
Leona memegang kedua pipi Ethan dan mendekat wajah lelaki itu ke wajahnya. Leona mencium Ethan dan lelaki itu membalasnya. Jemari Leona bergerak menggoda, mengusap dada Leona sambil lalu. Jemari Ethan perlahan turun dan mengusap sesuatu yang tersembunyi di balik daada Leona Apa yang dilakukan Ethan itu membuat Leona mengerrang pelan sambil memejamkan mata.
"Apa yang kau lakukan????" Tanya Leona.
Ethan terus mengusap naik turun dan tidak mengindahkan ucapan Leona. Ada sesuatu yang mendesak Ethan melakukan ini dan dia menginginkan Leona. Dengan perlahan, Ethan mencoba menurunkan gaun tLeona kemudian mencoba melepaskan gaun itu.
BIbir itu mulanya terasa dingin, menyentuh bibir Leona yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibir Ethan mulai membuka bibir Leona, dan memaguut bibir bawah perempuan itu. Ethan menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana.
Ciuman Ethan sangat luar biasa. Lelaki itu meIumat Leona dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika muIut Leona membuka, lidahnya meneIusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Leona dan berjaIinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.
Ketika Ethan melepaskan kepalanya, matanya yang dalam bertatapan dengan mata Leona, penuh keinginan.
Leona kemudian perlahan menciumi Ethan dari bibir turun ke leher dan mengangkat Tshirt yang di pakai lelaki itu. Leona mendrong Ethan ke belakang kemudian turun dari meja wastafel. Leona membungkuk dan menciumi dada hingga perut Ethan. Lalu menurunkan celana Ethan dan menangkap milik lelaki itu yang sudah berdiri tegak tepat di depannya. Leona mengusap pelan membuat Ethan mengeluarkan suara errangaan. "Aku sangat menyukai ini.." Ucap Leona sambil mendongak ke atas menatap Ethan.
Lelaki itu tersenyum mengangguk. "Kau pasti selalu merindukan dan menyukai ini kan???" Tanya Ethan.
"Ya... Aku sangat menyukai nya... " Jawab Leona.
Tak lama setelah itu, Leona membuka mulutnya dan menggunakan mulutnya untuk melahap dan menguIum milik Ethan yang begitu menggoda. Leona lepas kendali dan dia bermain dengan milik Ethan. Sementara Ethan menggunakan kedua tangannya berpegangan pada meja wastafel untuk menahan tubuhnya. Dia memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang luar biasa atas apa yang saat ini di lakukan oleh Leona pada nya.
"Ohhhh siallllll...!!!!" Gumam Ethan. "Jangan berhenti sayang... Oh astaga.!!"
"Kau menyukai nya???" Tanya Leona.
"Ya.... Aku sangat menyukai nya, kau luar biasa... " Jawab Ethan kemudian menekan kepala Leona, menahannya untuk mengullum miliknya selama beberapa detik kemudian melepaskannya dan Leona langsung terbatuk-batuk tetapi tersenyum bahagia. Setelah beberapa saat, Ethan meminta Leona untuk berhenti dan berdiri. Mereka kemudian saling berciuman dengan panas. Iidah Ethan menelusup masuk ke mulut Leona. Saling berjalinan di dalam sana. Mereka saling menikmati satu sama lain. Jemari Leona juga terus bergerak di milik Ethan, membuat lelaki itu kehilangan akalnya.
Ethan mengangkat tubuh Leona ke atas meja wastafel lagi. Leona siap. Leona membuka paaha nya, membiarkan Ethan bermain di miliknya menggunakan lidahnya. Iidah Ethan menjiIati titik pusat Leona, perempuan itu menggeliat dan terus mendesaah nikmat, menekan kepala Ethan agar Ethan tidak berhenti melakukannya.
"Lidahmu panjang, dan astaga aku menyukai nya.... Jangan berhenti, tolong jangan berhenti.... " Leona mulai meracau karena kenikmatan.
Mendapat persetujuan, tentu saja Ethan harus memanfaatkan moment ini dengan baik. Dia pun mulai menggila, selain menggunakan lidahnya, Entah juga menggunakan jari nya untuk bermain di titik pusat kenikmatan milik Leona.
