My Bodyguard My Obsession

My Bodyguard My Obsession
Tidak Memiliki Kenangan



"Berteman???" Tanya Ethan.


"Ya, berteman... Mulai sekarang kita adalah teman, kecuali saat ada di depan bodyguard yang lain...!! Kenapa??? Kau tidak mau berteman denganku???" Tanya Leona.


"Kenapa berteman???"


"Oh ayolah Ethan... Ada apa denganmu??? Memang ada yang salah jika kita berteman??? Aku dan Kaia juga berteman saat dia bekerja denganku... Kita berteman ya??? Aku merasa cocok denganmu, dan aku yakin kau adalah teman yang baik.. "


Ethan menatap bingung Leona. Akan tetapi dia melihat ketulusan di mata perempuan itu. Ethan pun membalas uluran tangan Leona. "Baiklah kita berteman... "


Senyum Leona langsung merekah menghiasi wajah cantiknya. "Thanks Ethan..... Mulai sekarang kita berteman, jadi jangan ada rasa sungkan lagi... Bersikap formal saat di depan yang lain, tetapi saat hanya ada kita berdua dan Kaia, bersikaplah biasa saja.. "


Ethan menganggukkan kepala nya. Dia tidak menyangka jika Leona akan bersikap sesantai ini dan mengajaknya berteman.


Ethan mengambil ikan dan menusukkan nya ke batang kayu agar mudah untuk di pegang dan di bila kita balik saat di bakar. Setelah selesai semuanya, Ethan mengambil kuas dan melumuri permukaan ikan itu dengan bumbu yang di buatnya. Kemudian membakarnya satu persatu.


"Aku penasaran dengan rasanya... " Ucap Leona sambil memegang barang kayu yang di tancapi ikan dan sedang membakarnya di api.


"Rasanya sangat enak, manis dan gurih... Anda pasti ketagihan.. " Ethan langsung menutup mulutnya menyadari bahwa dia ternyata masih terbiasa menggunakan panggilan formal pada Leona.


Leona menatap tajam Ethan. Dan lelaki itu langsung meralat ucapannya. Hal itu justru membuat Leona tertawa. Menyadari bahwa Ethan memang belum terbiasa. "Mulailah berusaha dari sekarang... "


"Maaf.. "


"It's okay... Oh iya, dari CV mu ku lihat kau dulu pernah berkuliah tetapi kenapa kau tidak memanfaatkan ilmu mu di bidang yang sama tetapi justru memilih menjadi barista... Jauh sekali.. Dan kau mengambil ilmu bisnis.. Aneh sekali.. "


"Aku sudah lama bekerja di kedai kopi itu, saat aku masih berkuliah, dan aku merasa nyaman disana jadi meskipun sudah lulus aku tetap tidak bergeming dari sana, dan kemarin ketika aku mencoba mencari pekerjaan di bisnis seperti perkantoran, mereka tidak ada yang menerima ku.. " Jawab Ethan.


Leona tersenyum. Tidak di Terima nya Ethan sebenar nya adalah karena ulahnya, dia yang mengirim orang-orangnya untuk menghalangi Ethan mendapatkan pekerjaan agar Ethan bisa bekerja dengannya sendiri. "Dan sekarang, rejekimu ada bersamaku.. " Gumam Leona. "Tetapi bagaimana menurutmu bekerja denganku???? Apa kau senang atau justru sebaliknya karena kau tidak punya pilihan pekerjaan lain???" Tanya Leona sambil membalik ikan yang di pegang nya.


"Senang karena aku mendapatkan pekerjaan akhirnya, karena aku sangat butuh uang untuk menunjang kehidupanku, aku juga punya tanggung jawab besar yang harus tetap aku lakukan, selain untuk kehidupanku sendiri, aku juga harus mengirim uang untuk panti asuhan tempat dimana dulu aku di besarkan, aku sudah berjanji akan menyisihkan sebagian uangku untuk mereka sebagai ungkapan rasa Terima kasihku kepada mereka yang sudah merawatku dengan sangat baik dan memberikan cinta nya kepadaku selama aku tinggal disana..." Ujar Ethan.


"Kau masih memikirkan mereka???"


