My Bodyguard My Obsession

My Bodyguard My Obsession
Washintong DC



4 bulan kemudian


"Ethan ini pesanannya dan Ini alamatnya tiga pesanan yang harus kau antarkan semuanya..." Ucap seorang perempuan sembari menyodorkan tiga kotak pizza kepada Ethan.


Ya, Ethan saat ini sedang bekerja di sebuah restoran pizza dia sudah bekerja selama hampir 3 bulan terakhir ini dan Ethan sekarang tinggal di Washington DC setelah ia pergi meninggalkan Seattle 4 bulan yang lalu.


Ethan telah meninggalkan banyak sekali kenangan di kota itu, meninggalkan teman-temannya juga meninggalkan orang yang sangat dicintainya yaitu Leona. Ethan sengaja pergi begitu jauh sekali dari Leona karena ia ingin Leona bisa melupakannya dan menjalani kehidupan yang baru tanpa dirinya. Ethan tidak ingin menjadi beban untuk kehidupan Leona, karena sejak awal Leona memiliki begitu banyak hal yang harus Leona jaga. Ethan tidak mau hanya karena dirinya Leona menjadi kehilangan segalanya.


Pada akhirnya Ethan memilih Washington DC menjadi tempat persembunyiannya, jaraknya yang begitu jauh dari Seattle hingga ribuan mil ujung Amerika sebelah barat sampai ke ujung Amerika sebelah timur. Bahkan dalam perjalanannya menuju Washington DC, Ethan harus menempuhnya selama berhari-hari dengan mobil karena Ethan sengaja melakukan perjalanan dengan mobil dan tidak menggunakan pesawat ataupun kereta. Ethan juga sebenarnya sengaja menjadikan Los Angeles sebagai Kota tujuan pertamanya. Ethan tahu bahwa Leona dan Kaia akan sangat mudah mendeteksi keberadaannya, jika ia melakukan perjalanan dengan pesawat, itu sebabnya Ethan memilih Los Angeles sebagai tujuan pertamanya. Lalu setelah dari Los Angeles, Ethan pergi ke kota lainnya lalu berganti ke kota lainnya lagi, sampai kemudian ia akhirnya mencari penyewaan mobil untuk mengantarnya sampai ke Washington DC dan perjalanan itu butuh berhari-hari hampir satu minggu itu karena beberapa kali sebelum ke Washington Dc Ethan berganti mobil di mana ketika sampai ke kota yang satunya, Ethan akan mencari mobil lainnya untuk membawanya ke kota yang lain. Itu dilakukannya beberapa kali sampai kemudian Ethan benar-benar mencari mobil yang bisa membawanya ke Washington DC.


Tentu saja, cara itu harus Ethan lakukan untuk menghalangi pergerakan yang mungkin saja dilakukan oleh Leona dan Kaia untuk menemukannya. Benar saja ternyata cara itu cukup jitu untuk menghilangkan jejak sehingga Ethan saat ini benar-benar sudah sangat nyaman sekali tinggal di Washington DC dan dia menikmati pekerjaan barunya sebagai seorang pengantar pizza.


Dan selama 4 bulan ini juga Ethan sama sekali tidak melakukan transaksi apapun di rekeningnya, baik itu melakukan pengambilan uang atau menambahkan uang. Laki-laki itu tahu bahwa dia harus benar-benar menjaga keberadaannya saat ini dari Leona ataupun Kaia karena bisa saja jika dia melakukan transaksi, mereka berdua bisa mendeteksi lokasi di mana dia melakukan transaksi itu dan pasti akan menemukan keberadaan Ethan karena hal itu sangat mudah dilakukan oleh Kaia.


Sebelum meninggalkan Seattle, Ethan sudah memikirkan segalanya dengan sangat baik, bahkan Ethan juga sudah mengambil uangnya di tabungan senilai 7000 dolar ketika dia masih berada di Los Angeles tak lama setelah dari bandaa. Uang itu Ethan gunakan untuk kebutuhannya selama perjalanan dari Seattle ke Washington DC. Uang yang cukup banyak. Ethan mengambil resiko yang cukup tinggi dengan membawa uang tunai sebanyak itu, akan tetapi Ethan sebisa mungkin harus bisa menjaga uangnya dengan baik supaya tidak hilang dan uang itu bisa dia manfaatkan sampai dia mendapatkan pekerjaan yang baru. Sehingga dia tidak kekurangan uang dan tidak mengambil uang tabungannya, karena itu bisa saja dilacak oleh Leona ataupun Kaia. Beruntungnya uang itu lebih dari cukup untuk kehidupannya selama satu bulan sampai ia mendapatkan pekerjaan dan gaji, sehingga Ethan benar-benar tidak menggunakan uang yang ada di tabungannya sama sekali.


