
Leona tersenyum, dia benar-benar hamil. Keinginannya untuk memiliki seorang bayi akhirnya terwujud. Dia hamil bayi Ethan.
Setelah dari rumah sakit, Kaia dan Leona sekarang dalam perjalanan untuk pulang. Kaia terdiam dan perasaan bersalah pun menyelimuti dirinya. Ethan saat ini tidak di ketahui keberadaannya dan Leona justru sedang hamil anak Ethan. Kaia merasa bingung sekali, sementara dia tidak tahu Ethan dimana. Ethan pergi ke kota mana. Tidak ada yang bisa Kaia lacak mengingat ponsel Ethan tidak aktif sama sekali dan lagi-lagi tidak ada transaksi apapun dari rekening Ethan.
"Kai, kita harus segera menemukan Ethan, dia pasti akan senang sekali dengan berita ini. Aku tidak sabar untuk memberitahu nya." Gumam Leona.
Kaia menoleh dan mencoba melempar senyum. "Ya, aku akan membantumu menemukan Ethan secepatnya."
"Kau dari tadi diam saja, apa kau tidak senang aku hamil???" Tanya Leona yang merasa aneh dengan sikap Kaia sejak pagi tadi.
"Tentu saja aku senang sekali, bagaimana aku tidak senang, kamu hamil, aku sebentar lagi akan memiliki keponakan, tentu aku senang sekali."
tapi si kamu sejak tadi aneh sekali kok seperti tidak bahagia dengan kehamilanku Kenapa Kai
"Tidak Na, tidak apa-apa, aku hanya merasa bersalah saja padamu, kita kehilangan jejak Sthan dan itu adalah kesalahanku. Maafkan aku."
"Kita pasti akan menemukannya, kau sudah mengirim beberapa orang kan untuk mencari Ethan. Bayi ini butuh Ayahnya, dan aku yakin Ethan tidak akan pergi jauh dan mungkin nanti Ethan bisa merasakan jika aku hamil bayinya. " Leona tersenyum pada Kaia.
"Semoga saja. Jika saja aku tidak menyuruhnya meninggalkan Washington Dc mungkin kita sudah bisa menemukannya."
"Aku sudah tidak mengkhawatirkannya ketika kau bilang bahwa dia ke apartemennya dan memindahkan barangnya, itu artinya dia selamat dan tidak terjadi apapun padanya. Percayalah kita pasti akan menemukannya."
"Maafkan aku Na."
"Aku sudah memaafkanmu, berhentilah untuk meminta maaf. Kau harus bahagia dengan kehamilanku. Sembari kita mencari Ethan, kita juga harus memulai untuk membangun bisnis kita dari awal. Cari lokasi dan mengumpulkan dana nya, jual semua tas yang kita sembunyikan itu, lumayan kan sebagai tambahan modal." Leona tersenyum, dia punya ruang rahasia yang dia gunakan untuk menyimpan tas, pakaian dan sepatu nya. Leona dulu selalu membeli barang-barang itu lebih dari satu, dimana yang satunya dia gunakan sedangkan yang satunya lagi dia simpan dan dia tujukan untuk berjaga-jaga dari hal seperti ini, dia simpan untuk dia jual lagi ketika membutuhkan dana. Sebenarnya saat ini Leona tidak begitu kekurangan dana, karena dia memiliki cukup banyak uang di tabungannya, belum lagi dia akan menjual apartemen dan mobil koleksi nya serta beberapa barang miliknnya termasuk pesawat pribadi nya. Semua itu tentu Leona beli dengan uangnya sendiri, bukan uang perusahaan sehingga Leona punya hak sepenuhnya atas apa yang dia miliki. Leona memang memberikan sisa dari aset yang diberikan oleh Papa nya kepada Mama nya, tetapi itu hanya lah perusahaan saja. Karena untuk barang pribadi semua adalah milik Leona sendiri.
Dulu Papa nya pernah berpesan agar Leona bisa pandai untuk mengelola keuangannya sendiri, agar tidak di campurkan dengan keuangan perusahaan. Karena seandainya jika terjadi sesuatu dengan perusahaan, Leona tidak akan langsung kehilangan semua nya dan masih memiliki simpanan uangnya sendiri. Papa nya juga berpesan agar jika ingin membeli properti atau barang seperti mobil harus atas nama sendiri bukan atas nama perusahaan. Sehingga Leona tidak akan kehilangan hak nya sepenuhnya. Benar saja, meski saat ini Leona tidak memiliki hak dari perusahaan Papa nya, Leona tidak kehilangan aset miliknya sendiri. Leona masih punya cukup banyak uang jika hanya untuk membuat tempat usaha baru. Dia juga masih memiliki beberapa rumah dan apartemen cadangan di beberapa tempat yang dulu memang sengaja dia beli, selain untuk dia tempati saat ada pekerjaan di luar kota, juga Leona manfaatkan untuk investasi.
