
"Aku baru saja mendengar dan mendapat laporan jika Papanya Leona kembali lagi ke kantor hari ini dan semua orang di sana menyambut kedatangannya, itu artinya dia pasti akan kembali memimpin perusahaan yang artinya kita harus merubah ulang rencana kita." Ucap Nyonya Haidee pada Robby yang saat ini ada di depannya. Mereka sudah memesan makanan dan tinggal menunggu pesanan mereka datang diantar oleh pelayan.
"Bagaimana dengan kondisinya kondisi kesehatannya???" Tanya Robby.
"Yang aku tahu kesehatannya, ya seperti itu saja tidak ada yang berubah, tapi aku hanya heran saja kenapa kondisinya seperti itu dia tetap memaksakan pergi ke kantor bahkan disambut, itu artinya dia akan kembali lagi ke untuk seterusnya."
"Gawat kalau begitu kita harus benar-benar mempercepat eksekusi jangan sampai terlambat." Ucap Robby.
"Itulah kenapa, aku minta kita untuk bertemu, kita akan ke rencana awal atau harus kita ubah.?"
"Jangan mengambil keputusan secara gegabah, kita harus memikirkannya dengan matang lagi agar semuanya lancar."
"Aku sangat pusing dibuatnya. Bukannya rencana makin matang, semuanya malah jadi berantakan sekali."
Mereka mencoba memikirkan suatu untuk bisa melancarkan rencana mereka, rencana itu harus diubah atau tetap pada rencana awal Mereka. Sekarang semuanya sudah justru menjadi sulit.
**8
Tuan Haidee tersenyum melihat Ethan menikmati makan siangnya. Dia sangat senang karena Ethan mau untuk memanggilnya dengan panggilan Papa. Tuan Haidee berharap kehadirannya bisa menggantikan orang tua Ethan, dia tahu bahwa sejak kecil Ethan pasti sangat merindukan kasih sayang dari orang tuanya dan Ethan tidak pernah merasakan hal itu. Sampai saat ini secara tidak langsung akibat kesalahannya dan istrinya lah yang mengakibatkan Ethan kehilangan orang yang paling dicintainya. Meskipun mereka bukan orang tua kandung Ethan tetapi dari informasi yang Tuhan Haidee dapatkan mereka berdua sangatlah menyayangi ethan karena sudah begitu lama mereka menunggu kehadiran anak akan tetapi tidak kunjung memiliki anak sehingga mereka memutuskan untuk membeli Ethan dari seseorang penyedia anak-anak untuk dijual kemudian kehadiran Ethan membuat kehidupan mereka sangat bahagia sekali.
"Ethan, kita segerakan makan siang, kita lalu kita kembali ke kantor."
Ethan tersenyum pada Tuhan Haidee. "Baiklah, saya akan membawa Papa kembali ke kantor. Tetapi apakah tidak apa-apa Papa seharian berada di kantor??? Bukankah Leona bilang bahwa Papa hanya diizinkan ke kantor untuk setengah hari saja, saya bisa mengantar Papa pulang???"
Tuan Haidee tersenyum. "Walaupun aku kembali ke apartemen. Siapa yang bisa membuka aksesnya??? Leona dan Kaia kan sedang meeting penting???"
"Oh iya, saya lupa tetapi nanti Papa bisa meminta pada Leona akses untuk ke sana dengan sidik jari Papa sendiri supaya Papa bisa datang dan pulang secara bebas tanpa harus menunggu Leona."
"Ya itu ide bagus. Nanti Papa akan bilang pada Leona. Ayo kita segera habiskan makan siang kita dan segera kembali ke kantor."
"Baik Pa."
Sampai kemudian Ethan dan Tuan Haidee pun sudah selesai menikmati makan siang mereka. Ethan membantu Tuan Haidee duduk di kursi rodanya lagi dan keluar dari private room yang ada di restoran itu. Ethan mendorong kursi roda Tuan Haidee lalu membawanya keluar untuk bisa segera kembali ke kantor Leona.
Ketika baru beberapa meter keluar dari ruangan itu, Tuan Haidee memegang tangan Ethan. Ethan pun berhenti dan melihat ke arah Tuan Haidee, kemudian Tuan Haidee memberitahu Ethan dengan bahasa isyarat menunjuk ke arah sebuah meja di mana ketika Ethan melihatnya ada Nyonya Haidee yang sedang duduk bersama seorang laki-laki.
