelah beberapa saat, Ethan meminta Gemma untuk berhenti dan berdiri. Mereka kemudian saling berciuman dengan panas. Iidah Ethan menelusup masuk ke mulut Gemma. Saling berjalinan di dalam sana. Mereka saling menikmati satu sama lain. Jemari Gemma juga terus bergerak di milik Ethan, membuat lelaki itu kehilangan akalnya.
Ethan mengangkat tubuh Gemma, membawa perempuan itu ke tempat tidur, dan membaringkan nya. Gemma siap. Gemma menekuk kedua lututnya, membiarkan Ethan bermain di miliknya menggunakan lidahnya. Iidah Ethan menjiIati titik pusat gemma, perempuan itu menggeliat dan terus mendesaah nikmat, menekan kepala Ethan agar Ethan tidak berhenti melakukannya.
"Lidahmu panjang, dan astaga..... Ohhhh..... Shiiittt.... Aku menyukai nya.... Jangan berhenti please jangan berhenti.... " Gemma mulai meracau karena kenikmatan.
Mendapat persetujuan, tentu saja Ethan harus memanfaatkan moment ini dengan baik. Dia pun mulai menggila, selain menggunakan lidahnya, Entah juga menggunakan jari nya untuk bermain di titik pusat kenikmatan milik Gemma.
"Oh ya Ampun... Ethan.....!!! Ahhhh!!!" Teriak Gemma dan tubuhnya bergetar karena dia telah mencapai kIimaksnya
Ethan merangkak ke atas Gemma, tersenyum menatap paras kekasihnya itu dan tersenyum. "Aku menginginkan mu untuk menghangatkan tubuuhku.. Kau mau???"
Gemma mengangguk, tentu saja dia mau. Suasana malam ini begitu mistis, dan Gemma sudah mulai ternggelam ke dalam godaan sensuaI. Dia siap untuk berhubungan lagi dengan Ethan setelah tadi pagi mereka juga melakukannya sebelum berangkat bekerja.
Ethan sepertinya membaca penerimaan dari mata Gemma, lelaki itu mengerrang, lalu meIumat bibir Gemma lagi dengan bergaiirah, Iumatannya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu melahap seluruh bibir Gemma, menjiIat dan memainkannya dengan Iidahnya, mencecap rasanya.
"Ah ya Ampun, akhirnya aku mendapatkanmu lagi..."
Ethan mengerrang parau. Jemarinya bergerak dan menurunkan gaun Gemma, terus menurunkannya sampai ke pinggang, melepaskan brra Gemma dengan cekatan sehingga daada Gemma yang raanum terpampang di depannya,
"Ah... indahnya.. Gemma yang indah.. aku akan memujamu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan lahi sayang..." jemari Ethan bergerak lembut dan menyentuh putiing dada Gemma, lalu bibirnya menyusul dan menyesapnya lembut. Gemma mengerang, merasakan keintiiman yang luar biasa ini.
"Ethan please...Oh my gosh..." Gemma mengeerang merasakan rasa panas menyerangnya, di utiingnya yang sekarang menegak kaku dan payu aranya yang mengeras, rasa panas itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Ethan mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda, "Kau suka ya??" senyumnya polos dan sensuaI. Lelaki itu menjiat utiing Gemma sambil lalu kemudian meniupnya lembut.
"Oh.. ya Ethan... yaa... aku sangat menyukai nya, jangan berhenti.." Gemma mengerang putus asa, utiingnya mengencang dan mendamba. Mendambakan bibir Ethan yang panas dan lidahnya yang menggoda.
Dan Ethan mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Gemma tersiksa lama-lama. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengisap utiing Gemma dengan penuh gaiirah, memuja payuu ara Gemma bergantian, membuat tubuh Gemma menggeliat dan melengkungkan punggungnya mendamba.
Jemari Ethan bergerak dan menuju pusat gaiirah Gemma, tempat di mana rasa panas itu terus muncul ketika utingnya dihisap dengan penuh gaiirah oleh Ethan. Jemari itu menelusup menyingkap ceIana daIam berendanya, dan menyentuh kewaniitaannya. Dengan ahlinya Ethan menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan menemukan titik paling sensiti di tubuh Gemma.
Jemari Ethan mengusapnya pelan dan tubuh Gemma seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan mengerang. Mata Ethan mengamati setiap reaksi Gemma dengan penuh gaairah. Jemarinya menggoda lagi, kali ini menggesek titik sensitif Gemma dan kemudian melakukan usapan memutar. Erangan perempuan itu makin kencang, membuat mata Ethan berkabut penuh keinginan.
