
Leona baru saja dari dapur mengambil air minum untuk Papa nya, dia belum tidur karena masih membahas pekerjaan dengan Kaia di kamarnya. Leona membuka pintu kamar tamu dimana Papa nya saat ini sedang beristirahat. Leona terkejut ketika mendapati Papa nya ternyata belum tidur. "Papa...???? Kok belum tidur????" Tanya Leona sambil mendekat menghampiri Papa nya.
Leona meletakkan segelas air di meja sebelah tempat tidur. Dia mengernyit karena melihat Papa nya seperti orang yang ketakutan, terengah dan keluar keringat dingin di dahi nya. Leona duduk di sebelah Papa nya yang terlihat ketakutan. "Papa kenapa???? Papa tidak apa-apa kan???" Tanya Leona yang terlihat panik. Leona mengambil gelas yang tadi dia letakkan dan memberikan kepada Papa nya. "Papa minum dulu...!!" Perintah Leona pada Papa nya lalu membantu nya minum.
Tuan Haidee meminum air dari Leona lalu menarik napasnya dan menghela nya. Dia mencoba menenangkan diri nya. Mimpi itu benar-benar selalu mengganggu nya jika datang. Mimpi dan kejadian yang sama seperti dulu.
"Papa kau baik-baik saja kan???" Tanya Leona lagi.
Tuan Haidee melempar senyumnya dan mengusap kepala Leona lembut. "Papa baik-baik saja, hanya tadi mimpi buruk saja... "
"Mimpi buruk???? Mimpi apa???" Tanya Leona penasaran.
"Bukan apa-apa sayang, hanya mimpi buruk saja, itu sudah biasa.. " Tuan Haidee berbohong. Dia dan istrinya selama ini menyimpan rapat-rapat kejadian bertahun-tahun silam itu dan saat itu Leona masih kecil, sekitar umur 5 tahun dan Leona juga tidak pernah mengingat itu, mungkin karena ingatan masa kecilnya tidak cukup bagus. Sehingga kejadian itu juga tidak terlalu berdampak pada kehidupan Leona.
"Papa bohong....!!! Leona bukan anak kecil yang bisa Papa bohongi begitu saja, Papa kenapa??? Jujur pada Leona, Papa begitu ketakutan sekali.. Kenapa??? Cerita Pa??? Mungkin Leona bisa membantu Papa..!"
Tuan Haidee hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Papa memang hanya mimpi buruk saja, kau bisa tenang.. Mungkin tadi Papa tidak berdoa ketika akan tidur, jadinya malah mimpi buruk!"
"Papa yakin???" Tanya Leona memastikan lagi.
"Iya sayang, Papa hanya mimpi buruk saja. Kau kembali saja ke kamar dan beristirahat, ini sudah larut, Papa juga ingin tidur lagi, Terima kasih untuk airnya.. "
"Leona tidak akan pergi sebelum Papa tidur lagi, berbaringlah, Leona akan menemani Papa. "
"Memang kau pikir Papa anak kecil??? Papa bisa tidur sendiri tanpa harus di temani.. "
"Tidak...!!! Aku tidak akan pergi sebelum Papa tidur..!" Leona membantu Papa nya berbaring lagi dan menyelimuti nya lalu kembali duduk di sebelahnya menunggui Papa nya agar tidur lagi. Leona ingat dulu saat kecil Papa nya selalu menunggui nya sampai tidur baru kemudian meninggalkannya di kamar sendiri. Saat ini giliran dia yang akan menemani Papa nya sampai terlelap. Apalagi jarang sekali Papa nya menginap di apartemennya. Leona ingin Papa nya merasa nyaman di tempat tinggalnya. Papa nya setiap hari juga pasti mengalami tekanan bathin yang luar biasa karena tingkah Mama nya, sehingga Papa nya juga pasti butuh hiburan dan juga butuh menenangkan pikiran untuk saat ini.
Tuan Haidee tidak bisa menolak keinginan Leona. Dia pun berbaring dan memejamkan matanya untuk kembali tidur. Meskipun dia sebenarnya enggan untuk tidur lagi tetapi dia harus membuat Leona merasa tenang dan meninggalkannya sendiri.
Setiap selesai bermimpi itu, Tuan Haidee selalu di bayangin oleh ketakutan luar biasa, ketakutan bercampur rasa bersalah. Dia telah membantu istrinya menutupi kejahatan yang besar menyangkut nyawa orang yang tidak bersalah. Dia ingat bagaimana suara tangisan anak kecil laki-laki itu, dan bagaimana keadaan kedua orang tua nya yang mengalami kecelakaan, terluka parah dan meninggal dunia. Bahkan setelah kejadian itu, istrinya sama sekali tidak memiliki rasa iba dan penyesalan bahkan sampai saat ini. Nyonya Haidee selalu bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi apapun.
Akan tetapi Tuan Haidee selalu di hantui rasa bersalah meninggalkan orang-orang itu. Bahkan sejak kejadian itu, dia benar-benar berusaha untuk menutup telinga dan matanya. Itu terlalu mengerikan untuk di ingat. Bukannya lupa tetapi dia selalu teringat bahkan ingatannya begitu detail mengenai segala nya, membuatnya semakin tersiksa setiap waktu.
Di awal kejadian itu, dia pernah mendengar bahwa ada dua orang yang meninggal dan itu pasangan suami istri. Membuat mereka harus berpisah dengan anaknya yang saat itu berusia lima tahun. Tuan Haidee merasa takut dan dia tidak lagi berani serta sanggup mendengar mengenai berita kecelakaan itu, bahkan saat ini dia juga tidak tahu bagaimana kabar anak kecil laki-laki itu yang mungkin sekarang juga sudah seumuran dengan Leona. Dia selalu berharap anak itu tumbuh dan dalam keadaan sehat, serta memiliki kehidupan yang baik pasca kehilangan kedua orang tua nya. Dan berharap bahwa anak itu masih memiliki keluarga yang merawatnya.
