My Bodyguard My Obsession

My Bodyguard My Obsession
Kita akan Ke Seattle



Disaat Revan baru saja keluar dari ruangan Vino, ternyata Vitto juga datang. "Wah kebetulan kau datang. Aku punya berita bagus sekali." Ucap Vino.


"Berita bagus??? Tentang apa???" Tanya Vitto.


"Duduklah...!!!"


Vitto kemudian duduk di sofa berhadapan dengan adiknya. "Katakan ada berita apa???"


"Revan baru saja memberitahu ku, dia mendapat informasi dari kantor kita di Oregon bahwa perusahaan milik orang tua Leona saat ini sedang butuh bantuan untuk take over. Mereka kesulitan mencari partner perusahaan yang bersedia membantu mereka disana."


"Leona????? Leona kekasihnya Naufal???"


"Ya, benar sekali. Perusahaan itu saat ini mengalami kesulitan keuangan, bahkan melakukan PHK pada sebagian staff nya karena tidak mampu menggaji mereka, keuangannya sangat buruk, padahal mereka punya staff yang kompeten. Dan perusahaan itu sudah tidak lagi di pimpin oleh Leona, ini berkasnya, bacalah." Vino memberikan berkas pada Vitto. "Leona sudah meninggalkan perusahaan itu sekitar setengah tahun yang lalu, aku rasa bersamaan dengan permasalahan yang sebelumnya terjadi pada Naufal. Dia melepaskan saham miliknya kepada Mama nya. Kau baca sendiri lah berkas nya."


Vitto membaca berkas-berkas itu dan Vino membiarkan Kakaknya berkonsentrasi membaca nya.


Sampai kemudian Vitto menutup dan meletakkan berkas itu di meja. "Apa kau berniat untuk bantuan pada mereka???" Tanya Vitto.


"Ya kak, jika mereka setuju tentu kita harus datang kesana dan melakukan peninjuan awal sebelum memutuskan. Akan tetapi aku tidak 100% persen berniat membantu mereka."


"Tidak 100%, maksudnya???"


"Kita hanya akan memberikan harapan palsu kepada mereka. Aku ingin membuat mereka mengemis kepada kita agar kita membantu mereka, karena aku ingin mereka tahu sedang berhadapan dengan siapa mereka saat ini. Mereka sudah berani menghina dan merendahkan harga diri anakku dan saat ini aku akan menunjukkan pada mereka bahwa anakku punya harga diri dan kehormatan yang tidak akan bisa mereka jatuhkan lagi seperti sebelumnya, aku ingin Naufal juga pergi bersama kita kesana nanti."


"Ke Seattle????" Tanya Vitto memastikan.


"Ya, ke Seattle untuk melakukan peninjauan kepada perusahaan Haidee Enterprises."


"Memangnya kau pikir Naufal akan mau jika kita mengajaknya kesana??? Maksudku dia kan tidak mau menemui Leona."


"Kakak, Leona sudah tidak ada di perusahaan itu, dia sudah menyerahkan sisa kepemilikannya kepada Mama nya lagipula Leona juga tidak akan ada di perusahaan itu, Naufal tidak akan bertemu dengan Leona. Dan kita juga tidak akan memberitahu Naufal kalau kita akan mengajaknya ke Haidee Enterprises. Kita hanya akan mengatakan kalau kita akan melakukan peninjauan untuk take over dan juga berkunjung ke kantor kita di Oregon. Naufal pasti akan mau. Kita tidak perlu memberitahu nya jika kita akan ke Seattle atau ke Haidee Enterprises."


"Lalu apa yang akan kau lakukan nantinya, apa rencana mu???"


"Aku meminta Revan mengubah beberapa data perusahaan dari namaku menjadi nama Naufal, termasuk perusahaan di Oregon, ya ini untuk pancingan dan nanti pasti juga tetap akan aku berikan pada Naufal. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa anakku saat ini bukanlah Ethan si Barista, atau bodyguard atau pengantar pizza lagi, tetapi sekarang dia adalah Naufal Prakarsa pewaris dari Prakarsa Corp. dan seluruh jaringannya di beberapa negara. Membungkam mulut para cecunguuk itu adalah rencana ku sejak awal dan aku selama ini terus memantau perusahaan mereka yang sudah aku duga sejak awal bahwa pasti akan mengalami penurunan, mengingat siapa yang mengurusnya saat ini. Aku pun tahu bagaimana reputasi Leona saat memimpin disana, dan aku acungi jempol, dia perempuan yang cerdas sekali, tetapi saat ini perusahaan itu di tangan orang yang salah, maka jadilah seperti ini."


"Bagaimana jika Naufal bertemu dengan Leona??? Bukankah kita justru akan membawanya mengingat lagi tempat itu, dimana sekarang dia sedang berusaha untuk melupakan masalalu nya dengan Leona."