"Besok aku akan mengambilnya, aku juga sudah menghubungi Janine untuk bisa memjualnya, dia siap. Dia sangat mengkhawatirkanmu saat dia tahu apa yang trjadi padamu tetapi aku mengatakan jika kau baik baik saja dan dia merasa senang."
Leona tersenyum. "Sampaikan salamku padanya besok."
"Aku akan menyampaikannya nya, btw apa Fine Line akan masuk ke dalam list juga untuk di jual???" Tanya Kaia.
Leona menggelengkan kepala nya. "Tempat itu punya history, aku masih sangat menyukai nya, aku masih membutuhkannya untuk liburan nanti." Leona tersenyum.
"Baiklah kalau begitu." Kaia juga tersenyum dan kembali berfokus mengemudi.
***
Sementara itu Arindah membawa nampan berisikan gelas dan pitcher dengan air di dalamnya. Arindah hendak masuk ke dalam kamar Naufal untuk memberikan air, tetapi langkah Arindah terhenti ketika melihat Naufal duduk menatap layar ponselnya tanpa gerakan menandakan Naufal sedang memandangi sesuatu di dalam ponsel itu. Arindah mengetuk pintu kamar yang setengah terbuka itu. "Naufal sayang, boleh Mama masuk??? Mama membawakan minuman untukmu."
Naufal menoleh ke arah pintu dan melempar senyumnya. "Silakan masuk Ma!!"
Arindah masuk membawa nampan dan meletakkannya di meja yang ada di sebelah tempat tidur Naufal. Arindah kemudian menghampiri putranya dan duduk di sofa. "Kau belum tidur???" Tanya Arindah sembari melirik ke arah ponsel Naufal yang ternyata ada foto Leona.
"Belum Ma, belum mengantuk."
"Tidak Ma." Naufal menggelengkan kepala nya.
"Kenapa??? Kau takut dia mencarimu kesini???"
"Ya, aku tidak mau membuatnya dalam kesulitan lagi. Aku sudah terlalu menyusahkannya selama ini."
"Bagaimana kalau dia saat ini mencarimu??? Kalian saling mencintai kan???"
Naufal kembali tersenyum. "Saling mencintai bukan berarti harus memiliki kan Ma??? Aku sudah kembali ke identitas lama ku, dan aku ingin mengubur semua nya mengenai kisahku dan Leona, aku yakin kami berdua bisa memulai kisah yang baru tanpa terikat lagi."
Arindah tersenyum. "Apa kau mau mendengar kisah cinta Mama dan Papa dulu???" Tanya Arindah.
"Kisah cinta Mama dan Papa???? Menarik sekali, tentu saja aku ingin mendengarnya. Tolong ceritakan Ma.???"
"Dulu Papamu adalah Cinta Pertamanya Mama saat kami masih berada di sekolah yang sama, kami bersekolah di SMA yang sama. Mama jatuh cinta kepadanya tetapi sampai kami lulus, Mama tidak pernah mengungkapkan cinta Mama dan Mama simpan sendiri di dalam hati selama bertahun-tahun karena saat itu Papamu punya kekasih yang sangat dia cintai bahkan hubungan mereka Bertahan selama bertahun-tahun dan mereka hampir menikah. Dan tentu saja Mama Patah Hati, sampai lulus cinta Mama tidak terbalaskan, melihat Papamu sangat mencintai gadis itu akhirnya kami memilih jalan masing-masing lulus sekolah Mama berkuliah di sini dan Papa mau berkuliah di luar negeri."
"Lalu bagaimana Mama bisa menikah dengan Papa???"
"Setelah Mama lulus kuliah, Mama menikah dengan orang lain lalu Mama hamil kau, seperti yang Mama bilang sebelumnya bahwa Vino bukanlah Papa kandungmu jadi Mama menikah dengan Papa kandungmu, lalu hamil kau. Dan saat kau lahir Mama memilih untuk berpisah dengan Papamu karena dia mengkhianati Mama, dia bermain di belakang Mama dan dia lebih memilih perempuan lain dibandingkan dengan Mama dan juga dirimu. Mama bertahan selama bertahun-tahun dalam kesendirian merawat dan membesarkanmu dibantu oleh mendiang kakek dan nenekmu, Mama juga saat itu melanjutkan kuliah Mama sembari bekerja, lalu dunia Mama berubah secara mengejutkan dan sangat tiba-tiba, di pernikahan Vitto dan Rana, Mama kembali bertemu lagi dengan Papamu Vino Setelah sekian lama."
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya Ma???" Tanya Naufal penasaran.
