My Bodyguard My Obsession

My Bodyguard My Obsession
Bukan Ethan, tapi Naufal Prakarsa



"L'E Escailers Restaurant." Gumam Naufal dalam hati ketika membaca nama restoran ini. Dia sudah lama tinggal di Portland dulu dan dia baru kali ini melihat restoran ini. Dia ingat sekali dulu ini bukanlah sebuah restoran, tetapi seingatnya ini adalah toko pakaian. Apa mungkin restoran ini baru. Naufal tersenyum kemudian dia di hampiri oleh Arindah.


"Mama juga lapar sekali sebenarnya."


Naufal menoleh dan tersenyum. "Kita masuk???" Tanya Naufal.


Arindah menganggukkan kepala nya. Kemudian mengajak Naufal masuk di ikuti oleh Vino dan Vitto. Restoran itu cukup ramai. ada beberapa orang menikmati sore mereka sembari makan-makan. Beberapa yang lainnya ada di sudut lain ada ruangan yang terhalang dinding kaca, di mana disana terdapat bar, yang cocok untuk sekedar menikmati minuman enak.


Mereka memilih sebuah sofa panjang dengan meja panjang juga di depannya. Dan duduk bersebalahan karena hanya ada satu sofa panjang yang tidak berhadapan. Ada beberapa meja dengan sofa panjang di bagian tengah. Sisa nya kursi biasa dengan meja melingkar.


Seorang waiters datang kepada mereka dan memberikan menu kepada mereka. Naufal terlihat serius membaca menu yang ada dan dia memesan.


"Creamy truffel mushroom pasta." Ucap Vino pada waiters. "Kau mau apa???" Tanya Vino pada Naufal yang ada di sebelahnya.


"Aku mau steak saja." Ucap Naufal pada Vino. "Wagyu steak dengan Rosemary garlic saus. Medium rare." Ucapnya kemudian pada waiters. Arindah kemudian memesan fettucini Alfredo, sedangkan Vitto memilih untuk memesan beef bourguignon. Waiters kemudian menanyakan minuman apa yang ingin mereka pesan.


Naufal kembali fokus pada menu. Dia mengernyit ketika membaca menu cocktail yang tertulis. Dia seperti tidak asing dengan nama cocktail itu. "Long Island Iced Blanco. Lemme fall in love???" Gumam nya dalam hati. Nama itu seperti nama minuman yang pernah di gunakan Leona saat perempuan itu membuat minuman untuknya dulu.


"Kau ingin cocktail????" Tanya Arindah ketika melihat Naufal fokus dengan menu cocktail. "Segelas cocktail tidak akan membuatmu mabuk, pesanlah mana yang kau mau." Ucapnya.


Vino memesan sebotol wine untuk mereka berempat. Tetapi kemudian Arindah memberitahu jika Naufal tertarik dengan minuman lain. Naufal mengarahkan pandangannya ke orang tua nya.


"Katakan kau ingin yang mana???" Tanya Vino.


"Lemme Fall in love." Ucap Naufal kemudian. Naufal penasaran apakah minuman yang di pesannya ini sama dengan minuman yang pernah di buatkan Leona untuknya.


"Oke, tambah satu Lemme fall in love." Ucap Vino pada waiters kemudian waiters itu mencatat nya dan meminta agar menunggu pesanan mereka akan di antarkan.


"Sebelumnya yang aku ingat ini bukan restoran." Gumam Naufal.


"Bukan restoran???" Tanya Vitto.


"Ya uncle, seingatku dulu ini butik, aku sering lewat disini jadi cukup hafal. Tetapi ternyata sekarang jadi restoran."


"Sepertinya ini memang restoran baru. Kalian bksa mencium bau sofa ini, seperti masih baru. Hehehe." Sahut Arindah.


Naufal tersenyum. "Mama, Papa, Uncle, terima kasih untuk bantuan.yang sudah kalian berikan pada panti Asuhan tadi, itu begitu banyak sekali, bahkan kalian juga akan menjadi donatur tetap disana. Aku benar-benar berterima kasih sekali." Gumam Ethan.


