
Keesokan harinya.
Leona bangun dan membuka matanya. Dia langsung mencari Naufal yang tidak ada di sebelahnya. Leona memutar pandangannya dan mengernyit menemukan lelaki itu sedang duduk dan tidur di sofa. Leona perlahan bangkit dan duduk sebentar di tempat tidur sebelum kemudian bangun dan pergi ke kamar mandi. Naufal terlibat sangat lelap sekali meskipun tidur di sofa tunggal. Dan Leona tidak ingin mengganggu nya.
Dia akan memasak dan menunggu Naufal bangun sendiri. Sudah lama dia tidak membuatkan Naufal sarapan. Leona sangat merindukan hal itu.
Leona sebenarnya masih bingung kenapa Naufal tidak memilih tidur di sebelahnya tetapi justru memilih tidur di sofa. Tetapi Leona akan menanyakan itu nanti saja. Dia beranjak dari tempat tidur dan akan mandi lebih dulu.
Tak lama setelah Leona masuk ke dalam kamar mandi, Naufal membuka matanya. Dia terdiam untuk sesaat dan mencoba mengenali temoatbdimana dia bangun saat ini. Dia kemudian teringat bahwa dia ada di Fine Line bersama dengan Leona. Tetapi kemana Leona???? Perempuan itu sudah tidak ada di tempat tidur. Kemudian sayup-sayup Naufal mendengar ada suara dj dalam kamar mandi. Dia tersenyum dan menyadari itu pasti adalah Leona.
Naufal mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan beranjak dari sofa. Naufal membuka gorden jendela dan juga membuka pintu. Disaat itu ponselnya terdengar berbunyi. Naufal balik badan dan mengambil pomselnya yang ada di meja. Naufal tersenyum karena ternyata itu adalah Mama nya. Dia mengangkat teleponnya dan keluar dari rumah lalu duduk di kursi yang ada di depan rumah.
"Lagi Ma.."
"Selamat pagi sayang, kau sudah bangun ya???"
Naufal tersenyum. "Baru saja. Aku sedang menunggu Leona, dja masih di dalam kamar mandi."
"Baguslah kalian berdua sudah bangun."
"Iya Ma. Aku sebenarnya tadi sudah bangun tetapi kembali tidur lagi karena masih mengantuk."
"Mama ingin berbicara denganmu sebentar saja, boleh???" Tanya Arindah.
"Tentu saja Ma??? Kenapa??? Ada apa???" Tanya Naufal.
"Kita akan membawa Leona pulang, dan dia juga dalam keadaan hamil, kau pasti sudah mulai sedikit mengerti bagaimana disana yang berbeda disini."
"Oh itu, iya Ma, aku mengerti sekali. Aku sendiri ingin membahas inj dengan Mama sebenarnya. Aku pun sudah memikirkan ini sejak semalam dan aku butuh Mama dan Papa untuk membahasnya. Aku sudah memutuskan untuk menikahi Leona, aku sangat mencintainya dan aku tidak mau berpisah dari dia. Bagaimana menurut Mama???"
"Karena kau adalah ayah kandung dari Bayi nya tentu saja Mama dan Papa setuju. Semua tergantung kau dan juga Leona. Mama ingin kau berbicara mengenai hal itu dengannya."
"Aku berniat melamar nya Ma, dan aku juga yakin Leona akan mau, kalau sebelumnya keadaannya sangat tidak memungkinkan tetapi untuk kali ini tentu waktu yang bagus. Mama, bisakah Mama yang memilihkan cincin untuk Leona??? Aku ingin melamar nya disini."
"Kau ingin melamar nya sekarang???"
"Ya, sebelum kita kembali ke Indonesia. Mama bilang kita akan disini untuk dua hari ke depan sembari memastikan keadaan Leona kan??? Jadi aku ingin melamar nya sebelum kita pulang."
Arindah tersenyum. "Baiklah.... Mama akan mencari cincin yang pas untuk Leona, Mama akan pergi dengan Kaia nanti, dia kan sangat dekat dengan Leona dan pasti tahu hal detail mengenai Leona, nanti Mama akan mengabarimu."
"Baik lah Ma, terima kasih."
"Ya sudah, kau mandi dan buatkan sarapan untuk Leona, dia tidak boleh terlambat makan, nanti Mama akan kesana dengan yang lain."
"Iya Ma."
Naufal mengambi memasukkannya ke pemanggang roti. Ada selai cokelat yang menjadi kesukaan Leona. Dan mereka akan sarapan roti dan selai cokelat itu. Ethan akan membuatkan jus juga untuk Leona supaya lebih segar pagi-pagi minum jus.
