My Bodyguard My Obsession

My Bodyguard My Obsession
Keluarga Dari Indonesia



Dan sampailah mereka di apartemen Ethan. Ethan mengucapkan banyak Terima kasih atas tumpangan yang di berikan oleh Kyros dan mengajak mereka untuk mampir tetapi karena hari sudah gelap dan juga sudah di tunggu oleh orang di rumah. Kyros pun berjanji kapan-kapan akan mampir. Kyros membuka bagasi mobil dan turun untuk mengeluarkan sepeda Ethan.


"Terima kasih untuk bantuannya." Ucap Ethan seraya menyalami Kyros.


"Sama-sama...!" Jawab Kyros. Kemudian berpamitan dan masuk lagi ke mobil lalu meninggalkan Ethan.


"Entah kenapa, aku merasa sudah mengenal nya sejak lama... Tetapi mungkin karena pribadi nya yang sederhana dan bersahabat, jadi rasa nya dia seperti teman baik yang sudah ku kenal lama..." Ujar Kyros.


"Ya, kau benar.. Aku juga merasa seperti itu.. " Gienka menimpali.


"Jika kalian merasa seperti itu, aku justru merasa dekat sekali dengan nya... Padahal tadi tidak banyak mengobrol..." Sahut Sanne.


"Aku justru ingin memeluknya... " Gumam Vineet.


Sontak ucapan itu mendapat reaksi terkejut dari Gienka, dan Sanne yang langsung menatap ke arah Vineet, sedangkan Kyros mengerem mendadak mobil nya. "Vineet....??? Apa yang kau katakan tadi???" Tanya Gienka dan Sanne bersamaan.


"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasa... " Jawab Vineet datar.


"Kau menyukai nya???" Tanya Sanne.


"ingin memeluk seseorang bukan berarti menyukai nya kak, aku hanya ingin melakukannya saja..."


"Ya benar juga sih.. Kami hanya terkejut saja Neet.. Kau ada-ada saja.. Bagaimana kalau Friddie tahu jika kau ingin memeluk laki-laki lain di Washington??? Bisa terjadi bencana besar jika kak Gienka melaporkannya pada Friddie... Hahaha... " Goda Sanne pada Vineet. Saat ini Vineet memang sedang menjalin hubungan dengan Friddie, adiknya Gienka.


"Aku rasa, kak Gienka tidak seember itu... Hanya saja memang itu yang aku rasakan saat ini... Ingin memeluk seseorang bukan berarti menyukai nya tetapi mungkin ada sebab lain... Entahlah... " Gumam Vineet.


Gienka tersenyum. "Aku sangat tahu kau begitu mencintai Friddie... Tenang saja.. Hahaha.. " Gienka menimpali.


Kyros kembali melajukan mobilnya. Tidak bisa dia pungkiri bahwa dia merasa seperti dekat dengan pria bernama Ethan itu. Dua kali pertemuan dan selalu ada sesuatu yang mengganjal di hati Vitto mengenai Ethan. Penampilan laki-laki itu tampak sederhana, bersahaja dan seperti apa Adanya.


Ethan kemudian memarkir sepedanya di tempat biasa lalu dia naik ke apartemennya masih dengan kaki yang sakit.


Ethan sampai di apartemennya dan Leona pun membuka pintu setelah mendengar ketukan dari Ethan. Leona yang awalnya menyambut Ethan dengan senyuman pun wajahnya langsung berubah ketika melihat Ethan terluka. "Sayang, kau kenapa???" Tanyanya yang panik dan langsung mengajak Ethan untuk masuk.


"Aku jatuh dari sepeda.."


"Loh kok bisa??? Kenapa bisa terluka seperti ini, kau tidak pakai mantel ya atau jaketmu???"


Ethan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak memakai jaket lagi pula kan tadi cuacanya panas."


"Ya. Tapi kan biasanya kau memakai jaket, jaketmu di mana???"


"Aku meninggalkannya di loker.."


"Oke oke lupakan tentang jaket. Bagaimana kau bisa jatuh dari sepeda???"