"Naufal, bantuan yang kami berikan tidak ada artinya sama sekali jika di bandingkan jasa dari panti asuhan itu yang sudah merawat dan membesarkan mu selama bertahun-tahun. Papa tahu bahwa para pengasuh disana juga adalah orang yang baik dan sangat tulus, mereka semua terlibat sangat menyayangimu, mereka sudah mengganti kan tugas Papa dan Mama selama ini, jadi apa yang kami berikan hari ini masih belum cukup untuk membalas jasa mereka." Ujar Vino.


"Kau selama ini sangat perhatian dan menyayangi mereka semua. Mama sangat bangga padamu, bahkan setiap bulan kau selalu menyisihkan uangmu untuk kau kirim pada mereka meskipun kehidupanmu sendiri tidak di kelilingi oleh banyak materi dan kau hanya seorang yang biasa saja, tetapi sikapmh memperlakukan merwka begitu luar biasa, pantas mereka sangat mengagumi mu dan mengingatmu. Itu sangat mulia sekali. Mama bangga sekali padamu. Saat ini.kehidupanku sudah berubah, tetapi Mama berharap kau tetaplah harus jadi pribadi yang bersahaja dan tidak melupakan jati dirimu. Meski kau kembali menjadi Naufal tetapi pribadi seorang Ethan tidak boleh hilang dari dirimu. Ethan yang baik, peduli dan penyayang." Arindah tersenyum menatap putranya.


"Tentu saja Ma. Aku tidak akan merubah sikapku. Aku akan tetap menjadi pribadi Ethan."


Arindah tersenyum. Dia sangat senang melihat pribadi Naufal selama ini. Selama kembali bersama nya, Naufal tidak pernah menunjukkan sesuatu yang buruk, dan itu semakin terbukti ketika para pengasuhna di Panti asuhan juga menceritakan kebiasaan Naufal sejak dulu dan sampai sekarang tidak pernah berubah. Apa yang mereka katakan sama seperti apa yang Arindah lihat sejak dia bertemu dengan Naufal. Meski Naufal di besarkan tanpa kasih sayang orang tua, Naufal bisa menempatkan diri menjadi pribadi yang baik dan peduli. Arindah sangat bangga dan bersyukur bahwa Naufal menjadi orang yang seperti itu.


Sampai kemudian makanan pesanan mereka datang. Karena lapar tentu mereka langsung menyantapnya. Waiters tampak sibuk membuka botol wine dan menuangkan nya pada empat gelas kosong. Setelahnya dia mengucap permisi dan pergi.


Naufal mengernyit ketika melihat gelas berisikan cocktail yang di pesannya. Penampilan nya seperti yang pernah di sajikan Leona untuknya, tetapi dia hanya melempar senyum, mungkin ini hanya kebetulan nama dan penampilannya sama. Lagipula perusahaan Leona tidak memiliki jaringan restoran atau sejenisnya. Mungkin memang hanya kebetulan saja.


Naufal memotong steak nya dan dia tersenyum melihat steak nya di masak dengan benar. Tingkat kematangan nya juga sangat sesuai Dengn yang dia pesan. Naufal mengoleskan dagingnya pada saus nya lalu menyiapkan ke dalam mulutnya. Baru satu suapan, tiba-tiba Naufal merasakan sesuatu yang tidak asing di lidahnya. Rasa steak dan saus nya sangat mirip dengan yang pernah dia makan sebelumnya, sama seperti yang Leona buatkan untuknya. Tetapi Naufal tidak mau terlalu ambil pusing . Rasa makanan itu pasti akan terasa sama jika bahan yang di gunakan juga sama.


Naufal mengambil gelas berisi cocktail pesanannya tadi dan mengangkatnya kemudian menyesapnya perlahan untuk menikmati rasanya. Sama. Lagi-lagi sama, ini hampir mirip dengan buatan Leona saat itu. EmNaufal mengerutkan dahi nya. Ini sebuah kebetulan saja atau memang apa. Dia benar-benar bingung. Dia kemudian melanjutkan lagi menyantap steak nya sembari mengobrol ringan dengan orang tua nya dan juga Om nya.