Sementara itu di tempat lain


Leona menutup laptopnya cukup kasar lalu dia menghela nafasnya panjang, menyandarkan punggungnya di kursi putarnya. Leona menatapnya langit-langit ruang kerjanya dan memijat kepalanya. Sekarang tubuhnya terlihat semakin kurus dan Leona tidak lagi peduli dengan penampilannya, ia benar-benar kacau setelah Ethan meninggalkannya dan bahkan sampai saat ini Leona tidak tahu Ethan ada di mana. Dia sudah mengerahkan sekuat tenaganya untuk mencari keberadaan Ethan tetapi tidak ada informasi apapun tentang Ethan. Dan dia juga selalu berharap ada suatu keajaiban untuk ia bisa menemukan Ethan. Leona sangat berharap bahwa Ethan akan melakukan transaksi di rekeningnya sehingga ia bisa melacak dimana keberadaan Ethan melalui rekening itu. Dimana Ethan melakukan transaksi pengambilan uang ataupun penambahan uang ke dalam rekeningnya. Sayangnya itu sama sekali tidak pernah terjadi, sampai sejauh ini Leona berpikir bahwa sepertinya Ethan memang sengaja melakukan hal itu agar tidak bisa dilacak dan hanya terakhir itu Ethan mengambil cukup banyak uangnya lalu setelahnya tidak ada lagi. Hal itu pasti Ethan lakukan untuk persediaannya supaya dia tidak menggunakan uang di dalam tabungannya. Leona benar-benar kacau sekali sejak kepergian Ethan dia tidak bisa melupakan lelaki yang sangat dicintainya itu. Leona tidak pernah berhenti berharap bahwa ia akan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengetahui keberadaan Ethan saat ini.


Dan mengenai pembagian warisan itu memang ternyata benar bahwa sebelum meninggal, Tuan Haidee telah menandatangani surat pembagian warisannya dan Leona memang hanya mendapatkan bagian yang lebih sedikit dibanding Mamanya. Yaitu 51% banding 49%. Itu adalah sebuah fakta, hanya saja sampai saat ini Leona tidak tahu sama sekali bagaimana hal itu bisa terjadi karena Leona sangat yakin bahwa Papanya tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu, membagi perusahaan serta hal lainnya kepada Mamanya dan surat yang pernah diberikan Mamanya kepada Ethan itu memang benar-benar ditandatangani oleh Papanya. Itu adalah sebuah fakta bahkan sampai saat ini pun Leona tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi, entah apa yang sudah dilakukan Mamanya sebelum Papanya meninggal sehingga muncullah surat itu.


Dan yang terjadi sekarang adalah 51% yang dimiliki Mamanya telah dijual kepada Steven sehingga saat ini Steven pun memegang alih perusahaan dan jabatan Steven satu tingkat lebih tinggi daripada Leona saat ini. Leona bukan lagi menjadi CEO dari Haidee Enterprises  dan lagi-lagi, nyonya Haidee memberikan penawaran yang konyol kepada Leona. Dimana jika Leona mau menerima pertunangan dengan Steven maka Steven akan memberikan penuh tanggung jawab perusahaan itu kepada Leona seperti semula.


Tentu saja Leona menolaknya, dia tidak pernah memiliki keinginan untuk memiliki hubungan dengan Steven sehingga dia tetap tidak mau dipaksa oleh Mamanya untuk menikah dengan Steven. Lebih baik Leona mempertahankan apa yang dimilikinya saat ini, dibanding dia harus menikah dengan laki-laki seperti Steven. Leona juga tidak masalah jika dia harus turun dari posisinya sebelumnya, meski berat tapi Leona mencoba untuk bertahan.


Sakit hati tentu saja. Leona sangat sakit hati karena Ethan memilih pergi untuk meninggalkannya agar Mamanya tidak menjual perusahaan itu kepada Steven, tetapi kenyataannya perusahaan itu tetap dijual kepada Steven meskipun Ethan sudah menjauh darinya. Leona tentu saja marah pada awalnya tetapi apa yang bisa dia lakukan, ingin menuntut juga dia tidak bisa karena surat itu memang nyata-nyata ditandatangani sendiri oleh Papanya.


Itu juga alasan Leona kenapa sampai saat ini dia terus berusaha untuk menemukan Ethan karena Ethan ada atau tidak bersamanya, Leona sudah tidak memiliki hak sepenuhnya atas perusahaan itu. Jadi bagaimanapun juga dia harus bisa menemukan Ethan dan kembali lagi bersama dengan Lelaki itu. Bagaimanapun Leona tidak peduli lagi, apa yang terjadi nanti dia hanya ingin bertemu dan bersama Ethan seperti dulu.


