
"Leona aku mendapat informasi jika Ethan sudah berhenti dari tempat kerjanya di restoran pizza itu. Ethan berhenti tidak lama setelah kejadian hari itu." Ucap Kaia yang saat ini sedang duduk bersama dengan Leona di kamar. Leona yang tadi sedang bermain ponsel pun langsung meletakkan ponselnya dan menatap Kaia.
"Aku sudah menduganya bahwa dia pasti akan keluar dari tempat kerjanya tapi apa kah tidak ada yang tahu dia di mana??? Apa kau sudah memeriksa apartemennya juga???"
"Dia juga sudah tidak ada di apartemennya, sudah pindah di hari yang sama ketika dia mengundurkan diri dari tempat kerjanya."
"Ada informasi apalagi???" Tanya Leona dengan suara merendah. Dia sangat merindukan Ethan tetapi sampai saat ini ponsel lelaki itu tidak pernah aktif. Begitu juga dengan ponselnya yang tertinggal di apartemen Ethan saat itu, tidak pernah aktif. Dan Leona berkali-kali coba untuk menghubungi atau mengirim pesan tapi tidak ada balasan. Leona juga coba mengirim pesan pribadi melalui akun sosial media Ethan dan hasilnya sama pesan itu tidak dibaca oleh Ethan.
"Aku mendapat informasi dari pihak apartemen bawa Ethan mengemasi semua barang-barangnya dan membawanya keluar. Ethan hanya bilang bahwa dia akan pindah. Tetapi dia tidak mengatakan akan pindah ke mana. Yang jelas dia akan pindah keluar dari Washington DC."
"Kai, aku sudah memikirkan akan pergi ke mana sebenarnya. Dan aku sudah memutuskan ingin membuat usaha apa tapi untuk aku juga ingin menjalani hidupku bersama dengan Ethan memulai semuanya dari awal tapi jika seperti ini. Aku tidak yakin untuk melakukannya. Bisakah kau melakukan sesuatu untuk bisa menemukan Ethan???"
"Leona aku minta maaf karena sebelumnya aku telah mengirim pesan kepada Ethan agar dia pergi meninggalkan Washington DC dan menjauh dari kehidupanmu." Gumam Kaia.
Leona terlonjak dan menatap tajam ke arah Kaia. "Apa maksudmu Kai???"
"Ya aku melakukannya, aku mengirim pesan kepada Ethan dan menyuruhnya untuk meninggalkan Washington DC dan tidak mengganggumu lagi karena aku saat itu sangat bingung dan sedih melihatmu harus disiksa oleh Mamamu dan Steven. Aku hilang akal sehingga aku merasa bahwa kau memang benar-benar harus jauh dari Ethan supaya kau bisa mendapatkan kehidupanmu lagi seperti sebelumnya. Mungkin dengan cara itu yaitu kau menjauh dari Ethan, semuanya akan membaik lagi, aku minta maaf. Aku melakukan kesalahan, aku hanya memikirkan kebahagiaanmu saja, aku minta maaf Na.???" Kaia duduk berjongkok di depan Leona untuk meminta maaf atas tindakannya yang membuat Ethan saat ini pergi dan tidak diketahui Ke mana perginya.
"Kenapa kau lakukan itu Kai???? Kai kau tahu kan kalau aku sangat mencintai Ethan dan aku tidak bisa jauh darinya???"
"Aku minta maaf Na, aku tidak berpikir jernih saat itu, aku hanya terbawa oleh Kesedihanku melihat kau disiksa seperti itu hanya karena kau bersama dengan Ethan. Aku benar-benar minta maaf. Aku janji aku akan membantumu untuk menemukan Ethan dan menyatukan kalian lagi, aku tidak mau kau membenciku. Karena aku benar-benar minta maaf padamu.??" Kaia pun tampak menangis dan menyesali perbuatannya, dia benar-benar menyesal kenapa dulu dia gegabah mengirim pesan seperti itu dan meminta Ethan untuk pergi meninggalkan Washington DC padahal Ia sangat tahu sekali bahwa Leona sangatlah mencintai Ethan. Begitu juga dengan Ethan yang mencintai Leona.
"Sudahlah, tidak apa-apa aku sangat mengerti dengan alasan yang kau lakukan, sekarang yang terpenting adalah kita harus menemukan Ethan, aku tidak bisa tanpanya, kau tahu aku sangat merindukanmu dan aku ingin tahu keadaannya saat ini."
"Iya Na, aku akan membantumu untuk menemukan Ethan, kita pasti akan menemukannya lagi seperti sebelumnya."