"Sebuah mobil menyerempetku dan aku terjatuh, sepeda ku juga rodanya bengkok."


"Kau diserempet mobil, kok bisa??? Memangnya kau tidak berada di lajur yang benar???"


"Aku sudah ada di lajur yang benar tapi aku merasa dari awal mobil itu sudah mengikutiku saat aku keluar dari restoran, aku coba mengayuh sepedaku lebih cepat dan mobil itu juga menambah kecepatannya ketika aku mau memelannkan kayuhanku, mobil itu juga melaju dengan pelan, lalu tiba-tiba saja kecepatannya ditambah dan aku diserempet, beruntungnya tadi aku ditolong oleh orang-orang yang baik. Bahkan aku juga ditumpangi mereka sampai ke sini dan sepedaku tidak bisa dinaiki lagi."


"Kau ditolong orang??? Lalu ke mana mereka???"


"Mereka sudah pulang, mereka orang-orang yang baik dan aku juga pernah mengantarkan pizza ke rumah mereka."


Leona menghela nafasnya merasa lega karena Ethan ditolong oleh orang-orang yang baik. "Syukurlah kau bertemu dengan orang-orang yang baik tapi bagaimana dengan orang yang menyerempetmu???"


"Mereka kabur, seperti yang aku bilang tadi aku sudah Curiga dengan mobil itu sejak awal. Entah kenapa feelingku mengatakan bahwa mereka sepertinya memang mengincarku, apa menurutmu itu adalah orang-orang suruhan dari Nyonya Haidee???"


"Apa????" seru Leona. "Suruhan Mama katamu???"


"Karena gerak-gerik mereka sejak awal juga mencurigakan, mungkin saja Nyonya Haidee sudah mengetahui aku berada di sini, karena kau juga tidak kembali ke Seattle."


"Tapi sepertinya tidak mungkin, sejak aku memutuskan ke sini aku langsung menonaktifkan ponselku dan lainnya, Kaia juga mengatakan bahwa mungkin tidak akan ada masalah."


"Ya aku juga tidak tahu tapi itu yang aku rasakan."


Leona meraih jemari Ethan kemudian mengecupnya. "Mungkin pengemudi mobil itu tidak sengaja menyerempetmu dan dia takut jadinya kabur."


"Tetapi bukankah yang terbaik adalah kau kembali saja ke Seattle??? aku tidak mengusirmu tetapi menurutku itu lebih baik yang untuk berjaga-jaga saja."


Leona berdiam menatap Ethan. "Aku kan sudah bilang padamu, aku akan kembali ke Seattle. Kau beri aku waktu beberapa hari lagi, aku pasti akan kembali ke sana, aku juga akan mengirim Bodyguard untukmu."


"Tidak perlu seperti itu, aku bisa menjaga diriku sendiri, sekarang yang aku inginkan hanya keamanan untukmu ya untuk kita berdua. Aku harap kau mengerti itu."


"Ya aku mengerti kok."


"Lebih baik untuk sementara kalau tidak keluar dulu dari sini tanpa aku, untuk belanja dan yang lainnya biar aku yang mengurusnya, kau diam saja di dalam sini oke???"


"Ya. Aku tidak akan kemana-mana, aku akan di sini saja."


"Oke..." Ethan kemudian bercerita pada Leona jika tadi yang menolongnya adalah keluarga yang beasal dari Indonesia. Dan Leona merasa senang sekali karena mereka sangat baik sekali, bahkan meski baru kenal, Ethan merasa sudah dekat sekali dengan mereka. Hal itu membuat Ethan semakin ingin datang ke Indonesia, negara yang terkenal ramah penduduknya.


Mendengar hal itu, Leona tersenyum dan dia juga ingin keembali lagi berlibur ke negara itu, tetapi tentu perginya bersama dengan Ethan. Dan Ethan berjanji bahwa dia nanti akan mengajak Leona liburan kesana.


"Oh iya apa kau ingin mandi eh seperti nya jangan mandi kalau kamu jangan sampai kena air lebih baik tubuhmu dilap dengan handuk basah saja


"Ya terserah kau saja. Aku juga lapar sebenarnya."


