My Bodyguard My Obsession

My Bodyguard My Obsession
Ethan Sadar



Keesokan harinya.....


Vineet tertidur di kursi sebelah ranjang tempat Ethan terbaring. Tadi dia di ijinkan masuk oleh dokter, dan karena semalam tidak tidur, Vineet tidak sadar jika dia sekarang tidur di sebelah Ethan. Dan memegang jeamri lelaki itu. Operasi Ethan sudah berhasil sejak semalam, kali ini Ethan masih butuh observasi lebih lanjut di ruang ICU, jika kondisi nya stabil baru akan di pindah ke ruang perawatan biasa. Arindah juga susah mendonorkan darahnya kemarin. Dia merasa lega luar biasa dan semakin yakin bahwa Ethan adalah Naufal.


Arindah dan Vino membiarkan Vineet untuk masuk melihat kondisi Ethan. Mereka sangat mengerti sekali bahwa selama ini yang begitu berat kehilangan Ethan bukanlah mereka berdua, melainkan Vineet. Dia selalu merindukan sosok kakak nya dan selalu ingin jadi orang yang pertama memeluk kakaknya jika Tuhan menghendaki kakaknya di temukan. Dan hal itu membuat Vino dan Arindah mengerti jika Vineet memiliki banyak hal untuk di lakukan dengan Kakak nya.


Mengenai test DNA itu, Arindah menyiapkan dirinya untuk menjelaskan semua nya kepada Ethan. Serta butuh persetujuan Ethan untuk melakukan test DNA. Sejak semalam, Arindah sangat takut jika Ethan akan menolak lalu membencinya dan Vino karena selama ini membiarkannya hidup sendirian tanpa kasih sayang orang tua. Arindah benar-benar takut Ethan akan membenci nya. Sangat takut sekali, lalu Ethan akan membenci nya.


Baru beberapa menit memejamkan mata, Vineet terbangun ketika dia merasakan tangan yang sedang di pegang nya bergerak. Dia bangkit, mendapati Ethan membuka matanya.


"Kakak... Eh Ethan...??? Kau sudah bangun..??" Ucap Vineet.


"Vineet??? Kau..??? Leona? Dimana dia???" Tanya Ethan sambil mengernyit menahan sakit di perutnya.


"Jangan banyak bicara, aku akan memanggil dokter..." Vineet menekan tombol yang ada di tembok untuk memanggil dokter ataupun perawat.


Tak lama, dokter dan perawat ke ruangan itu. Vineet memberitahu mereka jika Ethan sudah sadar. Vineet kemudian keluar dan membiarkan dokter memeriksa keadaan Ethan. Vineet keluar dan tersenyum kepada kedua orang tua nya yang sedang duduk di luar.


"Kakak sudah sadar... Dokter sedang memeriksa nya.. " Ucap Vineet pada kedua orang tua nya.


Arindah dan Vino berdiri. Arindah tersenyum memejamkan matanya dan mengelus dada nya. "Alhamdulillah.. " Ucapnya penuh syukur. Kemudian memeluk Vino.


"Dokter sedang memeriksa nya semoga baik-baik saja.."


"Ya semoga baik-baik saja... " Ucap Vino.


Mereka menunggu hingga akhirnya perawat keluar dan memanggil mereka karena dokter ingin berbicara. Arindah dan Vino pun masuk. Mereka bertemu dokter di ruang khusus tangan da di ICU itu tempat dimana biasa perawat dan dokter berjaga.


Dokter menjelaskan jika kondisi Ethan sudah cukup baik dan tetapi masih harus berada di ruang ICU sampai siang nanti. Dan jika sudah tidak di temukan kendala apapun Ethan akan langsung di pindahkan ke ruang perawatan biasa. Tetapi Ethan untuk saat ini tidak boleh di ajak mengobrol terlalu lama dan terlalu sering, karena takutnya itu membuat dia merasa nyeri di bagian luka di perutnya. Arindah mengangguk, dia pun sangat mengerti hal itu karena dia juga seorang dokter.


"Dokter, bagaimana prosedur untuk melakukan tes DNA di sini???"  Tiba-tiba Vino bertanya kepada dokter mengenai prosedur untuk melakukan tes DNA. Mendengar itu, Arindah cukup terkejut.


"Tes DNA??? Siapa yang ingin melakukan tes DNA???" Tanya dokter itu.


"Istriku dan Ethan..." Jawab Vino.


"Apakah Ethan pasien di sebelah ????" Tanya dokter memastikan apakah Ethan yang saat ini sedang di rawat, Vino pun mengangguk. Dokter tampak bingung, karena mereka berdua sebelumnya mengatakan jika Ethan adalah anaknya lalu kenapa harus melakukan test DNA.


Dokter pun tampak mengerti dan dengan detail dia menjelaskan prosedur yang bisa dan harus di lakukan ketika ingin test DNA. Ternyata seperti yang di katakan Arindah sebelumnya bahwa memang harus ada persetujuan dari kedua belah pihak untuk melakukannya. Jika salah satu di antara mereka masih di bawah umur tentu harus ada wali yang bertanggung jawab untuk menyetujui nya kecuali semisal anak itu hidup di jalanan sendirian, mungkin akan sedikit ada kelonggaran.