"Aku tidak pernah ada masalah dengan Leona kak, meski aku belum mengenalnya dan hanya sekali bertemu saat dia di bawa oleh kedua pria itu, serta bagaimana Naufal terlihat begitu mencintainya juga bagaimana Leona mencintai Naufal tanpa melihat baground Naufal seperti apa mengindikasikan bahwa Leona juga memiliki hati yang tulus untuk Naufal, sehingga aku merasa bahwa cinta yang mereka itu murni. Aku saat ini menghormati keputusan Naufal jika dia menginginkan untuk melupakan Naufal tetapi sampai detik ini aku masih melihat di mata nya bahwa dia masih memiliki cinta yang sangat besar pada Leona. Jika nanti mereka bertemu, aku tidak akan menghalangi nya, itu justru bagus sekali. Apa yang di inginkan orang tua jika bukan kebahagiaan untuk anak-anak mereka, Jika kebahagiaan Naufal ada pada Leona, ya mau bagaimana lagi??? Aku akan mendukungnya. Arindah sudah sering mengatakan pada Naufal agar bisa menepiskan ego nya dan menghubungi Leona, tetapi anakku itu terlalu keras kepala, dan tetap dengan pendiriannya."


"Aku berpikir slama ini kau marah kepada Leoa." Gumma Vitto.


"Marah??? Kenapa aku harus marah kepada perempuan yang mencintai anakku??? Tidak kak.. Aku memang pernah mengatakan aku bisa mencari gadis untuk Naufal yang lebih baik daripada Leona, tetapi jika gadis itu ternyata tidak di cintai oleh Naufal ya percuma saja. Kebahagiaan Naufal adalah hal yang paling utama saat ini."


Vitto tersenyum. "Itu memang benar. Jika kau ingin mengajak Naufal ke Seattle itu terserah padamu, aku tahu kau bisa menghandle semua dengan baik. Lalu bagaimana pengaturannya, kapan rencana nya???"


"Aku meminta Revan mengurus semua nya seperti biasa, menawarkan bantuan pada mereka dulu, mengingat perusahaan kita disini, jadi mereka pasti tidak akan mengajukan pada kita, tetapi kita aksn mengajukan diri sesuai prosedur perusahsaan kita, jika setuju kita tidak akan menunggu lebih lama, kita akan langsung kesana melakukan peninjauan."


"Oke baiklah, atur saja dengan baik."


"Kakak jangan bilang pada Naufal ya kalau kita akan ke Seattle."


Vitto tersenyum. "Tentu saja tidak Vin. Kau saja yang mengatakan kepadanya dengan alasan yang sudah kau rencanakan, aku akan menurut dan ikut saja denganmu."


"Oke kalau begitu."


****


"Tentu saja, silakan Pa." Naufal tersenyum dan berdiri dari kursi putarnya.


"Duduklah di kursi mu." Ucap Vino membuat Naufal kembali duduk. Vino menghampiri putranya dan duduk di kursi di depan meja Naufal.


"Kenapa Papa kesini??? Kenapa tidak memanggilku saja, aku bisa ke ruangan Papa."


"Papa ingin menemuimu, lagipula hanya butuh bebrapa detik untuk ke ruanganmu." Vino tersenyum. "Papa ingin memberitahumu, perusahaan kita yang di Oregon menerima tawaran untuk mentake over perusahaan yang sedang dalam masalah, Papa inginkau ikut dengan Papa dan Uncle Vitto nanti pergi kesana, supaya kau juga bisa belajar lagi bagaimana Papa melakukan peniinjauan untuk proses tak over perusahaan di luar negeri, kau juga baru sekali kan Papa ajak untuk negosiasi dan peninjauan proses Take Over disini, ini ada kesempatan bagus jga di luar negeri dan Papa ingin melibatkanmu. Bagaimana kau mau???" Tanya Vino.


Naufal terdiam untuk beberapa saat. Ke Oregon, kota itu tidak jauh dari Seattle. Ya meskipun tidak dekat juga, butuh sekitar 6 sampai 7 jam perjalanan jika menggunakan Mobil. "Hanya ke Oregon saja kan Pa???" Tanya nya meragu.


Vino menggelengkan kepala nya. "Kita akan pergi ke Portland juga, dulu Papa pernah bilang padamu kalau Papa ingin pergi ke panti asuhan tempatmu tinggal dulu, jadi kita akan ke Portland juga untuk berkunjung kesana, kau pasti juga sangat merindukan pengasuhmu dan juga adik-adikmu kan???"


Naufal tersenyum. "Papa ingin ke Portland juga???"


"Iya, Papa sudah berjanji akan kesana denganmu, Papa punya hutang budi pada pengasuh mu disana. Mereka sudah merawat dan membesarkanmu dengan sangat baik, jadi Papa ingin datang dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Bagaimana??? Kau ingin pergi dengan Papa dan Uncle Vitto nanti??? Papa juga akan mengajak Mama kalau dia sedang tidak sibuk, kita bisa pergi bersama-sama."