Setelah selesai makan, mereka masih duduk dan mengobrol sembari menikmati wine. Setelah inj mereka akan kembali ke hotel, beristirahat dan besok melanjutkan lagi perjalanan ke Seattle. Tentu perjalanan itu masih belum di ketahui oleh Naufal. Vino hanya ingin membuat kejutan untuk putra nya itu.


Di tengah obrolan itu, tiba-tiba mereka di hampiri oleh seorang perempuan. "Maaf mengganggu... Selamat sore..." Sapa perempuan itu.


Vino dan yang lainnya mengarahkan pandangan mereka ke seorang perempuan yang ada di depan meja mereka. "Ya selamat sore." Sahut Arindah.


"Saya Nancy kepala pelayan disini. Kebetulan Manager dan pemilik restoran ini sedang pergi ke luar kota, biasa nya mereka yang menghampiri customer untuk menyapa dan menanyakan beberapa hal mengenai pelayanan di restoran ini, karena belia sedang tidak ada maka saya yang di tugaskan untuk melakukannya. Ini sudah jadi peraturan disini, boleh saya meminta waktu sebentar?.?"


"Oh tentu saja, silakan."


"Bagaimana dengan makanan dan minumannya??? Apakah ada yang kurang dari penyajiannya hingga rasanya??? Sehingga saran dan kritikan anda bisa menjadi acuan untuk kami supaya tidak lagi mengecewakan customer kami. Katakan saja, jika ada yang kurang."


"Ah tidak sama sekali, tidak ada yang kurang, fettucini nya enak, bagaimana denganmu???" Tanya Arindah pada Vino. Vino mengatakan enak rasanya dan tidak ada kekurangan sama sekali. Begitu juga dengan Naufal dan Vitto yang mengatakan makanan punya mereka juga enak. Pelayanannya juga sangat ramah.


"Baiklah terima kasih atas pujiannya. Kami berharap anda semua bisa kembali ke sini lagi kapan-kapan, kalau begitu saya permisi. Terima kasih atas waktu nya.". Kepala pelayan itupun meninggalkan Vino dan keluarga nya.


"Pelayanannya memang bagus, makanannya juga cepat datang. Rasanya memang tidak ada masalah." Gumam Arindah.


Setelah menghabiskan wine nya, Vino pun mengajak istri, anaknya serta kakak nya untuk segera kembali ke hotel dan beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka.


*****


Keesokan harinya.........


Naufal di buat terkejut oleh informasi yang di dapatkannya hari ini dimana ternyata saat ini dia dan keluarganya sedang menuju Seattle. Dan mereka sekarang dalam perjalanan kesana. Butuh waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dari Portland ke Seattle.


"Memangnya kau pikir dimana???" Tanya balik Vino.


"Aku pikir ada di Portland atau Oregon." Gumam Naufal.


Vino tersenyum dan menepuk bahu Naufal yang duduk di s


Depan nya. Naufal ada di kursi tengah bersama dengan Vitto sedangkan Vino sendiri duduk di kursi belakang bersama Arindah. "Dimana pun itu, memang apa masalahnya???"


Naufal terdiam tidak menjawab pertanyaan Vino.


"Papa tahu kau punya kenangan di Seattle, tapi kita hanya sehari saja disana, besok pagi kita langsung ke bandara dan kembali ke Indonesia. Papa Monta maaf, tapi Papa tidak bermaksud apapun, Papa hanya ingin mengajakmu untuk menyelesaikan pekerjaan saja, supaya kau bisa belajar."


"Itu benar, kau tidak perlu takut atau mengkhawatirkan apapun Naufal. Ini salah satu hal yang penting bagi perusahaan kita." Sahut Vitto.


"Memangnya perusahaan mana yang akan kita datangi???" Tanya Naufal penasaran.