Arindah tersenyum dan tampak mengenang. "Setelah pertemuan itu, Papamu langsung mengajak Mama untuk menikah, ya terjadi sedikit masalah saat di hotel setelah kami menghadiri pernikahan Vitto dan Rana, masalah yang berujung fitnah dan hal itu juga yang membuat Papamu akhirnya memutuskan untuk menikahi Mama, tentu saat itu Papamu tidak tahu kalau Mama menyimpan perasaan Mama kepadanya sejak lama dan pernikahan itu terjadi juga kami tidak saling mencintai, setelah sekian lama tentu perasaan suka Mama juga sudah hilang tetapi keputusan besar sudah Mama ambil Mama memikirkan baik dan buruknya juga melihat betapa Papamu dulu sangat menyayangimu, walau dia tahu bahwa kau bukanlah anak kandungnya tetapi cintanya dan perhatian yang dia berikan kepadamu akhirnya membuat Mama mengatakan Iya untuk menikah dengan Mama dan setelah pernikahan pun dia benar-benar mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya kepadamu dia bahkan meminta Mama untuk menunda kehamilan karena dia bilang ingin fokus untuk memberikan kasih sayangnya kepadamu karena tahu bahwa sejak kecil kau tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Papa kandungmu."
"Sesayang itu Papa padaku??? Pantas saja sekarang pun Papa juga terlihat sangat menyayangiku." Gumam Naufal.
"Ya benar sekali, aku tidak pernah menemukan orang setulus Vino. Kami berdua sangat menyayangimu dan Kami selalu menyempatkan waktu luang kami untuk bermain belajar dan mengajakmu jalan-jalan, lalu semua berubah ketika kau hilang kebahagiaan kami direnggut begitu paksa. Mama tidak pernah lagi melihat senyum dari Papamu kecuali ketika Mama meminta Dia untuk tersenyum tetapi tentu senyumnya tidak tulus tidak sumringah seperti saat dia bercanda dan bermain denganmu. Hidup kami benar-benar berubah meskipun kemudian adikmu lahir dan itu bisa mengobati kesedihan, kami tetapi tentu perasaan Kehilangan itu selalu kami rasakan dan merasa bahwa kehidupan keluarga kami tidaklah begitu lengkap tanpa kehadiranmu."
Arindah menggenggam jemari Naufal. "Tetapi sekarang semua nya telah kembali, kau pulang dalam keadaan yang sangat baik. Kau tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa, meski kami tidak menemanimu. Senyum Papamu saat ini adalah senyum yang sama seperti saat kau dulu kecil dan bermain bersama nya. Senyum yang kemudian hilang selama puluhan tahun dan akhirnya kembali lagi bersama dengan kepulanganmu."
Naufal tersenyum dan memeluk Mama nya. "Aku tidak akan nakal lagi dan hilang seperti dulu. aku akan disini supaya Mama, Papa dan Vineet bisa selalu bahagia."
"Kami juga tidak akan meninggalkanmu sendirian. Dan dari kisah ini Mama ingin memberitahu satu hal. Jodoh itu rahasia besar yang Tuhan siapkan untuk kita, saat kita berharap akan satu hal tetapi kita merasa itu sulit untuk digapai dan di dapatkan meski kita sudah bekerja keras, pilihan terbaik adalah melepaskannya saja. Kalau itu rejeki kita ya pasti akan kita dapatkan kembali, kalau memang bukan rejeki dan bukan di takdir kan untuk kita, ya kita lupakan. Jika kau mencintai Leona dan kau ingin kebahagiaannya tanpa dirimu, ya pilihannya adalah melepaskannya meski berat, tapi siapa yang tahu dengan jalan Tuhan ke depannya, bisa saja kau bernasib seperti Mama, mendapatkan Papamu yang dulu sangat tidak mungkin bisa Mama dapatkan, itu juga berlaku untukmu, kalau kau ingin kembali pada Leona, kau bisa menghubunginya, tapi kalau kau ingin melepaskannya untuk kebahagiaannya ya itu terserah padamu. Kalau dia memang jodohmu, ya kita tidak tahu ke depannya seperti apa. Itu Rahasia Tuhan."
Naufal tersenyum. "Aku sangat mencintai nya, dan besarnya cintaku kepadanya membuatku harus melihatnya bahagia dengan cara melepaskannya dari genggamanku."
"Mama tidak memaksamu untuk kembali atau melupakan Leona, itu adalah keputusanmu sendiri. Kau pasti tahu mana yang terbaik untukmu, satu hal yang pasti jangan sampai kita menyakiti orang lain hanya untuk keegoisan kita."
"Aku tahu Ma...."
"Sudah malam, kau istirahat dan tidur, Papa mu pasti sudah menunggu Mama. Selamat malam."
"Selamat Malam Ma..."
Arindah beranjak dari sofa dan keluar meninggalkan Naufal di kamarnya. Arindah senang dia bisa mengobrol dengan Naufal dari hati ke hati. Arindah selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya dan ingin selalu melihat mereka bahagia. Arindah tentu ingin Naufal kembali dengan Leona, tetapi tentu semua keputusan ada pada Naufal. Jika Naufal menginginkan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan Leona, tentu Arindah tidak bisa memaksa putranya itu.