"Iya Pa, tentu saja aku ingin ke Portland dan bertemu semua pengasuh dan anak-anak disana. Sejak aku di Washington dc sampai sekarang aku belum bertemu dengan mereka. Kapan kita akan pergi???"


"Jika perusahaan itu menerima tawaran kita, maka kita akan langsung pergi kesana. Ya sudah, Papa harus pergi meeting, lanjutkan pekerjaanmu." Vino beranjak dan meninggalkan ruangan kerja Naufal. Dia berhasil meyakinkan putranya. Vino memilih untuk melibatkan panti asuhan sebagai alasannya agar Naufal setuju dan itu berhasil. Tentu bukan sekedar menjadikan alasan saja, tetapi Vino memang tetap akan mengunjungi panti asuhan tempat Naufal di rawat dulu.



Keesokan harinya.


Nyonya Haidee sedangdudk di kursi kerja yang ada di ruangannya yang ada kantor nya yang saat ini sedang dalam kepemimpinannya bersama dengan Steven. Perusahaan peninggalan suaminya saat ini dalam keadaan yang sangat tidak baik. Semua kacau sekali karena Steven tidak serius mengelola nya, dan terus menggunakan keuangan perusahaan untuk bersenang-senang. Sementara dia tidak punya hak sepenuhnya pada perusahaan ini, karena tentu hanya setengah kepemilikannya, setengahnya lagi milik Steven karena dulu dia sudah menjualnya pada Steven. Dan saat ini Nyonya Haidee keteteran untuk mencari perusahaan yang mau membantu nya. Nyonya Haidee benar-benar pusing di buatnya. Sejak kepergian Leona, semuanya jadi berantakan.


Dia pernah datang untuk menemui Leona di Portland, tepatnya di restoran milik Leona. Tetapi usaha nya gagal karena Leona menolak untuk bertemu dan berurusan dengannya. Padahal dia ingin mengajak Leona kembali lagi mengurus perusahaan agar perusahaan bisa terselamatkan, tetapi Leona sama sekali tidak merespon keinginannya untuk bertemu. Leona saat ini sudah menjalani harinya dengan membuka restoran di kota itu.


Nyonya Haidee benar-benar pusing sekali akhir-akhir ini dan uangnya juga sudah menipis. Tetapi perusahaan dalam keadaan yang begitu buruk saat ini.


"Selamat pagi Nyonya Haidee." Seorang perempuan masuk ke ruangan Nyonya Haidee. Dia adalah sekretarisnya.


"Ada apa???" Tnya Nyonya Haidee ketus.


"Baru saja saya menerima telepon, ada perusahaan dari Oregon yang bersedia untuk melakukan take over pada perusahaan kita."


Nyonya Haidee terlonjak. "Apa....????" Seru nya.


"Iya Nyonya Haidee, mereka bersedia melakukannya dan berniat untuk datang melakukan peninjauan."


"Apa nama perusahaannya???"


"NP COMPANY. Perusahaan itu adalah salah satu jaringan perusahaan milik Prakarsa Corporate, salah satu perusahaan besar dari Indonesia."


"Dari Indonesia???"


"Iya. Prakarsa Corporate salah satu perusahaan besar di Indonesia, dan masuk dalam 50 perusahaan terbaik di Asia. Jaringan nya sangat banyak di luar negeri, bahkan di Amerika mereka punya 6 Kantor salah satunya di Oregon. Mereka sering melakukan take over pada perusahaan yang bermasalah, dan perusahaan itu 80 persen berhasil bangkit dan kembali seperti semula. Saya tadi langsung melakukan riset terhadap perusahaan itu, dan memang sangat bagus sekali."


"Siapa pemiliknya???"


"Namanya Naufal Prakarsa, usia nya masih muda, sekitar 28 tahun. Dan dia adalah cucu dari pendiri perusahaan itu. Dia baru di angkat menjadi Ceo nya, Ayahnya mempercayakan itu padanya, dan Ayahnya juga masih membantunya untuk saat ini sebelum nanti dia memutuskan untuk pensiun, tetapi semuanya sudah menjadi tanggung jawabnya saat ini.  Jika kita menerima tawaran ini, mereka siap untuk datang kesini dan melakukan peninjauan. Saya rasa kita tidak perlu meragukan lagi, itu perusahaan yang sangat bagus, kita bisa tertolong oleh mereka. Bagiamana menurut anda???"


Nyonya Haidee terdiam untuk sesaat. "Oke baiklah, terima tawaran mereka, kita tidak punya pilihan lain. Jangan dnegarkan Dteven, katakan iya. Aku sudah cukuo pusing dengan keadaan ini."


"Baiklah, saya akan menghubungi mereka. Saya permisi."