"Aku sudah siapkan makanan, lebih baik bersih-bersih diri dulu, nanti kita makan bersama."


***


Beberapa jam kemudian...


Semua orang turun ke ruang makan. Rana menyiapkan makan malam untuk mereka. Kyros dan Gienka duduk di kursi masing-masing, begitu juga dengan Vitto. Tak lama Sanne juga menyusul. Dia datang sendirian tanpa Vineet. "Ne, mana adikmu???" Tanya Vitto.


Sanne menggelengkan kepala nya. "Dia tidak mau turun, kata nya masih kenyang..."


"Oh masih kenyang.. Pasti dia makan banyak tadi ya??? Ya sudah kau duduk lah... " Perintah Rana pada putri nya.


"Makan banyak apa??? Dia memesan pasta, dan itu saja hanya di makan dua atau tiga suapan saja, dia sibuk melamun.. " Gumam Sanne.


"Melamun???? Kenapa melamun???" Tanya Vitto.


"Tingkahnya aneh sejak dia menolong seorang laki-laki yang kecelakaan.."


"Menolong bagaimana???" Kali ini Rana yang bertanya.


"Tadi saat kami di restoran, ada laki-laki yang terserempet mobil, lalu Vineet menolong nya, setelah selesai menolong laki-laki itu pergi, dan tingkah Vineet mulai berubah, yang awalnya happy jadi murung dan banyak diam.. Aku dan kak Gienka bertanya lagi di mobil ada apa dengannya dan dia menjawab jika dia melihat unsur kesengajaan dari pengemudi mobil itu untuk mencelakai laki-laki itu, karena dia melihat dengan baik saat mobil itu sengaja merubah posisinya yang awalnya di tengah jalan jadi melipir ke pinggir jalan dimana laki-laki sedang mengayuh sepeda nya.. "


"Dan kalian juga melihatnya???" Tanya Rana lagi.


Sanne menggeleng. "Hanya Vineet, karena aku dan kak Gie saat itu sedang asyik mengobrol sedangkan kak Ky ke toilet... Setelah dari restoran kami pulang, dan tidak sengaja kami melihat laki-laki itu lagi sedang berjalan karena sepeda nya rusak dan tidak bisa di naiki.. Kami berhenti dan menberi nya tumpangan.... Ternyata Kak Ky mengenalnya, karena sebelumnya laki-laki itu pernah mengantar Pizza kesini... Mengobrol lah kami di mobil, dan saat kami bertanya mengenai kesengajaan pengemudi mobil itu, laki-laki itu hanya bilang jika mungkin pengemudi nya mabuk dan itu hanya kecelakaan kecil tidak perlu terlalu di pikirkan.. Sebenarnya kami berpikir agak aneh juga jawabannya tetapi ya sudahlah... Hanya saja sepertinya Vineet tidak bisa menerima jawaban itu.."


Vitto dan Rana saling melempar pandangan tetapi kemudian memandang lagi ke arah Sanne, begitu juga dengan Gienka dan Kyros.


"Sebenarnya selama di dalam mobil itu, Vineet juga tidak banyak bicara dengan laki-laki itu, tetapi dia terus saja menatap laki-laki itu dari belakang, saat laki-laki itu sudah sampai rumahnya, kami kembali mengobrol dan saat kami kembali membahas laki-laki itu, Vineet tiba-tiba mengatakan bahwa dia ingin memeluk laki-laki itu, yang benar saja, baru sekali bertemu masa iya mau memeluk, dan dia bilang bahwa ingin memeluk seseorang bukan berarti sayang, lagipula Vineet bucin sekali dengan Friddie, aku rasa aneh saja dia mengatakan hal itu, dia pikir laki-laki itu kakaknya atau bagaimana..." Ujar Sanne.


