
"Kita hidup pada masa dimana komitmen itu tidak di perlukan disini, yang terpenting saling menyukai dan bisa tinggal bersama itu sudah cukup untuk kebanyakan orang disini, tetapi ternyata masih ada orang sepertimu yang memikirkan hal itu.. " Ucap Leona.
"Benarkah???" Ethan melempar senyum. "Ya, memang banyak teman-temanku yang mengatakan bahwa aku seperti hidup di jaman dulu, yang apa-apa harus di lakukan setelah menikah, berkomitmen dan lainnya jadi hal utama, akan tetapi aku merasa bahwa hal seperti itu tetap harus di lakukan oleh seorang pria, sebagai tanda dia menghormati wanita nya dan benar-benar ingin memiliki kehidupan keluarga yang membahagiakan.. "
Leona tersenyum. "Aku suka cara berpikir mu... Jarang sekali aku bertemu dengan orang sepertimu... Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagia nya perempuan yang menjadi istrimu kelak, kau manis sekali.." Puji Leona.
"Lalu bagaimana dengan anda sendiri??? Anda pasti memiliki keinginan untuk kehidupan anda nantinya setelah menikah.. Iya kan??? Lalu seperti apa yang anda inginkan dari suami anda kelak???" Tanya Ethan.
"Apalagi yang di inginkan oleh seorang wanita jika bukan kebahagiaan dan cinta yang tulus dari laki-laki yang di cintai nya.. Dan untukku sangat sulit menemukan yang seperti itu, karena aku di kelilingi oleh harta berlimpah, kecantikan dan jabatan, sehingga mencari yang benar-benar tulus sangat sulit.. Aku tidak mau suamiku hanya melihat apa yang aku miliki, materi dan segala kesempurnaan hidup yang ada pada diriku, tetapi aku butuh laki-laki yang benar-benar mencintaiku tanpa melihat siapa diriku sebenarnya... " Leona kembali tersenyum menatap lautan di depannya. "Itu sulit sekali.. " Gumam nya.
"Tetapi bisa saja Tuhan akan menyiapkan apa yang kita inginkan.. Kita hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.. Bagi kita memang sulit, tetapi tentu tidak bagi Tuhan.. " Ujar Ethan.
"Aku pun berharap seperti itu.. " Gumam Leona lagi. Mereka berdua kemudian duduk di pasir dan melihat matahari yang mulai terbenam. Semburat berwarna jingga membuat langit tampak semakin cantik luar biasa.
"Jadi intinya kau belum yakin dengan Gemma???" Tanya Leona.
"Entahlah... Saya hanya selalu meragu saat berniat mengungkapkan perasaanku, dia perempuan yang sangat baik dan selalu membuat saya tertawa setiap hari.. "
"Kau sudah nyaman dengannya, dan kalian juga pasti sering berhubungan, apa itu belum cukup untuk meyakinkan dirimu???" Tanya Leona lagi.
Ethan terkekeh dan wajahnya memerah. "Jujur, saya tidak pernah memulai dulu untuk memintanya melakukan hal itu selama ini, dia sendiri yang selalu menawarkan diri dan juga memulai nya..."
"Benarkah???" Tanya Leona lalu ikut terkekeh. "Apa kau adalah laki-laki yang pemalu atau kau memang tidak pernah bernapsu pada perempuan sehingga mereka harus menggodamu agar kau mau melayani mereka???"
Ethan tertawa. "Hahahaha bukan seperti itu, tetapi lebih kepada tahu diri.. Saya tidak memiliki hubungan apapun dengannya lalu rasanya tidak pantas sekali jika saya harus meminta hal sensitif itu kepadanya... Saya takut di cap sebagai laki-laki yang memanfaatkan situasi, saya tidak mau itu terjadi.."
"Dan kau akan dengan senang hati melakukannya jika perempuan itu menawarkan dirinya??" Tanya Leona lagi dan Ethan menganggukkan kepala nya. Kedua nya pun tertawa terbahak-bahak.