"Aku tidak percaya kau mau menginginkannya lagi..."
Lelaki itu menunduk ke telinga Gemma dan berbisik parau,
"Biarkan aku memuaskanmu." Diciiumbunya telinga Gemma membuat perempuans itu menggeliat penuh gaairah. Dan kemudian dengan cekatan Ethan meneianjangi Gemma, membuat Gemma terbaring tanpa busaana di atas kasur berseprai putih. Tampak siap dan menggairahkan bagaikan Dewi Amor yang dikirim dari khayangan untuk memuaskannya.
Ethan tak tahan lagi, kepalanya pening oleh gaaira. Ethan akan terus menggoda Gemma.
Sampai tiba saatnya tubuh perempuan itu tidak akan mampu menolaknya dan otaknya tidak mau bekerjasama lagi.
Dengan penuh gairrah dan keahlian, Ethan mencuumbu Gemma, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Gemma, di lehernya, pundaknya, pay daranya, perutnya, pinggulnya, dan... Gemma menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh miliknya.
Lelaki itu mencumbu kewaniitaannya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan Iidahnya untuk menggoda Gemma. Lidah Ethan mengusap titik paling sensitif di milik Gemma dan kemudian lelaki itu menghisapnya, membuat Gemma memekik atas sensasi yang dirasakannya.
Ketika Ethan memutuskan bahwa Gemma sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan pakaiannya hingga teIaanjang di depan Gemma. Gemma menatap Ethan dengan malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Ethan ampak sangat.... jantan.... oh Astaga...
Ethan perlahan menyatukan miliknya ke dalam milik Gemma. membenamkan dirinya dalam-dalam di diri Gemma, menyatu sepenuhnya. "Aaahhh... "
Milik Ethan begitu besar di dalam sana hingga memenuhi milik Gemma, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan panas. "Ethan... Astaga..."
Ethan tersenyum, dia kemudian menggerakkan tubuhnya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang makin cepat, sesuai dengan gaiira mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersengal. Mereka saling menikmati satu sama lain.
★★★
Kendaraan itu melaju kencang di tengah hujan deras, kilatan petir dan angin kencang membuat suasana mencekam. Tetapi tidak membuat Nyonya Haidee mau mengurangi kecepatan mobilnya. Hal itu membuat suaminya berulang kali mengingatkan agar berhati-hati karena mereka bisa saja kecelakaan. "Emma, Berhati-hatilah...!!!" Pinta tuan Haidee untuk kesekian kali nya. Dia tidak bisa mengemudi sekarang karena kaki nya sedang sakit karena terkilir saat bermain tennis beberapa waktu yang lalu dengan temannya. Sehingga dia meminta istrinya untuk mengemudikan mobilnya.
"Kita harus segera sampai rumah, sebelum badai nya semakin menggila....!!!" Ucap Nyonya Haidee.
"Iya, tapi jangan terlalu kencang, bahaya...!!!! Putri kita sedang tidur di belakang...!!!"
"Leona tidur sangat nyenyak....!!!" Teriak Nyonya Haidee lagi. "Jadi diamlah... Biarkan aku fokus mengemudi...!!"
Tuan Haidee pun diam dan menoleh ke belakang mendapati Leona sedang berbaring dan tidur di kursi belakang. Dia berharap pada Tuhan agar segera menghentikan badai saat ini, sehingga dia dan Istri juga anaknya bisa pulang dengan aman dan selamat.
Nyonya Emma terus mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan dia sampai di belokan. , Tiba-tiba dia di buat terkejut oleh mobil lain dari arah berlawanan. "Emma......!!!!?! Awaaaasss......!!!" Teriak tuan Haidee.
Nyonya Haidee berhasil membanting stir mobil ke sisi kiri, dan kemudian terdengar suara benturan keras dari belakang. Nyonya Haidee mengerem mobilnya dan bersama suami nya dia menghela napas panjang penuh kelegaan lalu melihat ke belakang. Sama-sama dia melihat mobil yang ada di depannya tadi menabrak pohon dan terbalik.
"Astaga....!!!!" Seru Tuan Haidee yang langsung keluar dari dalam mobil, mencoba berlari ke arah mobil terbalik itu, dengan langkah pincang karena kaki nya masih sakit. Nyonya Haidee juga ikut turun meskipun dia masih shock. Dia penasaran dengan apa yang di lihatnya.