"Oh ya Ampun... Ethan.....!!! Ahhhh!!!" Teriak Leona dan tubuhnya bergetar karena dia telah mencapai kIimaksnya
Ethan merangkak ke atas Leona, tersenyum menatap paras kekasihnya itu dan tersenyum. "Aku menginginkan mu sebelum mandi. Kau mau???"
Leona mengangguk, tentu saja dia mau. Leona sudah mulai ternggelam ke dalam godaan sensuaI. Dia siap untuk berhubungan lagi dengan Ethan setelah tadi pagi mereka juga melakukannya.
Ethan sepertinya membaca penerimaan dari mata Leona, lelaki itu mengerrang, lalu meIumat bibir Leona lagi dengan bergaiirah, Iumatannya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu melahap seluruh bibir Leona, menjiIat dan memainkannya dengan Iidahnya, mencecap rasanya.
"Astaga....."
Ethan mengerrang parau. Jemarinya bergerak dan menurunkan gaun Leona, terus menurunkannya sampai ke pinggang, melepaskan brra Leona dengan cekatan sehingga daada Leona yang raanum terpampang di depannya,
"Ah... indahnya.. Leona yang indah.. aku akan memujamu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan lahi sayang..." jemari Ethan bergerak lembut dan menyentuh putiing dada Leona, lalu bibirnya menyusul dan menyesapnya lembut. Gemma mengerang, merasakan keintiiman yang luar biasa ini.
"Ethan... Astaga..." Leona mengeerang merasakan rasa panas menyerangnya, di putiingnya yang sekarang menegak kaku dan payu daaranya yang mengeras, rasa panas itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Ethan mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda, "Kau suka ya??" senyumnya polos dan sensuaI. Lelaki itu menjiat utiing Leona sambil lalu kemudian meniupnya lembut.
"Oh.. ya Ethan... yaa... aku sangat menyukai nya, jangan berhenti.." Leona mengerang putus asa, putiingnya mengencang dan mendamba. Mendambakan bibir Ethan yang panas dan lidahnya yang menggoda.
Dan Ethan mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Leona tersiksa lama-lama. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengisap puutiing Leona dengan penuh gaiirah, memuja payuu daara Leona bergantian, membuat tubuh Leona menggeliat dan melengkungkan punggungnya mendamba.
Jemari Ethan bergerak dan menuju pusat gaiirah Leona, tempat di mana rasa panas itu terus muncul ketika puttingnya dihisap dengan penuh gaiirah oleh Ethan. Jemari itu menelusup menyingkap ceIana daIam berendanya, dan menyentuh kewaniitaannya. Dengan ahlinya Ethan menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan menemukan titik paling sensiti di tubuh Leona.
Jemari Ethan mengusapnya pelan dan tubuh Leona seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan mengerang. Mata Ethan mengamati setiap reaksi Leona dengan penuh gaairah. Jemarinya menggoda lagi, kali ini menggesek titik sensitif Leona dan kemudian melakukan usapan memutar. Erangan perempuan itu makin kencang, membuat mata Ethan berkabut penuh keinginan.
"Aku tidak percaya kau mau menginginkannya lagi..."
Lelaki itu menunduk ke telinga Leona dan berbisik parau,
"Biarkan aku memuaskanmu." Diciiumbunya telinga Leona membuat perempuan itu menggeliat penuh gaairah. Dan kemudian dengan cekatan Ethan meneianjangi Leona, membuat Leona duduk tanpa busaana di atas meja wastafel. Tampak siap dan menggairahkan bagaikan Dewi Amor yang dikirim dari khayangan untuk memuaskannya.
Ethan tak tahan lagi, kepalanya pening oleh gaaira. Ethan akan terus menggoda Leona.
Sampai tiba saatnya tubuh perempuan itu tidak akan mampu menolaknya dan otaknya tidak mau bekerjasama lagi.
Dengan penuh gairrah dan keahlian, Ethan mencuumbu Leona, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Leona, di lehernya, pundaknya, payyu darranya, perutnya, pinggulnya, dan... Leona menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh miliknya.
Lelaki itu mencumbu kewaniitaannya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan Iidahnya untuk menggoda Leona. Lidah Ethan mengusap titik paling sensitif di milik Leona dan kemudian lelaki itu menghisapnya, membuat Leona memekik atas sensasi yang dirasakannya.
