
Leona memeluk Ethan yang ada di sebelahnya mereka baru saja selesai bercinta dan percintaan kali ini tentu terasa sangat istimewa. Mereka sama-sama bertahan selama berbulan-bulan setelah Ethan pergi, keduanya juga sama-sama tidak menjalin hubungan dengan siapapun sehingga tentu keinginan untuk bercinta tidak tersalurkan dan mereka sama-sama bertahan untuk tetap menjaga cinta satu sama lain. Tetapi setelah mereka bertemu, mereka bisa kembali bersama seperti dulu lagi. Dan ini menjadi percintaan yang tentu saja nikmat sekali rasanya.
"Tadi saat kita sarapan kau ingin meminta apa???" Tanya Ethan sembari membalas pelukan Leona. Leona berbantatalkan lengannya berbaring di sebelahnya.
"Aku sudah memberitahumu tadi, masa kau lupa." Jawab Leona.
"Memberitahu yang mana???" Tanya Ethan lagi.
"Aku ingin kita memiliki bayi." Gumam Leona.
Ethan langsung mengerti mengernyit. "Jadi kau ingin kita memiliki bayi???"
"Iya. Memangnya kenapa kau tidak mau????"
"Bukan begitu, tapi aku aku pikir tadi kau tidak serius mengatakan bahwa kau ingin memiliki bayi, aku pikir kau mengatakan itu karena kita terbawa suasana saja."
"Bagaimana bisa kau mengatakan Aku tidak serius, memangnya aku pernah tidak serius dalam mengatakan satu hal???" Tanya Leona dengan wajah masam.
"Ya bukan begitu, tapi kenapa kau ingin kita memiliki bayi???"
"Ya. Aku ingin saja, aku rasa sangat bagus jika kita memiliki bayi supaya lebih ramai saja."
Ethan tersenyum. "Tetapi memiliki seorang bayi bukankah butuh persiapan yang baik, maksudku ya seperti persiapan mental kita untuk menjadi orang tua yang baik, persiapan itu kan tidak hanya materi saja tetapi kesiapan kita juga sebagai orang tua, memangnya kau sudah memikirkan itu dengan baik???"
"Aku rasa untuk mental itu sangat mudah disiapkan dan aku akan siap untuk menjadi seorang ibu. Bukankah setiap perempuan akan selalu memiliki pandangan mengenai hal itu kan dan tidak perlu ada persiapan khusus. Tapi dari ekspresimu sepertinya kau tidak setuju ya kalau kita memiliki bayi???" Tanya Leona.
"Bukan sayang, bukan seperti itu. Aku kan tadi hanya bertanya saja, dia tidak masalah kalaupun kau ingin kita memiliki bayi tapi bukankah untuk saat ini sepertinya kondisinya belum terlalu baik, kan sebelumnya kita bahas tentang aku yang akan memilih tetap tinggal di sini dan kau akan kembali ke Seattle, tentunya kita akan berhubungan jarak jauh kalau dimasa itu kau hamil. Lalu bagaimana kita akan bisa bersama, aku kan juga tidak bisa berada di sampingmu selama 24 jam.???"
"Tidak masalah, aku akan bisa mengurus diriku sendiri. Sementara kau di sini."
"Ya, tapi maksudku adalah bagaimana dengan Mamamu, dia pasti aku bertanya kau hamil dengan siapa dan itu malah justru menimbulkan kecurigaan."
"Aku akan memikirkan itu nanti, tapi aku hanya ingin memiliki bayi itu saja sekarang."
l
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan." Gumam Ethan.
Leona mendongak dan tersenyum memandangi Ethan. Ia akhirnya bisa membuat lelaki itu mengerti dan tentu saja dengan rencana mereka memiliki bayi, ia bisa mengikat Ethan lebih kuat lagi dan sudah pasti Jika dia hamil dan memiliki anak, Ethan tidak akan meninggalkannya.
****
Sementara itu di tempat lain Vitto Rana dan Sanne datang ke rumah Vino, selain karena ingin membahas tugas yang diberikan Vino kepadanya. Vitto dan istri serta putrinya akan makan malam juga bersama dengan keluarga Vino.
Kedatangan mereka bertiga langsung disambut oleh Arindah dan juga Vineet. Mereka langsung dipersilakan masuk dan Vino juga sudah menunggu mereka. Begitu juga dengan Papa Vino dan Vitto sebelum makan malam, mereka akan mengobrol lebih dulu di ruang tamu.