Tuan Haidee mencoba mendekati mobil itu dan dia melihat seorang laki-laki dan perempuan ada di dalam nya. kedua nya tidak bergerak dan ada darah di wajah serta mulut mereka. "Astaga Emma.....!!!! Lihatlah apa yang kau lakukan..!!??? Aku sudah bilang agar kau berhati-hati.. " Seru tuan Haidee. Dan beberapa detik kemudian dia mendengar tangisan seorang anak kecil dari dalam mobil itu.
Tuan Haidee pun berusaha menemukan sumber suara itu dan menemukan seorang anak laki-laki di dalam mobil itu. Dia pun bergegas menyelamatkan bocah itu, dari kaca jendela mobil yang sudah pecah.
Dan ketika dia berusaha menolong bocah itu, istrinya justru menarik lengannya. "Ayo kita pergi....!!! Kita bisa dalam masalah besar...!!!" ucap Nyonya Haidee yang sontak membuat suami nya terkejut.
"Apa yang kau katakan, kau berulah dan kau harus bertanggung jawab, kita harus membawa mereka ke rumah sakit.. "
"Kita akan berurusan dengan polisi, aku tidak mau di penjara, mumpung sepi dan mereka juga sepertinya sudah mati, ayo tinggalkan mereka... "
"Kau sudah gila Emma.. Ada anak bayi di dalam, lihatlah dia seumuran dengan Leona.. " Tuan Haidee masih mencoba menolong anak kecil itu dan dia berhasil meraih tangan bocah itu. Di lihatnya ada tanda lahir di tangan mungilnya.
"Persetaannnn....!!! Ayo pergi, dia juga pasti sebentar lagi mati seperti orang tua nya, aku tidak mau berurusan dengan polisi... " Nyonya Haidee menarik lengan suaminya dengan kasar hingga akhirnya pegangan suaminya pada bocah itu terlepas. "Ayo pergi......!!!!!!" Teriaknya lagi dan terus menyeret Tuan Haidee menjauh dari mobil itu.
"Tapi Emma...???"
"Diamlah.... Kalau kita berdua ingin selamat... Apa kau senang melihatku di penjara...???? Aku mohon ayo pergi, aku takut..... please...." Nyonya Haidee merengek memohon kepada suaminya yang akhirnya berhasil. Mereka akhirnya meninggalkan mobil yang terbalik itu beserta anak kecil yang masih menangis di dalam nya.
Mereka berdua kembali masuk ke mobil dan perasaan tuan Haidee begitu hancur dan sedih. Saat masuk ke dalam mobil mereka sadar jika Leona tidak ada di kursi belakang. "Kemana Leona????" Tanya Tuan Haidee pada istrinya.
"Ah iya dimana dia..???" seru nyonya Haidee. Mereka pun keluar lagi dari mobil dan mencari Leona.
"Leona...!!!!!" teriak kedua nya yang mulai panik. Hingga tiba-tiba mereka terkejut karena Leona berdiri di sebelah mobil yang terbalik itu. Bergegas keduanya menghampiri putri mereka.
Tangan Leona kecil memegang sesuatu yang ada di dalam. Tuan Haidee pun mendekat, mendapati Leona memegang tangan bocah laki-laki yang sedang menangis di dalam mobil yang terbalik itu. "Jangan menangis, tunggu ya... " Ucap Leona dengan polosnya.
"Leona sayang... Ayo kita pergi.... " Ucap Nyonya Haidee.
"Mama, dia menangis, dia harus keluar...!" Leona masih memegang tangan bocah itu.
"Nanti dia akan diam.. "
"Aku akan mengambilkan permen untuknya... "
Nyonya Haidee mengangguk. "Ya ayo kita ambil permen untuknya.. " Ucap Nyonya Haidee berbohong. Dia pun berusaha melepaskan pegangan Leona pada tangan bocah laki-laki itu.
"Tunggu ya, nanti kita bertemu lagi.. " Ucap Leona dengan polosnya. Mama nya pun menggendongnya dan mengajaknya menjauh dari mobil itu.
Nyonya Haidee membuka pintu mobil dan memasukkan Leona lalu dia dan suaminya juga masuk dan meninggalkan tempat itu. "Kenapa pergi, kita akan mengambil permen untuknya??" Tanya Leona polos.
"Dia sudah punya banyak permen, diamlah..!!" Nyonya Haidee setengah berteriak pada Leona dan mobil mereka meninggalkan mobil terbalik dan bocah yang menangis di dalamnya itu.