Leona benar-benar menderita dan hidupnya berubah. Dia kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya, dia juga kehilangan posisi yang sudah dia perjuangkan selama bertahun-tahun. Sekarang Leona hanya punya Kaia yang menjadi orang yang paling dia percaya dan tempatnya untuk meluapkan segala kesedihannya. Leona terkadang menangisi keadaannya yang seperti saat ini, Mamanya benar-benar tidak memiliki hati sama sekali serta perjuangan Ethan untuk memutuskan meninggalkannya itu sama sekali tidak ada gunanya, karena keadaannya pun tetap sama. Leona sangat menyesal kenapa dia harus terlahir dari seorang ibu yang jahat seperti Mamanya, yang selalu merampas kebahagiaan anaknya sendiri sekaligus menghancurkan apa yang sudah anaknya perjuangkan selamat berapa tahun.


Leona terlonjak dan dari lamunannya. Ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya dari luar Leona pun mempersilakan masuk dan ternyata itu adalah Kaia.


"Sore Na??? Kenapa kau dia masih diam saja di sini sudah jam segini, kau harus bersiap untuk pulang." Ucap Kaia


"Ya sebentar lagi.."


Kaia tersenyum dan duduk di kursi berhadapan dengan sahabatnya itu. Kaia sangat tahu, hampir setiap hari Leona selalu menangis, menangis karena dia sangat merindukan Ethan dan Kaia juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Leona mencari Ethan tetapi sayangnya hasilnya sampai saat ini Ethan tidak ditemukan jejaknya sama sekali. Akan tetapi Kaia tidak akan berhenti untuk tetap membantu Leona bisa menemukan Ethan. Karena kebahagiaan yang dimiliki oleh Leona saat ini hanyalah bisa bersama Ethan. Leona telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya dan harapan Leona saat ini hanyalah itu saja.


"Nanti malam mantan asisten pribadi Tuan Haidee ingin bertemu denganmu dia ingin membicarakan sesuatu kepadamu."


"Sesuatu tentang apa???" Tanya Leona.


Kaia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu pastinya apa. Tetapi dia ingin bertemu denganmu katanya dia sudah sejak lama ingin berbicara ini kepadamu tetapi dia tidak pernah berani jadi nanti malam dia ingin meminta bertemu denganmu untuk membahas sesuatu yang penting mengenai hal yang terjadi sebelum Tuan Haidee meninggal dunia serta ada beberapa hal penting lainnya yang ingin di bicarakan."


"Baiklah.... Atur saja kalau begitu, aku akan menemuinya ya. Kau boleh mengundangnya ke apartemen ku saja sekaligus makan malam bersama, aku rasa apartemenku lah ke tempat yang paling aman dibandingkan harus mengobrol di luar."


"Baiklah, aku akan mengaturnya dan aku akan memberitahunya nanti, sekarang bersiaplah, kita turun dan pulang, tidak baik kalau terlalu lama-lama di sini, yang lainnya juga sudah pulang ayo!!!!"


★★★


Beberapa jam kemudian


Di tempat lain, Rana sedang meletakkan sarapan yang sudah dibuatnya untuk suaminya serta putri nya juga keponakannya yang tadi malam menginap di sini. Rana membuat nasi goreng sebagai sarapan untuk pagi ini karena Sanne yang meminta untuk dibuatkan nasi goreng kemarin.


"Pagi sayang....!!!" Vitto turun dan menghampiri istrinya yang sibuk di meja makan, dia kemudian mengecup pipi Rana.


"Pagi juga Suami ku,  hari ini sarapannya nasi goreng karena Putri kita yang memintanya, tidak apa-apa kan???"


"Tidak masalah sama sekali, aku bisa makan apapun..."


Tak lama Sanne dan Vineet juga turun dari kamar, mereka langsung menuju ke ruang makan di mana orang tua Sanne sudah menunggu. "Selamat pagi Mama Papa...!!" Sapa Sanne.


"Selamat pagi uncle aunty..." Sapa Vineet kepada Om dan tantenya.


"Selamat pagi untuk kalian berdua. Ayo duduk dan kita sarapan bersama..!!!" Perintah Rana. Mereka bergantian mengambil nasi goreng dan menikmati sarapan itu.