Ethan memandang Leona yang tertawa lepas. Melihat sisi lain dari perempuan yang terkenal dingin ini. Tawa Leona membuat perempuan itu semakin cantik. Hal yang sebelumnya tidak pernah Ethan lihat. Leona ternyata orang yang sangat menyenangkan. Dan Ethan tidak menyangka jika Leona juga orang yang asyik di ajak mengobrol, bahkan dia di beritahu tentang hal yang pribadi dari Leona yang selama ini tidak banyak di ketahuilah. Dibalik segala kesempurnaan dalam. kesehariannya, Leona tetap manusia biasa yang memiliki keterbatasan yang tidak bisa dia lalui. Dan Leona tetap berusaha menghormati kedua orang tua nya meskipun dia memiliki tekanan yang luar biasa dalam menjalani hidupnya.
Leona tertawa memandangi Ethan yang ada di sebelahnya. Lelaki itu sangat tampan dan tawa nya juga meneduhkan hati. Ethan sangat berbeda dengan banyak laki-laki yang selama ini dia temui. Cara berpikir Ethan dalam memaknai sesuatu, membuat Leona tidak berhenti mengagumi lelaki itu secara tidak langsung. Leona merasa bahwa dia ingin sekali mengetahui lebih dalam lagi mengenai kehidupan Ethan. Karena sepertinya ada banyak hal menarik yang di miliki Ethan. Kesederhanaan nya, juga patut di acungi jempol. Ethan tetap menjadi dirinya sendiri dengan banyak impian yang sudah dia rancang dan pikirkan dengan sangat baik.
**
Hari mulai gelap, Leona dan Ethan pun kembali ke rumah. Dan Leona merasa sangat lapar sekali. Sebelum kesini tadi mereka mampir ke supermarket dan berbelanja bahan makanan serta membeli pakaian untuk ganti. Leona ingin mengambil pakaian di apartemennya tetapi dia memutuskan tidak melakukannya karena takut Mama nya datang dan membuat masalah lagi. Jadi Leona menyuruh Kaia untuk membelikan pakaian untuk nya dan Ethan, juga berbelanja bahan makanan secukupnya. Leona ingin berada di Fine Line selama beberapa hari dan tidak ingin ke apartemen atau ke kantornya. Besok, Kaia juga akan datang dengan membawa pakaian-pakaian lain untuknya dan Ethan. Leona memutuskan akan disini bersama Ethan. Dia menemukan kenyamanan dengan lelaki itu dan akan memberitahu Kaia nanti.
Leona memilih mandi lebih dulu dan meminta Ethan untuk bergantian nanti nya. Ethan pun mempersilahkan Leona. Dan perempuan itu masuk ke kamar mandi membawa pakaiannya. Sambil menunggu Leona, Ethan memilih untukembongkar belanjaan. Dan memutuskan akan membuat sesuatu untuk Leona. Perempuan itu sudah dua kali memasak untuknya. Ethan ingin membalasnya.
Di awal dia memang merasa kesal dengan Leona, akan tetapi melihat sisi pribadi perempuan itu, membuat Ethan merasa luluh dan Leona ternyata sangat menyenangkan dan baik. Ethan tidak memungkiri itu. Dan memutuskan akan mulai menghilangkan kebenciannya pada sikap Leona yang sebelumnya menyebalkan itu.
Ethan mengambil pasta, jamur, paprika dan juga bawang putih serta daging asap. Dia akan membuat spaghetti aglio olio. Ethan sangat menyukai makanan sederhana itu dan berharap Leona nanti juga menyukai nya. Ethan mengambil air dan merebusnya lalu memasukkan pasta spaghetti ke dalam air. Sambil menunggu matang, Ethan memotong bawang putih hingga menajdi bagian yang sangat kecil, merendamnya dengan olive oil. Ethan kemudian memotong paprika merah, jamur dan daging asap. Itu akan dia jadikan sebagai pelengkap nya. Karena ini makanan favoritnya, maka Ethan sudah sangat ahli dalam membuatnya.
Setelah semua nya siap dan pasta nya juga sudah matang. Ethan memanaskan pan dan juga memasukkan bawang putih yang sudah di rendam dengan minyak Zaitun. Menumisnya sebentar dengan api kecil, lalu memasukkan jamur, paprika dan juga daging asap. Menumisnya sebentar kemudian memasukkan pasta yang sudah dia rebus, dan menambahkan sedikit air bekas rebusan pasta. Tidak lupa seasoning seperti garam dan sedikit penyedap jamur agar lebih gurih.