Setelah menemui dokter, Arindah dan Vino di ijinkan untuk melihat kondisi Ethan. Vineet juga di ijinkan masuk lagi tetapi mereka hanya memiliki waktu selama sepuluh menit saja, dan nanti harus keluar lagi, membiarkan Ethan istirahat lalu menunggu perkembangan keadaan Ethan untuk kemudian di pindahkan ke ruang perawatan biasa.


Ethan terlihat lemah, dia juga bingung melihat dua orang yang tidak di kenalnya ada bersama nya. Vineet tersenyum.


"Kau pasti bingung kan???" Vineet melempar senyumnya. "Mereka adalah orang tua ku, kami membawa mu ke sini kemarin, kau mengalami pendarahan dan memiliki banyak luka, tetapi dokter mengatakan kondisi mu sekarang membaik." Vineet mengenalkan kedua orang tua nya pada Ethan. Dan menjelaskan jika mereka yang membawanya kesini karena mereka melihat Ethan berdarah. Vineet juga mengatakan jika dokter menjelaskan bahwa kondisi Ethan saat ini sudah membaik.


"Oh terima kasih.." Ucap Ethan berterima kasih. "Dimana Leona??? Apakah kedua laki-laki itu membawanya??"


Vineet mengangguk. "Ya, mereka membawa Leona pergi dengan kasar .. Siapa mereka sebenarnya??? Apa mereka juga yang sudah membuatmu seperti ini???" Tanya Vineet.


"Anda harus memberikan pernyataan kepada polisi, mereka telah melakukan kejahatan dengan membuat Anda seperti ini, biarkan polisi yang mengurusnya ... " Sela Vino tiba-tiba. Dia meminta agar Ethan menjelaskan semua kejadian kemarin pada polisi. Karena tentu tidak di benarkan melakukan kejahatan dengan menyakiti orang seperti itu.


"Tidak perlu melibatkan polisi, saya tidak ingin memperpanjang masalah dengan orang-orang itu... " Ethan justru menolak untuk memperpanjang urusan ini dengan polisi.


"Tapi kenapa??? Lalu bagaimana dengan Leona????" Tanya Vineet.


Ethan tersenyum. "Dia akan baik-baik saja. Saya sebelumnya telah mengatakan kepada Leona untuk pulang dan tidak tinggal bersama saya, tetapi dia keras kepala dan tidak mendengarkan saya." Ethan mengatakan jika Leona akan baik-baik saja.


Vino, Arindah dan Vineet tampak bingung dengan jawaban Ethan. "Bagaimana kau bisa mengatakan Leona baik-baik saja dengan mereka??? Mereka sangat kasar dan menariknya keluar kemarin??? Siapa mereka ???? " Tanya Vineet bingung.


"Vineet...???" Panggil Vino. Vineet pun menoleh ke arah Papa nya. "Biarkan kakakmu beristirahat, dan jangan dulu ajukan banyak pertanyaan, kau seorang dokter kan??? Luka bekas operasi nya belum kering... kau bisa bertanya jika kondisi nya sudah membaik.. " Ucap Vino mengingatkan putrinya.


Arindah mengangguk. "Biarkan kakakmu beristirahat..!" Sela nya.


"Ethan, kau istirahat saja, sekarang yang terpenting adalah kau pulih dan sehat, jika kau bilang Leona baik-baik saja, aku harap dia baik-baik saja... Istirahatlah, agar kau bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan dan tidak di sini, kami akan menunggumu di luar .. " Ucap Vino. Dia meminta Ethan beristirahat agar segera pulih sehingga bisa di pindahkan ke ruang perawatan dan bukan di ICU lagi. Dan dia serta Arindah dan Vineet akan menunggu di luar. Ethan melempar senyumnya dan mengucapkan Terima kasih lagi. Vino mengusap kepala Ethan dengan penuh kasih sayang, menahan air mata nya agar tidak jatuh lalu mengajak istrinya dan juga Vineet keluar. Arindah pun melakukan hal yang sama dengan mengusap kening Ethan lalu mendaratkan kecupan juga disana. Baru setelah itu Arindah pergi keluar bersama Vino dan Vineet.


Ethan menyentuh keningnya dan dia mendapati ada tetesan air. Tetapi Ethan sadar bahwa itu bukan air melainkan airmata. Dia bingung apakah ibu nya Vineet menangis saat mencium keningnya, tetapi sejak dia melihat ke arah mereka, orang tua Vineet seperti sedang menahan tangisan mereka dan mata mereka juga terlihat berkaca-kaca sejak awal.


Ethan juga merasakan aneh. Dia seperti merasa tidak asing dengan belaian dari kedua orang itu. Dia pernah merasakan belaian yang sama tetapi kapan dan siapa yang melakukannya tentu dia tidak ingat. Ethan lalu melempar senyum, dan berpikir mungkin kondisi nya kemarin begitu buruk sehingga orang tua Vineet merasa iba dan kasihan kepada nya, kemudian karena itu mereka terharu dan seperti ingin menangis melihatnya dalam keadaan baik-baik saja. Orang tua Vineet pastilah orang yang baik dan penyayang sehingga kelembutan mereka begitu terasa.


★★★