°°°
"Jahat.... Penjahat......!!!! Pembunuh, kau dan istrimu pembunuh...!!!"
Suara dari kegelapan itu kembali terdengar dan tiba-tiba saja, tuan Haidee terbangun dari tidurnya sambil berteriak. "Tidaaaakkk......!!!!!!! Maafkan kami......!!!!"
Tuan Haidee terbangun dan napasnya terengah dan dahi nya berkeringat. Lagi-lagi dia bermimpi mengenai kecelakaan itu. Kecelakaan yang terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu. Mimpi yang sering mengganggu nya selama ini. Mimpi yang sama, dan suara yang sama, bahkan tuan Haidee masih terngiang sampai saat ini bagaimana suara bocah laki-laki itu menangis ketika itu. Semua itu memang terjadi dan sama seperti yang ada di mimpinya. Istrinya sudah menyebabkan kematian dari keluarga yang tidak berdosa dan sampai saat ini tidak mau mengakui kesalahannya di depan polisi.
Leona baru saja dari dapur mengambil air minum untuk Papa nya, dia belum tidur karena masih membahas pekerjaan dengan Kaia di kamarnya. Leona membuka pintu kamar tamu dimana Papa nya saat ini sedang beristirahat. Leona terkejut ketika mendapati Papa nya ternyata belum tidur. "Papa...???? Kok belum tidur????" Tanya Leona sambil mendekat menghampiri Papa nya.
Leona meletakkan segelas air di meja sebelah tempat tidur. Dia mengernyit karena melihat Papa nya seperti orang yang ketakutan, terengah dan keluar keringat dingin di dahi nya. Leona duduk di sebelah Papa nya yang terlihat ketakutan. "Papa kenapa???? Papa tidak apa-apa kan???" Tanya Leona yang terlihat panik. Leona mengambil gelas yang tadi dia letakkan dan memberikan kepada Papa nya. "Papa minum dulu...!!" Perintah Leona pada Papa nya lalu membantu nya minum.
Tuan Haidee meminum air dari Leona lalu menarik napasnya dan menghela nya. Dia mencoba menenangkan diri nya. Mimpi itu benar-benar selalu mengganggu nya jika datang. Mimpi dan kejadian yang sama seperti dulu.
"Papa kau baik-baik saja kan???" Tanya Leona lagi.
Tuan Haidee melempar senyumnya dan mengusap kepala Leona lembut. "Papa baik-baik saja, hanya tadi mimpi buruk saja... "
"Mimpi buruk???? Mimpi apa???" Tanya Leona penasaran.
"Bukan apa-apa sayang, hanya mimpi buruk saja, itu sudah biasa.. " Tuan Haidee berbohong. Dia dan istrinya selama ini menyimpan rapat-rapat kejadian bertahun-tahun silam itu dan saat itu Leona masih kecil, sekitar umur 5 tahun dan Leona juga tidak pernah mengingat itu, mungkin karena ingatan masa kecilnya tidak cukup bagus. Sehingga kejadian itu juga tidak terlalu berdampak pada kehidupan Leona.
"Papa bohong....!!! Leona bukan anak kecil yang bisa Papa bohongi begitu saja, Papa kenapa??? Jujur pada Leona, Papa begitu ketakutan sekali.. Kenapa??? Cerita Pa??? Mungkin Leona bisa membantu Papa..!"
Tuan Haidee hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Papa memang hanya mimpi buruk saja, kau bisa tenang.. Mungkin tadi Papa tidak berdoa ketika akan tidur, jadinya malah mimpi buruk!"
"Papa yakin???" Tanya Leona memastikan lagi.
"Iya sayang, Papa hanya mimpi buruk saja. Kau kembali saja ke kamar dan beristirahat, ini sudah larut, Papa juga ingin tidur lagi, Terima kasih untuk airnya.. "
"Leona tidak akan pergi sebelum Papa tidur lagi, berbaringlah, Leona akan menemani Papa. "
"Memang kau pikir Papa anak kecil??? Papa bisa tidur sendiri tanpa harus di temani.. "
"Tidak...!!! Aku tidak akan pergi sebelum Papa tidur..!" Leona membantu Papa nya berbaring lagi dan menyelimuti nya lalu kembali duduk di sebelahnya menunggui Papa nya agar tidur lagi. Leona ingat dulu saat kecil Papa nya selalu menunggui nya sampai tidur baru kemudian meninggalkannya di kamar sendiri. Saat ini giliran dia yang akan menemani Papa nya sampai terlelap. Apalagi jarang sekali Papa nya menginap di apartemennya. Leona ingin Papa nya merasa nyaman di tempat tinggalnya. Papa nya setiap hari juga pasti mengalami tekanan bathin yang luar biasa karena tingkah Mama nya, sehingga Papa nya juga pasti butuh hiburan dan juga butuh menenangkan pikiran untuk saat ini.