Beberapa tahun terakhir ini dia coba untuk mencari tahu bagaimana kabar anak laki-laki itu sekarang tetapi dia sama sekali tidak tahu info apapun dan tidak berani bercerita kepada siapapun. Dia hanya coba untuk mencarinya sendiri tetapi hasilnya nihil.
Leona memandangi Papa nya yang sudah menutup mata. Dia masih bisa melihat ada ketakutan disana, entah apa yang sedang di takutkan oleh Papa nya. Apakah benar Papa nya memang bermimpi buruk atau ada hal lain yang membuat Papa nya begitu takut dan panik bahkan berkeringat dingin. Leona sangat menyayangi Papa nya dan ingin selalu membahagiakannya. Leona berharap Papa nya datang kesini bukan karena sedang ada masalah dengan Mama nya tetapi murni karena ingin bertemu dengannya melepas rindu. Papa nya sudah terlalu banyak di buat menderita oleh Mama nya, dan apalah yang di inginkan seorang anak jika tidak melihat orang tua nya bahagia. Leona berharap Papa nya memang hanya bermimpi buruk saja.
Leona menunggu lebih dari setengah jam dan memastikan bahwa Papa nya benar-benar sudah pulas. Dia kemudian beranjak dan menata selimut Papa nya. Napas Tuan Haidee sudah teratur bahkan terdengar pelan suara mendengkur. Leona tersenyum lalu mematikan lampu tidur dan pergi keluar untuk ke kamarnya. Berharap Papa nya tidak lagi bermimpi buruk.
Leona menaiki tangga dan menuju kamarnya. Saat masuk dia melihat Kaia masih tengkurap menatap laptop di depannya. Kaia mengalihkan pandangannya ketika Leona masuk. "Kok lama Na????" Tanya Kaia.
"Aku ke kamar Papa dan menemukan dia seperti orang yang ketakutan.. * Jawab Leona sambil duduk di sebelah Kaia.
" Ketakutan???? Memangnya kenapa???" Tanya Kaia penasaran.
"Aku tidak tahu, tapi Papa bilang dia mimpi buruk. Sebenarnya Aku tidak percaya begitu saja dengan ucapannya itu, Aku hanya khawatir Papa datang kesini karena sedang ada masalah dengan Mama, Aku takut Papa menjadi sedih, lalu kesini.. "
"Mungkin dia datang karena merindukanmu saja, dan tadi memang hanya mimpi buruk biasa, kau jangan khawatirkan apapun, tadi Aku coba menghubungi orang rumahmu, mereka tidak mendengar adanya pertengkaran antara orang tua mu, Mama mu memang pergi keluar kota sejak kemarin.. Semua baik-baik saja, Papa mu pasti hanya kesepian, itulah kenapa dia datang kesini.. "
"Semoga saja... " Gumam Leona. Dia meraih ponsel yang ada di atas meja dan mengecek aplikasi pesan singkat. Dia mengecek riwayat chat Ethan dan juga Gemma. Dan ternyata dari sana dia mengetahui bahwa Ethan akan pulang ke flat milik Gemma. Ethan menginap malam ini. Lagi-lagi dada Leona terasa sesak melihat apa yang ada di depan mata nya. Cintanya tidak bersambut dan setiap hari dia di hadapkan dengan kondisi menyakitkan seperti ini. Leona meletakkan ponsel itu dengan lemas di depannya.
Kaia melirik ke arah sahabatnya itu. Wajah Leona kurung dan tteihat sedih.Kaia bisa menebak apa yang baru saja di lihat oleh Leona yang ada di ponsel itu. Dan itu pasti karena Leona membaca pesan Ethan Dan Gemma. "Kalau kau selalu murung setiap memegang ponsel itu, lebih baik kau buang saja.." Ejek Kaia. "Kalau kau tidak siapa dengan apa yang ada di depanmu juga apa yang ada di hatimu, lebih baik berhentilah memantau aktifitas mereka, karena itu hanya akan menimbulkan sakit hati saja... " Lanjut Kaia.
Leona melirik, menatap sahabatnya dalam diam. "Jika Aku tidak memeriksa nya Aku tidak akan tahu sejauh apa hubungan mereka!" Gumam Leona.
"Ya, kalau memang seperti itu, ya jangan sedih dan sakit hati.. Kau harus siap mental untuk menerima semua itu, mereka sepasang kekasih ya wajar jika saling mengagumi dan tinggal di tempat pasangan mereka, kekasih bebas melakukan apapun sesuka nya.. Kau harus menahan perasaanmu, jika tidak siap ya jangan terus di periksa setiap hari.. " Ujar Kaia.
"Diamlah...!" Gerutu Leona yang mulai jengkel dengan ucapan sahabatnya. "Kai....???? Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mereka berpisah dan membongkar kejahatan Gemma???" Tanya Leona.
"Pasti! ya kau tidak bisa langsung menghancurkannya tanpa memiliki bukti yang akurat, karena Ethan bisa marah besar kepadamu nanti, dan jika ingin membongkar itu tentu harus di pikirkan dengan matang apa yang harus di lakukan, yang jelas kau harus menjebaknya" Ujar Kaia.
"Bagaimana caranya????" Tanya Leona.
"Ya, itu, kita harus memikirkannya dengan baik, membuat jebakan batman untuk membuat Gemma tidak berkutik di depan Ethan... "