Leona keluar dari kamar mandi dan terkejut karena Ethan sudah bangun dan lelaki itu malah sibuk berada di dapur. "Kau sudah bangun????" Tanya Leona. "Aku baru berniat membuatkan sarapan untukmu." Ucap Leona.
Naufal tersenyum. "Selamat pagi sayang, roti sudah di panggang dan jjs nya juga siap. Kau sarapan saja dulu, aku akan ke kamar mandi.".
Naufal membawa priring berisi roti dan gelas berisi jus. Kemudian meletakkannya di meja makan. Naufal menghampiri Leona dan mengecup kening kekasihnya itu. "Aku sudah lama tidak menyiapkan sarapan untukmu, jadi aku ingin pagi ini di mulai dengan sarapan yang aku siapa kan untukmu dan bayi kita." Naufal membungkuk dan mengusap lalu mengecup perut Leona. "Aku mandi dulu.." Naufal tersenyum lalu meninggalkan Leona dan masuk ke kamar mandi.
Leona hanya diam memamandangi kepergian lelaki yang sangat di cintai nya itu. Kemarin mereka sudah mengobrol banyak , dan Naufal terlihat semakin perhatian dan penuh cinta. Tampaknya lelaki itu benar-benar bahagia dengan kehamilannya ini.
Leona duduk menunggu Naufal selesai mandi dan dia akan sarapan bersama lelaki itu. Dan lelaki itu akhirnya keluar dengan rambut basah dan memakai t-shirt dan celana pendek. "Loh kenapa belum di makan???" Tanya Naufal.
"Aku menunggumu."
"Astaga.... Padahal seharusnya tidak perlu,, kaj bisa makan lebih dulu." Naufal menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Leona. Naufal mengambil selembar roti dan mengolesi nya dengan selai cokelat hazelnut.
"Kenapa melihatku seperti itu???" Tanya Naufal ketika memergoki Leona senyum-senyum menatapnya.
Leona menggelengkan kepala nya. "Ah tidak.... Aku hanya masih rindu saja padamu."
Naufal tersenyum. "Ada-ada saja. Ayo makan ini." Naufal menyodorkan roti yang sudah dia olesi dengan cokelat pada Leona.
"Kenapa tadi malam tidur di sofa??? Kau takut menyenggol perutku ya???" Leona terkekeh.
Ethan hanya melempar senyum. "Akh tidak mau mengganggu tidurmu."
"Tidak mengganggu sama sekali, aku justru senang karena kau bisa memelukku dan juga bayi kita. Apa kau tidak merindukanku???"
"Sangat....!!" Naufal melempar senyumnya lagi. "Aku ingin bertanya sesuatu, apa kau yakin ingin tinggal dan pulang bersamaku ke Indonesia????"
"Tentu saja, aku akan pergi kemana pun kau pergi, aku juga tidak bisa memaksamu tinggal disini, kau punya keluarga dan kalian baru bertemu setelah sekian lama jadi kalian butuh banyak waktu untuk bersama. Aku sangat menghargai itu. Aku tidak memiliki siapapun lagi kecuali Kaia, dan aku sudah memutuskan agar dia mengurus Bisnisku disini. Aku akan ikut denganmu dan membesarkan bayi kita bersama-sama."
"Aku hanya takut kau belum siap, kalau kau belum siap aku akan menunggumu sampai kau siap."
"Tidak, aku sudah siap... Aku sangat mencintaimu dan ingin bersamamu. Kenapa kau bertanya seperti inj??? Kau meragukanku???"
"Bukan seperti itu, aku hanya tidak mau terlalu memaksamu yang justru akan membuatmu tidak nyaman."
Leona meraih jemari Naufal. "Aku akan punya keluarga baru, adik baru dan orang tua baru di rumahmu. Aku akan bersamamu dan membesarkan bayi kita."
"Melihat keinginanmu yang begitu besar, aku yakin bahwa kau memang sudah siap." Naufal tersenyum dan mengecup jemari Leona. Dia ingin memberi kejutan pada Leona nanti, melamarnya ketika Mama nya sudah membelikan Leona cincin. Naufal ingin menikahi Leona dan menjadikannya istrinya seoenuhnya bukan lagi pasangannya. Dia mulai belajar untuk menghormati perempuan dan berkomitmen menjaga nya dalam hubungan yang baik yaitu dalam sebuah pernikahan. Dia juga akan menyiapkan diri untuk melamar Leona dengan lamaran yang manis sehingga Leona mengatakan iya untuk menikah dengannya.