Dengan sangat ahli, Ethan memainkan panjang hingga membuat pasta itu terbang dan langsung menangkapnya lagi dengan pan. Ethan seperti seorang chef yang handal.
Sampai akhirnya Ethan mematikan kompor setelah memastikan spaghetti buatannya sudah benar-benar matang. Bau nya juga sangat harum sekali. Ethan mengambil piring dan membagi nya menjadi dua, satu untuknya dan satu lagi untuk Leona. Sebagai penambah gurih dan creamy, Ethan menambahkan parutan keju di atasnya. Lalu menyajikannya di atas meja. Ethan mengambil Champagne sebagai pelengkap menikmati makanan ini. Dia menuang nya ke dalam dua gelas.
Leona keluar dari dalam kamar mandi. Sudah segar dan berganti pakaian. Hidungnya langsung mencium aroma harum yang khas, membuatnya mencari sumber aroma itu. Dan mendapati Ethan sedang sibuk di meja makan.
"Wah, tepat sekali, anda sudah selesai mandi, dan makanannya juga masih hangat.. " Ucap Ethan.
"Makanan??? Apa kau memasak sesuatu???" Tanya Leona.
"Ya, saya membuat Aglio Olio, eh tapi apakah anda menyukai nya???" Tanya Ethan balik.
"Wow... Spaghetti??? Aku sangat menyukai segala jenis pasta.. Kenapa kau memasak??? Harusnya aku saja.. "
Ethan tersenyum. "Saya sudah dua kali menikmati makanan buatan anda, jadi saya pikir ini waktunya saya membalas nya.. Syukurlah jika anda menyukai nya.. Mari silakan duduk.. "
Leona kembali tersenyum, dia menelan ludah ketika melihat dan mencium aroma masakan Ethan yang menarik itu. Leona duduk dan tersenyum simpul, mendongak memandang Ethan. "Harusnya tidak perlu repot-repot.."
"Tidak repot sama sekali, senang bisa membuat ini untuk anda, saya sangat menyukai nya sehingga saya juga sering membuatnya di rumah.. Saya jamin rasanya sangatlah enak, meskipun sangat sederhana sekali.. "
"Dari bau dan bentuknya sangat menggoda, aku yakin rasanya juga akan enak.. " Ucap Leona dan dia mulai memegang garpu kemudian mengambil spaghetti buatan Ethan dan memakannya. Leona mengunyanya perlahan dan menelannya. Dia memandang Kyros yang masih berdiri di depannya. "Astaga ini enak sekali...!!!" Puji nya. "Duduklah dan kita makan berdua... "
Ethan menganggukkan kepala nya dan duduk. Dia juga menikmati makanan buatan nya. Merasa senang dan bangga karena Leona menyukai dan memuji rasanya yang enak.
Kau pintar memasak juga ya???" Ucap Leona.
"Saat terbiasa hidup sendiri sejak kecil, sehingga harus bisa mengurus dapur sendiri.."
"Itu sangat bagus, dan aku berpikir bahwa kapan-kapan kita harus berkolaborasi untuk membuat makanan, aku suka masak begitu juga denganmu.. Kau setuju??" Tanya Leona.
"Masakan anda sangat luar biasa, sementara aku hanya belajar memasak secara otodidak dan bermain dengan perasaan saja.."
"Justru memasak itu harus pandai bermain perasaan dan pandai mengira-ngira.. Memasak dengan perasaan hasilnya akan selalu enak..."
"Anda memang benar sekali.. "
Mereka berdua menikmati makanan itu, sambil mengobrol. Leona merasa bebas sehingga dia banyak tertawa hari ini. Dan dia punya teman dan pendengar yang baik seperti Ethan. Sangat menyenangkan sekali rasanya.
"Ethan...!!" Panggilnya.
"Ya.. " Jawab Ethan. "Apa anda butuh sesuatu???" Tanya Ethan.