Ketika Ethan memutuskan bahwa Leona sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan pakaiannya hingga teIaanjang di depan Leona. Leona menatap Ethan dengan malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Ethan ampak sangat.... jantan.... oh Astaga...
Ethan perlahan menyatukan miliknya ke dalam milik Leona. membenamkan dirinya dalam-dalam di diri Leona, menyatu sepenuhnya. "Aaahhh... "
Milik Ethan begitu besar di dalam sana hingga memenuhi milik Leona, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan panas. "Ethan... Astaga..."
"Oh ya ampun, kau rapat sekali Leona... kau membungkusku dengan begitu rapat..." Ethan berbisik parau penuh gaira, ketika mereka sudah hampir mencapai puncak. Leona, Ethan membiarkan lelaki itu membawanya ke puncak. Sensasi gerakan tubuh Ethan pada penyatuan tubuh mereka luar biasa nikmatnya. Leona akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai puncak itu, meledakkan dirinya dalam kenikmatan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Mereka akhirnya mandi bersama.
★★★
Setelah melewati beberapa hari di Hawaii akhirnya Leona dan Tuan Haidee kembali ke apartemen Leona mereka berpisah dengan Ethan saat di bandara lelaki itu pulang menggunakan taksi sedangkan Leona dan Tuan Haidee sudah dijemput oleh mobil.
Mereka menikmati liburan dengan baik, tertawa bersama, mengobrol dan menghabiskan waktu dengan bersantai dan bermain di pantai. Quality time yang begitu luar biasa. Kemudian pulang dengan perasaan yang bahagia.
Mereka sampai di apartemen, para Bodyguard Leona bergegas membantu Leona dan Tuan Haidee membawa barang-barang mereka kursi roda Tuan Haidee juga dikeluarkan dan Leona meminta Papanya Itu untuk duduk dan ia akan membawanya ke atas ke apartemen merek. Leona mendorong kursi roda Tuan Haidee dan berdiri untuk membuka pintu lift tetapi bersamaan dengan itu tiba-tiba ada mobil Nyonya Haidee yang masuk ke garasi. Wanita itu keluar dan mengejar Leona serta Tuan Haidee yang masih berada di dalam lift.
Melihat kedatangan mamanya, wajah Leona langsung berubah kesal dan jengkel. Ia pun masuk ke dalam lift. Begitu juga dengan Nyonya Haidee juga ikut memaksa masuk meskipun sebenarnya Leona tidak mengizinkannya tetapi karena merasa lelah setelah perjalanan panjang dari Hawaii ke Seattle, sehingga Leona malas untuk berdebat dan membiarkan mamanya ikut masuk ke dalam lift bersamanya dengan dan Tuan Haidee.
"Dari mana kalian??" tanya Nyonya Haidee dengan suara ketus.
"Memangnya apa urusan mama??? Kemanapun aku membawa Papa pergi itu bukan urusan Mama." Jawab Leona tidak kalah ketusnya.
"Setidaknya sekali saja kau jawab pertanyaan Mama dengan suara yang tenang tidak ketus seperti itu. Kau memang tidak punya sopan santun." Gerutu Nyonya Haidee.
Leona tersenyum mengejek. "Mama saja bertanya dengan suara yang ketus lalu apa salahnya jika aku menjawab juga dengan nada suara yang sama??"
"Kau mengajak Papamu pergi ke mana??" tanya Nyonya Haidee lagi tetapi kali ini dengan suara yang lembut tidak seperti tadi.
"Papa butuh liburan, jadi aku mengajaknya pergi untuk berlibur selama beberapa hari. Kenapa??? Apa ada masalah??" Tanya Leona.
Nyonya Haidee tersenyum. "Ah tidak sayang, Mama hanya ingin tahu saja, ponselmu tidak bisa dihubungi dan ponsel Papamu juga sama, kalian pasti sengaja melakukannya agar tidak ingin diganggu."
"Jika sudah tahu kenapa harus bertanya??" Gerutu Leona. Pintu lift terbuka dan mereka bertiga keluar dari lift kemudian berpindah lift ke lift pribadi menuju apartemen Leona.