Leona memegang kedua bahu Kaia, menyuruh sahabatnya itu untuk berdiri. Dia juga berdiri dan berhadapan dengan Kaia. Leona melempar senyumnya dan menyeka air mata Kaia. "Jangan bersedih. Aku tahu kau sangat menyayangimu dan ingin aku bahagia, sekarang yang terpenting adalah kita harus selalu bersama dan kita harus menemukan Ethan lalu memulai kehidupan yang baru lagi, kau tidak akan meninggalkanku kan???"
"Tentu saja tidak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, karena kau adalah sahabat terbaik di dunia ini." Ucap Kaia. Mereka kemudian berpelukan. Kaia berjanji bahwa dia akan mencari dan menemukan Ethan lalu akan membawa Ethan pada Leona sehingga Leona bisa kembali berbahagia dengan Ethan.
"Sudah jangan menangis seperti ini. Aku lapar sekali, kita harus pergi sarapan." Leona mengajak Kaia keluar dari kamar dan ke ruang makan untuk sarapan, mereka berjalan beriringan keluar kamar. "Kau masak apa untukku???" tanya Leona.
"Aku hanya membuat Waffle. Apa kau suka???"
"Aku suka waffle buat buatanmu." Leona tersenyum.
"Jadi rencana nya kau ingin pindah ke mana???"
"Kalau itu yang kau sukai tidak masalah, kita akan pergi kesana, lalu usaha apa yang ingin kau bangun???"
"Aku ingin membuat restoran disana." Leona tersenyum
"restoran???" seru Kaia.
Leona menganggukkan kepalanya. I"ya Kai. Aku ingin membuat restoran di Portland. Aku ingin mengasah ilmu memaksaku lagi sembari menunggu restoran ku disiapka. Aku ingin menjual beberapa barang yang aku rasa tidak penting saat ini, untuk tambahan modal, ya sebenarnya uangku sendiri cukup tetapi kita juga butuh untuk membeli rumah juga kan??? Aku ingin rumah seperti Fine Line, ya meski tidak di tepi lantai tetapi kurang lebih seperti itu."
"Baiklah kita akan mengaturnya nanti, sudah ada beberapa orang yang berniat membeli apartemenmu, aku juga sudah mengatur untuk mengemasi semua barang-barangmu disana."
"Kerja bagus Kai."
Mereka sampai juga di ruang makan dan sudah ditunggu oleh Mamanya Kaia yang menyiapkan sarapan di atas meja Leona dan Kaia pun menari kursi dan duduk di kursi makan.
"Selamat pagi tante." Sapa Leona pada Mama Kaia.
"Selamat pagi Nona Leona, ini ada susu almond favorit mu." Mama Kaia menyodorkan segelas susu almond yang menjadi kesukaan Leona.
Leona mengambil gelas itu dan mengucapkan terima kasih pada Mama Kaia kemudian meminum susu almond itu, tetapi tiba-tiba saja Leona merasa mual dan ingin memuntahkan susu almond itu. Leona beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke dapur, kemudian memuntahkan susu yang di minumnya di wastafel. Melihat itu, Kaia langsung mengejarnya dan menghampiri Leona memastikan kondisi sahabatnya itu.
" Kenapa Na, kau kenapa kau tidak apa-apa???" Tanya Kaia yang panik. Kaia menoleh ke belakang dan meminta Mamanya untuk mengecek kemasan susu almond itu apakah susunya kadaluarsa atau tidak. Kaia khawatir susu yang diminum Leona kadaluarsa sehingga Leona memuntahkannya.
Leona terus muntah dan sebenarnya sejak tadi kepalanya juga pusing dia juga merasa mual tetapi menahannya, dia harus sarapan baru setelah itu minum obat.
Leona menyalakan air kran dan mencuci mulutnya setelah itu dia menatap Kaia. "Susu nya tidak kadaluarsa, tetapi aku sejak pagi setelah bangun tidur merasa pusing, dan perutku mual Kai." Ucap Leona.
"Kenapa tidak bilang kalau kau pusing???"
"Aku sudah berniat minum obat tetapi aku ingin sarapan dulu."
"Ya sudah, kita sarapan sekarang nanti kau bisa minum obat."
Kaia dan Leona kembali ke meja makan untuk melanutkan sarapan mereka. Susu Almond itu di singkirkan dan Mama Kai beralih menuangkan jus untuk Leona. Sedangkan Leona mengambil garpu dan pisau untuk memotong waffle yang ada dio piring di hadapannya. Setelah memotong, Leona menuusuk potongan waffle itu dengan garpu dan kemudian Leona menyuakan waffle ke mulutnya. Baru beberapa detik mengunyah dan menelannya, Leona kembali berdiri dari kursi dan pergi ke wastafel. Leona kembali muntah dan memuntahkan waffle yang di makannya. Rasanya perutnya mual sekali dan bergolak menolak apapun yang di masukkan ke dalam mulutnya.