Vitto dan Vino pun tampak serius sekali mengenai pekerjaan serta tugas-tugas yang harus kita lakukan. Dan Vitto pun tampak memperhatikan dengan baik adiknya berbicara dan menjelaskan semuanya kepadanya. Meskipun seorang kakak tetapi, Vitto memiliki posisi di bawah Vino di kantor dan memang sejak awal Vino lah yang memimpin perusahaan dan sebelumnya Vitto bukan seorang pengusaha atau pebisnis. Dulu Vitto adalah seorang aktor sekaligus model. Di masa mudanya dia lebih suka menggeluti dunia seni seni peran dan modeling, berbeda dengan Vino yang memang sejak awal sudah memegang perusahaan. Kemudian Vino menawari Vitto untuk bergabung di perusahaan dan membantunya, karena tentu saja setiap tahun perusahaan semakin besar sehingga Vino butuh seseorang untuk membantunya menghandle semuanya yaitu adalah Vitto. Awalnya Vitto terus menolak tetapi kemudian itu mencoba untuk mengiyakan dan setuju dengan keinginan adiknya. Sehingga dia mencoba mengisi waktu luangnya, ketika tidak ada syuting maka Vitto memanfaatkannya untuk ke kantor membantu Vino. Itu berjalan selama beberapa tahun. Dan hubungan mereka kembali retak ketika Vino kehilangan anaknya atau lebih tepatnya anak dari Arindah dengan suami pertamanya. Vino menyalahkan Vitto dan hubungan mereka pun tidak baik selama belasan tahun. Akan tetapi Vino akhirnya bisa menerima kenyataan itu dan kembali berhubungan dengan kakaknya itu. Vitto tentu senang dan adiknya itu juga memintanya untuk kembali lagi ke kantor sehingga tentu saja Vitto bisa menjalin kedekatan lagi dengan adiknya.
Setelah selesai membicarakan tentang bisnis dan pekerjaan. Vitto pun akan menyampaikan sesuatu kepada adiknya ini mengenai keinginan Vineet yang ingin ikut pergi ke Amerika bersama dengannya.
"Vin, kemarin Vineet mengatakan jika dia ingin ikut ke Amerika bersama dengan Kami bertiga, dia bilang dia suntuk dan ingin jalan-jalan keluar. Apalagi sudah lama juga kau tidak mengajarnya liburan bersama karena kau sibuk dan Vineet meminta bantuanku untuk meminta izin kepadamu agar dia bisa ikut kami bertiga ke Washington DC."
Pandangan Vino pun langsung mengarah ke putrinya yang sedang duduk di sebelah Sanne. Vino menatap tajam Vineet. "Apa itu benar yang dikatakan oleh kakak???" Tanya Vino pada putrinya.
Vineet terdiam lalu dia mengarahkan pandangannya ke Vitto dan Rana. Vitto pun menganggukan kepalanya memberi isyarat agar Vineet mengatakan apa keinginannya. "Iya Pa, aku ingin ikut Uncle Vitto aunty Rana dan Kak Sanne ke Washington DC, aku sangat bosan dan butuh refreshing setelah menyelesaikan tugas akhirku di kampus. Aku berharap Papa mau mengizinkan aku untuk pergi bersama dengan mereka." Gumam Vineet penuh harap.
"Kau pasti tahu kan kalau kau tidak boleh pergi tanpa Papa dan juga Mama." Ucap Vino.
"Iya Pa, itu memang benar tetapi untuk kali ini saja. Izinkan Aku pergi untuk liburan bersama mereka. Aku janji aku akan menjaga diri dengan baik dan tidak jauh-jauh dari mereka toh nanti disana juga ada Kak Gienka dan kak Kyros kan???"
"Iya Vin. Biarkan saja Vineet pergi bersama kami dan kami akan menjaganya. Kau tidak perlu khawatir, lagi pula kasihan juga kan dia butuh refreshing dan biarkan dia pergi jalan-jalan toh disana juga ada Kyros dan Gienka."
"Tidak boleh...!!!!" Sela Vino dengan cepat. "Vitto akan pergi untuk bekerja dan lagi pula apa yang dicari di Washington DC. Disana tidak ada tempat wisata yang menarik, hanya ada museum museum saja. Nanti Papa janji Papa akan mengajakmu pergi ke Amerika. Dan nanti pergi ke tempat lain, kalau ke Washington DC apa yang mau kau cari kesana???" Tanya Vino pada Vineet.