Gienka tersenyum. "Mungkin Vineet hanya ingin memeluknya saja dan mungkin dia merasa pribadi Ethan yang apa adanya membuat dia merasa bahwa Ethan adalah kakaknya.. Sama seperti hal nya bagaimana dia bersikap kepada Kyros ataupun Louis.. Dia menganggap mereka berdua sebagai kakaknya.. " Gienka menatap kebingungan di wajah Rana dan Vitto. "Sebenarnya uncle dan aunty, kemarin aku mendapati Vineet menangis di kamar saat aku mengantarkan jus, dia menangis karena dia merindukan seorang kakak, aku bilang bahwa dia memiliki banyak kakak yang bisa dia andalkan untuk berkeluh kesah, mungkin hal itu berpengaruh dengan hari ini, dan jujur aku, Ky dan Sanne juga mengakui bahwa seperti nya pria pengantar pizza bernama Ethan itu adalah laki-laki yang baik itu terlihat dari cara dia bersikap dan saat mengobrol di mobil, sederhana, apa adanya dan cukup menyenangkan, ya tetapi kita kan tidak bisa menilai orang saat baru pertama kali bertemu, itu hanya kesan pertama saja.. Wajar saja.."


"Ya, apalagi Vineet adalah orang yang perasaan dan rasa iba nya tinggi.. Mungkin dia masih merasa kasihan terhadap Ethan." Kyros menimpali.


"Ya, bisa jadi..." Gumam Rana. "Ne... Mama dan Papa sering sekali mengatakan padamu agar kau bisa menjadi jembatan yang baik untuk mengetahui isi hati adikmu, kau pasti sangat mengerti bahwa dia punya kebiasaan memendam perasaannya sendiri, tidak akan menceritakan apapun kepada orang lain jika tidak kita yang mengulik dan bertanya kepada nya, sebisa mungkin buatlah dia merasa nyaman dan tidak terus memendam apapun di hati nya... Dan coba nanti kau dekati dia, jangan sampai besok pagi, dia menolak untuk makan lagi, kalau sampai dia sakit, Vino pasti tidak akan lagi mengijinkan Vineet datang ke rumah kita .." Ucap Rana.


Sanne tersenyum. "Iya Ma.... "


★★★


Beberapa hari kemudian.......


Sanne turun dari kamarnya, rumah sedang senyap karena Gienka sedang pergi bersama Vineet. Kyros sedang bekerja, sedangkan Vitto juga pergi untuk sebuah urusan. Hanya tinggal Sanne dan Rana. Tadi Sanne menolak pergi dengan Gienka dan Vineet, karena Sanne tiba-tiba harus mengerjakan sesuatu, jadi dia tidak bisa pergi. Dia dan keluarga nya masih memiliki waktu beberapa hari lagi disini sebelum nanti pulang dan kembali ke Indonesia.


Tinggal di rumah Gienka dan Kyros begitu nyaman karena mereka berdua juga sangat baik. Memperlakukan Sanne dan keluarga nya begitu luar biasa, dan selalu mengatakan agar tidak sungkan jika membutuhkan apapun. Benar-benar baik, sikap yang sama yang selalu di lakukan oleh orang tua mereka saat membantu orang lain. Dan sikap itu juga menurun kepada Kyros serta Gienka.


"Mama..." Panggil Sanne. Rana sedang duduk membaca majalah di area kolam renang.


Rana menoleh ke belakang dan tersenyum. "Ya...??? Kau sudah selesai???" Tanya nya.


"Sudah... Aku lapar.... " Ucap Sanne.


"Mama akan membuatkanmu sesuatu, Mama akan coba lihat isi kulkasnya, kebanyakan habis dan nanti setelah selesai dengan urusannya, Gienka baru akan belanja dengan Vineet.."


"Kita delivery saja... Lagian Mama sedang bersantai seperti ini... Aku pesan pizza saja ya??? Lagi pengen pizza juga sih sebenarnya, tapi malas bikin.. Pesan saja ya???"


"Ya sudah terserah kau saja... "


Sanne tersenyum dan mengambil ponselnya, kemudian menghubungi restoran pizza favoritnya dan memesannya. Kemudian memberitahu alamatnya agar pizza itu bisa segera di antar.


Sekitar satu jam kemudian.....


