
"Tidak apa-apa... Sudah biasa kalau para gadis bergosip jika sudah bertemu, ayo kita mulai makan malamnya.!" Ucap Vino. Dia tidak mau menanyakan perihal apa yang di lihatnya tadi di kamar Vineet. Vino tidak ingin membahas hal yang pada akhirnya selalu dengan kesedihan karena memang sudah bertahun-tahun mereka mengalami kesulitan seperti ini. Vino juga tidak bisa menghibur kegundahan Vineet, karena pembahasan mengenai Naufal hanya akan jadi pembahasan kosong yang tidak memiliki kepastian. Sedih, sudah tentu. Vino juga memendam kesedihan yang begitu mendalam sama seperti yang di rasakan oleh istrinya, hanya saja Vino selalu berusaha menguatkan diri. Bahkan dalam kesendiriannya seperti saat berada di kantor atau ruang kerja nya, Vino selalu menangis diam-diam ketika mengingat Naufal yang sangat dia cintai dan rindukan.
"Kau sudah memberitahu Mama atau Papamu Ne kalau akan menginap disini.???" Tanya Vino.
"Sudah uncle, tadi Papa yang menyuruh supir untuk mengantarku."
"Baguslah kalau kau sudah meminta ijin mereka."
"Besok Uncle dan Aunty harus pergi ke luar kota, untuk menghadiri pernikahan rekan bisnis uncle di Lombok, kau temani Vineet ya selam kami pergi???"
"Beres Uncle, tenang saja..!! Sanne juga tidak ada kesibukkan, jadi akan disini bersama Vineet."
"Uncle percaya padamu." Vino tersenyum.
"Papa, besok aku ke Bakery ya???? Suntuk di rumah.." Gumam Vineet.
"Ya sudah, tapi di Bakery saja atau ke rumah Sanne jika kau suntuk dan tidak ada kelas, jangan kemana-mana." Sahut Arindah.
"Iya Ma..."
***
Nyonya Haidi meninggalkan ruangan Leona kemudian Leona pun langsung menghubungi Kaia agar masuk ke ruangannya. Tak lama Kaia pun masuk ke ruangan Leona.
Kaia terlonjak. "Apa???? jadi Nyonya Haidee sudah tahu tentang hubunganmu dengan Ethan???"
"Iya, dia sudah tahu, tadi dia memberitahuku dan memarahiku, dia mengatakan aku sudah gila, tetapi masalahnya adalah dia sepertinya mengirim seseorang untuk memata-mataiku karena dia punya bukti-bukti fotoku dengan Ethan saat kami sedang pergi keluar, sepertinya ada orang yang selalu mengikutiku bersama Ethan, itu terlihat dari foto-foto itu dan foto itu juga diambil dari kejauhan."
"Aku sudah sering memperingatkanmu Na, supaya kau lebih berhati-hati lagi dan benar kan dugaanku bahwa Nyonya Haidee pasti suatu saat nanti akan tahu mengenai hubunganmu dengan Ethan."
"Mama juga tahu mengenai kehidupan Ethan tahu bahwa Ethan tumbuh dan besar di Panti Asuhan, sepertinya Mama tidak main-main dengan penyelidikannya itu bahkan mencari tahu tentang hal detail dari Ethan."
"Lalu sekarang kau akan bagaimana Na??? Apa yang akan kau lakukan???"
"Aku tidak tahu tetapi kita harus memikirkan bersama-sama dan cari solusi nya, aku hanya mengkhawatirkan Ethan, takutnya Mama melakukan sesuatu kepadanya, Mama punya banyak anak buah yang bisa dia suruh-suruh untuk melakukan sesuatu atau bisa saja Nanti Mama akan melakukan hal yang fatal yang bisa melukai Ethan. Aku butuh bantuanmu untuk memikirkan sesuatu mengenai hal ini."
Kaia diam dan tampak berpikir begitu juga dengan Leona. Dan tiba-tiba Leona ingat sesatu. "Astag...!!! jangan-jangan yang kemarin itu adalah ulah anak buah Mama...??"
"Kemarin??? Yang mana???" Tanya Kaia.
"Ethan, dia di pukuli beberapa orang kemarin. Jangan-janganitu orang suruhan Mama. Aku kemarin sempat curiga engenai apa yang terjadi dengan Ethan, hanya saja Ethan sepertinya tidak jujur padaku."
"Maksudmu yang tadi kau bilang jika Ethan di pukuli olehorang yang ingin merampoknya???" Tanya Kaia memastikan karena tadio pagi dia bertanya pada Ethan mengenai kenapa wajh Ethan lebam-lebam.
"Ya, aku sebenarnya tidak sepenuhnya percaya dengan cerita Ethan, dia pasti tidak ingin membuatku khawatir. Bagaimana ini Ky????" Leona mulai gelisah.