"Vin sudahlah. Biarkan saja Putri mu pergi dengan Vitto, Rana dan Sanne, lagi pula Vineet itu sudah besar, kau tidak bisa terus menahannya dari dunia luar. Papa tahu ketakutanmu dan juga kekhawatiranmu, tetapi Vineet pasti bisa menjaga dirinya, lagi pula dia pasti sangat benar-benar butuh merefresh otaknya. Setiap hari dia harus kuliah, ke kampus, mengerjakan ini dan itu, dia pasti pusing karena hal itu jadi ketika dia menginginkan sesuatu itu artinya dia memang benar-benar membutuhkannya, selama ini putrimu tidak pernah meminta pergi ke suatu tempat tanpa dirimu karena dia tahu kau pasti akan sulit untuk mengizinkannya, kalaupun kau mengijinkannya kau selalu meminta orang untuk mengawasinya, dia juga pasti ingin punya waktunya sendiri Vin. Sudahlah....!!! Biarkan saja dia pergi dengan Sanne, Rana dan Vitto, ada Gienka juga, apa salahnya pergi ke Washington DC." Sahut Papa Vino yaitu pak Andri.
Arindah mengarahkan pandangannya ke putrinya yang sedang memandangnya, juga dari mata Vineet, Arindah tahu bahwa putrinya itu tampaknya memang ingin sekali pergi bersama dengan Sanne. Arinda juga tahu bahwa selama ini Vino memang benar-benar sangat ketat hingga sekalipun dia tidak mengizinkan Vineet untuk pergi jauh tanpa dirinya atau tanpa pengawalan dan Arindah juga mengerti betapa pusingnya Vineet akhir-akhir ini karena banyak sekali tugas yang harus dia kejakan sebelum dia lulus kuliah. Apalagi Vineet kuliah di Kedokteran yang membuat Vineet pasti banyak sekali mengalami kesulitan dan tekanan mengenai kuliahnya, karena Arindah sendiri dulu pernah mengalaminya."
"Biarkan Vineet pergi." Gumam Arindah kemudian. "Putri kita memintanya, itu artinya dia memang benar-benar mengingiekannya. Biarkan saja dia pergi, aku yakin dia bisa menjaga dirinya dengan baik atau dia juga akan bersama dengan Sanne. Jadi Izinkanlah dia pergi." Ujar Arindah.
"Iya Vin, istrimu benar, selama ini Vineet tidak pernah meminta apapun padamu ketika ingin pergi, jadi ketika dia memintanya itu artinya dia memang ingin pergi, kesibukannya di kampus pasti sudah menyita waktunya dan membuatnya benar-benar lelah, dia juga sudah menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan nilainya juga sangat sempurna, dia sudah giat belajar selama ini, jadi biarkan saja dia pergi liburan keluar. Vitto dan Rana pasti akan menjaganya." Sahut Papa Vino lagi.
Vino diam, kemudian bergantian memandangi istrinya, putrinya kakaknya dan juga Papanya. Mereka semua memandangnya dengan penuh harap agar ia bisa mengizinkan Vineet untuk pergi ke Amerika bersama dengan Vitto dan keluarganya.
Vitto menganggukkan kepala nya. "Oke kami semua akan menjaganya. Jangan khawatir."
"Dan kau Vineet sayang, jangan sampai kau jauh dari Sanne kalau kau pergi dengannya. Jangan Berpisah, kau juga harus dekat dengan Gienka ataupun Kyros jika mereka ikut pergi bersamamu. Papa tidak mau mendengar Sesuatu terjadi padamu, karena kalau sampai kau ada apa-apa, Papa tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi lagi meski kau menangis dan memohon pada Papa. P apa tidak akan mengijinkannya, jadi ingat itu baik-baik mengerti???"
Vineet menganggukkan kepala nya. "Iya Pa, Vineet mengerti, aku tidak akan jauh-jauh dari Kak Sanne dan juga yang lainnya, Vineet akan menjaga diri baik-baik. Terima kasih Papa."
"Ya sudah, kau harus segera bersiap karena besok sore kalian harus berangkat."
Vineet menganggukan kepalanya dan dia tersenyum sangat bahagia sekali dia juga memeluk Sanne karena akhirnya Papanya mengizinkannya untuk ikut liburan ke Amerika. Sanne pun akan membantu Vineet untuk berkemas sehingga besok mereka tinggal berangkat saja.
Beberapa hari kemudian....
"Eeehhh... Itu seperti nya uncle Vitto....!" Gienka menunjuk ke arah pintu kedatangan.
"Iya itu uncle Vitto... "
Gienka dan Kyros berjalan menuju pintu kedatangan. Gienka melambaikan tangan nya dan memanggil nama Vitto. Di belakang Vitto, ada Sanne dan juga Mama nya, yaitu Rana, dan ternyata sepupu Sanne juga ikut, yaitu Vineet. Keponakan Papa nya Sanne, anak dari Vino dan Arindah.