Ethan mengambil kotak pizza pesanan pelanggan. Sejak tadi dia tersenyum ketika mengetahui harus mengantar pizza ke rumah ini lagi. Karena dia sangat ingat bahwa rumah ini adalah rumah Kyros yang sebelumnya dia sudah pernah mengantar pizza kesini juga. Ethan senang sekali bisa kesini lagi. Ethan membawa pizza itu ke rumah besar itu, dia berjalan menuju pintu dan menelan bel yang ada di luar menunggu pemilik rumah membuka pintu.


Suara bel berbunyi, Sanne yang sedang ada di area kolam renang berlari, bergegas untuk membuka pintu, tahu bahwa itu sepertinya adalah pengantar pizza. Sementara Rana akan ke kamar untuk mengambil uang.


Sanne membuka pintu dan terkejut, karena yang mengantar ternyata adalah Ethan. Laki-laki yang waktu itu di tolong oleh Vineet. "Ethan... Kau...????" Ucap Sanne.


Ethan melempar senyumnya. "Ini saya... Saya senang ketika saya tahu bahwa saya akan mengantarkan pizza ke alamat ini karena saya pernah mengantarkan pizza ke alamat ini sebelumnya.." Ethan menyodorkan pizza milik Sanne.


Sanne tersenyum. "Ya, kau pernah bertemu Kyros sebelumnya... Tunggu sebentar, Mama ku sedang mengambil uang di kamar, kau bisa menunggu dan masuk ke dalam. Mari masuk!!" Sanne mempersilahkan Ethan masuk lebih dulu sambil menunggu Rana mengambil uang di kamar.


"Tidak, terima kasih.. Saya masih harus mengantarkan beberapa pesanan lagi, lain kali saya akan mampir. Di mana yang lain ???? " Ethan menolak karena dia masih harus kembali mengantar beberapa pesanan.


"Hanya ada Aku dan Mama, semua orang sedang pergi untuk suatu urusan, Kyros pergi ke kantor, Gienka dan Vineet pergi berbelanja..." Jawab Sanne.


"Ahhh Sayang sekali mereka sedang pergi... Salam untuk mereka." Ethan menyayangkan karena kedatangannya kesini justru disaat yang lainnya sedang pergi.


Sanne mengangguk. "Ya, aku akan menyampaikan salam mu kepada mereka nanti... oh itu ibuku.. "


Sanne menunjuk ke arah Mama nya yang berjalan ke arahnya. "Mama...!!! Ini Ethan, dia yang waktu itu di tolong oleh Vineet saat kecelakaan.. " Ucap Sanne mengenalkan Ethan pada Mama nya. "Ethan, ini ibuku.. "


Ethan menyalami Rana sambil tersenyum."Selamat siang Bu, saya Ethan, dan saya sangat senang bertemu dengan orang-orang baik seperti putri Anda, dan Vineet, Gienka dan Kyros .. Mereka sangat baik ... Senang bertemu dengan Anda juga..."


"Senang juga bertemu dengan mu,  mereka telah memberi tahu ku apa yang telah kau alami, senang melihat kau baik-baik saja..." Ucap Rana membalas uluran tangan Ethan. Rana memandang Ethan. Rana pun menanyakan berapa yang harus di bayar untuk pizza pesanan Sanne. Dan Ethan pun mengatakan harga nya.


Rana tersenyum lalu memberikan uangnya pada Ethan. Rana meminta Ethan agar menghitung nya lagi."Ini uangnya, kau bisa menghitungnya lagi dan ambil kembaliannya.. "


"Terima kasih bu.." Ethan mengambil uang itu, dan menghitung nya dengan kedua tangannya. Hingga tiba-tiba saja Rana di buat terperangah oleh sesuatu yang ada di tangan Ethan. Ada sebuah tanda lahir yang sangat dia kenal di antara jari telunjuk dan Ibu jari Sebelah kiri Ethan. Tanda yang sangat khas.


Ethan tersenyum. "Ya Bu, teima kasih, kalau begitu saya permisi dulu... senang bertemu dengan Anda.. permisi.. Sampai jumpa Sanne.. Sampai jumpa lagi... "Ucap Ethan lalu pergi meninggalkanSanne dan Rana.