
"Papa mengusirku??" Tanya Nyonya Haidee.
"Aku hanya memintamu pergi, karena aku lelah sekali, aku ingin beristirahat!"
"Pa, aku mohon kita jangan membahas kejadian 20 tahun yang lalu. Itu sudah berlalu begitu lama. Kenapa kita harus membahasnya Pa??? itu pasti sudah terlupakan."
"Bagimu itu memang sudah terlupakan, tetapi bagiku tidak! Dan anak itu sampai saat ini masih hidup, dia hidup dalam kesendiriannya. Dia tidak memiliki keluarga dan karena ulamu, ia dirawat di Panti Asuhan dan kau sama sekali tidak pernah peduli dan mengingat kejadian itu, padahal kau sudah menghilangkan nyawa dua orang, kau harus nya mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu."
"Itu sudah berlalu begitu lama Pa, lagi pula Anak kecil itu juga tidak mengingat apapun kan??? mungkin dia sudah lupa."
"Walaupun dia lupa dan tidak mengingat apapun mengenai kecelakaan itu atau orang tuanya, tetapi ingatan akan kedua orang tuanya itu pasti tidak akan dia lupakan, dia menjadi yatim piatu dan faktanya adalah karena kecelakaan itu Dia kehilangan mereka, kehilangan orang-orang yang harusnya memberinya kasih sayang setiap hari. Tetapi apa yang kau lakukan??? Kau selama ini hidup bebas dan penuh dengan kemewahan tetapi anak itu hidup di Panti Asuhan tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kau seharusnya merasa malu, seharusnya kau bertanggung jawab bukan selalu lari dari kenyataan bahwa kau sudah menghilangkan nyawa dua orang yang tidak berdosa."
"Aku tidak bersalah dalam hal ini, itu sebuah kecelakaan dan ketidaksengajaan, aku tidak berniat membunuh siapapun!!" Nyonya Haidee mencoba terus membela diri.
"Itu memang sebuah kecelakaan, tapi aku sudah bilang padamu agar kau mengendarai mobilmu dengan hati-hati, itu sedang hujan, berkabut, petir, Semua menjadi satu tapi kau tidak mendengarkanku dan ketidaksengajaanmu itu mengakibatkan dua nyawa melayang lalu bagaimana bisa kau tidak bertanggung jawab atas hal itu???"
"Papa pasti tahu kan alasannya kenapa aku tidak melakukan apapun atas kejadian itu??? Aku taku,t aku takut dipenjara!!! Tidak mungkin aku harus berada di penjara, bagaimana aku harus ada di penjara??? Tidak Papa, aku tidak mau.!!"
"Setiap kesalahan baik disengaja ataupun tidak disengaja, kau harus tetap mempertanggungjawabkannya, meminta maaf dan menyerahkan diri ke polisi, setidaknya itulah bentuk pertanggungjawabanmu atas kepergian kedua orang itu. Mereka meninggalkan seorang anak dan kau mengabaikan nya sampai saat ini dan tidak pernah mengakui kesalahan mu.!!"
"Papa aku mohon jangan ceritakan ini kepada siapapun dan jangan melaporkanku kepada polisi??? Papa tidak bisa melakukan nya, aku mohon Pa??? Aku mohon???" Nyonya Haidee kembali berlutut di depan kaki Tuan Haidee, ia memeluknya dan sembari menangis memohon belas kasihan dari suaminya itu agar suaminya tidak mengatakan apapun dan kepada siapapun mengenai kecelakaan 20 tahun silam.
"Aku tidak bisa janji, itu tergantung dirimu, kau mau mempertanggungjawabkan kejadian itu atau tidak atau kau akan tetap memilih untuk bungkam dan acuh tak acuh. Oke jika yang terakhir itu yang kau pilih maka tidak ada pilihan lain, aku harus melaporkan kejadian itu kepada polisi, serta memberitahu pada anak itu bahwa orang tuanya meninggal karena dirimu!" Tuan Haidee pun berusaha berdiri dari sofa kemudian meninggalkan Nyonya Haidee dan memilih berbaring di atas tempat tidur kemudian menarik selimut dan beristirahat.