Ethan menganggukkan kepala nya. "Mereka adalah prioritas utama ku, dan aku merasa aku bertanggung seumur hidupku kepada mereka.. "


"Woooww...!! Kau benar-benar luar biasa... Disaat seperti ini kau masih memikirkan itu.. "


Ethan membalik ikan yang di pegang nya dan memandang Leona dengan senyumnya yang menawan. "Apa yang bisa di lakukan oleh seorang yatim piatu seperti diriku selain membalas budi mereka yang berjasa dalam hidupku, jika kau punya orang tua untuk kau senangkan, berbeda dengan diriku, yang jadi prioritas ku adalah tempat dimana aku di besarkan.. "


"Itu benar sekali...!! Dan aku yakin mereka juga sangat bangga denganmu, karena kau sangat memperhatikan mereka... Hubunganmu dengan mereka juga pasti sangat baik.. Iya kan???"


Ethan mengangguk. Hubungannya dengan para pengasuhnya di panti asuhan memang sangat baik dan terjaga sampai saat ini. "Tetapi aku sudah lama sekali tidak datang kesana, mereka sering menanyakan kapan aku bisa datang karena anak-anak sangat merindukan aku.. "


"Kenapa tidak kesana???"


"Aku belum ada waktu.... Aku juga sangat kangen dengan mereka semua.. "


"Bagaimana kalau besok lusa kita pergi ke Portland, sekaligus jalan-jalan... Bagaimana???" Tanya Leona.


"Kau ingin kesana???" Tanya Ethan tidak percaya.


Leona mengangguk-anggukkan kepala nya. "Iya, aku ingin ke panti asuhan... Dulu aku sering ikut Papa, tetapi sejak aku sekolah Sma sampai sekarang, aku tidak pernah lagi ke panti asuhan... Kalau kau setuju aku akan menghubungi Kaia agar membeli banyak mainan, buku dan kebutuhan lainnya untuk di berikan kepada anak-anak.. Kau mau kan mengajakku kesana???"


"Tapi...???"


"Oh ayolah Ethan, kita tidak melakukan apapun disini, tidak ada salahnya bersenang-senang dengan anak-anak...."


"Baiklah jika itu yang kau inginkan... "


Senyum. Leona merekah, dan dia langsung menghubungi Kaia untuk membeli banyak mainan, buku hingga keperluan sekolah untuk anak-anak, juga mengirimkan bahan makanan. Leona bertanya mengenai berapa jumlah anak yang ada disana saat ini, untuk memastikan semuanya kebagian. Termasuk kebutuhan anak-anak balita seperti diapers, susu dan makanan bayi.


Setelah berbicara dengan Kaia, Leona kembali mengambil ikan dan membakarnya lagi di bara api. "Semua akan beres besok dan lusa kita akan ke Portland.. " Ucap Leona.


"Apa semua itu tidak berlebihan!???" tanya Ethan.


"Apa yang berlebihan, aku ingin membantu dan pasti sangat menyenangkan bisa bertemu banyak anak kecil.. Oh iya, kau belum menjawab pertanyaan kuis tadi.. "


"Apa kau senang bekerja denganku??? Dan apa yang kau rasakan selama bekerja denganku???"


"Aku tadi sudah menjawab bahwa aku senang karena bisa mendapatkan pekerjaan lagi.. "


"Lalu apa yang kau rasakan ketika bekerja denganku??? Kesal, lelah atau biasa saja???" tanya Leona lagi. "Jujur saja, kau pasti sangat membenci ku ya???"


"Itu benar, kau sangat menyebalkan, dan berkuasa.... Aku sangat membencimu, kau mengurung ku di apartemen mu, dan aku seperti orang bodoh yang harus selalu mengikuti kemauan ku, membayangkan bekerja dengan orang sepertimu pasti akan sangat menyebalkan, tetapi aku tidak punya pilihan lain.. Tetapi ternyata kau orang yang baik, dan tidak semenyebalkan sebelumnya.. Aku tidak tahu kenapa kau bersikap seperti itu, membuatku jadi berpikir buruk tentangmu padahal sebenarnya kau orang yang baik.. "


Leona tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Ethan dan tentu dia sudah menduga nya. "Maafkan aku atas sikapku, aku memang seperti itu, tidak suka jika ada orang yang membantah ku, itu berlaku sampai saat ini, dan melihat mu seperti itu, aku semakin tergelitik untuk mengerjai mu.. Hahaha... "


"" Entah apa motivasi mu bersikap seperti itu.. " Gumam Ethan.