"Kau akan tahu nanti." Gumam Vino dari belakang kemudian Vino berpura-pura menghubungi seseorang agar Naufal tidak banyak bertanya kepada nya. Dan Naufal memilih diam dan masih dengan wajah khawatir, tetapi Vitto mencoba untuk menenangkan keponakannya dengan mengajak mengobrol beberapa hal supaya Naufal tidak tegang. Mereka akan langsung menuju perusahaan itu bari setelah itu ke hotel.


***


Akhirnya mereka sampai di kota Seattle. Dalam sepuluh menit mereka akan sampai di perusahaan itu. Vino masih belum mengatakan pada Naufal kemana mereka akan pergi sekarang. Naufal hanya terdiam menatap jendela mobil. Kota ini, kota yang punya banyak sekali kenangan untuknya. Naufal sangat hafal setiap sudut Seattle. Dia tinggal disini selama bertahun-tahun dan punya cerita bahagia ataupun sedih. Kota yang pernah memberinya kehidupan. Setelah sekian lama, dia akhirnya kembali lagi. Naufal berharap dia tidak harus bertemu dengan orang-orang yang pernah dia kenal disini. Karena dia benar-benar ingin melupakan segala kenangannya, dan ingin menjalani kehidupan yang baru dengan identitas aslinya sebagai Naufal, bukan Ethan.


Naufal mengerutkan dahinya setelah menyadari bahwa jalanan ini adalah jalanan yang sering di lewatinya dulu setiap hari. Naufal juga memandangi gedung tinggi yang sangat di hafalnya. Itu adalah gedung apartemen yang Leona tinggali dimana setiap hari dia menghabiskan waktu nya bekerja di dan setiap hari. Naufal memejamkan matanya, kenangannya bersama Leona muncul lagi dan itu membuat dada nya sesak sekali. Kenapa dia harus kesini lagi.


Hingga beberapa menit kemudian, Naufal terlonjak ketika mobil yanv membawa nya ini berbelok ke sebuah gedung perkantoran yang tentu saja sangat di kenal oleh nya. "Haidee Enterprises???" Gumam Ethan.


"Ya, ini adalah perusahaan yang akan kita tinjau untuk kita bisa memutuskan layak atau tidak untuk melakukan take over." Sahut Vino dari belakang.


"Apa....????" Seru Naufal.


"Iya, ini perusahaan yang akan kita tinjau." Sela Vitto.


Naufal menoleh ke arah Om nya kemudian menoleh ke belakang. Mobil sudah berhenti tepat di depan pintu lobi perusahaan itu. "Tidak tidak... Papa dan Uncle saja yang masuk, aku tidak mau." Ucap Naufal dengan cepat.


"Kenapa???" Tanya Vino pura-pura tidak tahu.


"Tidak, Papa dan Uncle saja yang masuk, aku akan menunggu di mobil."


"Mana bisa Naufal, kau harus ikut masuk, Papa sudah memasukkan namamu sebagai CEO perusahaan kita, jadi kau harus ikut, Papa dan Uncle hanya akan membantumu. Ini tugasmu."


"Tapi Pa???? Aku tidak mau, aku tidak mau bertemu dengan Leona."


"Leona????" Tanya Vitto pura-pura bingung. "Maksudmu ini perusahaan Leona yang dulu itu???"


"Iya Uncle, please kalian saja yang keluar, aku tidak mau." Rengek Naufal.


"Tidak bisa, kau harus ikut. Pimpinan perusahaan ini bukan Leona, itu yang tertulis di berkas profilnya. Bukan atas nama Leona, jadi kau tidak akan bertemu dengannya. Ayo keluar, kita sudah di tunggu." Ucap Vino.


Vitto pun membuka pintu dan keluar. Vino menepuk bahu putranya agar keluar juga. Tetapi Vino menoleh ke arah istrinya dan tersenyum. Arindah pun menganggukkan kepala nya. Vino keluar menyusul Vitto, dan Arindah maju lalu duduk di sebelah Naufal.


"Ayo, susul Papa dan Uncle mu."


"Tapi Ma???"


Nyonya Haidee keluar dari lobi bersama dengan Steven untuk.menyambut tamu penting mereka. Mereka harus menunjukkan sikap ramah supaya tamu nya itu bisa mempertimbangkan untuk membantu perusahaan mereka yang sedang dalam keadaan buruk sekali saat ini.