"Apa kita kembali masuk lagi ke ruangan yang tadi???" tanya Ethan dengan suara pelan.
"Baiklah kalau begitu." Ethan Pun kembali mendorong kursi roda Tuan Haidee dan berjalan menuju pintu untuk keluar sampai akhirnya mereka melewati meja itu dan terlihat jelas sekali Nyonya Haidee dan juga Robby terkejut melihat Tuan Haidee ada di restoran ini.
"Papa????" ucap Nyonya Haidee tetapi Tuan Haidee memalingkan muka dan Ethan terus mendorong kursi rodanya sampai mereka keluar. Tuan Haidee pada akhirnya bisa melihat secara langsung istrinya bersama dengan Robby karena selama ini dia hanya ditunjukkan di bukti oleh anak buahnya dan tidak pernah melihat secara langsung tetapi kali ini dia akhirnya mendapati mereka sedang berdua.
Nyonya Haidi beranjak dari kursi dan mengejar suaminya sampai keluar restoran sembari memanggil nya. "Papa!!! tunggu Pa, berhenti dulu!!!" Teriak Nyonya Haidee tetapi Tuan Haidee tetap menyuruh Ethan untuk mendorong kursi rodanya sampai di area parkir. Ethan pun bergegas membantu Tuan Haidee untuk masuk ke dalam mobil. Ethan melipat kursi roda Tuan Haidee dan meletakkannya di bagasi.
"Papa...... Papa.... Tunggu... Tunggu Pa.." teriak Nyonya Haidee tetapi kemudian mobil yang membawa suaminya itu meninggalkan area restoran. Nyonya Haidee tidak bisa menjelaskan apapun kepada suaminya karena suaminya sudah pergi dan tidak mendengarkan panggilannya. Dia pun kembali masuk ke dalam restoran itu dengan perasaan yang kecewa sekali dan dengan wajah masam.
"Sial, dia mengabaikanku dia tidak mendengarkanku??? Bagaimana ini Robby???" tanya Nyonya Haidee. "Kenapa dia bisa ada di sini dan kita tidak mengetahuinya, kita sudah dalam masalah besar ditambah lagi kita malah ketahuan, semakin kacau saja!!" gerutu Nyonya Haidee.
"Satunya cara satu-satunya cara kau harus menemuinya lagi. Bicaralah untuk menjalankannya dan katakan bahwa kita hanya pergi untuk makan siang saja atau kita tidak sengaja bertemu disini."
"Lalu apa kau pikir dia akan mendengarkan kita??? tidak sama sekali, aku sangat yakin hal itu percuma saja menemuinya." ujar Nyonya Haidee.
"Tapi apa kira-kira dia mendengar obrolan kita tadi ya???" tanya Robby.
"Itulah kenapa aku mengejarnya, dia mendengar kita atau tidak, tadi kita tidak konsentrasi dan dia muncul dari mana dan duduk di mana??? Bisa bahaya jika ternyata dia duduk di dekat kita tadi." Robby mulai gusar.
***
"Ethan, apa menurutmu mereka sedang mengikuti kita atau memang mereka tidak tahu bahwa kita ada di sana???" tanya Tuan Haidee.
"Saya tidak tahu Pa, tetapi sepertinya mereka sedang makan siang dan tidak tahu kalau kita ada di sana, dari ekspresi mereka juga terlihat sekali. Selain itu untuk apa mereka mengikuti kita sementara kita ada di private room.." jawab Ethan.
"Ya, entahlah Ethan, aku benar-benar malas harus melihat dan bertemu dengan kedua orang itu tapi pada akhirnya aku merasa senang karena aku akhirnya bisa tahu dan melihat dengan mata kepalaku sendiri mereka sedang berdua."
"Lebih baik Masalah ini tidak perlu terlalu dipikirkan, Papa butuh pikiran yang tenang dan juga lebih baik Papa memikirkan sesuatu yang positif sehingga Papa juga merasa lebih baik nantinya."
"Ya Ethan, aku sekarang ingin berfokus pada Leona saja."
"Ya, Papa harus memikirkan yang positif-positif saja hal yang menyesakkan dada atau menyakitkan hati lebih baik tidak perlu ditanggapi."
"Kau jangan bilang pada Leona jika kita tadi bertemu istriku.." Pinta Tuan Haidee pada Ethan.
"Saya mengerti." Gumam Ethan.