Akhirnya semua ikan sudah selesai di bakar. Dan Leona serta Ethan mulai memakannya. Leona mengambil sedikit daging ikan dan memakannya. Selama membakar tadi bau nya sangatlah harum. Dan rasanya juga ternyata sangat enak sekali. "Enak... Astaga... Kenapa aku tidak terpikirkan membuat bumbu seperti ini sebelumnya. . " Ucap Leona.


"Kau bisa menghabiskan semuanya jika mau hehehe.. "


"Dan aku akan kesulitan tidur nanti karena kenyang, kita harus menghabiskannya berdua.. " Leona memandangi wajah tampan Ethan saat lelaki itu sedang makan. Entah kenapa dia merasa nyaman sekali bersama Ethan. Lelaki ini membuat mood nya semakin membaik.


"Jika boleh tahu, kenapa kemarin saat keluar kantor, kau terlihat kesal sekali lalu meminta di antar kesini???" Tanya Ethan tiba-tiba.


"Mama datang ke kantor dan membuat kekacauan denganku, itulah kenapa aku memutuskan untuk pergi dan tidak pulang ke rumah selama beberapa hari ke depan.. "


"Kau terlihat begitu membenci Mamu mu, apakah orang tua mu seburuk itu memperlakukanmu selama ini???"


Leona menggeleng. "Hanya Mama, tetapi tidak dengan Papa, aku sangat menyayanginya nya dan dia selalu mendukungku, tetapi lain dengan Mama yang selalu memaksakan kehendaknya agar aku menuruti nya..!" Leona melempar senyum dan menceritakan mengenai keluarga nya pada Ethan. Saat ini Papa nya sedang sakit, dan tidak boleh banyak beraktifitas sehingga Papa nya harus menghabiskan waktunya di rumah saja. Sudah beberapa tahun terakhir ini Papa nya sakit, selama itu pula Leona di bebankan untuk mengurus perusahaan milik keluarganya menggantikan Papa nya. Papa nya sebenarnya tidak meminta Leona untuk mengurus perusahaan itu dan ingin Leona melakukan apa yang dia suka. Akan tetapi berbeda dengan Mama nya yang mewajibkan Leona untuk masuk ke perusahaan dan menggantikan Papa nya dengan dalih tidak percaya pada orang lain untuk mengurusnya sehingga anggota keluarga harus tetap masuk dan mengurusnya.


Sejak saat itulah hidup Leona berubah, dia tertekan dengan apa yang di lakukannya, tetapi dia berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga apa yang menjadi usaha Papa nya selama ini. Meskipun berat tetapi Leona tetap bekerja dengan baik, dan itu membawa hasil yang luar biasa dimana di usia nya yang masih muda, dia berhasil mengembangkan perusahaan orang tua nya dengan sangat baik.


Semua semakin sulit ketika Mama nya terus ikut campur dan selalu mendorong Leona untuk dekat dengan laki-laki kaya yang menjadi pemimpin perusahaan-perusahaan besar. Hal itu membuat Leona semakin tidak nyaman dan selalu memberontak.


"Kenapa merasa tidak nyaman??? Bukankah itu bagus, jika Mama mu mengenalkanmu pada orang-orang hebat pemilik perusahaan???" Tanya Ethan.


Leona terkekeh. "Apa menurutmu aku tertarik kepada mereka??? Hahahah sama sekali tidak, kadang usia mereka sudah 40 tahun, terkadang ada yang 30 tetapi tengil dan tidak bisa apapun selain memanfaatkan kekayaannya, mereka juga suka bermain perempuan, selain itu mereka tidak memiliki komitmen yang bagus selain hanya bisa memainkan hati perempuan, dan aku sama sekali tidak pernah tertarik dengan yang seperti itu.. "


"Seperti apa yang kau cari???" Tanya Ethan lagi.


"Sepertimu.. " Jawab Leona singkat.


Sontak mendengar itu Ethan langsung tersedak dan batuk-batuk. Sedangkan Leona terpingkal-pingkal mendapati ekspresi Ethan. Dan dia mengatakan jika hanya bercanda saja tadi.


