My Bodyguard My Obsession

My Bodyguard My Obsession
Ke panti asuhan



Beberapa hari kemudian..


.


Vino, Vitto dan Naufal sudah sampai ke Oregon pagi tadi dan mereka langsung menuju ke kantor Vino yang ada disana untuk membahas beberapa hal. Selain ketiga nya, Adindah juga turut serta bersama mereka. Arindah mengambil cuti karena dia juga ingin bertemu dengan pengasuh panti asuhan tempat Naufal di besarkan dulu. Arindah ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang ada disana. Dia berhutang budi kepada mereka. Sebagai seorang ibu, Arindah ingin sekali bertemu langsung dan menyampaikan beberapa hal kepada mereka.


Naufal tampak diam menyimak obrolan Papa serta Uncle nya dengan pimpinan kantor mereka yang ada disini. Mereka membahas perkembangan mengenai perusahaan. Dan anehnya obrolan itu tidak membahas tentang take over perusahaan yang sebelumnya Papa nya sempat bahas dengannya. Bagi Naufal itu aneh akan tetapi dia tetap mencoba menyimak dengan baik untuk mengetahui informasi mengenai perusahaan Papa nya yang ada disini.


Setelah berbincang cukup lama. Vino pun akhirnya mengajak Vitto, Naufal dan Arindah untuk ke hotel dan beristirahat. Mereka di antar ke hotel oleh mobil perusahaan. Hotel tidak jauh dari kantor ini.


"Besok pagi kita akan langsung ke Portland." Ucap Vino memecah keheningan dj dalam mobil.


"Besok pagi???? Apa urusan Papa disini sudah selesai???" Tanya Naufal.


"Sudah...." Ucap Vino singkat.


"Papa bilang ingin peninjauan perusahaan yang akan di take over???"


Vink tersenyum kepada Naufal. "Lusa nya kita akan melakukan itu."


"Kalau perusahaannya di Oregon, kenapa kita ke Portland lebih dulu??" Tanya nya lagi bingung.


"Memangnya kapan Papa bilang perusahaannya ada di Oregon."


"Oh jadi perusahaannya ada di Portland ya Pa???"


"Kau akan tahu nanti. Yang penting kita sekarang istirahat, makan malam dan besok pagi kita ke Portland. Kita akan naik heli, Papa sudah memina agar heli nya di siapkan untuk besok sehingga kita bisa sampai ke Portland lebih cepat."


Vitto yang duduk di depan menoleh ke belakang. "Kau sudah memberitahu pengasuhmu kalau kita akan menemui mereka???" Tanya Vitto pada Naufal.


"Aku sudah memberitahu mereka mengenai kedatangan kita, tetapi belum memberitahu jika besok kita akan kesana, aku baru saja tahu dari Papa kalau Papa mengajak besok."


"Ya sudah, kau hubungi mereka sekarang, beritahu besok kita akan datang." Sahut Arindah. "Untuk barang kebutuhannya sudah kau minta untuk di siapkan???" Tanya Arindah pada suaminya yang duduk di sebelahnya.


"Sudah, tenang saja, aku sudah meminta untuk di siapkan segala kebutuhan anak-anak, mainan hingga peralatan sekolahnya."


"Baguslah kalau begitu."


"Kita tinggal terima beres saja nanti." Ucap Vino. "Oh iya Naufal, bagaimana dengan uangmu, apa kau ingin memindahkan semuanya atau tetap menyimpannya disini???"


"Entahlah Pa, aku belum memikirkannya, disini pun tidak masalah sebenarnya." Gumam Naufal. Dia masih takut bisa terdeteksi oleh Leona ataupun Kaia. Mengingat mereka punya data rekeningnya serta hal lainnya. Jika bukan memikirkan kerinduan terhadap panti asuhan tentu naufal tidak akan ke Amerika untuk waktu lama tetapi dia tidak bisa memungkiri bahwa dia sangat merindukan Panti asuhan, pengasuh dan anak-anak yang tinggal disana. Hal itu membuatnya harus mengambil keputusan besar untuk datang ke Portland.


*****


Keesokan harinya.......


Naufal dan yang lainnya akhirnya sampai juga di Portland. Kota dimana panti asuhan nya berada. Mereka turun dari mobil tepat di depan panti asuhan, setelah helicopter mendarat di helipad yang tidak jauh dari hotel tempat mereka akan menginap semalam disini. Panti asuhan terletak di pinggiran kota, bukan di pusat kota. Dan butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai di panti asuhan. Mereka tadi ke hotel lebih dulu untuk meletakkan barang-barang bawaan mereka dan beristirahat sebentar baru setelah itu menuju ke panti asuhan.


"Ayo Pa, Ma, Uncle kita masuk!!" Ajak Naufal. Lalu mereka berempat masuk ke dalam halaman panti asuhan itu. Dan beberapa anak kecil berteriak ketika mereka melihat Naufal.


"Kakak Ethan......!!!!!" Teriak salah seorang anak, sembari berlari menghampiri Naufal.Sedangkan beberapa lainnya berlari masuk untuk memberitahu pengasuh jika Ethan atau Naufal sudah datang. Mereka sudah menunggu dengan antusias sejak tadi.


Anak laki-laki berusia 6 tahun itu berlari dan memeluk Naufal. Kemudian Naufal menggendongnya. "Hai Mathew, kau apa kabar???" Tanya Naufal.


.