"Papa......!!!! Papa dengarkan Mama dulu Pa, Mama mohon???? Tolong jangan bahas masalah ini lagi, Mama takut Pa, Mama takut!!!" Nyonya Haidee mendekati Tuan Haidee yang sudah berbaring tetapi suaminya itu tidak mengatakan apapun dan melanjutkan untuk beristirahat, kepanikan mulai terlihat di wajah Nyonya Haidee, itu terlihat jelas di wajahnya. Dia pun tersadar jangan sampai ke orang lain yang mendengar percakapan ini apalagi Leona.Ia pun pergi ke luar kamar untuk mengecek dan beruntungnya tidak ada siapapun yang mendengarnya.
Nyonya Haidee mengetuk pintu kamar Leona tetapi pintu itu terkunci dari dalam, beberapa kali dia mencobanya tetapi tidak kunjung dibuka oleh Leona. Nyonya Haidee kemudian turun dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu sambil menunggu. Leona mungkin sedang mandi sehingga putrinya itu tidak mendengar panggilannya.
Nyonya Haidee termenung dan memikirkan sesuatu untuk bisa membungkam mulut suaminya, ia benar-benar tidak mau jika suaminya itu membongkar mengenai kecelakaan 20 tahun silam. Nyonya Haidee sangat tidak mau untuk dipenjara, ia tidak siap meninggalkan gemerlap dan kemewahan yang dimilikinya saat ini, dia juga berpikir bahwa kejadian kecelakaan itu sudah berlalu begitu lama dan pasti sudah dilupakan sehingga tidak perlu dibahas lagi karena kejadian itu dianggap sebagai kecelakaan tunggal sehingga menewaskan kedua orang itu.
Nyonya Haidee tidak peduli dengan anak kecil itu toh anak kecil itu tidak hidup dalam kesusahan karena dia tinggal di Panti Asuhan tentu masa kecilnya juga pasti sangat menyenangkan dan dia dirawat dengan baik di Panti Asuhan itu, sehingga apalagi yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun dia sudah dewasa sekarang dia juga pasti sudah hidup berkecukupan memiliki pekerjaan bagus dan sudah lupa dengan apa yang dulu menimpanya dan orang tuanya untuk apa lagi masa lalu yang sudah terkubur itu harus dibongkar lagi.
Nyonya Haidee mencoba berpikir keras bagaimana caranya supaya suaminya tidak menceraikannya juga tidak mempermasalahkan mengenai kecelakaan itu. Ia sama sekali tidak ingin kehilangan apapun untuk saat ini dan dia tahu bagaimana sifat suaminya itu, suaminya tidak pernah main-main dengan setiap ucapannya. Hal itulah yang membuat Nyonya Haidee meragu dan takut bahwa suaminya akan benar-benar melaporkannya ke polisi nanti. Ia harus memikirkan sesuatu dan rencana supaya hal itu tidak dilakukan oleh Tuan Haidee.
Di tengah lamunannya nyonya Haidee tersadar jika Leona turun dari tangga untuk menghampirinya. "Mama sudah selesai bicara dengan Papa???" tanya Leona.
Nyonya Haidee menatap sinis putrinya itu. "Sudah!" jawabnya singkat dengan suara ketus.
Leona hanya membuang muka. "Apa yang mau Mama lakukan sekarang??? Mama mau pergi???" tanya Leona lagi.
"Ya aku mau pulang, untuk apa aku di sini???"
"Oke kalau mau pulang, mari aku antar sampai di depan lift!" ucap Leona. Nyonya Haidee pun beranjak dari sofa dan berjalan menuju lift diikuti dengan Leona, sampai di depan lift Leona pun membuka aksesnya dan mempersilakan Mamanya untuk masuk. Nyonya Haidee terlihat kesal sekali tetapi Leona mengabaikannya kemudian membiarkan Mamanya itu untuk pergi meninggalkan apartemennya. Leona tidak tahu apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya tadi, dia juga tidak ingin menguping karena itu adalah urusan keduanya. Leona memilih ke kamarnya dan Leona juga sekarang masih belum berniat untuk mengganggu Papanya, ia akan membiarkan Papanya beristirahat lebih dulu baru setelah itu akan mengajaknya mengobrol, mungkin nanti malam saat makan malam bersama Leona merasa lelah dan dia juga ingin beristirahat sekarang.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus mencari cara untuk membunuh Papa...!!" Gumam Nyonya Haidee dalam hati.
*****