Leona menggelengkan kepala nya. "Aku ingin bertanya pada mu??"
Ethan mengangguk. "Ya, silakan, katakan anda ingin bertanya apa???"
"Apa kau ada kesibukan atau janji dengan orang lain beberapa hari ke depan???"
"Tidak ada hal yang penting yang akan saya lakukan.. Ada apa??? Kenapa anda bertanya seperti itu??" Tanya Ethan lagi.
"Aku akan disini saja sampai wekeend, dan aku ingin kau menemaniku disini, karena selama aku ada disini, Kaia harus mengurus pekerjaan di kantor.. Aku sedang malas pulang, aku malas menghadapi kegilaan Mama ku, dia pasti akan mengejarku karena aku menolak untuk menghadiri acara seseorang yang di kenal oleh Mama ku.. Jadi bagaimana, apa kau mau menemaniku disini selama beberapa hari???" Tanya Leona.
Ethan terdiam sesaat. Kemudian tersenyum. "Tidak masalah, sudah tugas saya untuk menjaga anda, saya siap menemani anda selama disini, tempat ini bagus, tentu tidak akan bisa saya merasa bosan.. " Jawab Ethan dengan penuh semangat.
"Terima Kasih Ethan....!!! Aku sangat mengandalkan mu... Kita bisa melakukan banyak hal disini, dan kau tahu bahwa aku suka memancing saat disini, aku punya alat oaancing dan besok aku akan mengajakmu memancing aku membakar ikan yang kita dapatkan..."
"Wah memancing ya, pasti seru sekali, sudah lama saya tidak memancing.. "
"Ada banyak ikan besar disini, aku yakin kau pasti menyukai nya.. "
Mereka kembali melanjutkan makan. Setelah selesai, Ethan bergegas mengambil piring dan gelas untuk dia cuci tetapi Leona menghalangi nya dan meminta Ethan agar pergi mandi Karena dia yang akan membereskan meja makan. Ethan pun meninggalkan Leona dan pergi ke kamar mandi. Senang karena Leona menghabiskan makanan buatannya dan perempuan itu tadi sangat menikmati nya.
***
Tengah malam Leona tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Entah kenapa, dia tidak tahu dan tiba-tiba saja terbangun. Suasana sangat sepi, dan sengaja lampu tidak di matikan semua nya. Tersisa satu lampu di bagian tengah.
Leona turun dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa. Tempat dimana saat ini Ethan sedang tertidur. Televisi masih menyala, sedangkan yang menontonnya sedang terbaring dalam keadaan tidur. Leona terkekeh dan mencela Ethan. Lelaki itu menonton televisi sampai tertidur. Dan kali ini justru bukan televisi nya yang di tonton, melainkan televisi yang menonton Ethan tidur.
Tampak Ethan memeluk tubuhnya sendiri. Terlihat kedinginan. Leona yang menyadari nya pun bergegas mengambilkan lelaki itu selimut, dan menyelimuti nya agar Ethan bisa istirahat dengan nyaman dan nyenyak.
Leona duduk di atas meja, memandang wajah damai Ethan. Lagi-lagi dia melakukan ini. Melihat Ethan tidur, memandangi wajah tampan lelaki itu sekaligus mengagumi nya dalam hati. Leona merasa nyaman sekali.
Sejak awal bertemu dengan Ethan, berbicara dan lelaki itu berani memarahi nya, Leona merasa bahwa dia harus bisa bertemu lagi lelaki ini di lain kesempatan. Dan ketika untuk kedua kalinya bertemu, Leona sudah memutuskan bahwa Ethan harus berada di dekatnya bagaimana pun caranya. Sampai akhirnya dia berhasil menjebak Ethan dan laki-laki ini akhirnya bisa dekat dengannya.
Entah bagaimana dan entah apa yang terjadi, Leona merasa bahwa dirinya begitu terobsesi dengan Ethan. Selalu ingin dekat. "Aku harus memikirkan banyak cara untuk bisa membuatmu selalu bersamaku... Tetapi saat ini hatimu kau berikan pada perempuan lain, entah kenapa aku merasa tidak senang dengan hal itu..." Gumam Leona dalam hati.