"Bercandamu sangat tidak lucu.. " Gerutu Ethan dan dia meminum kopi nya yang sudah dingin.


"Kau juga kenapa bertanya seperti itu.. " Ucap Leona.


"Memang nya ada yang salah dengan oertanyaanku???? Aku hanya tanya saja laki-laki seperti apa yang kau inginkan jika kau menolak mereka yang sudah di pilihkan oleh Mama mu.. "


"Entahlah aku tidak tahu, dan belum terpikirkan kesana, aku hanya ingin menikmati hidupku dengan bersenang-senang, dan aku yakin nanti aku pasti akan mendapatkannya.. Sekarang aku hanya ingin bersenang-senang, dan malas jika harus berurusan dengan Mama.. "


"Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua, aku pikir itu sangat menyenangkan tetapi ternyata bagi mu itu tidaklah begitu berarti... Terlihat sekali bahwa kau tidak begitu menyukai Mama anda... "


"Aku selalu berharap bahwa jangan sampai ada yang memiliki Ibu seperti Mama ku, dia sangat menyebalkan, keras kepala juga pemaksa... Tetapi apa kau tidak ingat sama sekali dengan orang tua mu??? Kau benar-benar tidak memiliki kenangan dengan mereka???" Tanya Leona.


"Aku tidak tahu, tidak ingat sama sekali.... Dan tidak pernah aku mendengar cerita masa kecilku indah atau tidak, selain saat aku tinggal di panti asuhan... Bagaimana orang tua ku juga aku tidak tahu.. Karena orang tua ku juga tidak memiliki keluarga, sehingga sangat sulit mendapatkan informasi tentang mereka. Tidak ada kenangan yang tersisa dari mereka, tetapi sesekali aku dulu mengunjungi makam mereka..."


"Kau pasti sangat merindukan mereka???"


"Aku tidak tahu bagaimana memaknai kata rindu itu sendiri, aku tidak memiliki foto mereka, dan aku hanya memiliki foto usang dari kartu pengenal milik mereka yang di temukan oleh polisi, kemudian saat aku sudah cukup mengerti, pengurus panti ku memberikannya padamu, dan itu sudah buruk sekali... Jadi bagaimana aku bisa merindukan mereka, satu kenangan pun tidak aku miliki.. Dan yang aku lakukan saat memandangi malam mereka adalah kenapa dunia begitu kejam kepadaku, kenapa kedua nya harus di renggut oleh takdir, dan membiarkan aku sendirian, menderita karena aku tidak memiliki kenangan apapun dengan kedua orang tua ku.. "


"Apa itu artinya kau menyalahkan Tuhan????" Tanya Leona.


Ethan tersenyum masam. "Terkadang aku menyalahkan Tuhan, karena takdirku di tulis dengan sangat buruk sekali.... Tetapi apa yang bisa aku lakukan, yang ada di dunia ini milik Tuhan, dia berkuasa atas segala nya, sehebat apapun kita tidak akan bisa menghentikan takdir yang sudah dia tulis bahkan saat kita masih ada di dalam kandungan.. " Ujar Ethan dengan sedih. Takdir nya begitu buruk hingga sering sekali dia menyalahkan takdir yang di Terima nya. Hidup sendirian tanpa orang tua sejak kecil sangatlah menyakitkan untuk anak seusia nya dulu. Tetapi pada akhirnya dia mencoba menerima dan menjalani kehidupannya dengan baik meskipun jalannya penuh kerikil dan duri yang selalu membuatnya terluka saat coba berjalan.


"Tetapi meski begitu, kau pasti pernah meminta sesuatu kan pada Tuhan????" Tanya Leona lagi.


"Saat kecil aku selalu berharap jika Tuhan bisa mengembalikan orang tua ku kepadaku, dan aku pasti akan bahagia sekali, akan tetapi semakin dewasa aku menyadari bahwa itu tidak akan pernah terwujud.. Kemungkinanya hanya 0 persen hahaha.. Tidak mungkin orang tua ku akan hidup lagu, bahkan mereka sudah menjadi tulang belulang sekarang.. Kalaupun reinkarnasi itu memang ada, pada akhirnya orang itu tetap bukan orang tua ku... ahahaha... " Ethan tertawa meskipun hatinya begitu pedih jika membicarakan mengenai orang tua nya.