Nyonya Haidee memasang senyumnya lebar. Dan dia langsung menghampiri dua laki-laki yang berdiri di sebelah mobilnya. "Nyonya Haidee, ini adalah Tuan Arvino prakarsa dan ini adalah Tuan Vittorio Prakarsa." Ucap sekretaris Nyonya Haidee.


Nyonya Haidee tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Vino. "Saya Emma Haidee, wakil pimpinan Haidee Enterprises, senang bisa bertemu dengan Anda." Ucap Nyonya Haidee.


Vino menatap wanita tua itu. Jadi inilah Emma Haidee yang selama ini sudah menghina habis-habisan anaknya. Terlihat jelas sekali dari wajahnya yang sok ramah itu. Vino tahu bahwa senyumnya yang sok ramah itu di buat-buat. "Arvino Prakarsa." Ucap Vino dingin.


Nyonya Haidee bergantian menyalami Vitto. Begitu juga dengan Steven. Vino dan Vitto mencoba tetap bersikap biasa saja walau sebenarnya mereka merasa kesal sekali jika mengingat perlakuan kedua manusia brengseek yang ada di depannya ini.


Arindah tersenyum. "Mama tahu apa yang sedang kau rasakan saat ini, tetapi saat ini keadaanmu sangat berbeda dari yang dulu, kau adalah putra dari Arvino Prakarsa, Papa mu yang luar biasa itu sudah memberikan kepercayaan diri dan nama besar padamu. Jika mereka dulu merendahkan mu, mengancam dan ingin membunuuhmu, kali jni tidak akan berani melakukannya. Kau sekarang punya harga diri untuk bisa membungkam mereka, kau tidak akan di perlakukan buruk dan di hina lagi. Mereka sekarang sedang mengemis padamu, jadi tegakkan dagumu, tunjukkan kebanggaanmu, kau bukan Ethan tetapi adalah Naufal Prakarsa, yang punya keputusan besar untuk masa depan perusahaan ini. Mereka akan menunduk padamu, jadi tegakkan dagu mu. Papa mu dan Uncle serta Mama ada bersama mu, jadi jangan takut, ayo kita hadapi mereka bersama-sama." Ujar Arindah sembari menggenggam jemari putranya. Naufal pun akhirnya menganggukkan kepala nya dan Arindah membuka pintu mobil kemudian keluar di ikuti oleh Naufal.


"Mari silakan masuk.!!" Ucap Nyonya Haidee mempersilahkan Vino dan Vitto masuk.


"Tunggu sebentar, putraku masih ada di dalam. Dia sebenarnya yang punya hak paling tinggi untuk meninjau, dan memutuskan semua nya. Dia CEO dari perusahaan kami, aku hanya membantunya saja. Bisa di bilang aku adalah wakilnya, CEO nya adalah Naufal, putraku."


"Oh maaf-maaf tuan Vino." Ucap Nyonya Haidee.


Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita keluar dari dalam. Vino menoleh ke belakang dan tersenyum, mengulurkan tangannya untuk pegangan Arindah. "Ini adalah istriku, dan itu dia dj belakangnya putraku." Ucap Vino.


Arindah turun dan langsung di sambut oleh Nyonya Haidee dan di ajak bersalaman. Lalu kemudian keluarlah seorang laki-laki berjas rapi seperti Vino dan dan Vitto. Naufal keluar dan mendongak melihat siapa yang ada di depannya. Nyonya Haidee memundurkan langkahnya ketika melihat siapa yang baru saja keluar dari mobil itu. "E....Ethan...???" Gumam Nyonya Haidee dengan mulut ternganga.


Vino tersenyum. "Bukan Ethan, tapi Naufal Prakarsa. Putraku dan CEO dari Prakarsa Corporate. Ethan adalah identitas palsu nya." Ucap Vino dengan tatapan menahan ke arah Nyonya Haidee dan Steven yang keduanya tampak terkejut sekali.