Tuan Haidee tidak bisa menolak keinginan Leona. Dia pun berbaring dan memejamkan matanya untuk kembali tidur. Meskipun dia sebenarnya enggan untuk tidur lagi tetapi dia harus membuat Leona merasa tenang dan meninggalkannya sendiri.
Setiap selesai bermimpi itu, Tuan Haidee selalu di bayangin oleh ketakutan luar biasa, ketakutan bercampur rasa bersalah. Dia telah membantu istrinya menutupi kejahatan yang besar menyangkut nyawa orang yang tidak bersalah. Dia ingat bagaimana suara tangisan anak kecil laki-laki itu, dan bagaimana keadaan kedua orang tua nya yang mengalami kecelakaan, terluka parah dan meninggal dunia. Bahkan setelah kejadian itu, istrinya sama sekali tidak memiliki rasa iba dan penyesalan bahkan sampai saat ini. Nyonya Haidee selalu bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi apapun.
Akan tetapi Tuan Haidee selalu di hantui rasa bersalah meninggalkan orang-orang itu. Bahkan sejak kejadian itu, dia benar-benar berusaha untuk menutup telinga dan matanya. Itu terlalu mengerikan untuk di ingat. Bukannya lupa tetapi dia selalu teringat bahkan ingatannya begitu detail mengenai segala nya, membuatnya semakin tersiksa setiap waktu.
Di awal kejadian itu, dia pernah mendengar bahwa ada dua orang yang meninggal dan itu pasangan suami istri. Membuat mereka harus berpisah dengan anaknya yang saat itu berusia lima tahun. Tuan Haidee merasa takut dan dia tidak lagi berani serta sanggup mendengar mengenai berita kecelakaan itu, bahkan saat ini dia juga tidak tahu bagaimana kabar anak kecil laki-laki itu yang mungkin sekarang juga sudah seumuran dengan Leona. Dia selalu berharap anak itu tumbuh dan dalam keadaan sehat, serta memiliki kehidupan yang baik pasca kehilangan kedua orang tua nya. Dan berharap bahwa anak itu masih memiliki keluarga yang merawatnya.
Tuan Haidee takut membayangkan jika seandainya yang di miliki anak itu hanyalah kedua orang tua nya, pasti lah hidupnya penuh penderitaan sekali. Semua itu di akibatkan oleh ulah istrinya yang tidak bertanggung jawab. Ada masanya Tuan Haidee ingin sekali melaporkan hal itu ke polisi agar baik dia dan juga istrinya bisa menerima hukuman yang semestinya untuk bertanggung jawab sepenuhnya pada kejadian berpuluh-puluh tahun silam. Akan tetapi istrinya selalu merengek dan memohon kepadanya agar masalah itu harus tetap di simpan dengan baik dan tidak boleh di ketahuilah oleh siapapun. Istrinya tidak ingin di penjara dan takut sekali. Hal itulah yang membuat Tuan Haidee sampai saat ini terus bungkam meskipun batin-batinnya tersiksa di kejar oleh rasa bersalah yang begitu besar.
Beberapa tahun terakhir ini dia coba untuk mencari tahu bagaimana kabar anak laki-laki itu sekarang tetapi dia sama sekali tidak tahu info apapun dan tidak berani bercerita kepada siapapun. Dia hanya coba untuk mencarinya sendiri tetapi hasilnya nihil.
Leona memandangi Papa nya yang sudah menutup mata. Dia masih bisa melihat ada ketakutan disana, entah apa yang sedang di takutkan oleh Papa nya. Apakah benar Papa nya memang bermimpi buruk atau ada hal lain yang membuat Papa nya begitu takut dan panik bahkan berkeringat dingin. Leona sangat menyayangi Papa nya dan ingin selalu membahagiakannya. Leona berharap Papa nya datang kesini bukan karena sedang ada masalah dengan Mama nya tetapi murni karena ingin bertemu dengannya melepas rindu. Papa nya sudah terlalu banyak di buat menderita oleh Mama nya, dan apalah yang di inginkan seorang anak jika tidak melihat orang tua nya bahagia. Leona berharap Papa nya memang hanya bermimpi buruk saja.