"Oh iya, aku semalam berbicara dengan Aditya kalau kita akan ke Washington DC dan Aditya menyarankan agar kita tidak perlu membooking hotel dan tinggal saja di rumahnya Kyros dan Gienka, mereka baru saja dibelikan rumah oleh Aditya dan juga Ariel, sudah tidak tinggal di apartemen lagi katanya. Jadi itulah kenapa Aditya menyarankan kita nanti tinggal saja di sana, tidak perlu di hotel." Ucap Vitto memberitahu istri dan putrinya.


"Kalian mau ke Amerika??? Dalam rangka apa??" Tanya Vineet.


"Papa ada pekerjaan di sana dan mengajak aku dan Mama, ya sekaligus Kami pergi liburan juga, kita pergi sekitar  dua minggu." Sahut Sanne.


"Oh Uncle Vitto ada pekerjaan di sana ya???"


Vitto menganggukkan kepalanya. "Iya sayang, Papamu yang mengirim Uncle untuk menghadiri beberapa pertemuan di Washington DC. Ya perjalanan bisnis tetapi karena kita juga sudah tidak lama pergi liburan ya uncle mengajak Aunty mu dan juga Sanne untuk ke sana."


Vineet melempar senyum tipis dia sendiri juga sudah lama tidak pergi liburan ke luar negeri, terakhir saja itu tahun lalu bersama dengan kedua orang tuanya tentunya. Dan Papanya sendiri juga sangat sibuk sehingga mereka belum sempat untuk pergi liburan lagi sedangkan Vineet juga tidak pernah diizinkan untuk pergi liburan sendirian atau bersama teman-temannya oleh kedua orang tuanya, terutama Papanya. Jika Vineet ingin pergi maka harus bersama dengan mereka berdua, hal itu karena orang tua Vineet tidak ingin terjadi sesuatu kepada nya seperti halnya apa yang pernah terjadi kepada kakaknya vineet yang sampai saat ini tidak pernah ditemukan keberadaannya.


Vineet menunduk dengan sedih ingin sekali rasanya dia ikut om dan tentunya juga Kakak sepupunya pergi liburan bersama.


Rana dan Vitto menyadari kesedihan yang saat ini dirasakan oleh keponakannya. Mereka berdua saling melempar pandangan. Begitu juga dengan Sanne yang menoleh dan menyadari ada sesuatu yang saat ini bergulat di hati adik sepupunya itu. Sanne tahu bahwa Vineet ingin sekali pergi jalan-jalan tetapi tentu untuk mendapatkan izin dari kedua orang tuanya itu akan sangat sulit sekali.


Vineet mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke Vitto. "Uncle, aku boleh ikut tidak pergi dengan kalian, sudah lama sekali tidak pergi liburan karena Papa sangat sibuk dan belum ada waktu untuk mengajak kami pergi sedangkan aku kemarin juga sibuk mengerjakan tugas akhir, tapi kan itu sudah selesai dan aku juga butuh merefresh otak ku. Kalau aku ikut boleh kan ke Washington Dc bersama kalian???" Tanya Vineet pada Vitto.


Vitto tersenyum. "Tentu saja Sayang. Kalau kau ingin ikut boleh saja, tetapi tentu kalau harus berbicara dulu dengan orang tuamu, ya kita sendiri  tau kan Papamu seperti apa, kalau Uncle dan Aunty dan juga Snne tentu akan fine-fine saja kalau kau ingin ikut."


Vineet tersenyum. " Ya, kalau Uncle dan Aunty serta kak Sanne mengizinkan aku ikut, aku pasti akan memberitahu Papa dan juga Mama. Aku akan meminta izin ke mereka, tapi kalian juga harus membantuku untuk meyakinkan mereka supaya bisa mengizinkanku pergi bersama kalian, karena kalau aku tidak dibantu ya pasti akan sulit mendapatkan izin dari Papa." Gumam Vineet.


Vitto menoleh ke arah Rana yang ada di sebelahnya. Istrinya itu tersenyum tipis kemudian memejamkan kedua matanya seolah memberikan isyarat kepada suaminya agar suaminya mau membantu Vineet untuk mendapatkan izin dari Vino agar bisa pergi dengan mereka ke Washington DC.


"Baiklah kalau begitu, Uncle akan coba bicara dengan Papamu dan membantu mu meminta izin darinya tetapi balik lagi semua tergantung dari dia, kalau dia tidak mengizinkan??? Ya mau bagaimana lagi sayang, tapi Uncle akan usahakan supaya dia mau mengijinkannya. Uncle juga akan bicara dengan Mamamu karena biasa dia yang paling bisa meluluhkan hati Papamu."


Vineet tersenyum lebar. "Iya... Iya uncle, aku akan meminta izin pada Papa dan Mama, terima kasih Uncle sudah mau membantuku."


"Iya sayang.. Sekarang habisknan sarapanmu..."