Kemudian tiba lah mereka di apartemen Leona. Leona mendorong kursi roda Tuan Haidee dan hendak mengantar ke kamar Papanya itu agar bisa beristirahat setelah perjalanan yang cukup panjang tetapi Nyonya Haidee menghentikan Leona dan ia memaksa agar dia saja yang mengantar Suaminya ke kamar. Sempat terjadi perdebatan antara Leona dan Nyonya Haidee tetapi kemudian Tuan Haidee menghentikannya dan meminta agar Leona beristirahat lebih dulu. Tuan Haidee ingin berbicara dengan istrinya. Leona tidak bisa membantahnya dan mengiyakan ia kemudian meninggalkan Papa dan Mamanya untuk kamarnya.
Nyonya Haidee mendorong kursi roda Tuan Haidee menuju kamar tamu. Tuan Haidee hanya diam saja membiarkan istrinya mendorong kursi rodanya. ia Hanya penasaran kenapa istrinya ada di sini untuk menemuinya.
"Papa berdirilah, sini aku bantu?" Ucap Nyonya Haidee. Ia berdiri di depan suami ya dan mengulurkan tangannya untuk membantu suaminya berdiri dari kursi roda.
"Tidak perlu!!" jawab Tuan Haidee. "Aku bisa sendiri bergeserlah!!!"
Nyonya Haidee pun bergeser 2 langkah ke kanan dan membiarkan suaminya terdiri dari kursi roda. Tuan Haidee berdiri dan berjalan sendiri menuju sofa kemudian duduk di sana. "Ada apa kau ke sini???" tanya Tuan Haidee.
"Aku datang ingin menjemput papa! " Jawab Nyonya Haidee.
"Aku belum ingin pulang aku masih ingin menginap di sini, masih ingin mengobrol dengan Leona."
"Leona kan bisa datang ke rumah??"
Tuan Haidee tersenyum masam. "Setiap dia datang ke sana, kau selalu memarahinya, selalu mengatainya membuatnya merasa tidak nyaman dan tidak bisa tinggal untuk lebih lama, sedangkan aku ingin mengobrol bersamanya lebih lama dan aku rasa Leona senang dengan kehadiranku di sini, jadi biarkan aku ada di sini."
Nyonya Haidee duduk di sofa juga berhadapan dengan Tuan Haidee, ia melempar senyum. "Baiklah tidak apa-apa kalau Papa memang ada disini, seharusnya Papa bisa bilang atau mengirim pesan kepadaku sehingga aku tidak kebingungan mencari keberadaan Papa."
"Kenapa kau harus bingung mencari keberadaanku, sementara ketika aku di rumah kau selalu pergi dan beberapa hari kemudian baru kembali, jadi seharusnya kau tidak perlu susah payah mencari ku, aku tidak akan pergi ke mana-mana kalau bukan pergi untuk menemui Leona." Tuan Haidee memandang Nyonya Haidee dengan pandangan yang datar, kemudian menarik nafas panjang kemudian menghela nya. "Emma... Berhentilah bersikap baik, hentikan ke pura-puraanmu. Jangan Kau pikir aku masih bisa percaya lagi denganmu, aku sudah mengetahui segalanya, sehingga pada akhirnya aku memutuskan akan mengakhiri pernikahan kita." Ujar Tuan Haidee.
Nyonya Haidee terperanjat, ekspresinya sangat terkejut sekali. "Berpisah??? Apa maksud Papa dengan kita harus berpisah??? Memangnya kesalahan apa yang sudah aku lakukan??? Papa pasti sudah terpengaruh oleh ucapan Leona!" seru Nyonya Haidee.
"Memangnya menurutmu Leona mengatakan apa??" Tanya Tuan Haidee.
"Leona menuduhku berselingkuh dengan Robby, dia mengancamku bahwa dia akan memberitahumu. Dia tidak punya bukti apapun dan hanya asal menuduh serta mengancamku jadi seharusnya Papa tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan Leona, itu semua bullshit, itu tidak benar tidak mungkin aku berselingkuh dengan adik Papa sendiri!!" Nyonya Haidee mencoba membela diri.