Leona menunggu lebih dari setengah jam dan memastikan bahwa Papa nya benar-benar sudah pulas. Dia kemudian beranjak dan menata selimut Papa nya. Napas Tuan Haidee sudah teratur bahkan terdengar pelan suara mendengkur. Leona tersenyum lalu mematikan lampu tidur dan pergi keluar untuk ke kamarnya. Berharap Papa nya tidak lagi bermimpi buruk.
Leona menaiki tangga dan menuju kamarnya. Saat masuk dia melihat Kaia masih tengkurap menatap laptop di depannya. Kaia mengalihkan pandangannya ketika Leona masuk. "Kok lama Na????" Tanya Kaia.
"Aku ke kamar Papa dan menemukan dia seperti orang yang ketakutan.. * Jawab Leona sambil duduk di sebelah Kaia.
" Ketakutan???? Memangnya kenapa???" Tanya Kaia penasaran.
"Aku tidak tahu, tapi Papa bilang dia mimpi buruk. Sebenarnya Aku tidak percaya begitu saja dengan ucapannya itu, Aku hanya khawatir Papa datang kesini karena sedang ada masalah dengan Mama, Aku takut Papa menjadi sedih, lalu kesini.. "
"Mungkin dia datang karena merindukanmu saja, dan tadi memang hanya mimpi buruk biasa, kau jangan khawatirkan apapun, tadi Aku coba menghubungi orang rumahmu, mereka tidak mendengar adanya pertengkaran antara orang tua mu, Mama mu memang pergi keluar kota sejak kemarin.. Semua baik-baik saja, Papa mu pasti hanya kesepian, itulah kenapa dia datang kesini.. "
"Semoga saja... " Gumam Leona. Dia meraih ponsel yang ada di atas meja dan mengecek aplikasi pesan singkat. Dia mengecek riwayat chat Ethan dan juga Gemma. Dan ternyata dari sana dia mengetahui bahwa Ethan akan pulang ke flat milik Gemma. Ethan menginap malam ini. Lagi-lagi dada Leona terasa sesak melihat apa yang ada di depan mata nya. Cintanya tidak bersambut dan setiap hari dia di hadapkan dengan kondisi menyakitkan seperti ini. Leona meletakkan ponsel itu dengan lemas di depannya.
Kaia melirik ke arah sahabatnya itu. Wajah Leona kurung dan tteihat sedih.Kaia bisa menebak apa yang baru saja di lihat oleh Leona yang ada di ponsel itu. Dan itu pasti karena Leona membaca pesan Ethan Dan Gemma. "Kalau kau selalu murung setiap memegang ponsel itu, lebih baik kau buang saja.." Ejek Kaia. "Kalau kau tidak siapa dengan apa yang ada di depanmu juga apa yang ada di hatimu, lebih baik berhentilah memantau aktifitas mereka, karena itu hanya akan menimbulkan sakit hati saja... " Lanjut Kaia.
Leona melirik, menatap sahabatnya dalam diam. "Jika Aku tidak memeriksa nya Aku tidak akan tahu sejauh apa hubungan mereka!" Gumam Leona.
"Ya, kalau memang seperti itu, ya jangan sedih dan sakit hati.. Kau harus siap mental untuk menerima semua itu, mereka sepasang kekasih ya wajar jika saling mengagumi dan tinggal di tempat pasangan mereka, kekasih bebas melakukan apapun sesuka nya.. Kau harus menahan perasaanmu, jika tidak siap ya jangan terus di periksa setiap hari.. " Ujar Kaia.
"Diamlah...!" Gerutu Leona yang mulai jengkel dengan ucapan sahabatnya. "Kai....???? Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mereka berpisah dan membongkar kejahatan Gemma???" Tanya Leona.
"Pasti! ya kau tidak bisa langsung menghancurkannya tanpa memiliki bukti yang akurat, karena Ethan bisa marah besar kepadamu nanti, dan jika ingin membongkar itu tentu harus di pikirkan dengan matang apa yang harus di lakukan, yang jelas kau harus menjebaknya" Ujar Kaia.
"Bagaimana caranya????" Tanya Leona.
"Ya, itu, kita harus memikirkannya dengan baik, membuat jebakan batman untuk membuat Gemma tidak berkutik di depan Ethan... "