"Aku baik, kakak kenapa tidak pernah kesini??? Aku kemarin ulang tahun, apa kakak membawa hadiah untukku???"


"Ada banyak hadiah untukmu dan yang lainnya." Ethan berjalan menuju pintu masuk panti asuhan di ikuti oleh Vino, Vitto dan Arindah di belakangnya.


Tak lama seorang wanita setengah baya keluar. Dan tersenyum lebar saat melihat kedatangan Naufal. "Ethan...


.!!!!"


Naufal menurunkan Mathew dan dia beralih memeluk wanita pengasuhnya itu. "Ibu Daisy..." Ethan memeluk dengan erat sekali untuk meluapkan kerinduannya. Dan di belakang pengasuh yang di peluknya itu, ada beberapa pengasuh lainnya yang juga menyambutnya. Mereka kemudian mempersilahkan Naufal dan rombongannya untuk masuk. Anak-anak juga sudah menunggu mereka. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan mereka.


"Ibu, perkenalkan ini adalah kedua orang tua saya, ini Papa saya nama nya Vino dan ini Mama saya namanya Arindah, kalau yang ini adalah Om saya, namanya Vitto. Mereka adalah keluarga kandung saya yang selama ini juga mencari keberadaan saya." Ucap Naufal memperkenalkan keluarga nya pada para pengasuh panti nya.


"Kami sangat senang sekali ketika kau menghubungi kami dan memberitahu jika kau bertemu dengan orang tua kandungmu, dan menceritakan apa ang sebenarnya terjadi, kami terkejut tetapi tentu kami sangat bahagia sekali, inj adalah keajaiban dari Tuhan." Ucap salah seorang pengasuh.


"Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada anda semua disini karena sudah merawat anak kami dengan sangat baik, kamu tidak tahu bagaimana nasibnya jika tidak berada disini bersama dengan anda semua. Sebagai ibunya, saya sangat berterima kasih sekali." Ucap Arindah sembari memegang jemari salah satu pengasuh panti. Arindah kemudian memeluknya dan menangis. "Kami sudah kehilangan Naufal eh maksud saya Ethan sejam dia masih kecil, kami terus mencarknya tanpa mengenal kata lelah, sampai akhirnya Tuhan mendengar doa kami dan mempertemukan kami. Semua juga berkat anda semua yang ada disini, sudah dengan penuh cinta merawat serta membesarkan anak kami. Sekali lagi terima kasih."


"Itu adalah tanggung jawab kamu, sejak kecil Ethan atau nama asli nya ternyata Naufal adalah anak yang sangat baik, ceria dan cerdas, kepolosannya dan kecerdasan nya itu membuat kami sangat senang sekali, dia menjadi warna baru disini sejak kehadirannya dan semuanya menyayangi nya. Bahkan sampai dia dewasa dia tetap menjadi seorang yang bertanggung jawab dan tidak pernah melupakan tempat dimana dia di besarkan. Dia selalu menyisihkan uangnya untuk di kirim kepada adik-adiknya yang ada disini, kebaikan hatinya sepertinya sudah ada sebelum dia disini, itu artinya anda sebagai orang tua sudah mengajarkan kebaikan sebelumnya kepada dia sejam kecil sehingga dia bisa langsung mempraktekkan nya ketika disini. Itulah hebatnya Naufal."


"Dia jadi kesayangan kami semua disini." Sahut Pengasuh yang lainnya.


Mendengar itu Arindah tersenyum dan merasa bangga sekali. Karena Naufal nya benar-benar tumbuh menjadi pribadi yang sangat luar biasa. Mereka kemudian mengobrol dan bermain bersama anak-anak. Serta berbagi hadiah untuk anak-anak penghuni panti asuhan ini. Ada banyak mainan hingga peralatan sekolah seperti sepatu, tas dan buku serta bara g lainnya yanv di butuhkan oleh anak-anak.


Vino juga sudah menyiapkan uang untuk dia sumbangkan di panti asuhan ini, Vino juga akan merenovasi panti asuhan ini. Berapapun yang yanv Vino keluarkan untuk panti asuhan ink tidak lah ada nilainya karenatemlat inj sudah menjadi tempat yang nyaman bagi Naufal dulu, tempat berlindung Naufal sejak kecil. Sehingga bagi Vino berapapun yang yang akan di berikan untuk panti asuhan ini tidaklah bisa ternilai dengan jasa panti asuhan ini.


Hari sudah sore, dan akhirnya Naufal berpamitan dengan adik-adiknya di panti asuhan serta para pengasuhnya. Setelahnya mereka masuk ke mob dan hendak menuju ke hotel.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari panti asuhan. Tiba-tiba perut Naufal berbunyi menandakan bahwa dia sedang lapar


"Aku lapar sekali, bisakah kita mencari restoran sebelum ke hotel???" Tanya Naufal pada Arindah.


Arindah tersenyum. "Kau tidak ingin kita makan di hotel saja???" Tanya Arindah.


"Tidak Ma, aku lapar sekali. Kita cari restoran terdekat saja ya???"


Arindah tersenyum. "Baiklah kita cari restoran." Arindah kemudian memberitahu supir untuk berhenti ketika menemukan restoran. Arindah juga sebenarnya merasa lapar sekali.


Sampai kemudian supir berhenti di depan sebuah restoran ang terlihat ramai dengan pengunjung. Vitto, Vino, Naufal dan Arindah turun untuk masuk ke restoran itu.