Tuan Haidee tersenyum. "Leona tidak pernah mengatakan apapun kepadaku dan aku sudah mengetahuinya sendiri, tidak perlu lagi menampik selama ini aku sudah menaruh kecurigaan kepada kalian tetapi aku selalu menahan diri untuk tetap berpikir positif. Nyatanya kecurigaanku itu benar adanya, kalian berselingkuh sudah selama bertahun-tahun bahkan sebelum aku sakit, kau benar-benar sudah sangat mengecewakanku. Emma, bisa-bisanya kau melakukan hal seperti itu kepadaku dan aku tidak akan bisa memaafkannya."
"Papa tidak bisa menuduhku seperti itu dong?? Kenapa Papa bersikap seperti Leona, itu tidak benar. Aku tidak pernah berselingkuh atau menghianati Papa, aku sangat mencintai Papa!!!"
"Sayangnya aku tidak lagi percaya dengan semua ucapanmu Emma. Aku rasa pernikahan kita memang sudah berakhir, aku akan memanggil pengacara untuk mengurus perceraian kita. Sudah cukup!!! Aku ingin hidup tenang dengan Leona. Aku ingin membebaskan dia darimu yang selalu mengekangnya memerintahkan seenaknya, hingga Leona seperti hidup di dalam penjaramu. Aku tidak ingin Leona menjadi tawananmu. Aku ingin membebaskan dia!! Aku ingin membahagiakannya, selain karena perselingkuhanmu dengan Robby dan juga aku memikirkan masa depan dan kebahagiaan Leona. Jadi jalan terbaiknya adalah kita harus berpisah." Ujar Tuan Haidee.
Nyonya Haidee terperangah, dia berdiri dan memandang Tuan Haidee dengan pandangan memelas dan mulai berakting menangis. "Papa tidak bisa seperti itu dong, Papa tidak bisa menuduhku! Bagaimana bisa kita berpisah kita sudah menikah hampir 30 tahun? Bagaimana bisa Papa menceraikanku, aku tidak berselingkuh Pa???" Nyonya Haidee duduk berlutut di lantai memeluk kaki Tuan Haidee.
"Emma hentikanlah sandiwaramu. Aku sudah muak sekali melihat sikapmu dan tingkahmu selalu saja seperti ini dan juga aku berharap kau bisa segera menyerahkan diri ke polisi."
Nyonya Haidee mendongak menatap suami nya bingung. "Apa???? menyerahkan diri ke polisi??? Kenapa aku harus menyerahkan diri ke polisi?? Apa kesalahanku?? Klau kita bercerai Kenapa aku harus ke polisi??"
"Ini bukan tentang masalah perceraian kita tetapi masalah 20 tahun yang lalu di mana kau sudah menghilangkan dua nyawa yang tidak berdosa. Kau pasti masih ingat kita berkendara di tengah hujan dan badai lalu karena kau tidak berhati-hati kalau mengakibatkan kecelakaan dan kecelakaan itu menewaskan dua orang. Aku selalu melindungimu dari hal itu selama ini menyimpannya rapat-rapat tetapi itu justru menyiksaku, aku selalu dihantui rasa bersalah karena ulahmu dan aku berharap kau mau bertanggung jawab atas kejadian itu dan jika aku mau aku pun bisa melaporkanmu ke polisi mengenai hal itu dan menjadi saksi kau sudah membunuh dua orang dan karena itu ada seorang anak kecil yang menjadi yatim piatu karena ulahmu. Kau pasti ingat kejadian itu kan??" Tanya Tuan Haidee.
Nyonya Haidee terdiam. Dia ingat, tentu saja.
"Anak itu kehilangan orang tuanya dan kita meninggalkannya begitu saja dulu dan sekarang aku tahu di mana keberadaan anak kecil itu saat ini. Kalau kau tidak segera mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu, aku akan melaporkanmu kepada polisi dan aku juga akan menemui anak kecil itu yang sekarang sudah dewasa. Memberitahu nya juga memberitahu polisi bahwa Kaulah yang mengakibatkan kecelakaan itu terjadi sehingga merenggut nyawa kedua orang tua anak itu. Sekarang aku ingin beristirahat. Jadi jika tidak ada yang penting lagi untuk dibicarakan silakan pergi dari kamar ini. Panggil Leona dan minta dia untuk membukakan akses agar kau bisa keluar dari apartemen nya." Ujar Tuan Haidee.