"Uncle Vit.....!!! Sanne... Aunty Rana...!!!" Panggil Gienka. "Ehh itu ada Vineet.... "
Ketiga nya pun tersenyum ketika melihat Kyros dan Gienka. Mereka mempercepat langkah nya untuk menghampiri kedua nya. Kyros dan Gienka menyalami Vitto dan Rana. Gienka juga memeluk Sanne dan Vineet, merindukan sahabat nya itu.
"Maaf lama ya kalian menunggu???" Tanya Vitto.
"Ah tidak Uncle... Kami sangat mengerti kalau banyak yang harus di urus setelah mendarat... " Jawab Kyros.
"Kami jadi merepotkan kalian... "
"Tidak sama sekali... Gie senang sekali saat Kyra memberitahu jika kalian datang kesini, Gie jadi tidak kesepian di rumah sendiri saat Ky pergi bekerja..."
Rana tersenyum. "Padahal kami sudah ingin memesan hotel, tetapi Apap kalian memaksa dan menyuruh kami menginap di rumah kalian..."
"Apap memang benar, lebih baik tinggal bersama kami... Mari kita ke rumah...." Ajak Kyros. Mereka kemudian berjalan keluar, dan Kyros bergegas menuju area parkir dan mengambil mobil nya.
"Kenapa tidak bilang kalau Vineet ikut???" Tanya Rana pada Sanne.
"Mendadak Kak... Tiba-tiba Vineet ingin ikut..."
"Uncle Vino dan Aunty Arindah kenapa tidak ikut juga???"
"Mama Papa sedang sibuk, dan aku memang sedang tidak ada kegiatan yang penting, jadi memutuskan untuk ikut kak Sanne kesini, liburan.. Di rumah bosan sekali... " Jawab Vineet.
Gienka tertawa. "Dasar... Nanti kita jalan-jalan dan shoping ya??? Eh itu mobilnya... "
Mobil Kyros mendekat, dan mereka memasukkan koper ke bagasi lalu masuk ke dalam mobil.
"Kau tidak kerja Ky???" Tanya Vitto.
"Kerja Uncle, masuk siang... Ky ijin setengah hari.." Jawab Kyros.
" Kau kenapa ijin bekerja hanya untuk menjemput kami???? Harusnya kau tidak perlu repot-repot, kami bisa naik taksi, dan sekali lagi maaf. Tiba-tiba uncle harus merubah jadwal kedatangan uncle kesini, yang harusnya beberapa hari ke depan, jadi uncle percepat...! Karena ada perubahan jadwal pertemuan dengan kolega uncle...."
"Ah tidak masalah uncle, kami justru senang... Dan kami harap uncle, aunty dan juga Sanne serta Vineet nanti betah tinggal di rumah kami...."
"Kami pasti betah sekali..." Ujar Vitto.
"Neet.... Bagaimana kuliahmu???" Tanya Gienka.
" Lancar kak... Baru selesai sidang... Itulah kenapa aku merasa sudah sedikit bebas... " Jawab Vineet.
"Wah syukurlah.... Terus-terus mau langsung kerja atau mau lanjut langsung???" Tanya Gienka lagi.
"Langsung sih kak, biar sekalian belajarnya, nangung nanti kalau berhenti dan kerja dulu... Tetapi kalau kuliah sambil kerja juga lebih bagus sih... "
"Itu benar sekali... Trus mau lanjut dimana???"
"Aku ingin sekali kuliah di luar kak, tapi????? Papa lagi-lagi tidak mengijinkannya dan memintaku kuliah di Jakarta saja, di kampus yang sama... Tetapi aku sedang coba bernegosiasi dulu, berharap Papa setuju... Aku juga ingin tahu rasanya kuliah di luar negeri, sekaligus tambah pengalaman... " Ujar Vineet. Sebenarnya sejak dulu dia ingin kuliah di luar negeri bahkan ingin tinggal bersama Sanne dan Om serta tante nya juga Opa nya di Paris. Tetapi Papa nya melarangnya, dan menyuruhnya kuliah di dalam negeri saja. Dan akhirnya Vineet berkuliah di salah satu universitas terbaik di Indonesia, dan mengubur mimpi nya kuliah di luar negeri. Kedua orang tua nya sangat protektif, dan terkesan tidak bisa membiarkannya untuk jauh dari mereka. Ya, Vineet tahu apa yang mendasari hal itu, dan dia sangat mengerti serta memilih menurut kepada kedua orang tua nya. Karena mereka begitu terluka akan kejadian di masa lalu yang meninggalkan luka begitu dalam bahkan hingga saat ini, sehingga mereka tidak ingin itu terulang lagi.